
Sepuluh Setan mengurung Pendekar Tanpa Nama. Sepak terjang mereka ternyata lebih ganas dari musuh-musuh sebelumnya. Serangan yang mereka lancarkan semakin lama semakin hebat.
Serangan itu seolah tiada hentinya. Pergi lima datang lima. Bertahan lima maju lima. Selalu seperti itu sepanjang jalannya pertarungan.
Cakra Buana dibuat mati langkah. Ke mana-mana dia tidak dapat bergerak bebas. Kalau orang lain yang berada di posisinya saat ini, niscaya orang tersebut sudah mati harapan.
Semua jalan keluar ditutup secara sempurna. Cara bertarung mereka amat rapi dan teratur. Dalam hal kerja sama, dalam hal mengurung musuh, sepertinya orang-orang tersebut sudah sangat ahli.
Pendekar Tanpa Nama tidak langsung mengeluarkan jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Beberapa bagian tenaganya sudah terkuras karena menggunakan jurus tersebut, untuk saat ini, dia memilih mengeluarkan jurus yang lain.
Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang langsung dikeluarkan.
Sepuluh Setan terdorong mundur pada saat pertama kali pemuda itu mengeluarkan jurusnya. Keadaan di gelanggang pertarungan mulai mengalami perubahan.
Hawa pembunuhan semakin kental. Hawa kematian semakin pekat.
Pendekar Tanpa Nama akhirnya bergerak. Pedang Naga dan Harimau melesat secepat lemparan anak panah. Pedang itu menebas miring, tubuh pemiliknya juga sedikit miring.
Serangan dilancarkan dengan kecepatan tinggi. Pendekar Tanpa Nama berkonsentrasi penuh terhadap pertarungan ini. Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang dikeluarkan hingga ke titik tertinggi.
Sepuluh Setan mulai terkena ilusi yang dihasilkan dari jurus dahsyat tersebut.
Sepuluh orang itu mendengar ledakan guntur yang tiada hentinya. Sepasang mata mereka masing-masing melihat kilat menyambar dan mengejar dirinya pergi.
Pendekar Tanpa Nama langsung berada di atas angin. Gerakan Sepuluh Setan yang tadinya sangat gencar, sekarang malah berbalik. Gerakan mereka tiba-tiba melemah. Kerja sama yang tadi terlihat sangat rapi, sekarang mulai berantakan.
Pedang Naga dan Harimau mendadak melesat cepat. Satu tebasan dilancarkan dengan perhitungan tepat. Arah serangan Cakra Buana adalah leher.
Leher adalah salah satu titik penting manusia. Kalau leher sampai terbabat putus, bukankah itu artinya nyawa akan melayang?
Wushh!!!
Crashh!!!
__ADS_1
Pedang Naga dan Harimau tepat mengenai sasaran utamanya. Satu orang anggota Sepuluh Setan terpenggal batang lehernya. Darah langsung muncrat ke segala arah. Bahkan cairan merah kental itu mengenai sedikit pakaian Pendekar Tanpa Nama.
Pemuda Tanah Pasundan itu tidak tinggal diam. Begitu melihat serangan pertamanya berhasil, dia langsung melancarkan serangan lainnya lagi.
Tubuhnya melompat ke atas sambil tetap melancarkan berbagai macam serangan. Sembilan Setan yang tersisa dibuat semakin geram. Saat menyadari satu rekannya sudah mampus, mereka lantas berteriak lalu menerjang Cakra Buana secara bersamaan.
Pada saat kakinya menginjak tanah kembali, satu serangan datang dari arah belakang secara tidak diduga sebelumnya. Tusukan tombak melesat seperti bayangan, cepat dan mematikannya bukan main. Tusukan itu mengarah ke punggung yang langsung menjurus ke ulu hati.
Tubuh Pendekar Tanpa Nama sudah biasa berada dalam posisi seperti demikian sehingga membuat tubuh itu dapat merasakan ancaman apapun. Begitu merasakan ada ancaman maut, secara refleks Pedang Naga dan Harimau langsung digerakkan ke belakang.
Slebb!!!
Tusukan tombak yang luar biasa cepatnya itu mendadak berhenti tepat satu jari di belakang punggung Pendekar Tanpa Nama. Tusukan yang hampir mencapai target sasaran terpaksa berhenti.
Apa yang sudah terjadi?
Ternyata tepat sebelum tusukannya mengenai tubuh Cakra Buana, pemuda itu telah mendahuluinya.
Pedang pusaka yang dia genggam telah menusuk tepat di jantung salah satu anggota dari Sepuluh Setan tersebut. Tusukan yang amat cepat sekaligus tepat sasaran.
Darah segar membasahi batang pedang. Suara orang sekarat terdengar memilukan. Saat pusaka tersebut dicabut, korbannya langsung ambruk ke tanah saat itu juga.
Kejadian tersebut berjalan sekejap mata. Bahkan delapan rekannya pun terlambat menyadari bahwa seorang rekannya kembali menjadi korban.
Serangan keduanya hanya terpaut sedikit saja. Anggota Sepuluh Setan tersebut cuma kalah cepat beberapa detik. Perbedaan yang sedikit justru bisa berubah menjadi banyak hanya dalam sesaat.
Pertarungan terus berlanjut. Delapan dari Sepuluh Setan masih bertarung sekuat tenaga untuk mengalahkan Pendekar Tanpa Nama. Jurus demi jurus sudah dikeluarkan oleh mereka masing-masing.
Pertarungan mereka sudah berlangsung dua puluh jurus. Delapan musuh Cakra Buana mulai tampak kelelahan.
Mereka sudah mengerahkan seluruh kemampuan, tapi kenapa pemuda itu masih tampak segar bugar? Jangankan berhasil dibunuh, bahkan dilukai pun tidak.
Tubuh itu masih mulus. Sedikitpun belum ada goresan yang dihasilkan dari semua jurus dan serangannya.
__ADS_1
Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Apakah tubuhnya tidak dapat disentuh? Ataukah pemuda itu bukan manusia? Setankah? Dewakah?
Wushh!!! Srett!! Srett!!!
Pendekar Tanpa Nama melayangkan dua kali serangan dahsyat yang tidak diduga. Dua tebasan maut bersarang di dua tubuh lawannya. Sebuah luka robekan cukup panjang dan dalam langsung terlukis di tubuh mereka.
Dua nyawa melayang bersamaan. Darah semakin banyak menggenangi tanah di sekitar arena pertarungan para tokoh itu.
Kesempatan seperti ini menjadi satu keuntungan lain untuk Pendekar Tanpa Nama. Semua musuh yang tersisa sedang kehilangan konsentrasi karena melihat rekan-rekannya telah mampus. Hal ini menyebabkan perhatian mereka terpecah dan konsentrasi terganggu.
Secepat kilat dia bergerak kembali. Pedang Naga dan Harimau mengeluarkan kilatan cahaya merah pekat. Nafsu membunuh yang keluar dari tubuh pemiliknya lebih pekat lagi.
Wushh!!!
Tubuhnya bergerak laksana kilat. Serangannya datang bagaikan hujan deras yang tiada hentinya. Semua serangan telah diperhitungkan dengan matang. Setiap langkahnya diperhitungkan secara cermat dan tepat.
Crashh!!!
Beberapa kali bunyi yang sama terdengar hampir secara bersamaan. Darah yang menyembur ke segala area mulai tercium membawa bau amis.
Satu persatu tubuh musuh Cakra Buana ambruk ke tanah. Mereka yang ambruk tidak akan pernah bangun lagi. Baik untuk sekarang, maupun nanti.
Tubuh yang sudah mati, memangnya ada yang bisa bangun lagi?
Setelah melewatkan beberapa puluh jurus, akhirnya pertarungan mereka selesai juga. Pendekar Tanpa Nama kembali keluar sebagai pemenang. Pemuda itu tidak mengalami luka apapun kecuali hanya beberapa goresan di beberapa titik tubuhnya.
Itupun hanya luka goresan biasa. Sedikitpun tidak akan mempengaruhi ruang geraknya. Bagi pemuda luar biasa seperti dirinya, semua luka yang dihasilkan dari pertarungan barusan tidak berarti apa-apa.
Cakra Buana langsung melesat ke arah depan. Makam kuno itu sudah tidak seberapa jauh dari kayaknya sekarang. Oleh sebab itulah dia tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada.
Terkait mayat Sepuluh Setan? Dia sama sekali tidak ambil peduli.
Tubuhnya telah berada cukup jauh. Hanya tinggal beberapa puluh langkah lagi, Cakra Buana akhirnya tiba di gerbang pemakaman kuno tersebut.
__ADS_1
Malam semakin larut. Rembulan semakin menggeser ke barat. Angin bertiup lirih, suara lolongan serigala di kejauhan sana terdengar lebih menyeramkan. Apalagi kalau mendengarnya di tempat pemakaman seperti sekarang ini.