Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Belajar Makan Pakai Tangan


__ADS_3

Kedai Makan itu berukuran cukup besar. Jaraknya ke Pelabuhan Bantam cukup lumayan jauh juga. Mungkin ada sekitar beberapa puluh tombak. Cakra Buana dan Sin Jin sudah berada di dalam sana.


Mereka duduk di meja paling belakang. Suasana di kedai makan tersebut sangat ramai. Mungkin para pengunjung di sana merupakan mereka yang tidak kebagian tempat duduk di kedai makan dekat pelabuhan.


Walaupun begitu, ternyata mereka yang makan bukan hanya dari kalangan biasa saja. Bahkan ada pula yang berasal dari kalangan dunia persilatan. Cakra Buana tahu itu, meskipun dia tidak bertanya langsung, namun matanya tidak dapat ditipu.


"Bu, nasi liwet ayam bakar dua," teriak Cakra Buana kepada seorang ibu-ibu pemilik kedai.


Usianya sudah tua. Mungkin sekitar enam puluh tahunan. Rambutnya sudah memutih, wajahnya juga mulai dipenuhi oleh keriput. Tapi meskipun demikian, semangat untuk menyambung hidupnya tidak luntur.


Selain dari itu, dia pun merupakan seorang ibu yang ramah. Setiap ada orang yang memanggil, dia pasti akan tersenyum sambil menghampirinya.


"Baik Den, silahkan tunggu sebentar. Minumnya apa den?"


"Air teh saja," jawab pemuda itu kalem.


Si ibu mengangguk. Dia langsung kembali ke belakang untuk menyiapkan pesanannya.


Sebelum Cakra Buana sempat bicara, tiba-tiba dari pintu ada seorang jasa pengangkut barang yang mencari dirinya. Itulah mereka, orang yang mengangkut barang milik Cakra Buana dan Sin Jin.


Walau barang keduanya tidak terlalu banyak, paling hanya dua buntelan pakaian dan selusin guci arak, tapi karena merasa lelah, maka mereka memutuskan untuk menyewa jasa orang-orang itu. Di sisi lain, kedua pemuda itupun ingin membantu sedikit orang-orang tersebut.


"Mau ditaruh di mana Den barangnya?" tanya si orang tersebut.


"Taruh saja di penginapan yang ada di dekat sini. Sekalian tolong pesankan kamar,"


"Baik Den,"


Dua orang itu segera berlalu pergi dari sana. Setelah menjalankan tugas yang diberikan oleh Cakra Buana, mereka kembali lagi untuk meminta bayaran.


"Sudah?" tanya pemuda itu.


"Sudah Den, semuanya beres,"


"Terimakasih. Kalau begitu ambillah ini," ucapnya sambil melemparkan satu kantung kecil keping perak.


"Ini terlalu banyak Den," kata si pengangkut barang karena melihat upah mereka kebanyakan. Bahkan saking kagetnya, mata kedua orang itu sempat terbelalak.


"Terima saja semuanya. Hitung-hitung ucapan terimakasih,"


Meskipun merasa tidak enak, tapi karena mereka memang membutukan uang tersebut, maka keduanya tidak bisa menolak lagi. Mereka membungkukkan badan beberapa kali sebagai tanda ucapan terimakasih.


Setelah itu, keduanya berniat untuk mencari pundi-pundi uang kembali.

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih Den. Sampurasun …"


"Rampes …"


Cakra Buana masuk ke kedai makan setelah dua orang tadi pergi. Begitu tiba di mejanya, ternyata makanan sudah tersedia.


"Baunya harum sekali," kata Sin Jin.


"Memang harum. Yang tidak lapar pun pasti akan mendadak lapar kalau mencium bau harum nasi liwet ayam bakar ini," jawab Cakra Buana dengan bangga.


Sin Jin tidak dapat menampik ucapan tersebut. Bahkan dia membenarkan perkataan Cakra Buana. Dirinya yang beberapa saat lalu belum benar-benar lapar, sekarang mendadak sangat lapar setelah mencium bau harum itu.


"Sudah, nanti lagi bicaranya. Mari kita makan …" seru Sin Jin.


Tapi begitu dia mau makan, pemuda itu malah celingukan. Wajahnya memperlihatkan ekspresi kebingungan.


"Apa yang kau cari?" tanya Cakra Buana.


"Aku mencari sumpit. Kenapa di sini tidak ada sumpit?"


Hampir saja pemuda tampan itu tertawa terbahak-bahak. Untungnya dia segera menahan rasa ingin tertawa tersebut.


"Di sini tidak memakai sumpit. Orang-orang Pulau Jawa, khususnya Pasundan, kalau makan, mereka lebih memilih memakai tangan. Bagi orang di sini, cara makan seperti itu mendatangkan kenikmatan tersendiri. Bahkan bagi sebagian orang dihitung sebagai tatakrama sopan santun," katanya menjelaskan.


"Ta-tapi, aku tidak biasa makan dengan tangan. Malah tidak pernah sebelumnya,"


Lain tempat, lain kebiasaan. Lain daerah, lain juga tradisinya.


Hal itu berlaku dari dahulu hingga saat ini.


"Kau harus bisa,"


"Ta-tapi, aku tidak bisa,"


"Ehemm, saat kau baru lahir ke dunia, apakah dirimu langsung bisa berjalan?" tanya Cakra Buana.


"Tentu tidak," jawab Sin Jin cepat.


"Lalu bagaimana kau bisa berjalan?"


"Karena aku belajar,"


"Begitupun dengan hal ini. Asal kau mau belajar, maka kau pasti bisa makan tanpa sumpit,"

__ADS_1


Sin Jin langsung terbungkam. Apa yang dikatakan oleh Cakra Buana memang benar.


Di dunia ini, tidak ada yang langsung bisa. Apapun perlu yang namanya belajar. Dalam hal apapun, proses pembelajaran sangat diperlukan. Dari yang tidak bisa, maka akan menjadi bisa. Yang penting kita sudah membiasakannya.


Di samping belajar, bukankah bisa karena biasa?


"Ba-baiklah …"


Cakra Buana mengangguk sambil tersenyum. Dia kemudian makan sambil memberikan contoh kepada Sin Jin.


Awalnya pemuda Tanah Tionggoan itu merasa kesulitan. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai terbiasa. Meskipun memang masih sedikit susah.


Setelah selesai makan, mereka berdua segera menuju ke penginapan untuk melangsungkan istirahat. Keduanya tidak berbincang lagi, Sin Jin langsung masuk ke kamar lalu tidur.


Sedangkan Cakra Buana, dia justru keluyuran. Malam mulai larut, Pendekar Tanpa Nama berjalan seorang diri.


Dia ingin melihat situasi Tanah Pasundan yang sekarang, khususnya di daerah sekitar Pelabuhan Bantam. Sudah sekian lama dia di negeri orang. Sekarang setelah kembali ke negerinya sendiri, tentunya Cakra Buana ingin mengetahui lebih lanjut.


Apalagi, Cakra Buana adalah Pangeran. Dia pewaris tahta Kerajaan Kawasenan. Calon Raja dari negeri yang luas, Pasundan.


Kentongan pertama baru saja selesai dibunyikan. Beberapa orang warga desa sedang menjalankan ronda keliling. Suasana semakin sepi. Tinggal hanya suara jangkrik dan decitan kelelawar saja yang terdengar.


Wushh!!!


Tiba-tiba segulung angin berhembus disusul kemudian dengan tiga bayangan yang melesat dengan cepat. Arah merela ke hutan belantara.


Siapa ketiga bayangan itu? Kenapa mereka seperti sedang kejar-kejaran?


Jiwa kependekarannya berkobar. Tanpa banyak berkata lagi, Pendekar Tanpa Nama segera mengikutinya.


Wushh!!!


Bayangan merah ikut melesat ke arah tiga bayangan tadi.


Tiga bayangan tersebut berhenti di tengah hutan.


Yang satu seorang kakek tua. Pakaiannya hanya kain putih yang dililitkan ke seluruh badannya. Dia memakai ikat kepala. Sepertinya orang tua tersebut seorang resi.


Sedangkan yang dua merupakan pria berumur sekitar empat puluh tahunan. Yang satu memakai pakaian ringkas warna biru, satunya lagi warna hijau tua.


Sekarang ketiganya sedang berhadapan satu sama lain. Meskipun belum ada yang bicara, namun Cakra Buana tahu bahwa di antara mereka sedang terjadi masalah besar.


Hal tersebut bisa terlihat dari masing-masing tatapan mata mereka yang mengandung amarah dan dendam. Hawa kematian sudah menyelimuti tempat itu. Angin malam yang dingin terasa jauh lebih mencekam dari sebelumnya.

__ADS_1


###


Satu lagi nanti yaa mhehehe …


__ADS_2