Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kabar di Pagi Hari


__ADS_3

Hari sudah pagi. Matahari bersinar cerah. Para warga sudah menjalankan kegiatan mereka sehari-hari. Burung-burung bernyanyi penuh gembira.


Cakra Buana sedang berjalan di sebuah kota. Arah tujuannya ingin mencari kedai untuk melakukan sarapan pagi.


Dia berjalan di tengah pasar. Walaupun masih sangat pagi, ternyata di pasar sudah padat oleh orang-orang yang berdagang ataupun berbelanja.


Kereta kuda hilir mudik menarik barang-barang ataupun menarik penumpang. Para pedagang meneriakkan barang dagangan mereka masing-masing.


Sebuah kedai berdiri di pojok pasar. Keadaan di kedai tersebut juga sudah ramai. Sebab kedai itu merupakan salah satu kedai favorit. Terutama sekali sangat diminati oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan.


Selain karena teh hangatnya enak, di kedai tersebut juga tersedia arak wangi dan harum.


Cakra Buana masuk ke dalam kedai. Dia masih mengenakan pakaian serba merah. Bedanya, sekarang pemuda itu memakai caping.


Keadaan di dalam kedai sudah penuh. Lebih dari sebagian meja dan kursi sudah ditempati.


Dia mengambil tempat duduk di bagian paling pojok lalu memesan makanan. Sambil menunggu pesanan, Cakra Buana mencari-cari informasi tentang dunia persilatan.


"Apakah kau sudah mendengar kabar terbaru?" tanya seseorang berbaju hitam menyandang golok.


"Kabar tentang apa?"


"Kabarnya cucu dari Pangcu Kay Pang Pek menghilang,"


"Degg …"


Cakra Buana terkejut setengah mati. Cucu Pangcu Kay Pang Pek? Berarti Huang Mei Lan, apakah berita ini benar? Apakah orang itu salah bicara?


Cakra Buana belum bisa menemukan jawaban yang pasti. Bahkan dia sendiri baru mendengar kejadian ini. Terlepas kabar itu benar atau tidaknya, Cakra Buana tidak peduli. Yang jelas, dia harus mencari informasi sebanyak mungkin.


"Apakah kabar itu benar? Ah, mungkin hanya kabar bohong,"


"Terlepas kabar itu benar atau tidak, yang jelas sebagian anggota Kay Pang Pek sudah dikerahkan untuk mencari-cari di mana keberadaan Nona Huang Mei Lan. Aku sendiri tidak percaya, tapi begitulah kabar yang aku dapatkan,"


"Apakah kau tahu bagaimana dia bisa menghilang?"


"Entahlah, aku sendiri hanya mendengar saja. Tapi katanya, dia menghilang setelah tersebar kabar bahwa Huang Pangcu berteman dengan seorang pendekar asing yang bernama Cakra Buana. Konon katanya pendekar ini mempunyai masalah dengan Tujuh Perampok Berhati Kejam dan Kay Pang Hek,"


Untuk kedua kalinya Cakra Buana dibuat terkejut. Dia masih sangsi terhadap berita yang didengar pagi hari ini. Tetapi di lihat dari ekspresi mereka, jelas tidak ada kebohongan di dalam ceritanya.


Dia sama sekali tidak menyangka ada orang yang berani mencari masalah dengan Kay Pang Pek. Bukankah partai itu merupakan salah satu partai terbesar yang ada di Tionggoan? Cabangnya di mana-mana. Bahkan menurut kabar yang tersiar, partai itu mempunyai jumlah anggota keseluruhan sekitar ratusan ribu.


Masihkah ada yang berani mencari masalah dengannya? Kalau kabar ini benar, tentu orang itu sudah mencari penyakit sendiri.

__ADS_1


"Aii, siapapun pelakunya, orang itu sungguh berani sekali. Sepertinya dia sudah memakan nyali naga," kata orang di sisinya.


"Kau benar, orang itu sungguh nekad sekali. Sudah berapa lama Nona Mei Lan dikabarkan menghilang?"


"Katanya si dua tiga harian yang lalu,"


"Haishhh, semoga saja beliau cepat ditemukan. Aku yakin, pasti banyak yang akan membantunya, apalagi Kay Pang Pek selama ini tidak pernah membuat masalah,"


"Kau benar. Semoga saja seperti itu,"


Mereka masih melanjutkan kembali pembicaraannya. Tetapi sudah mengganti topik.


Pesanan datang, Cakra Buana segera menyantapnya selagi hangat.


Sarapan pagi itu harusnya enak. Tapi mendadak saja selera makannya menghilang setelah mendengar kabar barusan.


Pagi ini memang sangat cerah. Tapi hati Cakra Buana justru sangat mendung.


Tanpa banyak berkata, dia langsung membayar biaya makan. Lalu pergi melesat keluar kedai.


Orang-orang yang tadi membicarakan kabar tentang hilangnya Huang Mei Lan, tampak tersenyum misterius.


###


Hati Cakra Buana sudah geram. Kalau kabar ini benar, maka dia harus mengambil tindakan secepat mungkin.


Dengan kecepatan tinggi, dia berlari di atas atap bangunan pasar. Tujuan utamanya sekarang mencari markas cabang Tujuh Perampok Berhati Kejam.


Setelah menanyakan ke beberapa orang pendekar, pada akhirnya Cakra Buana berhasil menemukan markas perkumpulan sesat itu.


Letak perkumpulan persis di tengah-tengah pasar sebelah barat. Di samping sebuah restoran dan penginapan, di tengah-tengah itulah berdiri markas cabang Tujuh Perampok Berhati Kejam.


Kebetulan sekali markas cabang yang dia datangi sekarang, beberapa anggotanya pernah mempunyai masalah dengannya semalam.


Cakra Buana langsung masuk ke sana. Dia sama sekali tidak mengetuk pintu. Para anggota yang berani menghalangi, langsung dia lemparkan ke segala arah.


Seketika suasana di markas cabang mendadak gempar.


"Brakk …"


Pintu dijebol hingga hancur. Cakra Buana masuk ke ruangan kerja ketua cabang di sana yang bernama Kang Pou.


Dia tetap tenang meksipun pintunya dijebol orang. Namun wajahnya segera menggambarkan rasa kaget setelah tahu siapa yang datang.

__ADS_1


Cakra Buana mengangkat satu kakinya ke atas meja.


"Aihh, aku kedatangan tamu yang terhormat. Mohon maaf karena aku tidak sempat menyambut," kata Kang Pou.


Sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap tenang. Dia seorang ketua cabang, tentu saja harus bersikap layaknya ketua pada umumnya.


"Hemm," jawab Cakra Buana sambil memberikan tatapan mata setajam pisau.


Dia mendorong Kang Pou hingga hampir jatuh dari kursinya. Tapi dengan segera orang itu dapat menguasai diri kembali.


"Apakah aku sedang berhadapan dengan Pendekar Tanpa Nama?"


Cakra Buana mengangguk. Tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Apakah ada yang bisa dibantu?" tanya Kang Pou.


"Aku ingin menanyakan sebuah hal,"


"Silahkan,"


"Di mana Huang Mei Lan?" tanyanya langsung ke masalah inti.


Kang Pou mengerutkan keningnya.


"Apakah kau tahu ini tempat siapa?"


"Tentu saja tahu. Karena itu aku datang kemari,"


"Kalau sudah tahu, kenapa kau menanyakan Nona Huang Mei Lan di sini? Ini markas cabang Tujuh Perampok Berhati Kejam. Bukan markas cabang Kay Pang Pek,"


"Tapi aku mendengar Huang Mei Lan menghilang,"


"Lalu, apa urusannya denganku?"


"Huang Mei Lan menghilang setelah orang-orang tahu bahwa Huang Pangcu akrab denganku. Dugaanku tentu hanya satu, yang menculiknya tentu orang-orang yang punya masalah denganku. Dan Tujuh Perampok Berhati Kejam adalah salah satunya,"


"Kami tidak mengetahui soal ini. Kalau kau punya musuh dengan orang lain, kenapa pertama kali bertanya kepada kami?"


"Karena aku yakin yang lain tidak berani melakukannya,"


"Memangnya dengan siapa lagi kau punya masalah?"


"Kay Pang Hek,"

__ADS_1


"Bisa jadi dia. Kenapa kau menuduh perkumpulan kami? Kau pikir kami sudah gila sehingga berani mencari masalah langsung dengan Huang Pangcu?" bentak Kang Pou sangat marah.


Siapa yang tidak tahu kebesaran nama Huang Yang Qing si Kakek Tua Tongkat Hijau? Semua orang pasti tahu kepadanya. Apalagi dia merupakan salah satu datuk dunia persilatan.


__ADS_2