
Tugas Cakra Buana telah selesai. Dia telah membalaskan dendam kematian gurunya, Pendekar Tanpa Nama. Dua tokoh dunia persilatan yang terlibat dalam tragedi kematian gurunya, kini telah tewas di tangan dia sendiri.
Cakra Buana merasa puas. Dia merasa bangga. Akhirnya sang guru bisa beristirahat dengan tenang di alam sana.
Sekarang yang harus dia lakukan hanyalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pusaka ginseng seribu tahun. Kalau pusaka itu sudah dia dapatkan, maka seluruh tugasnya telah benar-benar selesai. Masalah apa yang akan dilakukan ke depannya, dia belum tahu pasti.
Yang jelas pemuda itu ingin segera kembali ke Tanah Pasundan sebagai tanah kelahirannya.
###
Satu minggu sudah berlalu.
Kejadian seminggu lalu saat Pendekar Tanpa Nama membunuh Pendekar Pedang Tanpa Bayangan, Pedang Biru, Pedang Kembar Hitam dan Setan Tombak Halilintar serta puluhan tokoh lainnya, selama belakangan ini menjadi berita yang sangat menggemparkan jagat dunia persilatan.
Hampir setiap saat, setiap sudut tempat, setiap orang, membicarakan terkait kejadian tersebut.
Bagaimana tidak? Pembunuhan itu dilakukan secara bergiliran dalam waktu yang sama dan hari yang sama pula. Kalau yang dibunuh tokoh kelas bawah, mungkin hal itu masih mausk akal. Namun yang dibunuh oleh Pendekar Tanpa Nama itu, semuanya merupakan tokoh kelas atas.
Bahkan dua di antaranya merupakan tokoh tua yang namanya pernah menggetarkan sungai telaga puluhan tahun lalu.
Semua orang hampir tidak ada yang percaya terkait berita tersebut. Tapi bagaimanapun juga, jika yang bicaranya orang-orang yang mempunyai kedudukan tertentu, mau tidak mau harus percaya.
Alasan orang-orang yang mendengar tidak percaya karena melihat umur Cakra Buana masih sangat muda. Lagi pula, dia bukan pendekar asli Tionggoan. Selain itu, pemuda tersebut juga bukan merupakan datuk dunia persilatan.
Bagaimana mungkin dia sanggup melakukannya? Yang sanggup melakukan hal seperti itu hanyalah datuk dunia persilatan seperti Huang Pangcu misalnya. Tapi ini, seorang pemuda asing yang bahkan masih hijau di dunia persilatan Tionggoan, benarkah dia sanggup?
Berita terkait pembantaian itu semakin lama semakin meluas. Setiap orang-orang rimba hijau pasti mendengar tentang kabar tersebut. Tidak ada yang tidak mendengar, semuanya pasti mendengar.
Hal ini menjadikan nama Pendekar Tanpa Nama semakin naik daun. Sepak terjangnya yang selalu menggemparkan menjadi buah bibir tersendiri. Dia menjadi lebih terkenal, lebih disegani dan ditakuti.
Namun meskipun begitu, bukan berarti tidak ada yang berani lagi kepada Cakra Buana. Justru karena hal tersebut lah dirinya semakin diburu oleh kaum sesat dunia persilatan.
Konon kabarnya para kaum sesat sudah bersatu satu sama lain untuk membunuh pendekar muda itu. Bagaimanapun caranya, dia harus mampus.
Pagi hari tiba.
Pendekar Tanpa Nama sedang berjalan menikmati suasana pagi yang indah. Harum bunga mekar tercium menggoda selera. Bunyi kicau burung sangat nyaring menyambut datangnya pagi. Sinar keemasan Sang Surya menyorot ke bumi memberikan kehangatan yang menenangkan.
__ADS_1
Cakra Buana sedang duduk di sebuah batu hitam besar di atas sungai yang airnya sangat jernih. Sepasang matanya memandangi air sungai itu sambil menikmati suara pancuran air terjun.
Pada saat seperti itu, telinganya mendadak mendengar suara lain. Suara itu sangat pelan, pelan sekali. Entah kapan, tahu-tahu di pinggirnya sudah duduk pula orang lain.
Dia adalah seorang wanita. Wanita cantik dengan pakaian yang sederhana namun mahal harganya. Dia juga memakai sebuah cadar.
Bagi Cakra Buana, wanita itu tidak asing. Dia justru telah mengenalnya dan pernah bertemu sebelumnya.
Wanita cantik dengan keharuman menyegarkan yang selalu keluar dari tubuhnya. Sepasang mata itu masih indah, wajahnya masih manis, tatapan matanya masih mampu menggetarkan sukma.
Wanita itu tidak lain adalah Sian-Li Bwee Hua (Dewi Bunga Bwee) Ling Ling.
Dia datang seorang diri. Begitu dirinya duduk di atas batu hitam tersebut, wanita cantik itu langsung menyodorkan satu guci arak kepada Pendekar Tanpa Nama.
Tanpa banyak berkata, Cakra Buana langsung menerima guci arak tersebut lalu segera menenggaknya dengan lahap.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ling Ling dengan mesra. Meskipun cukup lama tidak bertemu, namun suara wanita yang cantik bagaikan Dewi itu tidak berubah. Suaranya masih lembut meggoda seperti pada saat malam waktu lalu.
"Kabarku baik, bagaimana dengan kabarmu sendiri?" tanya kembali Cakra Buana sambil melemparkan senyuman yang dapat memikat wanita di hadapannya tersebut.
Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Saat sepasang mata mereka bertemu, ada getaran lain dalam diri mereka masing-masing.
Tatapan yang satu menenangkan. Tatapan yang satu menggetarkan.
Keduanya tersenyum lembut. Senyuman mereka sangat memikat dan mengandung daya kekuatan hebat. Seolah senyuman itu sanggup meruntuhkan bukit nun jauh di sana.
"Kau masih tetap cantik," puji Cakra Buana.
"Kau pun masih tampan. Bahkan bertambah tampan," jawab Sian-Li Bwee Hua Ling Ling dengan nada suara genit.
Keduanya tertawa bersama. Entah kenapa, saat mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Dunia pun terasa milik berdua. Perasaan mereka juga lain dari pada saat lainnya.
Apakah mereka saling mencinta?
"Kenapa kau bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Cakra Buana lebih lanjut.
"Kau jangan lupa siapa aku,"
__ADS_1
"Kau adalah ketua cabang perkumpulan?"
"Nah, sebagai ketua cabang, bukankah tidak heran jika aku dapat mengetahui kau berada di mana?"
Setelah mengingat kembali, Cakra Buana langsung paham. Sebagai seorang ketua, hal apa lagi yang tidak bisa dilakukannya?
"Kau masih menjabat sebagai ketua cabang perkumpulan itu?"
"Tidak. Sekarang aku telah kembali menjadi anggota,"
"Anggota Organisasi Naga Terbang?"
"Bagaimana kau tahu?"
Sian-Li Bwee Hua tersentak kaget setengah mati. Bagaimana pemuda itu bisa tahu tentang organisasi tersebut? Padahal organisasi itu merupakan sebuah organisasi yang bergerak sangat rahasia.
Siapapun tidak ada yang tahu. Lantas, dari mana Cakra Buana mengetahuinya?
"Nanti kau tahu sendiri, kau berada di posisi keberapa?"
Di jawab seperti itu, Ling Ling si Dewi Bunga Bwee tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia cukup paham bagaimana watak pemuda di hadapannya tersebut.
Karena itulah, Ling Ling lebih memilih untuk menjawab pertanyaan Cakra Buana barusan. "Aku berada di urutan ketiga," jawabnya perlahan.
Sekarang giliran Cakra Buana yang tersentak kaget. Kalau wanita itu berada pada urutan ketiga dalam Organisasi Naga Terbang, sampai di mana kah kemampuannya?
"Luar biasa, tak kusangka kau menempati urutan ketiga,"
"Kau terlalu memujiku,"
Cakra Buana tersenyum simpul. Meskipun wanita itu selalu merendah, walaupun dia selalu bersikap baik padanya, namun Cakra Buana harus tetap waspada. Dia harus selalu ingat bahwa Dewi Bunga Bwee adalah musuh.
Sekalipun wanita itu terlihat mencintai dirinya, tapi Cakra Buana tetap harus berhati-hati.
Isi hati dan tujuan orang sebenarnya, siapa yang dapat mengetahui secara pasti?
Karena itulah, dalam hal apapun, kita diwajibkan untuk selalu hati-hati dan selalu waspada.
__ADS_1