
Setelah ketiganya puas tertawa, Cakra Buana kembali menampilkan ekspresi wajah serius.
"Apakah tadi ada pelayan yang mengantarkan makan malam untuk kalian?"
"Ada," jawab Bidadari Tak Bersayap dengan cepat.
"Kalian memakannya?"
"Tidak," kata Sian-li Bwee Hua.
"Kenapa?"
"Karena menurutku terlalu aneh. Sangat ganjil,"
Pendekar Tanpa Nama tidak bicara, dia menunggu kekasihnya melanjutkan.
"Pada saat pelayan itu mengantarkan menu makanan, sesungguhnya waktu itu sudah sangat malam. Mungkin bisa disebut hampir tengah malam. Logikanya bagaimana mungkin ada makan malam dilakukan pada tengah malam?"
Makan malam biasanya dilakukan sebelum tengah malam. Kalau dilakukan pada tengah malam, itu namanya bukan makan malam. Melainkan karena lapar yang tidak tertahan.
"Dari mana kau tahu hampir tengah malam?" tanya Pendekar Tanpa Nama lebih lanjut.
"Waktu itu posisi bulan sudah hampir di atas kepala. Kondisi alam sekitar juga sudah sangat hening. Selain itu, bukankah semakin malam semakin sepi pula? Kebetulan, pada saat pelayan itu kemari, keadaan sudah sangat sunyi," jawab Sian-li Bwee Hua menjelaskan.
Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Sekarang dia baru sadar, ternyata apa yang dikatakan oleh Sian-li Bwee Hua memang benar.
Sayang sekali tadi dia terlalu ceroboh sehingga keracunan.
"Lantas apakah kalian tahu siapa sebenarnya orang-orang itu?"
"Tahu,"
"Siapa?"
"Orang-orang suruhan Tuan Gandrung Kalapati …"
"Kalian sudah mengetahuinya sejak semula?"
Kedua gadis itu mengangguk.
"Bagaimana kalian bisa tahu?"
Kalau sejak tadi yang bicara adalah Sian-li Bwee Hua, maka sekarang tinggal giliran Bidadari Tak Bersayap yang bersuara.
"Karena kami tidak melupakan kejadian siang tadi. Terlebih lagi kami ingat akan perkataan Kakang, bukankah menurutmu buntut dari masalah itu bakal panjang?"
Mau tidak mau Pendekar Tanpa Nama harus mengakui. Memang sejak semula dia sudah menduga akan hal ini.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanyanya menguji keteguhan dua orang kekasihnya.
"Masalah sudah di depan mata. Kita juga sudah terlanjur tercebur, kenapa tidak sekalian berenang saja?" kata Sian-li Bwee Hua langsung menjawab.
"Bagus, memang itu jawaban yang aku inginkan," jawabnya sambil tertawa.
"Apakah kita akan tetap di sini?" tanya Sinta.
"Tidak, kita harus pergi. Sebab mereka pastinya akan menyusul kemari dan mungkin akan menurunkan lebih banyak orang-orangnya lagi,"
"Baik, mari kita pergi," ajak Ling Ling.
Ketiga orang muda itu segera keluar kamar. Mereka menuruni tangga dengan perlahan. Langkahnya tidak tergesa-gesa.
Suasana penginapan amat sepi. Tiada satu orangpun yang terlihat. Entah apakah mereka tidur atau ke mana, yang jelas tiada seorangpun yang tahu.
Suasana diluar lebih sepi lagi. Lolongan serigala terdengar di kejauhan sana. Lentera pertokoan mulai dipadamkan. Beberapa tempat usaha juga sudah gelap gulita.
Sepertinya hampir orang-orang di sana sudah tidur. Berjalan memasuki kota, barulah suasana mulai ramai kembali. Kotaraja adalah kota yang tidak tidur. Kotaraja bukan kota mati. Sehingga sesepi-sepinya kota ini, niscaya tidak mungkin sesepi hatimu yang sedang merana.
###
Hari sudah terang tanah. Suasana di Kotaraja hari ini lebih ramai dari hari kemarin.
Pendekar Tanpa Nama, Bidadari Tak Bersayap dan Sian-li Bwee Hua sudah melanjutkan perjalanan mereka. Ketiganya bangun lebih awal dari biasanya. Bahkan mereka hanya tidur beberapa jam saja.
Bukan ketiganya bermaksud untuk melarikan diri dari masalah. Sampai kapanpun, tiga pasangan kekasih itu bukan orang pengecut. Mereka melakukan hal ini tak lain hanya karena ingin segera sampai ke Perguruan Tunggal Sadewo.
Di sana, mereka bisa mendapatkan berbagai macam informasi. Informasi apa yang diinginkan, mungkin akan segera didapatkan.
Siang harinya, ketiga orang tersebut telah tiba di pintu perguruan. Dua orang murid sedang berjaga. Postur tubuh keduanya hampir sama, rambut mereka sepundak. Memakai ikat kepala warna hitam dengan pakaian serba putih.
Cakra Buana berjalan lebih dulu. Langkahnya tenang. Wajahnya kalem.
Dua orang murid itu segera siap siaga. Mereka memandangi Pendekar Tanpa Nama dari atas sampai bawah.
"Sampurasun …" ucapnya sambil memberi hormat.
"Rampes. Adakah yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang murid penjaga.
"Kalau tidak keberatan, aku ingin bertemu dengan guru kalian,"
"Maksud Tuan adalah Guru Santeno Tanuwijaya?"
"Benar," jawab Cakra Buana sambil mengangguk.
Kedua murid penjaga mengangguk. Seorang di antaranya langsung berlari masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, terlihat dari pintu utama di depan sana telah datang satu orang tua.
__ADS_1
Penampilannya yang sekarang berbeda. Diapun memakai pakaian serba putih dengan ikat kepala hitam. Rambutnya yang panjang sebagian dibiarkan terurai. Sedangkan sebagian lagi digelung ke atas.
Cara berjalannya amat tenang dan mantap. Langkahnya juga sangat ringan. Seolah dia tidak seperti menginjak bumi. Sepasang kakinya seperti melayang.
Wajahnya semakin tua. Sepasang bulu alisnya sudah memutih. Kerutan juga tampak lebih jelas. Namun di balik semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah.
Sorot matanya masih sama pada waktu pertama kali Pendekar Tanpa Nama bertemu. Sorot mata yang tajam. Bola mata yang bening. Pertanda bahwa ilmu orang itu sudah sangat tinggi. Tenaga dalamnya mungkin sudah meningkat jauh daripada sebelumnya.
"Sampurasun …" kata Cakra Buana kembali memberikan salam begitu Tuan Santeno Tanuwijaya tiba di hadapannya.
"Rampes … benarkah Raden mencari aku yang tua ini?"
"Benar,"
"Apakah ada yang perlu saya bantu?"
"Saya hanya ingin berkunjung. Sekaligus sengaja ingin bertemu dengan Paman," ucap Cakra Buana sambil melemparkan senyuman hangat.
Tuan Santeno Tanuwijaya tentunya merasa sedikit heran karena pemuda asing di hadapannya saat ini memanggil paman. Biasanya jarang ada orang yang memanggil demikian jika tidak mempunyai hubungan pribadi.
Tapi kenapa pemuda itu malah memanggil paman kepadanya? Siapa dia sebenarnya?
Sepasang matanya yang tajam itu memandangi Cakra Buana dengan serius. Sepertinya sedang mengingat-ingat.
Suara itu, senyuman hangat itu.
Cakra Buana. Orang tua itu yakin pasti dialah Cakra Buana, orang yang sudah dianggap keluarga sendiri olehnya.
"Ka-kau, benarkah kau Cakra Buana?" tanyanya sedikit gugup.
"Benar Paman, ini aku," katanya gembira.
Keduanya melangkah ke depan lalu saling rangkul. Tuan Santeno Tanuwijaya sangat gembira. Cakra Buana juga bahagia. Keduanya sudah menantikan momen-momen seperti ini.
"Aih, aku kira siapa. Kiranya kau keponakanku yang tampan … hahaha. Mari, mari, silahkan masuk," katanya mempersilakan.
Mereka langsung masuk ke dalam. Selama perjalanan menuju ke dalam, dua orang pria itu tidak berhenti bercerita. Kadang-kadang keduanya tertawa gembira.
Tuan Santeno membawa tiga orang tamunya ke balairung. Tempatnya masih sama seperti dulu. Suasananya juga sama. Hanya waktunya saja yang berbeda.
Begitu tiba di sana, Cakra Buana segera terbayang dengan sesuatu yang tidak mungkin dilupakan seumur hidupnya.
Malam itu, bersama seorang gadis jelita bernama Sri Ningsih (baca di Kisah Pendekar Maung Kulon: Kejadian di Balairung).
###
Satu lagi nanti ya, soalnya lagi di perjalanan … hehehe☕
__ADS_1