
Dua pertarungan hebat yang terjadi di depan kedai itu sudah selesai dalam waktu sekejap mata. Burung gagak memperdengarkan suaranya yang membawa perasaan seram.
Suasana kedai yang sebelumnya memang sudah seram, sekarang tentu bertambah seram lagi.
Sembilan orang manusia yang tewas itu membawa rasa penasaran ke alam baka. Darah yang mengucur dari masing-masing tubuhnya perlahan mulai mengering. Tinggal bau amisnya saja yang tercium kentara.
"Apakah kau terluka?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil berjalan menghampiri Sian-li Bwee Hua.
"Bahkan jika bertarung melawan dua atau tiga Nenek Murah Senyum pun, belum tentu aku akan terluka," kata gadis itu sambil tertawa manja.
Lesung pipit yang muncul di kedua pipinya menambah daya tarik tersendiri. Senyuman itu menjadi jauh lebih manis lagi.
Kalau orang lain yang berkata, tentunya Cakra Buana akan tertawa terpingkal-pingkal. Untungnya yang bicara adalah Sian-li Bwee Hua. Seorang pendekar wanita yang sudah menguasai Kitab Tapak Sejagad.
Kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Semua pendekar di Tiongkok tahu akan hal ini. Bahkan Pendekar Tanpa Nama sendiri tidak yakin dapat mengalahkannya dengan mudah jika bertarung dengannya.
"Aku percaya. Kemampuan Sian-li Bwee Hua memang di atas rata-rata," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil tertawa menggoda.
Ling Ling juga tertawa. Kedua orang itu tampak bahagia. Padahal mereka baru saja melewati pertarungan hidup dan mati.
"Apakah kita akan pergi?" tanya gadis itu setelah berhenti tertawa.
"Tentu saja. Tapi sebelum itu aku ingin memeriksa keadaan di dalam kedai,"
"Memangnya kenapa?"
"Aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu," jawab Cakra Buana.
Dia berjalan lebih dulu ke dalam kedai makan tadi. Ling Ling ikut di belakangnya. Sesampainya di dalam, pemuda itu segera memeriksa seluruh tempat yang baginya mencurigakan.
Seluruh tempat sudah diperiksa, tapi Cakra Buana tidak menemukan petunjuk apapun. Namun dirinya yakin, di kedai itu memang terdapat sesuatu, tapi apa pastinya, dia sendiri belum mengetahui.
"Apakah seluruh tempat sudah kau periksa?" tanya Ling Ling.
"Sudah,"
"Kau menemukan sesuatu?"
"Belum,"
Ling Ling hanya menghela nafas. Dia tkdak bicara apapun lagi. Sedangkan Cakra Buana terus melanjutkan pencariannya.
__ADS_1
Tinggal laci tempat uang yang belum dia periksa. Mungkinkah sesuatu itu ada di dalam sana?
Tanpa berpikir panjang lagi, Pendekar Tanpa Nama langsung membuka laci tersebut.
Wushh!!! Wushh!!!
Belasan jarum hitam melesat begitu dia membuka laci tersebut. Untungnya gerakan Cakra Buana sangat cepat sehingga dia tidak terkena oleh lesatan jarum hitam itu.
Begitu dibuka dan ditelisik kembali, ternyata di dalam laci sudah ada alat semacam pegas yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga pada saat laci dibuka, senjata rahasia itu langsung terlontar secara otomatis.
"Ternyata setiap langkah mereka sudah diperhitungkan," gumam Cakra Buana.
Tebakan pemuda Tanah Pasundan itu memang benar. Di dalam laci uang tersebut terdapat sesuatu. Tapi bukan senjata ataupun sejenisnya.
Melainkan hanya sebuah surat. Surat yang ditulis di atas daun lontar.
Karena penasaran, Pendekar Tanpa Nama langsung membuka dan membacanya. Tulisan di dalam surat itu tidak panjang. Paling hanya terdiri dari beberapa patah kata saja.
"Bunuh Pendekar Tanpa Nama dengan cara apapun. Siapapun yang bersamanya wajib mati!!!"
Isinya hanya kata itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
Meskipun dia berkata secara perlahan, tapi karena situasi di sana amat hening, maka suaranya bisa terdengar pula oleh Ling Ling.
Gadis itu berjalan mendekat. Kemudian katanya, "Apa isinya?"
Cakra Buana memperlihatkan isi surat itu kepadanya. Begitu tahu apa isinya, Ling Ling mengepalkan tangan. Daun lontar itu dia remas hingga robek.
"Mereka ternyata ingin bermain-main dengan kita," katanya geram.
"Jangan terlalu diambil pusing. Kita ikuti saja apa mau mereka," kata Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum ke arah Sian-li Bwee Hua.
Mereka segera keluar untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Namun baru saja tiba di pintu, keduanya dibuat tertegun. Mereka juga kaget.
Sembilan mayat tadi sudah tidak ada di sana. Satu orang pun tidak ada.
Ke mana perginya mereka? Kenapa bisa menghilang hanya dalam waktu yang sangat singkat? Apakah sembilan orang itu hidup lagi?
Wushh!!!
Satu benda hitam memanjang meluncur dengan derss ke arah Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Hanya mengangkat kedua jari tangan kanannya, benda tersebut langsung berhenti setelah dijepit Cakra Buana.
Sebatang anak panah. Ya, benda yang dimaksud adalah itu. Di tengah-tengah batangnya ada surat pula. Tanpa berpikir panjang, dia langsung membuka tali lalu membaca isinya lagi.
"Hidupmu tidak akan tenang …"
Isi dari surat yang ditalikan di batang anak panah itu hanya berisi empat patah kata tersebut saja. Meskipun singkat, tapi hal itu saja sudah kembali membuat mereka berdua kesal.
Prakk!!!
Anak panah itu patah. Cakra Buana meremasnya hingga menjadi beberapa bagian kecil. Dari sini saja sudah bisa dipastikan bahwa pemuda itu telah dibuat geram.
"Kita pergi sekarang juga. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan oleh mereka," ujarnya sambil melangkah mendekati kuda.
Wushh!!!
Pada saat mereka mau menaiki kudanya masing-masing, tiba-tiba satu bayangan hitam melesat secepat helaan nafas dari balik semak-semak.
Sian-li Bwee Hua ingin mengejar bayangan itu. Namun kemudian dia mengurungkan niatnya karena Pendekar Tanpa Nama melarang.
"Biarkan dia pergi. Toh nanti juga bakal ketemu lagi. Sekarang fokus saja ke perjalanan," ujarnya mengingatkan.
"Haaa … haaa …"
Keduanya membedal tali kekang kuda. Kuda jempolan yang mengeluarkan keringat merah darah itu segera lari dengan kencang meninggalkan debu yang mengepul tinggi.
Mereka terus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Cakra Buana masih berada di posisi paling depan. Ling Ling tetap mengikuti di belakangnya dengan jarak yang tetap.
###
Beberapa hari sudah berlalu. Setelah kejadian di kedai makan menyeramkan itu, perjalanan keduanya tetap diwarnai oleh berbagai macam kejadian janggal dan teror.
Sayangnya sebanyak apapun teror itu, Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua dapat melewatinya dengan mudah.
Entah sudah berapa banyak manusia yang telah mereka bunuh selama perjalanan menuju ke Gunung Tilu Dewa. Namun sebanyak apapun korbannya, manusia yang dibunuh oleh mereka adalah manusia yang pantas untuk mati.
Saat ini hari masih pagi. Sinar mentari pagi baru saja menampakkan sinar keemasannya ke bumi. Suara burung berdecit riang. Para petani yang akan berangkat ke sawah ladang mereka tampak sangat bahagia. Tak jarang orang-orang itu bercanda tawa di tengah perjalanannya.
Suasana desa itu lumayan ramai. Banyak rumah warga yang berjejer cukup rapi. Meskipun hidup dalam keadaan kekurangan, ternyata orang-orang itu tidak murung. Mereka malah terlihat bahagia. Bahagia luar dan dalam.
Ternyata kebahagiaan itu tidak susah. Asalkan kita mau menerima dan mensyukuri apa yang kita miliki, maka kita akan menemukan arti kebahagiaan itu.
__ADS_1