Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Firasat Buruk


__ADS_3

Si Gendut Yang Pintar dan si Walet Putih hanya tertawa saja. Namun keduanya tidak mengatakan apa-apa.


Tidak berapa lama kemudian, pesanan mereka telah tiba. Tiga orang pelayan datang mengantarkan berbagai macam hidangan yang menebarkan bau harum ke seluruh ruangan.


Setelah hidangan di letakkan di meja makan yang besar dan mewah itu, ketiga orang tersebut segera menyantapnya dengan lahap.


Si Walet Putih makan dengan lahap. Si Gendut Yang Pintar jangan ditanya lagi. Dia malah tiga kali lipat lebih lahap dari pada orang tua itu. Sedangkan Cakra Buana, dia hanya menyentuh sedikit saja makanannya.


Pemuda itu malah mengambil arak lalu meneguknya langsung dari guci. Selera makan Cakra Buana telah sirna setalah kejadian barusan. Entah kenapa, firasatnya mengatakan sesuatu akan terjadi.


Tapi terkait sesuatu apa itu, dia sendiri sama sekali tidak tahu.


"Kenapa kau tidak makan?" tanya si Gendut Yang Pintar. Bicaranya sedikit tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Aku tidak ada selera. Kalian berdua saja yang makan. Habiskan semua makanan ini, masalah biayanya biar aku yang menanggung," kata Cakra Buana sedikit malas.


Si Gendut Yang Pintar dan si Walet Putih saling pandang. Sepertinya orang yang mirip bola itu bertanya kenapa secara tiba-tiba Cakra Buana menjadi sedikit aneh. Jawaban si Walet Putih hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahu.


Setelah itu keduanya segera melanjutkan makan kembali tanpa menghiraukan tingkah Cakra Buana yang mendadak berubah itu.


Sekitar setengah jam kemudian, keduanya sudah menyelesaikan makan mereka. Cakra Buana masih tidak bicara. Kedua matanya seperti menerawang jauh. Entah apa yang sedang dia pikirkan, sebab tidak ada seorang pun yang tahu.


"Apakah kalian sudah selesai makan?" tanya Cakra Buana setelah sekian lama terdiam.


"Sudah,"


"Aku juga. Kau tidak mau bertanya apa-apa lagi kepadaku?" tanya si gendut.


"Tidak,"


"Baiklah. Kalau begitu aku akan pulang sekarang," katanya lalu bangkit berdiri.


"Aku akan mengantarmu," ucap Cakra Buana.


"Tidak usah. Kau jangan khawatir. Lima orang pengawalku dapat diandalkan, aku tidak memerlukan bantuanmu,"


Untuk sesaat Cakra Buana seperti terlihat kebingungan. Hanya saja, dia tidak bicara apapun.

__ADS_1


"Aku tahu, kau hanya perlu uangku," sambil berkata demikian, Pendekar Tanpa Nama langsung melemparkan sekantong keping emas kecil.


"Terimakasih,"


"Kau tidak mau menghitungnya lebih dulu?!


"Tidak perlu,"


Si Gendut Yang Tahu segalanya langsung berjalan menuruni anak tangga. Setiap dia berjalan, sepertinya bumi bergetar dibuat olehnya.


Setelah sampai di pintu keluar, lima orang berpakaian serta bercadar hitam langsung menyambutnya. Satu kereta kuda yang sangat mewah telah menanti di depan sana. Kudanya berwarna kemerahan. Tubuhnya tinggi kekar. Sekilas saja bisa di lihat bahwa kuda itu adalah kuda jempolan.


Si Gendut Yang Tahu Segalanya langsung masuk ke dalam gerobak kereta. Sedangkan lima orang tadi segera menghilang dari pandangan.


Mereka adalah pengawal pribadinya. Lima orang itu memang sangat bisa diandalkan. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Entah sudah berapa puluh kali mereka menyelamatkan nyawa si gendut itu.


Kelima orang tersebut bisa dikenal sebagai Lima Bayangan Kelam. Mereka memang mirip bayangan yang tidak terpisahkan. Ke mana pun pergi majikannya, maka mereka pasti akan mengikutinya.


Demi untuk dikawal Lima Bayangan Kelam setiap saat, si Gendut Yang Pintar tidak segan untuk merogoh kocek yang mahal. Namun semua itu sudah cukup, sebab terbukti bahwa kerja mereka memang patut di acungi jempol.


Semua itu terbukti hingga detik ini. Buktinya, orang gendut itu masih bisa hidup selama ini.


Setelah sekejap mata, si Gendut Yang Pintar sudah menghilang dari pandangan mata.


Di restoran lantai dua, Cakra Buana masih saja minum arak bersama si Walet Putih. Keduanya jarang bicara kecuali hanya beberapa patah kata saja. Seluruh hidangan yang dipesan habis oleh kedua rekan barunya.


Daging sebagai teman arak juga sama. Sehingga baru saja Cakra Buana memesan daging baru lagi.


"Kenapa kau berubah secara mendadak?" tanya si Walet Putih tidak bisa menahan rasa penasaran.


"Aku merasakan sesuatu akan terjadi. Sejak menemukan ada orang yang menguping, firasatku sudah buruk,"


"Itu adalah hal biasa. Mungkin karena kau terlalu lelah beberapa waktu belakangan ini," kata Walet Putih berusaha menenangkan Cakra Buana.


"Aku tahu, tapi kali ini berbeda,"


"Lantas, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya kepada pemuda itu.

__ADS_1


"Kita harus segera pergi dari sini dan menyusul si gendut,"


"Kalau kau tetap akan pergi sekarang, baiklah. Aku menurut,"


Cakra Buana segera memanggil pelayan dan membayar biaya makan. Tidak lupa juga dia memesan dua guci arak untuk bekal di perjalanannya.


Setelah transaksi selesai, keduanya segera turun ke bawah. Saat tiba diluar, mereka langsung berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Kecepatannya dalam bergerak tidak berbeda jauh dengan bayangan setan. Bayangan putih dan merah melesat menembuh kegelapan.


Cakra Buana semakin meningkatkan kecepatannya. Begitu juga dengan si Walet Putih. Dia berusaha untuk mengimbangi kecepatan pemuda itu.


Si Gendut Yang Pintar sedang tiduran di dalam kereta mewah miliknya. Lima Bayangan Kelam terus mengikuti dari belakang secara sembunyi-sembunyi dalam beberapa jarak.


Wutt!!!


Desiran angun tajam yang sangat cepat menyambar seorang demi seorang di antara Lima Bayangan Kelam. Tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya.


Setelah itu, suara dan gerakan yang sama juga mengarah ke kusir sekaligus kuda jempolan tersebut. Tidak berapa lama, si Gendut Yang Pintar juga mengalami hal yang sama.


Semua kejadian ini berlangsung sangat cepat sekali.


Suasana di sekitar sana mendadak hening. Sunyi. Sepi. Kereta kuda berhenti dan tidak maju lagi.


Sepeminum teh kemudian, Cakra Buana dan Walet Putih baru bisa menyusul si Gendut Yang Pintar.


Dari kejauhan sana, Pendekar Tanpa Nama telah menyadari bahwa sesuatu baru saja terjadi. Kakinya menjejak pohon lalu meluncur dengan deras ke depan. Dia langsung masuk ke dalam kereta kuda.


Begitu tiba di dalam, Pendekar Tanpa Nama dibuat terkejut setengah mati.


Si Gendut Yang Pintar telah tewas mengenaskan. Kuda jempolannya juga mati berdiri. Kusirnya sendiri ambruk ke tanah.


Cakra Buana langsung menelusuri keadaan sekitar. Dia kembali dibuat terkejut. Lima Bayangan Kelam, semuanya mampus. Jarak mereka berjauhan. Tapi kelimanya mengalami luka yang sama.


Bahkan luka-luka itu sama dengan luka yang ada di tubuh si Gendut Yang Pintar dan si kusir sendiri.


Cakra Buana berdiri mematung di tengah-tengah tempat tersebut. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.

__ADS_1


Jangankan angin, rasanya walaupun diterjang badai, pemuda itu akan tetap berdiri di tempatnya.


__ADS_2