Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kedatangan Pihak Pendekar Tanpa Nama


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama tampak seperti Malaikat Maut yang menakutkan. Dia sanggup mencabut nyawa seorang pendekar kelas satu hanya dengan beberapa kali gebrakan saja.


Prabu Katapangan Kresna dan Selir Anjani mengerutkan keningnya. Ekspresi dua orang itu sulit dibaca. Namun yang pasti, mereka pun merasakan hal serupa. Keduanya ketakutan setengah mati.


Membunuh seorang pendekar kelas satu bukanlah sesuatu yang mudah. Sekalipun hal itu dilakukan oleh tokoh pilih tanding. Sekarang di hadapannya, Pendekar Tanpa Nama terus membantai sepuluh orang pasukan elit Kerajaan itu satu persatu dengan mudahnya, siapa yang tidak terkejut dengan pemandangan kali ini?


Jangankan Prabu Katapangan, malah Selir Anjani sendiri tidak yakin sanggup melakukannya semudah pemuda itu.


Sementara itu, pertempuran di hadapan ratusan orang tersebut masih berlanjut lagi. Delapan pasukan elit Kerajaan sudah mampus di bawah tajamnya Pedang Naga dan Harimau. Darah sudah membasahi tanah yang berdebu itu.


Dua orang sisanya sudah kehilangan semangat untuk bertarung. Mereka seakan sudah pasrah. Mati atau hidupnya sudah tidak dipikirkan lagi. Yang mereka inginkan hanyalah secepat mungkin menyelesaikan pertarungan ini.


Di tengah pertempuran hebat yang terjadi, mendadak dua orang pasukan itu melompat mundur ke belakang. Mereka seperti akan mengucapkan sesuatu, tetapi sayangnya tidak sempat.


Sebab tepat pada saat itu, Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama telah tiba di hadapan matanya dan langsung menembus tenggorokan mereka dengan sangat cepat. Selilih waktunya hanyalah sedikit saja. Seolah kejadian itu berlangsung satu kedipan mata.


Slebb!!! Slebb!!!


Suara ngorok terdengar. Pendekar Tanpa Nama segera mencabut pedangnya ketika dua nyawa pasukan itu telah melayang.


Suasnaa hening. Tiada satu orang pun yang berani membuka suaranya. Mereka masih dirundung oleh perasaan takut yang tiada terkira.


Segumpal awan hitam bergerak kemudian menutupi rembulan yang sedang bersinar terang itu.


Malam menjadi suram. Seperti suramnya harapan Prabu Katapangan Kresna dan Selir Anjani.


"Tak kusangka, ternyata kau berani membunuh sepuluh pasukan elit Istana Kerajaan,"


"Lebih baik membunuh daripada dibunuh,"


"Sejak kapan kau kurang ajar seperti ini?" tanya Prabu Katapangan Kresna sambil memandang Pendekar Tanpa Nama dengan penuh amarah.


"Sejak Kerajaan Kawasenan disusupi oleh orang-orang asing. Sejak Kerajaan besar ini dihuni oleh manusia-manusia iblis yang berani menyaru menjadi orang-orang dalam,"

__ADS_1


Suara Cakra Buana terdengar mendalam. Selapis hawa pembunuhan masih terasa kental di sekitar tempat berdiri Pendekar Tanpa Nama. Matanya amat tajam. Di balik tatapan mata itu terdapat dendam sedalam lautan.


Prabu Katapangan Kresna tersentak kaget. Begitu juga dengan Selir Anjani. Malah masing-masing pengawal mereka juga merasakan hal yang sama.


Kenapa Pendekar Tanpa Nama berkata demikian? Apa pula yang dirasakan oleh orang-orang itu?


"Semakin lama kau semakin kurang ajar. Prajurit, serang pemuda keparat itu!!!" kata Prabu Katapangan Kresna memberikan perintah kepada semua prajurit Kerajaan yang sudah sejak tadi bersiap-siaga itu.


Semua prajurit langsung bergerak. Yang menggunakan pedang segera mencabut pedangnya. Begitu juga yang menggunakan golok.


Mereka yang bersenjata tombak langsung mengacungkan tombaknya. Sedangkan yang memakai gendewa segera mengambil anak panah runcing yang sudah siap untuk dilesatkan.


Semua prajurit langsung bergerak mengurung Pendekar Tanpa Nama. Sedangkan di sisi lain, pemuda itu masih diam saja. Sedikitpun belum bergerak. Cakra Buana tampak sangat tenang. Seolah dia tidak takut meskipun dirinya sudah dikepung oleh ratusan orang prajurit tersebut.


Akan tetapi, hakikatnya memanglah demikian. Membunuh ratusan prajurit itu, bagi Pendekar Tanpa Nama bukanlah suatu hal yang sulit. Baginya malah sangat gampang.


Namun benarkah Cakra Buana harus membunuh kembali ratusan manusia tak bersalah tersebut? Apakah dia akan tega?


Hal itu sangat menyedihkan. Orang yang tidak tahu apa-apa, turut menjadi tumbal, bukankah hal tersebut sangat mengenaskan?


Di dunia ini, berapa banyak manusia yang menjadi korban tak bersalah dalam setiap tragedi? Berapa banyak pula jumlah manusia-manusia yang terbunuh sia-sia?


Sekalipun benar mereka itu seorang prajurit Kerajaan, akan tetapi sejatinya orang-orang itu tetap tidak bersalah. Mereka tidak tahu apa-apa, kecuali hanya mengikuti setiap perintah atasannya.


Memangnya mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah dalam persoalan pelik ini?


Pada saat ratusan prajurit tersebut siap melakukan serangan pertama, mendadak terdengar suara yang tegas dan lantang.


"Tahan!!!"


Suara yang menggelegar terdengar membelah kesunyian dan ketegangan di Istana Kerajaan. Selapis hawa yang teramat sangat menekan terasa bagaikan sebuah batu besar yang menindih punggung setiap orang-orang di sana.


Semilir angin dingin berhembus. Bau harum semerbak tercium oleh setiap orang.

__ADS_1


Dari luar gerbang Istana Kerajaan yang sudah hancur, mendadak muncul beberapa orang. Meskipun jumlahnya hanya beberapa, namun kemunculan mereka sudah mampu menghipnotis semua manusia itu.


Semua prajurit Istana Kerajaan, sepuluh pasukan Elit Istana, bahkan termasuk kelompok Selir Anjani, juga dibuat mematung.


Sedangkan Pendekar Tanpa Nama justru tersenyum simpul. Dia sudah tahu siapakah pemilik suara itu.


Ya, si pemilik suara tersebut bukan lain adalah Ratu Ayu Nirmala Kencana Putri.


Dia datang bersama Dua Dewi, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Gagak Bodas dan Jalak Putih, Pendekar Belati Kembar, dan yang paling mengejutkan Cakra Buana adalah bahwa bibinya datang pula bersama empat datuk dunia persilatan.


Kenapa mereka bisa bersama? Apakah orang-orang itu sebelumnya sudah mengadakan sebuah perjanjian?


Cakra Buana masih memperhatikan kedatangan mereka. Ternyata bukan hanya orang-orang itu saja. Tidak jauh di belakangnya, ada pula seratusan prajurit Kerajaan lainnya. Di paling depan ada empat prajurit lain yang menggotong tandu. Di dalam tandu, tentunya ada seseorang.


Akan tetapi siapakah orang itu? Apakah akan ada kejutan lainnya?


Pendekar Tanpa Nama tidak bisa memastikan siapakah orang dalam tandu tersebut. Pemuda itu bakal tahu kalau tentunya orang yang dimaksud menampakkan dirinya.


Tapi sayang sekali, hingga rombongan mereka tiba di dalam halaman Istana Kerajaan pun, orang dalam tandu itu tidak juga memperlihatkan siapakah dirinya.


Sementara itu, semua prajurit yang tadi sempat berniat untuk melancarkan serangan kepada Pendekar Tanpa Nama, sekarang mereka sedang berlutut memberikan hormatnya begitu melihat kedatangan Ratu Ayu.


Perasaan mereka campur aduk. Ada yang ketakutan setengah mati, ada pula yang terlihat girang begitu mengetahui kalau junjungan wanitanya sudah sembuh seperti sedia kala.


"Berdiri," tegas Ratu Ayu dengan lantang kepada para prajurit itu.


Semua prajurit serentak langsung berdiri secara bersamaan. Mereka amat patuh kepada Ratu Ayu.


"Kembali ke tempat kalian sebelumnya," ujarnya melanjutkan.


"Baik …"


Suara gabungan dari semua prajurit itu menggema ke seluruh jagat raya. Tanah seakan bergetar. Langit seperti berguncang.

__ADS_1


__ADS_2