
Crashh!!! Crashh!!! Slebb!!!
Tiga cahaya merah kecil bagaikan kilat berkelebat sekejap. Tiada seorangpun yang dapat menyaksikan bagaimana gerakan itu dengan jelas. Semua orang yang hadir hanya bisa melihat cahaya merah saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
Setelah tiga cahaya itu terlihat, semuanya langsung berhenti. Lima tokoh kelas atas dunia persilatan yang tadi menyerang Pendekar Tanpa Nama, sekarang mereka sudah rebah tanpa nyawa.
Darah segar membanjiri lantai ruangan tersebut. Bau amis darah tercium sangat jelas. Semua orang bisa menciumnya. Kematian lima tokoh itu tidak berbeda jauh dengan nasib binatang yang dibunuh kejam oleh para pemburu.
Empat orang mengalami luka di dadanya. Dada mereka ditebas oleh Pedang Naga dan Harimau. Luka itu langsung menganga. Darah segar nan merah tiada hentinya mengalir.
Kalau empat orang ditebas dadanya, maka yang satu orang justru ditusuk tenggorokannya. Matanya melotot. Kedua lengannya memegangi leher yang terluka itu. Lidahnya terjulur. Orang itu tewas lebih dulu daripada empat orang rekannya.
Semua kejadian ini berlangsung dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Siapapun tidak ada yang percaya kalau tokoh dunia persilatan bisa tewas begitu mudahnya di tangan Pendekar Tanpa Nama.
Sekarang pemuda itu masih berdiri di tempatnya semula. Letak posisinya dan caranya berdiri masih sama persis seperti sebelumnya. Dia tidak terlihat seperti habis bertarung. Andai saja pedangnya tidak mengucurkan darah segar, mungkin semua orang yang hadir bakal menyangka kalau pelakunya adalah orang lain. Bukan Pendekar Tanpa Nama.
"Hahh …" tiba-tiba si Tangan Berbisa menghela nafas berat.
"Ternyata aku telah melakukan kesalahan,"
"Kesalahan apa?" tanya Cakra Buana sambil memperhatikan lekat-lekat wajah orang tua itu.
"Aku sudah salah memperhitungkanmu,"
"Oh, benarkah?"
"Aku tidak pernah menyangka kalau kau masih sanggup bertarung melawan tokoh-tokoh kelas satu dunia persilatan. Padahal sebelumnya aku tahu bahwa kau sudah bertarung pula. Aii, ternyata kau memiliki tenaga dalam yang sukar diukur," keluhnya sambil mengerutkan kening.
"Jadi kau hanya menyuruh lima orang tokoh untuk menyerangku karena berpikir kalau aku sudah kelelahan?"
"Tepat," jawabnya sambil menganggukkan kepala.
"Bukan saja salah memperhitungkan diriku, malah kau sudah salah langkah pula. Jangankan hanya lima orang, andai melawan semua orang yang ada di sini secara sekaligus pun, aku rasa masih sanggup," ujar Pendekar Tanpa Nama dengan tenang dan santai.
Mendengar ucapan yang kalem tapi terkesan sombong itu, lima orang tokoh lainnya seketika memandang semakin tajam. Begitu pula dengan si Tangan Berbisa sendiri.
__ADS_1
Ucapan Pendekar Tanpa Nama barusan, menurut mereka secara tidak langsung sudah menghinanya dengan mengatakan kalau mereka adalah musuh-musuh yang lemah. Musuh tak berguna dan tidak ada apa-apanya.
"Bocah tengik, mulutmu ternyata tajam juga. Kau boleh mengalahkan orang-orang tadi dengan mudah, tapi kau belum tentu sanggup mengalahkan kami seperti itu," kata seorang tua lain yang tiba-tiba saja bicara.
Orang ini usianya sudah sekitar enam puluhan tahun. Di punggungnya ada sebatang tombak berantai. Ujung mata tombak berkilat ditempat sinar rembulan yang masuk dari celah-celah jendela.
Postur tubuh pemiliknya tinggi sedang dan kurus. Walaupun begitu, tapi sepasang matanya amat tajam. Jernih dan cemerlang. Hanya memandang sesaat saja, Pendekar Tanpa Nama sudah maklum kalau orang tua itu mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi.
"Kalau tidak dicoba, mana boleh bicara seperti itu?"
"Baik, lihat serangan!!!" teriaknya lantang.
Sambil berkata demikian, orang tersebut langsung menerjang dengan tombak berantai miliknya. Suara rantai dilolos terdengar. Mata tombak menusuk dengan sangat cepat ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Jantungnya jadi sasaran telak serangan lawan!
Gerakan orang itu memang jauh lebih cepat daripada lima tokoh sebelumnya. Terbukti sekarang, hanya sesaat saja, serangan sudah tiba lalu kemudian disusul dengan datangnya tubuh tua itu.
Trang!!!
Benturan pertama terjadi. Mata tombak tersebut terbentur dengan batang pedang milik Pendekar Tanpa Nama. Percikan api tampak indah, namun juga mengerikan.
Cakra Buana bertindak cepat. Dia paham betul kalau serangan orang tua itu amat berbahaya. Salah langkah sedikit saja, nyawanya bisa melayang tanpa diduga.
Wushh!!!
Bayangan merah berkelebat. Pendekar Tanpa Nama sudah mulai serius. Pedang Naga dan Harimau dimainkan dengan gerakan teramat cepat. Suara seperti ribuan lebah terdengar oleh semua orang.
Para tokoh yang menyaksikan pertarungan itu, termasuk juga si Tangan Berbisa, semuanya memandang kagum dengan gerakan pemuda tersebut.
Ternyata jurus pedangnya amat lincah dan berbahaya. Para tokoh itu baru melihat jurus pedang seperti yang diperagakan oleh Cakra Buana, menurut mereka, jurus pedang itu amat langka.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan nyaring antar pusaka terus terjadi. Dua tokoh yang sedang bertempur itu tampak bagaikan dua naga yang ganas. Kalau dua ekor naga sudah berlaku serius dan marah besar dalam sebuah pertarungan, kira-kira bagaimanakah akibatnya?
__ADS_1
Blarr!!!
Dua hawa sakri bertemu di tengah jalan. Lawan Pendekar Tanpa Nama terdorong mundur tiga langkah ke belakang.
Wushh!!!
Tiba-tiba empat bayangan manusia melesat dengan gerakan tak terduga. Empat batang pedang yang tajamnya tiada terkira sudah terhunus ke depan. Mereka membagi posisi menjadi empat bagian.
Dua tusukan, dua tebasan pula!
Semuanya serangan ganas. Serangan kelas atas. Dan pastinya serangan mematikan.
Wutt!!! Wutt!!!
Tubuh Pendekar Tanpa Nama langsung menjadi bulan-bulanan semua musuhnya. Pemuda tampan dan kekar itu terkurung di dalam serangan lawan. Sinar pedang seperti bianglala yang menyelimuti alam mayapada.
Semua jalan keluar telah tertutup. Serangan mereka amat rapat dan saling melengkapi satu sama lain.
Kalau saja orang lain, mungkin mereka bakal mampus hanya dalam waktu belasan jurus saja.
Tapi sungguh sayang sekali, Pendekar Tanpa Nama bukanlah orang lain.
Wushh!!!
Jurus pedang terdahsyat milik Cakra Buana dikeluarkan kembali. Semuanya langsung sirna hanya dalam sekejap mata. Cahaya perak dari empat batang pedang lenyap entah ke mana. Si tombak berantai sebelumnya sudah turun lagi ke arena pertempuran, tapi naas, dia pun mengalami hal yang sama.
Tombak berantai tajam yang selalu dia andalkan itu tiba-tiba berubah seperti tumpul. Jurus dahsyatnya tidak memberikan akibat apapun.
Wutt!!! Wutt!!! Wutt!!!
Cahaya merah tampak bagaikan seekor naga perkasa yang mengamuk di tengah badai. Gempuran serangan Pendekar Tanpa Nama mampu membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri.
Srett!!! Srett!!!
Pedang tersebut kembali memakan korban. Dua lawan yang menggunakan pedang tiba-tiba ambruk ke tanah. Perutnya terkena tebasan pusaka tersebut.
__ADS_1
Darah segar membanjiri lantai lagi. Bau amis tercium kembali. Jeroan tubuh manusia tampak berceceran.
Di sisi arena pertempuran, si Tangan Berbisa tampak memegangi perutnya. Sepertinya orang itu merasa mual, hanya saja dia mencoba untuk menahannya sebisa mungkin.