
Pendekar Tanpa Nama mendadak bungkam. Mulutnya telah tertutup rapat. Dia percaya akan ucapan si ketua cabang itu, dia yakin orang tersebut tidak berbohong.
Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Apakah maju, atau mundur? Apakah dia akan sanggup melewati berbagai macam rintangan tersebut? Ataukah justru dia akan mampus di sana?
Pendekar Tanpa Nama tidak tahu. Perkiraannya pun tidak bisa diandalkan untuk saat ini.
Kalau dia maju, belum tentu dia dapat melewati semua rintangan. Kalau dia mundur, kesempatan baik ini tentunya tidak akan datang dua kali.
Dia membutuhkan benda pusaka ginseng seribu tahun. Tapi dia juga tentu membutuhkan nyawanya sendiri. Kalau ada ginseng tapi tidak ada nyawa, bukankah itu artinya sia-sia? Dan kalau ada nyawa tapi tidak ada ginseng, bukankah itu sama saja?
Ginseng tersebut sangat penting. Karena secara tidak langsung, ginseng itu bisa menolong ribuan nyawa manusia.
Saat ini, Cakra Buana berada dalam situasi yang sangat tidak diuntungkan. Dia benar-benar dibuat bingung.
Terkadang ada kalanya seorang pria berada dalam situasi yang sangat membingungkan.
Seperti yang saat ini dirasakan oleh Pemuda Tanah Pasundan itu contohnya.
Diam-diam Cakra Buana menggertak gigi. Dia harus menguatkan tekad. Dia pun harus mengeraskan niatnya.
Pada awalnya, dia sudah berkata kepada dirinya sendiri bahwa bahaya sebesar apapun akan dilewati. Bencana sedahsyat apapun akan dihadapi. Lalu kenapa sekarang dirinya malah ragu?
Tidak. Dia tidak boleh ragu. Sedikitpun tidak boleh.
"Jangankan dirimu, bahkan akupun sejujurnya tidak memiliki keyakinan untuk dapat bebas dari kepungan itu setelah mendengar ceritamu barusan. Hanya saja, walai bagaimanapun juga, aku tetap harus masuk ke sana. Ada suatu hal yang sangat penting yang harus aku dapatkan," ujar Cakra Buana dengan penuh keyakinan.
Si ketua cabang Kay Pang Pek yang terdapat di kota itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia sadar bahwa dirinya tidak akan mampu menahan keinginan Pendekar Tanpa Nama.
Dia tahu siapakah orang itu dalam dunia persilatan. Selain itu, dia juga mengerti siapakah pemuda tersebut bagi Huang Pangcu.
Kalau semuanya dia sudah tahu, selain hanya bisa pasrah, memangnya apalagi yang dapat dia lakukan saat ini?
"Aku hanya berharap semoga Thian melindungi Tuan," katanya singkat.
Untuk saat ini, si ketua cabang tahu tidak ada gunanya banyak bicara. Sekalipun dia bicara sehari semalam, kalau pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama itu bertekad, maka jangankan dirinya, siapapun mungkin tidak akan dapat menghalangi tekadnya. Siapapun tidak bakal bisa mencegahnya.
"Terimakasih," jawab Cakra Buana singkat.
__ADS_1
Suasana di antara mereka hening. Tidak ada yang bicara di antara keduanya. Hanya keramaian restoran saja yang terdengar. Suara para pengunjung semakin ramai. Restoran itupun semakin ramai. Orang-orang hilir mudik silih berganti.
Keluar lima, masuk enam. Terus begitu hingga beberapa waktu lamanya.
"Sepertinya restoran ini tidak pernah sepi," kata Cakra Buana mengalihkan pembicaraannya.
Dia sengaja berkata demikian. Jika kau sedang menghadapi suatu persoalan serius, lebih baik bawalah bercanda atau alihkan sejenak. Tujuannya tentu agar pikiranmu tidak ruwet. Supaya hatimu tidak gundah.
"Restoran ini memang selalu ramai. Oleh sebab itulah pemiliknya memutuskan untuk buka selama dua puluh empat jam,"
"Aii pantas saja,"
"Tuan tahu milik siapakah restoran ini sebenarnya?"
Cakra Buana menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak tahu. Dirinya baru pertama kali mengunjungi restoran ini, bahkan juga baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Bagaimana mungkin dia bisa tahu?
"Pemilik restoran ini yang sebenarnya adalah Poh Kuan Tao sendiri," ucapnya dengan ekspresi wajah serius.
Pendekar Tanpa Nama terkejut setengah mampus. Hampir saja dia tersedak oleh daging yang baru masuk ke mulutnya.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal?" tanya Cakra Buana sambil menatap tajam si ketua cabang itu.
"Karena tidak ada tempat aman lagi selain di tempat ini. Semua sudut kota sudah ada mata-mata mereka. Siapapun yang membicarakan Perkampungan Raja Harimau tidak benar, maka orang itu dipastikan akan mati,"
"Tempat aman? Kau bilang tempat ini tempat aman? Bagaimana bisa dikatakan seperti itu?" tanya Cakra Buana dengan suara agak ditahan karena takut bicara terlalu keras.
"Benar, tempat ini merupakan tempat paling aman sekaligus tempat paling berbahaya. Meskipun di sini juga ada mata-mata mereka, namun yang pasti tidak ada mata-mata di meja makan,"
Cakra Buana langsung membungkam mulutnya. Dia tidak dapat menyangkal perkataan tersebut.
"Baiklah. Aku mengerti maksudmu sekarang,"
"Terimakasih. Kapan Tuan akan bergerak?" tanyanya memastikan.
"Menjelang tengah malam nanti aku akan bergerak ke sana,"
"Adakah suatu hal yang bisa aku lakukan untuk membantu Tuan?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Ini masalah pribadiku. Kau tidak perlu repot-repot membantu,"
Si ketua cabang nampak sedikit tidak terima. Pemuda di hadapannya saat ini adalah tamu istimewa Kay Pang Pek. Secara tidak langsung, dia harus menjamin keselamatannya.
Kalau sampai terjadi apa-apa terhadap pemuda itu, niscaya dirinya harus bertanggungjawab penuh.
Tetapi meskipun keinginan hatinya seperti itu, dia tetap tidak akan sanggup melakukan apa yang ingin dilakukannya sekarang.
Kembali ke perkataan di atas. Kalau Pendekar Tanpa Nama sudah bertekad, siapa yang dapat mencegahnya?
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tapi kalau Tuan membutuhkan bantuan, katakan saja. Aku bersama seluruh anggota Kay Pang Pek yang ada di tempat ini siap mempertaruhkan nyawa untuk membantu Tuan," katanya serius.
"Baik, aku akan selalu mengingat perkataanmu ini. Sebelumnya aku sangat berterimakasih,"
Tanpa terasa keduanya sudah bicara cukup lama. Bahkan dua kali mereka menambah arak dan daging.
###
Sekarang malam hampir tiba. Rembulan muncul di ufuk Timur. Cakra Buana sudah keluar dari restoran tadi beberapa saat yang lalu.
Si ketua cabang Kay Pang Pek juga sudah kembali lagi ke markasnya. Keduanya sudah berpisah.
Orangnya tidak mengikuti. Tapi apa yang telah dia ucapkan tadi selalu mengikuti ke mana Cakra Buana pergi.
Semua ucapan si ketua cabang terkait Perkampungan Raja Harimau sangat penting sekali bagi Pendekar Tanpa Nama. Oleh sebab itulah sedikitpun dia tidak melupakannya begitu saja.
Semua ucapannya seolah telah di patri dalam sanubarinya. Setiap perkataannya sudah di hapal diluar kepala.
Sekarang pemuda itu berjalan seorang diri. Dia ingin mencari suatu tempat yang sunyi dan penuh ketenangan. Kebetulan di depan sana ada sungai. Airnya juga jernih. Di pinggirnya ada pohon rindang.
Pendekar Tanpa Nama segera berjalan ke sana. Dia tidak mau langsung menuju ke Perkampungan Raja Harimau. Sebenarnya sungai itu bukan tujuan utamanya.
Kalau benar bukan, lantas untuk apa dia ke sana?
Tentu saja untuk tidur. Sebelum melakukan suatu hal yang besar, kau dituntut untuk beristirahat selama mungkin. Buat tubuhmu tenang, buat dirimu siap untuk melakukan segalanya.
Biasakan sebelum melangkah, kau harus mempersiapkan segala macam hal yang berhubungan dengannya.
__ADS_1