Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Tangan Berbisa


__ADS_3

Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama sudah duduk di sebuah meja makan di dalam kedai arak itu. Satu guci arak wangi yang harganya lumayan mahal telah tersedia di depan matanya.


Meskipun arak masih tersegel, tapi baunya sudah dapat dicium dengan kentara. Jelas, arak ini adalah arak yang memiliki kualitas baik.


Pemuda serba merah itu membuka segel arak. Dia mencium aroma sesaat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Sepertinya dia amat menikmati bau arak tersebut.


Cawan arak sudah tersedia di hadapannya. Tanpa membuang waktu lagi, dia lantas meminumnya dengan lahap. Tiga cawan arak sudah masuk ke dalam perut.


Ternyata selain wangi, arak yang dia minum ini adalah arak keras sekaligus istimewa. Pada saat masuk tenggorokan, rasanya masih dingin. Dingin seperti air hujan. Tapi begitu tiba di dalam perut, hawa panas segera menjalar ke seluruh tubuhnya.


Sebagai setan arak, tentunya dia sangat gembira karena bisa menjumpai arak berkualitas tinggi pada saat malam-malam begini.


Malam yang dingin. Udara yang sejuk. Serta arak yang hangat.


Bukankah ketiganya merupakan pasangan yang sangat cocok?


Belum habis arak dalam guci tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang bicara persis di belakangnya.


"Daripada minum sendiri, bolehkah aku temani kau minum?"


Suara seorang laki-laki mendadak terdengar. Suara itu agak besar, juga sedikit serak.


"Kalau memang berminat untuk minum bersamaku, kenapa tidak segera kemari saja?" jawab Cakra Buana tanpa menoleh sedikitpun.


Kalau sedang dalam keadaan seperti ini, Pendekar Tanpa Nama memang jarang memperhatikan keadaan di sekitarnya. Selama tidak ada yang menggangu, selama tidak ada yang membicarakan dirinya, maka selama itu juga Cakra Buana bakal diam.


Dia tidak akan mengusik kalau tidak diusik.


Seseorang tiba-tiba berjalan dari arah belakangnya. Perawakannya tinggi besar. Meskipun usianya sudah hampir empat atau lima puluhan tahun, tapi wajahnya masih terbilang tampan. Tubuh dipenuhi oleh otot-otot hijau yang bisa dilihat dengan jelas.


Tanpa diberitahu lagi, Pendekar Tanpa Nama sudah pasti paham kalau pria tua ini, dulunya adalah seorang pria tampan yang gagah perkasa.


Orang itu lantas duduk di depan Cakra Buana. Sedangkan dia sendiri langsung menuangkan arak ke dalam cawan. Mereka berdua kemudian bersulang. Keduanya tidak terlihat canggung, malah mereka tampak sudah akrab.


Mencari seorang teman atau sahabat, memang paling cocok kalau lewat arak. Arak bisa dijadikan media untuk menambah kawan.


"Malam-malam begini, kenapa kau berjalan seorang diri?" tanya orang tersebut.


"Karena tidak ada yang menemani, tentunya aku sendiri," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.

__ADS_1


Wajahnya sudah merah. Sepasang matanya juga sudah layu. Dia mulai mabuk. Pandangan matanya juga mulai kabur.


"Hahaha, apakah kau sedang mencari seseorang?" tanya orang tersebut sambil memandangnya penuh selidik.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang mencari seseorang?" tanya balik Cakra Buana sambil mengerutkan keningnya.


Meskipun sudah mabuk, tapi telinganya masih bisa dipergunakan dengan maksimal. Walaupun keadaannya sudah setengah sadar, tapi Cakra Buana tetap waspada.


Selama nyawanya masih menempel di badan, selama itu pula pemuda tampan tersebut bakal selalu bersiaga setiap saat, setiap waktu.


"Aku pernah berada di posisimu. Dulu, aku pun pernah mengalami apa yang sedang kau alami saat ini. Dan pada saat itu, arak menjadi teman yang paling cocok untukku," kata orang itu sambil tersenyum penuh arti.


"Hemm, sebenarnya siapakah nama Tuan ini?"


"Orang-orang bisanya menyebutku si Tangan Berbisa,"


"Julukan yang bagus, tapi juga terdengar menyeramkan," ucap Cakra Buana dengan polos.


Orang berjuluk si Tangan Berbisa itu hanya tersenyum simpul. Dia tidak memberikan komentar apapun.


"Sebenarnya, siapakah orang yang sedang kau cari itu?" tanya si Tangan Berbisa.


Tanpa sadar, Pendekar Tanpa Nama sedikit tersentak. Dia menyadari kalau dari tatapan mata itu, ada sebuah kekuatan aneh yang sulit dijelaskan.


"Aku sedang mencari Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat," jawab Cakra Buana setelah dia berpikir beberapa saat.


"Apa? Kau tidak salah bicara?" tanyanya sedikit kaget.


"Tidak,"


"Kenapa kau ingin mencarinya?"


"Ada suatu masalah yang harus aku perhitungkan dengan mereka," jawab Cakra Buana dengan serius.


"Aii, rumit. Sungguh rumit,"


Si Tangan Berbisa menghela nafas berat beberapa kali. Wajahnya memperlihatkan ekspresi yang sukar untuk diraba.


Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat.

__ADS_1


Nama itu sangat terkenal di seluruh jagat raya. Kasarnya, jangankan manusia, bahkan para iblis dan malaikat pun mengenal mereka.


Guru dan murid itu memang ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan. Mereka selalu bertindak kejam. Kekejamannya malah digambarkan melebihi iblis.


Kemampuan yang mereka miliki juga tidak terukur lagi. Terutama sekali si Penguasa Kegelapan sendiri. Konon katanya, menurut kabar yang beredar, puluhan tahun lalu si Penguasa Kegelapan pernah membunuh seratus pendekar hanya dalam waktu singkat.


Entah kabar itu benar atau tidak, namun yang pasti, hampir setiap orang mendengar dan percaya akan hal tersebut.


"Serumit apapun, aku akan tetap mencarinya. Sehebat apapun mereka, aku tetap bakal membunuhnya,"


"Aku percaya bahwa kau sudah bertekad bulat. Tapi jujur saja, aku tidak yakin kalau kau bisa membunuh mereka," kata Tangan Berbisa dengan serius.


Sebenarnya Cakra Buana sendiri tidak terlalu yakin kalau dia sanggup membunuh mereka. Hanya saja, rasa yakinnya jauh lebih besar daripada keraguannya.


Ada kalanya keyakinan justru menciptakan sebuah kekuatan tersendiri yang tak dapat dibayangkan oleh siapapun.


"Kapan kau akan memulai pencarian itu?" tanya si Tangan Berbisa kembali setelah dirinya diam beberapa saat.


"Lebih cepat lebih baik. Kalau sekarang saja sudah ada informasi tentang keberadaan mereka, maka aku akan langsung menuju ke sana,"


Tiba-tiba mata Tangan Berbisa bersinar terang. Lebih terang daripada pelita yang ada di kedai arak tersebut.


"Apakah kau serius?"


"Aku tidak pernah bercanda kalau sedang berada dalam keadaan seperti ini,"


"Baiklah. Kalau begitu, ikut aku sekarang juga," kata si Tangan Berbisa dengan memasang wajah yang sangat serius.


"Ikut ke mana?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil mengerutkan keningnya.


"Bukankah kau ingin mencari Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat?"


"Apakah kau tahu di mana mereka berada?"


"Ikui saja dulu,"


Si Tangan Berbisa langsung bangkit dari tempat duduknya. Pendekar Tanpa Nama juga ikut bangkit. Pemuda itu melemparkan beberapa keping perak di atas meja sebagai biaya untuk minumnya.


Di meja lain ada arak yang masih utuh. Tanpa sungkan lagi, Cakra Buana lantas segera mengambil guci yang masih tersegel itu.

__ADS_1


Kedua orang itu lantas pergi dari kedai arak. Langkah mereka tenang, tapi begitu tiba diluar, mendadak keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu.


__ADS_2