
Pendekar Tanpa Nama, Bidadari Tak Bersayap dan Sian-li Bwee Hua saat ini sudah memasuki kawasan Pasundan. Ketiga kekasih itu sekarang sedang berjalan dengan santai di tengah keramaian para warga yang berlalu-lalang.
Kota itu sangat ramai. Para pedagang berjejer di pinggir jalan. Dari ujung sini hingga ke ujung sana, semuanya dipenuhi oleh pedagang yang berjejer.
Suara teriakan dari orang-orang yang menjajakan barang dagangannya terdengar sangat jelas di telinga tiga orang pendekar muda itu.
Tentu saja, sebab kota yang dimaksudkan adalah Kotaraja Tanah Pasundan.
Itu artinya, Pendekar Tanpa Nama sudah memasuki kawasan "rumahnya" sendiri. Pemuda itu merasa senang karena pada akhirnya dia bisa kembali menginjakkan kakinya di sini. Di kota kebanggaannya.
Saat ini siang hari. Walaupun sinar matahari sangat tarik sehingga terasa membakar kulit, tapi toh orang-orang itu tidak menghiraukannya. Mereka tetap bersemangat mencari nafkah untuk diri sendiri atau mungkin juga untuk keluarganya.
Ketiganya berjalan terus ke depan. Mereka sendiri tidak tahu apa yang akan dituju. Sebab muda-mudi itu sedang kebingungan. Terutama sekali Pendekar Tanpa Nama. Dia bingung ke mana dirinya harus mencari informasi terkait Kujang Dewa Batara itu.
Walaupun Cakra Buana belum melihatnya secara langsung, tapi dia sangat yakin kalau senjata pusaka itu pastinya sangatlah sakti. Setiap orang pasti ingin memilikinya.
Hal itu tidak dapat dipungkiri, sebab setiap benda pusaka yang ada di Istana Kerajaan, memang merupakan pusaka langka. Pusaka yang sudah diwariskan secara turun temurun. Pusaka yang menjadi lambang kejayaan Kerajaan itu sendiri.
Sekarang kalau sampai pusaka-pusaka itu hilang, maka sedikit banyak pamor Kerajaan pasti berkurang. Di sisi lain, tidak bisa ditampik pula kalau keberadaan pusaka itu menambah wibawa Istana Kerajaan.
Pendekar Tanpa Nama tidak habis pikir, kenapa orang-orang itu mau mencari masalah dengan Kerajaan? Apa tujuan mereka sebenarnya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus bermunculan di benaknya. Sayangnya tiada satupun yang sanggup dia jawab sendiri. Tapi terkait apapun tujuan mereka, yang pasti di balik ini semua ada sebuah maksud luar biasa. Entah itu ingin menghancurkan Kerajaan secara perlahan, atau juga ingin memporak-porandakan Tanah Pasundan.
Tanpa sadar Cakra Buana mengepalkan kedua tangannya. Otot-otot hijau meronglol keluar dari balik punggung tangannya. Wajahnya masih kalem. Tapi sorot matanya setajam ujung mata pedang.
Wutt!!!
Pada saat mereka berjalan, tiba-tiba belasan senjata rahasia meluncur deras dari depan sana. Kecepatan senjata itu sulit untuk dibayangkan. Kalau korbannya orang lain, niscaya tidak akan selamat.
Crapp!!! Crapp!!!
Pendekar Tanpa Nama memutarkan badannya sambil mengangkat tangan kanan. Begitu tubuhnya berhenti berputar, belasan senjata rahasia itu sudah berada dalam genggaman tangannya.
Belasan jarum perak tampak berkilat karena terkena sinar matahari. Ujungnya sangat tajam. Kalau batangnya berwarna perak, sebaliknya, ujungnya justru berwarna hijau tua.
Dari sini saja dapat diketahui kalau senjata-senjata itu tentunya beracun. Racun ganas yang bisa membunuh nyawa manusia hanya dalam sekejap mata.
__ADS_1
Wushh!!!
Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Tanpa Nama langsung meluncur deras ke depan ke arah datangnya jarum perak tadi. Desiran angin cukup kencang seketika terasa oleh para warga yang sedang berdesak-desakan itu.
Beberapa orang terpental karena tidak kuasa menahan deru angin tersebut. Beberapa kapal pedagang juga berjatuhan karena terkena hembusannya.
Pendekar Tanpa Nama sudah berada di tempat sepi. Di depannya sekitar delapan tombak ada seseorang berpakaian hitam sedang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Wutt!!!
Cahaya merah membara keluar dari telapak tangan pemuda itu. Cahaya itu meluncur deras ke arah orang berpakaian hitam di depannya tersebut.
Orang yang menjadi target sepertinya sudah menyadari adanya ancaman bahaya. Secepat kilat dia menjejakkan kakinya di udara lalu segera berjumpalitan beberapa kali.
Blarr!!!
Cahaya merah menghantam sebuah gubuk tua tak berpenghuni. Gubuk itu langsung hancur berkeping-keping karena tidak kuat menahan gempuran hawa sakti yang dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, pemuda itupun turut menjejakkan kakinya. Dia menambah daya kecepatan hingga akhirnya dapat menjangkau target sasaran.
Bukk!!!
Dia ingin berlari kembali, tapi sayangnya pada saat itu Pendekar Tanpa Nama sudah berada di hadapannya.
"Berhenti di tempat atau nyawamu langsung melayang," katanya dengan tegas.
Orang berpakaian hitam seketika menghentikan langkahnya. Dia tidak bicara, tapi wajahnya menggambarkan rasa takut.
"Katakan apa maksudmu?" bentaknya.
"Maksudku sudah jelas, aku berusaha untuk membunuhmu,"
"Tahukah kau siapa aku ini?"
"Ya, aku tahu. Kau Pendekar Tanpa Nama. Seorang pendekar muda yang katanya mempunyai kemampuan setinggi langit. Pemuda yang merupakan Pendekar Tanpa Tanding," jawab orang itu berusaha untuk tetap tenang.
Cakra Buana tersenyum sinis. Bukan bermaksud untuk sombong, tapi dia hanya ingin membuat musuhnya merasa sedikit jeri dengan harapan akan takluk tanpa harus turun tangan.
__ADS_1
"Kalau sudah tahu, kenapa justru malah sengaja mencari masalah denganku?"
"Karena ini adalah sebuah tugas,"
"Tugas dari siapa?"
"Kau tidak perlu tahu," jawab orang itu sambil menyeringai. Dia berusaha untuk menghilangkan rasa takut dihatinya.
"Kalau begitu sepertinya aku harus mengutungi satu kaki dan tanganmu agar kau mau bicara," ancam Pendekar Tanpa Nama.
Mendengar ancaman tersebut, orang berpakaian hitam langsung menunjukkan ekspresi ketakutan kembali. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin sebesar kacang kedelai membasahi kening.
Dalam hatinya, Pendekar Tanpa nama sangat bahagia. Dia tahu orang di hadapannya merupakan seorang yang pengecut. Dan biasanya, seorang pengecut lebih memilih untuk membocorkan rahasianya daripada harus kehilangan nyawanya.
Tapi biasanya, sebelum itu kita harus benar-benar bertindak lebih dulu untuk membuktikan bahwa kita memang mampu melakukan apa yang dikatakan.
"Kau yakin mampu?"
"Aku bisa membuktikannya kepadamu,"
"Boleh dicoba," tantang orang itu sambil tersenyum merendahkan.
Dia sangat yakin kepada kemampuannya sendiri. Dan memang, dalam dunia persilatan orang itu cukup terkenal. Dia biasa dijuluki si Bajing Terbang. Ilmu meringankan tubuhnya diatas rata-rata. Bahkan kemampuannya juga disejajarkan dengan tokoh kelas satu.
Sayang sekali Bajing Terbang belum bisa mengalahkan Pendekar Tanpa Nama. Baik itu dalam kecepatan maupun kemampuan.
Tapi dasar karena orang tidak tahu diri, bisa-bisanya dia menantang tanpa menilai lebih mendalam siapa lawannya. Padahal dia sudah tahu julukan pemuda di depannya.
Terlepas dari apapun itu, Bajing Loncat tidak akan percaya sebelum melihat dan merasakannya sendiri.
Wushh!!!
Cahaya merah berkelebat sangat cepat. Cahaya itu menyambar ke depan tanpa diketahui bentuknya. Hanya sekali terlihat, lalu langsung sirna begitu saja.
Pendekar Tanpa Nama masih berdiri di tempatnya semula. Dia tidak terlihat bergerak sedikitpun. Si Bajing Terbang juga sama, orang itu tidak mengetahui apa maksud dari cahaya merah barusan.
Namun detik selanjutnya, Bajing Terbang baru menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Tanah yang diinjak olehnya terasa basah.
__ADS_1
Bukan basah karena air. Melainkan basah karena darah.