Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kedatangan Tiang Bengcu


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama yang sejak tadi menyaksikan pertarungan dahsyat itu pun terperanjat kaget. Baru sekarang dia melihat dahsyatnya jurus pamungkas si Buta Yang Tahu Segalanya.


Ternyata di balik ramahnya pemuda itu, dia menyimpan sebuah jurus yang mengerikan. Di balik tenangnya Li Guan, ternyata dia memiliki kemampuan yang jauh di atas rata-rata.


Cakra Buana sendiri merasa sedikit ngeri. Pemuda itu dibuat terpukau sekaligus ngeri.


Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya telah berdiri tenang kembali. Pemuda itu memandangi para korbannya. Dia melemparkan sebuah senyuman tipis. Senyuman dingin, sekaligus senyuman penuh penyesalan.


Dia menyesal, kenapa mereka harus bertingkah bodoh? Kenapa mereka harus mengorbankan nyawa hanya demi sesuatu yang belum tentu dapat dicapai?


Pemuda itu membalikkan badannya. Dia kembali berjalan ke arah Pendekar Tanpa Nama.


Hawa kematian masih menyelimuti seluruh tempat tersebut. Hawa itu juga menyelimuti tubuh dua pendekar muda yang ada di sana.


Di tempat itu, sekarang tinggal mereka berdua. Tidak ada siapapun lagi kecuali keduanya.


Ke mana perginya Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi? Kapan pula orang tua itu pergi?


Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Baik Pendekar Tanpa Nama maupun si Buta Yang Tahu Segalanya, keduanya sama-sama tidak mengetahui kapan dan ke mana perginya datuk dunia persilatan itu.


"Kau tidak melihat kapan dia pergi?" tanya Li Guan kepada sahabatnya.


"Tidak,"


"Baiklah. Mari kita pergi,"


"Kita tidak akan mengejar atau mencarinya?"


"Belum waktunya. Sekarang, biarlah dia berlaku sesuka hatinya. Tapi nanti, jangan harap dia dapat melakukan hal yang sama," kata si Buta Yang Tahu Segalanya dengan dingin.


"Baik, aku mengerti,"


Dua pendekar muda itu telah pergi dari hutan tersebut. Di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Yang ada hanyalah bekas pertarungan dahsyat. Yang ada hanyalah tujuh manusia terkapar tanya nyawa.


Angin bertiup membuat dedaunan gugur ke bumi. Daun itu gugur seperti nyawa manusia yang melayang. Begitu tiba-tiba, tanpa disangka-sangka.

__ADS_1


Tiga sosok mendadak muncul di tengah-tengah tempat tersebut. Mereka memakai jubah serta kerudung hitam. Wajahnya juga ditutup oleh cadar hitam.


Tiga sosok itu mempunyai tubuh yang hampir sama. Ketiganya mempunyai tubuh tinggi kekar. Hawa kematian yang teramat kental keluar dari seluruh pori-pori tubuh tiga orang tersebut.


Gerakan mereka saat datang tidak ada yang mengetahuinya. Seorangpun tidak ada yang tahu. Tahu-tahu di sana telah berdiri tiga orang tersebut.


"Dua pemuda itu benar-benar mengerikan," kata seorang di antara mereka.


"Benar. Mereka merupakan ancaman bagi kita," timpal seorang lainnya.


"Tidak. Yang bisa menjadi ancaman hanya dia yang buta saja," jawab orang yang terakhir.


Suara orang tersebut lebih kereng. Lebih seram dan lebih menakutkan. Bahkan hawa kematian yang keluar dari tubuhnya juga paling pekat.


"Benar. Hanya dia saja yang patut diperhitungkan,"


"Apakah tadi merupakan jurus pamungkas miliknya? Apakah itu merupakan puncak ilmunya?" tanya orang yang ada di sebelah kanan.


"Bukan. Itu bukan jurus pamungkasnya. Lagi pula, kemampuan yang sebenarnya lebih dari pada itu. Mungkin dia setara atau bahkan lebih tinggi dari Iblis Tua Langit Bumi,"


"Benarkah? Siapa sebenarnya pemuda itu?" tanyanya penasaran.


Kedua rekannya langsung bungkam. Mereka tidak berani bicara lagi.


Saat mendengar nama itu, kedua orang tersebut merasakan hal lain. Seolah sukma mereka melayang saat mendengar namanya saja.


"Kita pergi," kata orang yang suaranya paling kereng.


"Baik …" jawab dua rekannya serempak.


Wushh!!!


Tiga bayangan hitam berkelebat. Hanya sekejap. Hanya sesaat. Ketiga manusia itu sudah lenyap dari pandangan mata. Gerakannya sangat cepat. Sangat lincah dan sangat memukau.


Tahu-tahu di tempat itu tidak ada siapapun lagi.

__ADS_1


Siapa sebenarnya tiga orang itu? Apa pula tujuannya mereka ke tempat tersebut?


Hari mulai malam. Keadaan di sekitar Gunung Hua Sun semakin ramai lagi. Cakra Buana dan si Buta Yang Tahu Segalanya sudah berada di sebuah restoran terbesar yang ada di sana.


Restoran itu memiliki dua lantai. Lantai pertama disediakan bagi segala macam pengunjung. Perduli dari kalangan apapun, selama dia mampu membayar biaya makan, maka pihak restoran akan mengizinkan mereka masuk.


Sedangkan lantai dua dikhususkan bagi orang-orang tertentu. Ruangan itu disediakan khusus untuk mereka yang mempunyai banyak uang. Kalau orang tidak banyak uang, jangan harap bisa masuk ke ruangan tersebut.


Kedua sahabat muda itu berjalan naik ke atas tangga. Saat mereka berjalan, para pengunjung restoran langsung memperhatikan keduanya. Mereka berhasil menarik perhatian orang-orang itu.


Bukan karena apa, melainkan karena mereka tahu siapakah kedua sosok tersebut.


Tapi meskipun begitu, Cakra Buana dan Li Guan tetap tidak memperdulikan orang-orang itu. Keduanya tetap naik ke atas tangga hingga akhirnya memasuki ruangan lantai dua.


Di sana ternyata sudah ada Huang Pangcu dan Mei Lan. Namun selain kedua orang itu, masih ada satu sosok lainnya lagi. Sosok itu sangat disegani dan dihormati oleh kaum persilatan. Siapapun pasti mengenalnya. Siapapun pasti jeri terhadapnya.


Tentu saja, sebab tokoh yang dimaksud adalah Tiang Long Jin si Naga Kebenaran Dari Nirwana. Dialah Bulim Bengcu dunia persilatan dewasa ini.


Ketiganya sedang duduk satu meja. Berbagai macam hidangan mewah telah tersaji. Berguci-guci arak dan daging juga sudah tersedia di sana.


Di seisi ruangan tersebut tidak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka dan orang-orang Tiang Bengcu.


"Selamat bertemu kembali sahabat-sahabatku," kata Tiang Bengcu begitu melihat kedatangan kedua pendekar muda tersebut.


"Selamat bertemu kembali Bengcu. Suatu kehormatan bisa berjumpa denganmu. Maaf kalau kami sudah membuat Bengcu menunggu lama," kata Li Guan sambil menghormat bersamaan dengan Cakra Buana.


"Saudara Li tidak perlu sungkan. Kita bukan orang luar, untuk apa memakai tatakrama segala macam? Marilah kita bersulang arak sebagai tanda kebahagiaan karena kita dapat berjumpa kembali," katanya sambil mengangkat guci arak.


Cakra Buana dan Li Guan tertawa. Keduanya setan arak. Kalau setan melihat sesuatu yang sangat digemarinya, otomatis dia akan merasa sangat senang.


Begitu juga dengan dua pendekar muda itu.


Mereka telah duduk dalam satu meja yang sama. Tanpa banyak basa-basi, keempat tokoh besar itu segera bersulang arak. Kalau mereka minum arak, maka Mei Lan hanya minum teh hijau hangat.


Selama ini, gadis cantik itu belum mau minum arak. Dia lebih suka minum teh hangat ditemani dengan roti kering.

__ADS_1


"Sepertinya pertemuan yang akan berlangsung tiga harian nanti akan jauh lebih besar dari apa yang telah aku perkirakan," kata Tiang Bengcu setelah mereka bersulang arak.


"Benar. Banyak hal-hal yang bakal terjadi, di mana hal tersebut tidak kita duga sebelumnya," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.


__ADS_2