
Cakra Buana kembali berjalan, dia terus menyusuri lagi ruangan bawah tanah tersebut dengan tujuan semoga bisa menemukan sejilid kitab pusaka yang menjadi incaran setiap insan persilatan.
Ruangan bawah tanah itu sudah bobrok di sana sini. Sarang laba-laba telah tumbuh dan memenuhi setiap ruangan di sana. Bau apek tercium menyengat. Barang-barang yang ada di dalam ruangan itu sebenarnya bernilai tinggi. Semuanya barang antik.
Hanya saja karena sudah lama tidak terurus, barang-barang tersebut jadi terlihat lebih jelek lagi. Sekilas mungkin barang itu mirip seperti benda tak bernilai. Padahal bagi orang yang tahu, barang-barang itu justru merupakan benda yang mahal harganya.
Tempat sebegini mewahnya, tempat yang dipenuhi dengan barang-barang berharga, kenapa bisa sampai terbengkalai seperti ini? Sebenarnya tempat apakah ruangan bawah tanah ini? Bagaimana pula sejarahnya?
Cakra Buana tidak tahu. Sebenarnya dia sangat ingin tahu, sayangnya setelah beberapa lama mencari petunjuk agar bisa membongkar tentang sejarah tempat tersebut, pemuda itu sama sekali tidak dapat mengetahuinya.
Pendekar Tanpa Nama kembali melangkahkan kakinya.
Meskipun dia tidak mengetahui tempat itu secara pasti, namun dia tidak tampak gelisah. Sebisa mungkin dirinya berusaha agar selalu tenang.
Dalam kondisi apapun, sebisa mungkin kau harus dapat menjaga ketenangan diri.
Cakra Buana telah tiba di ruangan yang lain. Di ruangan tersebut ada sebuah tungku. Di pinggir tungku ada alat untuk membuat api. Kayu bakar yang cukup banyak bertumpuk di sebelahnya pula.
Melihat ini, pikiran pemuda itu langsung berjalan. Menurut Huang Pangcu dan si Buta Yang Tahu Segalanya, cara mengkonsumsi Ginseng Seribu Tahun adalah dengan cara direbus.
Sekarang saat bahan-bahan yang dibutuhkan sudah ada di depan mata, maka tanpa banyak berpikir lagi, Pendekar Tanpa Nama langsung bertindak.
Cakra Buana segera membuat api. Hanya sesaat, api pun menyala. Pemuda itu mengambil sebuah wadah air yang ada di dapur tua tersebut, kebetulan di sana pun ada air dalam sebuah gentong.
Setelah di isi air, dia langsung menaruh wadah itu di atas tungku. Selanjutnya tinggal menunggu air itu mendidih.
Pemuda itu duduk di depan tungku tersebut. Dia melamun, tapi entah apa yang sedang dia lamunkan saat ini.
__ADS_1
Apakah dia melamunkan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya? Ataukah dia melamunkan sesuatu lainnya?
Air telah mendidih. Cakra Buana langsung memasukkan Ginseng Seribu Tahun ke dalam panci yang menjadi wadah air. Setengah jam kemudian, akhirnya proses selesai.
Pemuda itu segera menuangkan air rebusan Ginseng Seribu Tahun ke dalam cangkir yang juga sudah tersedia di sana. Begitu air rebusan yang panas telah berubah menjadi hangat, Cakra Buana segera meminumnya saat itu juga.
Air Ginseng Seribu Tahun telah masuk ke tenggorokan. Segulung hawa panas segera menerjang tubuh Pendekar Tanpa Nama. Suhu tubuh yang sebelumnya normal, sekarang mendadak berubah menjadi sangat panas sekali.
Hampir saja Cakra Buana tidak tahan oleh efek panas tersebut.
Untungnya dia segera ingat apa yang telah diminumnya, tanpa banyak bicara lagi Cakra Buana segera duduk bersila. Dia langsung memejamkan matanya. Pikirannya mencoba untuk dikosongkan.
Pendekar Tanpa Nama mulai bersemedi. Meskipun hawa panas semakin menjadi, walaupun tubuhnya hampir tidak kuat, tapi pemuda itu tetap mencoba untuk tetap menguatkan diri. Cakra Buana menggertak giginya sendiri.
Perjuangan ini tidak boleh gagal di tengah jalan. Bagaimanapun caranya, dia harus berhasil mendapatkan manfaat dari ginseng pusaka itu.
Seluruh kulit di tubuh pemuda itu mulai memerah layaknya kepiting rebus. Seumur hidupnya, baru sekarang saja Cakra Buana merasakan panas yang segini panasnya.
Setelah hampir satu jam berjuang melawan hawa yang sangat panas itu, akhirnya Pendekar Tanpa Nama hampir berhasil.
Hawa itu mulai berubah hangat. Segulung kekuatan lainnya kembali mengaliri seluruh tubuh Cakra Buana. Hawa sakti terasa kembali seperti semula. Begitu juga dengan tenaga dalam.
Efek dari Ginseng Seribu Tahun secara perlahan mulai meresap dengan tubuh Cakra Buana. Tiga puluh menit kemudian, hawa itu sudah benar-benar menyatu dengannya.
Sekarang Pendekar Tanpa Nama merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Tubuhnya menjadi segar bugar. Seluruh luka di tubuhnya telah pulih total seperti sedia kala. Bahkan bekas tebasan senjata tajam pun tidak terlihat lagi.
Dia membuka matanya perlahan. Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam. Tubuhnya menjadi terasa sangat ringan. Kasarnya mungkin lebih ringan dari pada kapas.
__ADS_1
Efek Ginseng Seribu Tahun ternyata benar-benar luar biasa. Apa yang dikatakan dua sahabatnya terbukti. Sekarang dia percaya bahwa ucapan mereka bukan isapan jempol belaka.
"Pantas saja semua orang menginginkan benda pusaka ini," gumamnya seorang diri.
Cakra Buana merasa sangat senang. Akhirnya tujuan dia telah tercapai. Sesuatu yang paling dia impikan selama ini, sekarang telah terwujud.
Saat ini tenaga dalam Pendekar Tanpa Nama telah mencapai puncak kesempurnaan. Itu artinya, dia bisa menggunakan jurus pamungkasnya setiap saat. Kapanpun itu, dia bisa mengeluarkan jurus paling dahsyat tersebut.
Sebelumnya, kalau dia mau mengeluarkan Jurus Tanpa Bentuk, Jurus Tanpa Nama ataupun Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk, maka tenaga dalamnya akan berkurang drastis.
Tapi sekarang, hal itu sudah tidak berlaku lagi. Dia sudah bebas mengeluarkan jurus-jurus ampuh itu tanpa takut tenaga dalamnya berkurang banyak.
Pendekar Tanpa Nama semakin gembira pada saat dirinya mengingat semua ucapan ayahnya dulu pada saat di dalam goa.
"Kau harus mencari ginseng seribu tahun. Kau harus minum air rebusan ginseng itu untuk menyempurnakan tenaga dalam yang kau miliki. Setelah itu baru kau bisa menunaikan semua tugasmu,"
Ucapan tersebut kembali terngiang-ngiang di telinganya. Bahkan suara ayahnya masih terdengar dengan jelas, seolah ayahnya kembali mengatakan hal itu saat ini.
"Ayah, Ananda sudah berhasil menjalankan tugas. Ananda telah meminum air rebusan Ginseng Seribu Tahun, sekarang Ananda akan menunaikan tugas lainnya. Setelah semua urusan di sini selesai, Ananda akan segera kembali ke Tanah Pasundan," gumam Cakra Buana sambil memandangi langit-langit yang kotor.
Tak dapat dipungkiri lagi, Cakra Buana sudah merasakan kerinduan mendalam kepada tanah kelahirannya, Pasundan. Dia rindu kepada pamannya, Prabu Katapangan Kresna, dia rindu kepada Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, kepada para datuk rimba hijau, kepada semuanya.
Terlebih lagi, Cakra Buana sangat merindukan Bidadari Tak Bersayap.
Apa kabar sahabat-sahabatnya? Apa kabar keluarganya? Dan lagi, apa kabar kekasih tercintanya?
Pendekar Tanpa Nama seperti tenggelam ke sebuah alam kesunyian. Sepasang matanya tidak mampu melihat apa-apa kecuali kegelapan. Tubuhnya terasa melayang, dia setengah sadar setengah tidak. Pemuda tersebut ingin membuka mata dan melihat apa yang terjadi dengan dirinya, sayang, sepasang mata itu mendadak terasa sangat sulit dibuka.
__ADS_1