Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sebuah Suara


__ADS_3

Kenapa orang-orang Istana Kerajaan mau digerakkan oleh Karmalaya? Apakah mereka adalah antek-anteknya yang menyusup ke dalam Kerajaan? Ataukah mereka merupakan orang yang telah berkhianat?


Lama sekali Pendekar Tanpa Nama terdiam. Sungguh, kejadian ini belum pernah terbayang dalam benaknya.


Malah bukan cuma dia yang kaget, termasuk para tokoh yang berada di pihaknya juga merasakan hal serupa. Mereka kaget bukan kepalang. Terlebih lagi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Jalak Putih dan Gagak Bodas juga sama.


Empat orang tua itu tidak habis mengerti. Mereka juga tidak menduga kalau hal seperti sekarang bakal terjadi.


Angin berhembus kembali. Pakaian Pendekar Tanpa Nama berkibar dengan megah.


"Jadi benar bahwa mereka adalah orang-orangmu?" tanya Cakra Buana setelah dirinya terdiam lama.


"Kenapa bertanya padaku? Bukankah lebih baik kau bertanya langsung kepada mereka?" jawab Karmalaya semakin angkuh.


"Aku tidak pernah sudi bicara dengan manusia busuk seperti mereka itu,"


"Kalau begitu, ya sudah. Aku juga tidak akan menjawab seandainya kau bertanya kepadaku,"


"Aku pun tidak bakal bertanya kepadamu,"


Karmalaya tidak menjawab dengan perkataan. Jawaban yang dia berikan adalah sebuah suara tawa menyeramkan yang menggema ke seluruh hutan. Dedaunan pohon rontok karena getaran tenaga dalam yang dihasilkan dari suara tawa tersebut.


Pendekar Tanpa Nama menyadari satu hal. Ternyata kalau dibandingkan, orang tua yang berada di hadapannya saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan si Tongkat Seribu Bayangan.


"Selain pandai tipu muslihat, tampaknya kau pun pandai menyembunyikan kemampuan yang sebenarnya," jengek Cakra Buana.


"Hahaha … pemuda yang benar-benar luar biasa. Tak kusangka kau pun tahu akan hal itu,"


"Tapi sayang sekali," keluh Pendekar Tanpa Nama sambil menghela nafas.


"Apanya yang disayangkan?"


"Sekalipun kau jauh lebih kuat daripada si Tongkat Seribu Bayangan, kau tetap belum sanggup untuk membunuhku,"


Cakra Buana mengatakan hal yang sebenarnya. Sekalipun ada lima atau enam Karmalaya, mereka tetap bukan lawan setimpal Pendekar Tanpa Nama.


Di sisi lain, mendengar ucapannya Cakra Buana barusan, Karmalaya langsung marah besar. Amarahnya berkobar. Seperti juga dendamnya yang terus membara karena kematian rekan-rekannya.

__ADS_1


"Keparat. Kita buktikan sekarang!!!" bentaknya dengan nyaring.


Wushh!!!


Begitu ucapannya selesai, orang tua itu langsung menyerang Pendekar Tanpa Nama. Orang tua itu tiba-tiba mencabut sebatang golok tajam yang diselipkan di pinggang kirinya.


Cahaya golok mengkilap. Hawa golok dan hawa kematian segera bercampur menjadi satu. Karmalaya langsung menyerang dengan jurus andalan miliknya.


Jurus Golok Menari di Atas Bara Api telah dikeluarkan. Bayangan golok lenyap dari pandangan mata. Yang tampak hanyalah cahaya putih kemilau di angkasa mulai mengurung tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Pemuda itu tersenyum dingin. Dia sedang menunggu saat yang tepat untuk bergerak. Begitu menemukan kesempatan yang dinantikan, Cakra Buana menarik kakinya selangkah ke belakang.


Tangan kanan langsung digunakan untuk mencabut Pedang Naga dan Harimau.


Sringg!!! Trangg!!!


Hawa pedang terasa menyayat kulit. Cahaya merah berkilat menutupi cahaya putih kemilau tadi. Percikan api terlihat.


Golok Karmalaya berhenti di tengah jalan. Sebatang pedang ternyata sudah menahan serangannya tepat di tengah-tengah.


Kamrlaya mendorong senjata pusakanya. Setelah itu dia melompat mundur untuk mengambil ancang-ancang kembali.


Wushh!!!


Serangannya bertambah cepat dan hebat. Tiada lagi celah menghindar bagi Pendekar Tanpa Nama. Semua jalan keluar tertutup rapat. Seperti juga serangan golok itu. Semakin dekat semakin rapat.


Trangg!!!


Sebatang golok terlempar keras ke belakang. Kejadian itu hanya sekejap mata. Siapapun tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan Karmalaya sendiri kaget setengah mati.


Dia tidak mengerti, kenapa pemuda itu masih bisa menahan serangan goloknya?


Padahal Karmalaya sangat yakin kalau jurus goloknya itu amatlah dahsyat. Di Tanah Pasundan, tidak banyak orang yang sanggup menahan jurus itu. Apalagi kalau dikeluarkan hingga segenap kemampuan.


Melihat kenyataan yang bertolak belakang dengan khayalannya, orang tua itu langsung lemas. Seluruh tenaganya hilang sirna tidak karuan. Nyalinya ciut seketika. Seumur hidupnya, baru sekarang saja dia mengalami kejadian seperti ini.


Kalau sudah demikian, sekarang apa yang dapat dia lakukan?

__ADS_1


Sementara itu, yang terkejut ternyata bukan cuma Karmalaya saja. Malah semua orang-orang di pihaknya juga sama. Para pendekar Kerajaan yang dibawa, sebagian hampir saja jatuh dari dahan pohon karena saking kagetnya.


"Apakah sekarang kau sudah percaya?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum mengejek.


Karmalaya diam saja. Diam tandanya iya.


Bagaimanapun juga, mau tidak mau orang tua itu harus percaya. Semuanya telah terjadi, jadi mustahil kalau dia masih tidak percaya dengan perkataan pemuda itu sebelumnya.


"Seorang pendekar golok tanpa goloknya, ibarat manusia tanpa nyawa," kata Pendekar Tanpa Nama lebih lanjut lagi.


Setiap orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan tahu akan perumpamaan ini. Bagi sebagian orang, kehilangan nyawa jauh lebih baik daripada kehilangan senjata dalam sebuah pertarungan.


Malah beberapa pendekar tidak segan untuk menghabisi nyawa sendiri setelah senjatanya terjatuh ataupun lepas dari genggaman tangannya.


Tapi Karmalaya sungguh berbeda dengan orang lain. Orang tua itu bukan saja tidak bunuh diri, malah dia pun tidak merasa malu sama sekali.


"Hahaha … Pendekar Tanpa Nama ternyata memang bukan julukan kosong. Kemampuanmu sungguh membuatku kagum, tetapi, apakah kau masih bisa bertahan jika orang-orang yang kubawa itu turun tangan?"


Suaranya masih sama. Masih nyaring. Masih penuh dengan kecongkakan.


"Sungguh manusia yang tak punya muka. Kalau aku menjadi dirimu, maka aku akan langsung bunuh diri. Lebih baik mampus daripada menanggung malu," kata Sian-li Bwee Hua ikut nimbrung.


Karmalaya hanya melirik sekilas kepada gadis maha cantik itu. Kemudian dia segera tertawa kembali.


"Kenapa kalian masih diam? Bukankah sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk membunuh?" kata Karmalaya sambil memandang orang-orang Istana Kerajaan yang dia bawa.


Para senopati, kepala prajurit dan lainnya sudah siap melancarkan serangan. Senjata mereka telah diacungkan. Hawa kematian kembali terasa menekan hutan itu.


Baru saja orang-orang itu berniat untuk melancarkan serangan pertama, tiba-tiba semua orang merasakan suatu tekanan yang amat hebat. Binatang yang ada di kedalaman hutan berbunyi tidak karuan.


Angin berhembus menerbangkan segala yang ada di sekitar.


"Sekali saja meneruskan serangan itu, aku pastikan nyawa sebagai taruhannya. Bukan cuma kalian, malah keluarga kalian pun bakal ikut mati,"


Suara itu terdengar sangat merdu. Nyaring. Sekaligus berwibawa. Di antara orang-orang yang hadir, rasanya tidak ada yang mempunyai suara seperti itu. Baik wanita maupun pria.


Cahaya biru muda menerangi malam yang gelap nan menyeramkan ini. Cahaya itu juga membawa hawa sejuk.

__ADS_1


Orang-orang Istana Kerajaan yang ada di sana tersentak kaget. Mereka ingin lari, tapi sayangnya tidak sempat. Sebab tepat pada saat itu, si pemilik suara sudah menampakkan dirinya.


__ADS_2