Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pesan Dari Ayahanda


__ADS_3

"Anakku," kata Prabu Bambang Sukma Saketi dengan suara lirih.


Mereka berpelukan hangat dan mesra. Kerinduan jelas dirasakan oleh kedua orang tersebut.


Cakra Buana meneteskan air matanya. Siapapun mungkin tidak akan percaya bahwa ternyata seorang pendekar sepertinya masih bisa menangis.


Kata sebagian orang, kalau jadi seorang pembunuh haruslah hidup tanpa perasaan. Menghilangkan perasaan, memusnahkan perasaan. Tidak ada cita-cita dalam hidup kecuali hanya untuk membunuh.


Semakin mati perasaan seorang pembunuh, maka otomatis akan semakin mengerikan juga sepak terjangnya.


Sayangnya, Cakra Buana bukanlah pembunuh. Dia hanya seorang pendekar. Pendekar yang membela kebenaran dan membasmi kejahatan.


Dia juga adalah seorang pemuda yang selalu bernasib mujur dan jujur.


Ada dua tipe orang yang biasanya ditakuti oleh sebagian manusia lainnya. Mereka adalah orang-orang yang jujur dan berjiwa ksatria.


Dan Cakra Buana adalah salah satu orang yang termasuk di dalam keduanya. Apapun yang dia katakan, pasti jujur. Pemuda sarba putih itu tidak pernah berbohong kecuali saat dalam keadaan terpaksa.


Dua ayah yang bertemu dengan anaknya. Setelah puluhan tahun saling melihat dari jauh dan di alam berbeda, kini mereka baru bisa berjumpa kembali.


Meskipun ini hanya angan, bukankah sudah lebih daripada cukup? Walaupun bertemu dalam dunia mimpi, itu saja sudah membuat orang seperti Cakra Buana merasa sangat kegirangan.


Orang-orang yang belum merasakannya tentu tidak bisa memahami. Tapi bagi mereka yang berada sama di posisi Cakra Buana, pasti mereka akan saling mengerti dan mungkin berharap yang sama.


Bertemu di dunia mimpi dan memeluknya dengan erat.


"Kau sudah besar nak. Maafkan Ayahanda yang tidak bisa menjaga dan mendidikmu. Sungguh, hati ini terasa sakit. Kalau ada kesempatan, Ayahanda ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu. Sayang, Sang Hyang Widhi mempunyai rencana lain," kata Prabu Bambang Sukma Saketi.


Dia juga turut meneteskan air matanya. Anaknya kini sudah besar, sudah menjadi pemuda. Menjadi seorang pendekar pilih tanding yang memperjuangkan hak orang lain. Membantu sesama. Membantu mereka. Mewujudkan impian yang sudah lama terkubur bersama mimpi.


Orang tua mana yang tidak akan senang dan bahagia mempunyai anak sepertinya?

__ADS_1


"Ananda mengerti, Ayahanda bukan sengaja ingin meninggalkan Ananada. Tetapi memang karena sudah suratan takdir. Sekarang Ananda sudah tumbuh menjadi sosok yang mungkin Ayahanda inginkan. Cita-cita Ayahanda sudah terwujudkan, Kerajaan Pasundan akan kembali lagi kepada masa kejayaannya. Ananda berharap, Ayahanda dan Ibunda senang mendengar berita ini,"


"Ayahanda dan Ibunda tentu sangat senang mendengarnya Ananda. Sekarang kau pulanglah, waktu Ayahanda sudah berakhir. Kau harus selalu ingat, jangan pergunakan dua ilmu itu jika tidak berada dalam keadaan terdesak. Sebab ilmu itu bukan untuk sembarangan digunakan. Walaupun kau sudah mempunyai dua ilmu dahsyat, namun bukan berarti tidak terkalahkan,"


"Kau manusia. Bukan Dewa. Bukan pencipta alam semesta. Kau harus selalu ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi masih ada bumi,"


"Jadilah pohon kelapa yang tinggi. Walaupun sederhana, tapi semua yang ada padanya bisa dimanfaatkan. Daunnya, buahnya, kayunya, akarnya. Semuanya bermanfaat,"


"Lihatlah elang yang ada di atas sana. Walaupun badai menerjang, walaupun angin kencang menerpa, dia akan terus berusaha terbang sekuat tenaga. Dengan tekad sekokoh gunung, dengan keyakinan sedalam lautan, hingga akhirnya sang elang berhasil mencapai tujuannya,"


Begitu ucapan tersebut selesai, Prabu Bambang Sukma Saketi sudah menghilang entah ke mana. Keadaan juga menjadi gelap kembali.


"Ayahanda, Ayahanda …"


Cakra Buana tiba-tiba terbangun. Dia seperti seorang yang dikejar hantu. Keringat membasahi seluruh pakaian. Pipinya basah oleh air mata.


Walaupun tadi hanya mimpi, ternyata seakan terasa nyata.


"Ayahanda, Ibunda, Ananda berjanji akan mewujudkan semua impian kalian sampai tuntas. Ananda akan membangun kembali kejayaan Pasundan. Ananda akan membuat kalian bangga. Walaupun kalian tidak ada di sisi Ananda, tapi Ananda yakin Ayahanda dan Ibunda melihat dan melindungi Ananda dari tempat yang jauh di sana,"


Air matanya menetes lagi. Rasa perih di hatinya semakin menjadi. Tetapi dia harus berusaha kuat. Dia harus seperti elang. Dia harus seperti pohon kelapa. Terlebih lagi, dia harus menjadi seekor harimau yang ganas.


Tak ada yang boleh mengganggu dirinya, keluarganya, apalagi rumahnya.


Cakra Buana bersila. Dia mencoba untuk menghimpun tenaga dalam. Sebagai langkah memastikan apakah pengalamannya tadi hanya khayalan ataukah memang nyata.


Dan ternyata benar. Pengalaman tadi adalah nyata.


Tenaga dalamnya telah berlipat-lipat ganda. Rasa sakit yang di akibatkan oleh hantaman Thian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi telah hilang sama sekali.


Sekarang tubuhnya kembali normal seperti sedia kala. Dia menjadi segar. Bahkan puluhan kali lebih segar daripada sebelumnya.

__ADS_1


Pemuda itu memeriksa semua barang-barang miliknya. Untunglah tidak ada satu barang pun yang hilang.


Dia merasa senang. Ternyata kakek tua itu sangat yakin dia tidak akan selamat. Sehingga memilih untuk tidak mengambil barang-barangnya. Toh kalaupun ada niat, mungkin tidak akan semudah yang dibayangkan untuk merebut barang-barang itu darinya.


Setelah selama tujuh hari tujuh malam terkapar seperti orang mati, Cakra Buana merasa rasa lapar mulai menyiksa tubuhnya. Perutnya berbunyi minta di isi.


Di goa tidak ada apa-apa. Dia kemudian berjalan keluar menghampiri mulut goa.


Tangan kanan segera menghimpun tenaga dalam.


"Blarr …"


Seluruh goa bergetar hebat. Batu besar yang menutup mulut goa langsung hancur hanya dengan satu kali hantaman telapak tangannya.


Luar biasa!!


Dia merasa sangat girang. Tenaga dalamnya benar-benar bertambah dahsyat.


Pemuda itu segera mencari makanan di tengah hutan. Saat keluar, ternyata waktu sudah sore hari. Dia menembus ke tengah hutan. Tak lama Cakra Buana sudah kembali sambil membawa dua ekor ayam hutan.


Dia segera membakarnya. Tapi bukan di goa. Melainkan di gubuk tempat sebelumnya dia duduk bersama Tian Hoa.


Pemuda itu mencari-cari bumbu di dalam gubuk. Dasar nasibnya mujur, dia menemukan apa yang dicari. Bahkan ada satu guci arak harum yang masih utuh.


Matahari sudah hilang di balik bukit. Rembulan mulai menggantung di angkasa raya. Cakra Buana sedang menikmati ayam bakar bumbu dan sesuci arak.


Angin berhembus dingin menusuk tulang. Suara lolongan serigala terdengar pilu.


"Aku akan mencari orang-orang yang sudah membuat masalah denganku. Tak perduli di negeri orang, selama aku benar, aku tidak akan takut walau seujung kuku sekalipun," gumamnya sambil memandangi rembulan yang indah. Seindah wajah kekasihnya yang jauh di sana.


"Sinta, apa kabar kau di sana? Apakah kau masih mengingat dan mencintaiku? Hemm, aku berharap perasaanmu masih sama seperti perasaanku,"

__ADS_1


__ADS_2