Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertarungan di Depan Kedai


__ADS_3

Lemparan kapak milik Curaweda gagal menemui sasarannya. Tapi hebatnya, kapak itu berputar lalu kembali lagi ke genggaman tangan pemiliknya.


Sekarang Nenek Murah Senyum dan Delapan Setan Berdarah Dingin juga sudah ada di tengah halaman kedai. Mereka segera mengurung Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua.


Kegelapan makin pekat. Lolongan serigala terdengar menyeramkan di kedalaman hutan sana. Tiga ekor burung gagak terbang melintasi halaman yang sebentar lagi akan menjadi medan pertarungan itu.


Sian-li Bwee Hua dan Pendekar Tanpa Nama masih berdiri dengan tenang. Sikap mereka tidak menunjukkan seseorang yang akan bertarung. Keduanya berdiri santai, sedikitpun tidak ada tanda-tanda memasang kuda-kuda.


Sembilan orang musuhnya belum ada yang bergerak. Seolah mereka masing-masing sedang mengukur sampai di mana kemampuan lawan yang akan di hadapinya.


Sringg!!! Sringg!!!


Tidak mau kalah dari Curaweda, tujuh orang anggota Delapan Setan Berdarah Dingin lainnya kini sudah mengeluarkan senjata pusaka mereka pula.


Delapan senjata pusaka yang tajamnya tidak diragukan lagi sudah diacungkan. Sekarang wajah Delapan Setan Berdarah Dingin sangat bengis, mereka bener-benar mirip seperti setan yang sedang marah besar.


"Mampus kalian bangsat cilik!!!" bentak Adiluhung dengan kalap.


Dia menerjang ke depan paling dulu. Senjata pusaka berupa cakar elang sudah dipegang olehnya. Senjata aneh dan unik itu sangat berbahaya, sebab di setiap ujungnya yang runcing itu sudah dilumuri oleh racun yang sangat ganas.


Enam jalur sinar perak siap mencakar tubuh Pendekar Tanpa Nama. Gerakannya amat cepat dan tangkas. Hanya beberapa kejap mata saja, Adiluhung sudah tiba di hadapan pemuda tampan itu.


Trakk!!!


Entah bagaimana caranya, tapi tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama berhasil menahan serangan Adiluhung yang berbahaya itu. Pemuda tersebut berhasil memegang pergelangan tangannya hingga serangan lawan langsung berhenti saat itu juga.


Bukk!!!


Sebuah tendangan dilayangkan hingga tepat mengenai dadanya.


Tubuh Adiluhung melayang deras ke belakang. Tapi dengan sigap dia menjejak udara lalu kembali melayangkan serangan berikutnya.


Tujuh orang rekannya tidak tinggal diam. Mereka pun segera turun ke gelanggang pertarungan itu.


Delapan sinar perak mengurung tubuh Pendekar Tanpa Nama. Setiap anggota Delapan Setan Berdarah Dingin membawa satu serangan maut yang dapat merenggut nyawa kapan saja.


Kerja sama mereka amat kompak. Delapan penjuru mata angin dapat dikuasai dengan mudah oleh mereka.

__ADS_1


Hanya sesaat, pertarungan sengit sudah terjadi di halaman depan kedai menyeramkan itu.


Pendekar Tanpa Nama dikurung oleh delapan macam serangan berbahaya. Sinar perak terus terlihat di sekitar arena pertarungan itu.


Debu mengepul tinggi. Angin menggulung mereka dengan gencar. Seluruh jalan keluar telah ditutup oleh lawan.


Tapi sepanjang jalannya pertarungan, belum ada satupun di antara Delapan Setan Berdarah Dingin yang berhasil menyentuh tubuh Cakra Buana.


Semua usaha mereka sia-sia. Seolah tubuh pemuda itu tidak dapat ditembus oleh benda pusaka apapun. Setiap ada serangan, tubuhnya selalu dapat berkelit dengan mudah. Padahal semua orang tahu bahwa posisinya saat itu berada di bawah angin.


Pendekar Tanpa Nama sengaja belum bergerak. Dia ingin melihat sampai di mana kegigihan lawan untuk membunuhnya. Sejauh ini, Cakra Buana cuma mempermainkan mereka dengan cara menangkis atau hanya berkelit saja.


Satu kalipun dia belum pernah melancarkan serangan.


Pada saat pertarungan sengit terjadi, tiba-tiba Delapan Setan Berdarah Dingin melompat mundur ke belakang.


Nafas mereka sudah terengah-engah. Keringat dingin juga sudah mengucur dari keningnya dan membasahi seluruh tubuhnya.


Berbarengan dengan pertarungan Pendekar Tanpa Nama tadi, Nenek Murah Senyum juga sudah memulai pertarungannya melawan Sian-li Bwee Hua.


Kalau Cakra Buana berniat untuk mempermainkan dulu delapan lawannya, maka Ling Ling beda lagi. Gadis Tiongkok itu langsung melancarkan serangan dahsyat begitu pertempurannya dimulai.


Namun dengan kalemnya Sian-li Bwee Hua menunggu serangan tersebut. Begitu tongkat tepat hampir mengenai ubun-ubun kepala, gadis itu langsung mengangkat kedua tangannya.


Prakk!!!


Tongkat yang selama ini sudah menemani Nenek Murah Senyum, tingkat yang selalu dia banggakan, sekarang telah patah menjadi dua bagian.


Mimpi pun dia tidak pernah bahwa dirinya akan menjumpai suatu kejadian seperti ini. Rasa marah dan rasa sedih bercampur menjadi satu.


Amarahnya sudah mencapai titik puncak, tapi rasa sedihnya juga sedalam lautan.


Wushh!!!


Sinar merah meluncur ke arah Sian-li Bwee Hua.


Blarr!!!

__ADS_1


Ledakan terjadi. Sinar merah tadi tidak mengenai sasaran, justru malah mengenai sebatang pohon hingga hancur berkeping-keping.


Tepat setelah itu, kaki Sian-li Bwee Hua menutul tanah lalu tubuhnya melesat secepat angin. Satu serangan telapak tangan dilayangkan dengan segenap kemampuan.


Plakk!!!


Tubuh Nenek Murah Senyum melayang ke belakang dengan deras. Tubuh itu berhenti setelah menabrak satu pohon besar hingga tumbang. Suara runtuhnya pohon itu membuat burung-burung yang istirahat di atasnya kaget lalu berterbangan ke sana kemari.


Datangnya serangan tersebut sungguh tidak diduga oleh wanita tua itu sehingga dirinya lengah. Selain dari pada itu, serangannya juga amat cepat seperti sambaran kilat.


Nenek Murah Senyum muntah darah kehitaman cukup banyak. Darah kental membasahi pakaiannya. Tubuhnya sempat kelojotan sebentar sebelum akhirnya tubuh itu terkulai lemas.


Wanita tua yang namanya cukup terkenal itu akhirnya mampus. Dia tewas di tangan seorang gadis dari negeri orang.


Sementara itu, bersamaan dengan pertarungan sengit Sian-li Bwee Hua melawan Nenek Murah Senyum, Delapan Setan Berdarah Dingin benar-benar merasa sangat kesal kepada Pendekar Tanpa Nama karena mereka merasa dipermainkan.


"Kalau kau memang sanggup, coba balas serangan kami. Jangan hanya menghindar seperti anak kecil," bentak Baiksa karena tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Cakra Buana.


"Aii, kalau aku membalas serangan kalian, mungkin sejak tadi nama Delapan Setan Berdarah Dingin sudah tidak ada lagi di muka bumi ini," jawab Pendekar Tanpa Nama acuh tak atuh.


"Sombong, ucapan seorang pendekar wajib dipertanggungjawabkan," ejek Adiluhung.


"Baik, aku akan membuktikannya. Silahkan dimulai,"


Belum selesai ucapan Pendekar Tanpa Nama, Delapan Setan Berdarah Dingin telah kembali tiba menghu uh h6njam tubuhnya.


Setiap titik penting tubuh Cakra Buana menjadi incaran delapan orang musuhnya. Gerakan mereka yang sekarang jauh lebih cepat dan lebih hebat dari sebelumnya.


Kali ini, Pendekar Tanpa Nama tidak bisa diam saja. Sebelum tiba serangan delapan lawannya, tubuhnya telah lenyap lebih dulu.


Bukk!!! Plakk!!! Plakk!!!


Suara yang sama terus terdengar hingga delapan kali. Pada saat itu, debu menggulung sehingga menghalangi setiap pandangan mata.


Jeritan menahan sakit menggema ke area hutan sekitar.


Detik berikutnya delapan sosok manusia telah terkapar di atas tanah dan rumput di sana. Keadaan mereka sungguh membuat iba. Delapan Setan Berdarah Dingin ternyata sudah dalam keadaan tewas.

__ADS_1


Mereka mampus dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Jika ada orang lain yang melihat kejadian ini, niscaya mereka tidak akan percaya.


__ADS_2