
Pendekar Tanpa Nama mencoba untuk duduk. Dia mencoba menaburkan obat bubuk agar lukanya cepat kering. Sebisa mungkin dia menaburkan obat tersebut dengan merata.
Setelah itu, dia bersila sambil memusatkan pikiran untuk menghimpun tenaga dalam. Matanya dipejamkan. Seluruh pikirannya dikosongkan sekosong mungkin.
Setelah beberapa puluh menit kemudian, Cakra Buana sudah selesai dari meditasinya. Pemuda itu kemudian membuka ransum yang dibawa di balik kantong bajunya.
Sekarang semuanya sudah selesai. Tubuhnya tidak merasakan sakit sesakit tadi. Rasa sakit yang saat ini dia rasakan telah jauh berkurang. Semua lukanya sudah kering. Wajah yang tadinya pucat pasi, saat ini sudah kembali segar bugar.
Pendekar Tanpa Nama tidak langsung bergerak. Dia masih duduk di tempatnya sambil membayangkan pertarungan yang belum lama ini dia jalankan.
Pertarungan itu jauh lebih dahsyat dari pada saat pertarungannya melawan si Tongkat Tua.
Kabar tentang kehebatan Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala ternyata bukan omong kosong belaka. Sekarang Pendekar Tanpa Nama mengetahui bagaimana hebatnya barisan tersebut.
Pemuda itu tidak akan pernah melupakan pertarungan tersebut. Bahkan hatinya sudah bertekad, jika nanti dia sudah mendapatkan Ginseng Seribu Tahun, maka Cakra Buana akan mencari mereka dan mencoba melangsungkan kembali pertarungan dengan sembilan tokoh itu.
Menurut analisanya, jangankan pendekar sekelas dirinya, bahkan sekalipun datuk dunia persilatan yang terkenal akan kehebatannya, belum tentu mereka dapat menembus barisan itu dengan mudah.
Dalam hatinya, Pendekar Tanpa Nama mau tidak mau harus mengakui kesempurnaan dan kehebatan Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala.
Cakra Buana bangkit berdiri. Dia mencoba melangkah ke bagian depan, pemuda itu ingin menyusuri ruangan bawah tanah yang sekarang dia tempati.
Sementara itu, berbarengan dengan kejadian Pendekar Tanpa Nama masuk ke dalam ruang bawah tanah tadi, sembilan tokoh yang ahli dalam memainkan Sembilan Barisan Harimau Mengepung Serigala, semuanya merasa heran.
Mereka tidak menyangka akan kejadian ini. Semuanya saling pandang, saat ini, orang-orang tersebut tidak tahu harus melalukan apa. Mereka pusing tujuh keliling.
Apakah mereka harus menyusul pemuda itu? Kalau iya, bagaimana cara menyusulnya? Sedangkan batu yang menonjol yang menjadi kunci untuk masuk ke ruangan bawah tanah tersebut tidak dapat digunakan lagi.
Batu itu sama sekali tidak berfungsi.
Kalau jalan utamanya tidak berfungsi, lalu bagaimana mereka bisa masuk ke sana?
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya si gendut yang merupakan salah satu anggota mereka.
"Aku sendiri tidak tahu," jawab rekan lainnya.
"Kalau Tuan Besar tahu akan hal ini, sudah pasti kita akan mampus," kata yang lain.
"Apapun akibatnya, kita harus siap menerima,"
"Benar,"
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa di ruangan bawah tanah itu?" tanya orang paling muda di antara mereka.
"Entahlah. Siapapun tidak ada yang mengetahuinya,"
Sembilan tokoh kemudian terbungkam. Pikiran mereka sedang melayang ke mana-mana.
Apa sebenarnya isi dari ruangan bawah tanah tersebut? Kenapa tempat itu menjadi tempat paling terlarang yang ada di sekitar Perkampungan Raja Harimau?
Mereka tidak tahu. Sembilan ahli itu benar-benar tidak mengetahuinya.
Namun yang jelas, selama ini, Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding sangat mewanti-wanti kepada semua anak buahnya bahwa siapapun tidak boleh ada yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Siapapun yang berani masuk ke sana, maka orang itu pantas untuk mati.
Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, akhirnya datuk dari Utara itu mengutus orang-orang yang ahli dalam memainkan Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala dan si Tongkat Tua.
Siapa sangka, ternyata mereka pun tidak bisa menjaga tempat itu dengan mulus. Hingga pada akhirnya, suatu kejadian yang sangat ditakutkan seperti sekarang ini terjadi.
"Apakah kita harus memberitahukan hal ini kepada Tuan Besar?" tanya si gendut yang seperti bola itu.
"Kau jangan bodoh. Memangnya kau mau mati lebih cepat?"
"Tentu saja tidak," jawabnya setengah berteriak.
"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan saat ini?" tanyanya mengulangi pertanyaan yang sama.
"Menunggu,"
"Menunggu?" tanya si gendut sambil berkerut kening.
"Ya, menunggu sampai bocah itu keluar dari ruangan bawah tanah tersebut,"
"Kau yakin dia akan keluar?"
"Kenapa tidak? Manusia maka yang rela berdiam di ruangan bawah tanah selamanya?"
Semua orang-orang itu kembali terdiam. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung pergi sambil membawa jasad si Tongkat Tua yang semakin dingin.
Hanya sekejap mata, sembilan bayangan manusia tersebut sudah tidak terlihat lagi.
Ke mana perginya mereka? Siapapun tidak ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
Di dalam ruangan bawah tanah, Pendekar Tanpa Nama sudah berjalan beberapa waktu lamanya. Pemuda itu telah berjalan ke sana kemari, tapi hingga sekarang dia belum juga menemukan sesuatu yang dicarinya.
Di mana letak benda pusaka yang dia cari? Apakah benda pusaka itu benar berada di tempat ini?
Cakra Buana menghentikan langkahnya. Sepasang mata yang tajam itu tertuju kepada sebuah kotak berukuran sekitar setengah meter. Kotak tersebut sudah sangat lapuk. Warna kayunya telah berubah total. Sarang laba-laba menyelimuti kotak tersebut.
Kotak apa ini?
Cakra Buana lantas mendekati benda tersebut. Ternyata kotak itu dikunci oleh sebuah gembok. Bagi orang lain, menghancurkan gembok tanpa kunci mungkin sangat susah. Tapi tidak bagi Pendekar Tanpa Nama.
Pedang Naga dan Harimau langsung dia cabut dari sarungnya.
Sringg!!!
Cahaya merah memenuhi ruangan tersebut. Sinar seperti bianglala tampak sangat indah.
Trangg!!!
Benturan benda keras terdengar. Begitu debu dan percikan api sudah lenyap, tampak di sana gembok kunci tadi telah berubah menjadi dua bagian.
Tanpa berlama-lama, Cakra Buana langsung membuka gembok tersebut secara perlahan.
Begitu membukanya, sepasang mata pemuda itu langsung terbelalak kaget. Bola matanya seakan mau terlepas. Nafasnya tersengal-sengal saking tidak percayanya.
Ternyata isi dari kotak lapuk tadi merupakan sebuah benda. Benda yang selama ini dia idam-idamkan, benda yang selama ini dia impikan untuk bisa dimilikinya.
Ginseng Seribu Tahun!!!
Benda yang ada di dalam kotak tersebut memang pusaka itu. Tangan kanan Cakra Buana langsung meraih ginseng tersebut, saat tangannya berhasil meraih, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Benda pusaka itu seperti membawa sebuah kekuatan tersendiri sehingga membuat tubuh Pendekar Tanpa Nama bergetar.
Setelah menguatkan tekad, akhirnya dia berhasil menyentuh Ginseng Seribu Tahun. Secara perlahan Cakra Buana mengangkat benda itu. Cahaya kuning menyilaukan membuat sepasang matanya tidak bisa melek.
Cahaya itu berasal dari ginseng pusaka tersebut.
Apakah perbawa sebuah pusaka seperti ini?
Akhirnya dia memasukan benda pusaka tersebu ke balik kantong bajunya. Kotak kayu lapuk tadi dia kembalikan ke tempatnya semula. Sedangkan dirinya sendiri langsung pergi dari tempat itu.
Dia ingin mencari satu benda pusaka lainnya lagi. Cakra Buana tahu bahwa barang yang menjadi perebutan kaum persilatan, selain Ginseng Seribu Tahun, masih ada satu benda lainnya.
__ADS_1
Benda yang dimaksud adalah sebuah kitab pusaka. Tapi, kitab pusakah apakah itu?