
"Benarkah?" tanya Cakra buana.
Bicaranya masih tenang. Ekspresi wajahnya juga tenang. Bahkan dia berkata sambil tersenyum.
Pemuda itu sudah melewati asam garam kehidupan. Pahit manisnya, keras lunaknya, dia sudah melewati semuanya.
Baginya masalah sudah biasa. Bahkan dia merasa bosan jika tidak mendapatkan masalah.
Sekarang walaupun ada sepuluh pendekar kelas satu di hadapannya, dia tidak takut sama sekali. Jangankan sepuluh, walau seratus pendekar sekalipun, dia tidak takut.
Tidak akan mundur walau selangkah.
"Tentu saja,"
"Kalau aku tetap ingin pergi dari sini, kalian mau apa?"
"Tentu saja mencabut nyawamu,"
"Memangnya kalian Raja Akhirat?"
"Hemm, besar juga mulutmu,"
"Tentu, kalau tidak besar, bukan Cakra Buana namanya,"
"Tapi apakah kau bisa membuktikannya?"
"Kalau tidak bisa membuktikan, bukan Pendekar Tanpa Nama julukannya,"
"Bagus. Aku suka orang sepertimu. Kita lihat, apakah kau mampu berkata lagi atau tidak,"
Sepuluh pendekar kelas satu tersebut langsung mengurung dirinya dengan ketat. Tak ada celah sedikitpun. Seolah Cakra Buana adalah hewan yang sangat langka sehingga tidak rela jika terlepas.
Kepungan itu sangat rapat. Apalagi mereka adalah pendekar kenamaan di daratan Tionggoan. Tetapi, apakah mereka sanggup untuk terus mengepung Pendekar Tanpa Nama?
Dua orang pendekar langsung maju menyerangnya. Tebasan pedang mengarah ke bagian leher. Kalau sampai terkena tebasan itu, pasti kepalanya terlepas.
Dari arah belakang, tusukan tombak datang secepat angin.
Dua serangan menerjang dalam waktu bersamaan. Kekuatan yang mereka keluarkan jangan ditanyakan lagi. Jika sasarannya seorang pendekar kelas bawah, mungkin nyawanya akan lepas sebelum senjata itu tiba.
Cakra Buana bergerak. Gerakannya melebihi kecepatan hembusan angin.
"Trangg …"
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, Pendekar Tanpa Nama telah berhasil meloloskan Pedang Naga dan Harimau.
Pedang yang tadinya terbungkus rapi oleh kain putih, kini sudah terlepas dari sarungnya.
Tebasan pedang tertahan oleh pedang pusaka. Sedangkan tusukan tombak ditahan oleh sarungnya.
Tubuhnya doyong seperti pohon mau rubuh. Mendadak sebuah golok menusuk cepat mengincar ulu hati.
Cakra Buana masih terdiam mempertahankan posisi tubuhnya dan senjatanya. Namun begitu golok hampir tiba, tubuhnya mendadak melayang ke atas lalu turun tepat di bawah tiga senjata lawan, entah bagamana caranya, tiga senjata tersebut sudah bertumpuk menjadi satu.
Belum lagi urusan pertama selesai, tujuh orang segera melayangkan serangan mereka. Tusukan dan tebasan kembali datang bagaikan hujan deras di siang hari.
Semuanya ganas. Semuanya kejam. Semua gerakan tersebut dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Tapi Pendekar Tanpa Nama tetaplah Pendekar Tanpa Nama.
Walaupun dihujani sepuluh serangan dahsyat dan kejam, dia masih mampu untuk membebaskan dirinya. Dia sudah berdiri di depan dengan sikap yang teramat santai dan tenang.
Melihat pemuda itu biasa saja, sepuluh pendekar tersebut tentunya tidak tinggal diam. Kobaran api amarah segera membakar dada sepuluh pendekar.
Mereka menerjang buas bagaikan kawanan serigala.
Cakra Buana sudah siap dengan segala kemungkinan. Dengan tenaga dalamnya yang sekarang sudah berlipat ganda, menghadapi mereka tidak perlu menggunakan jurus pamungkasnya.
Lagi pula, ayahnya juga berpesan untuk tidak menggunakan dua jurus tersebut terlalu sering. Sebab kalau terus digunakan, dia tidak akan bisa mendapatkan pengalaman bertarung.
Tetapi walaupun begitu, bukan berarti dia akan mengalah.
Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang langsung dikeluarkan. Sebelum dia mendapatkan tenaga dalam demikian tingginya, jurus tersebut sudah sangat dahsyat, apalagi jika sekarang sesudah mendapatkan tenaga tenaga dalam dari leburan seluruh ilmunya.
Sudah pasti jurus yang dihasilkan lebih dahsyat lagi.
Pedang di tangannya bergerak sangat cepat. Kilatan cahaya putih nampak bertaburan seperti bintang di angkasa raya. Setiap tebasannya mendatangkan hawa mengerikan. Setiap tusukannya mendatangkan kabar kematian.
Gerakannya sangat cepat. Dalam beberapa kali gebrakan, sepuluh pendekar kelas satu itu langsung buyar menghindarkan dirinya masing-masing.
Si wanita tadi juga terbengong melihat sepak terjang pemuda tampan itu. Sungguh, dia baru melihat pemuda asing yang mempunyai ilmu silat setinggi dirinya.
Sudah tampan, berilmu tinggi pula, wanita mana yang tidak menaruh hati padanya?
Dia sendiri wanita. Meskipun tingkah lakunya seperti siluman, tetapi dia bukan wanita siluman. Dia asli manusia. Asli wanita. Yang mempunyai hasrat dan kekaguman kepada lawan jenis.
Setelah melihat pemuda itu beraksi, tanpa sadar dia mengigit bibirnya.
__ADS_1
Hatinya juga tergetar. Teringat kepada ucapan pemuda itu. Kalau begini caranya, siapapun wanitanya, mungkin juga termasuk dia sendiri, sudah tentu mau memberikan 'lauk kepada kucing' secara suka rela.
Pertarungan di hutan tersebut tidak berhenti. Sepuluh pendekar semakin penasaran dengan pemuda asing tersebut. Mereka terkenal di dunia persilatan, walaupun belum terhitung tokoh utama, tetapi namanya juga patut dibanggakan.
Dipecundangi oleh seorang pendekar muda di hadapan seorang gadis secantik Dewi Kwan Im, siapa yang akan terima?
Setiap pendekar mulai melancarkan jurus pamungkas yang mereka miliki. Kecepatan serangan bertambah beberapa kali lipat. Bentakan nyaring terdengar beriringan dengan suara benturan senjata tajam.
Pendekar Tanpa Nama masih menguasai jalannya pertarungan. Sudah tiga puluh jurus mereka bertarung, tetapi keadaan tetap tidak berubah.
Saat pertarungan memasuki jurus kelima puluh, Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan tenaga dalamnya hingga delapan bagian. Itu artinya, delapan puluh persen kekuatannya telah dikerahkan.
Kalau sudah seperti ini, jangan harap akan ada yang keluar hidup-hidup.
Pedang Naga dan Harimau bergerak semakin cepat dan ganas. Walaupun hanya sebatang pedang, tapi jika digenggam oleh Pendekar Tanpa Nama, maka keganasannya sesuai dengan namanya.
"Wushh …"
"Srett …"
Jerit kematian terdengar. Seorang pendekar tewas dengan luka di dadanya.
Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti. Dia malah menambah kecepatan dan keganasannya. Pedang itu bergetar keras menghasilkan bianglala yang indah.
Dua orang terkapar dengan kondisi leher hampir putus. Darah segar menyembur menggenangi jasad mereka. Tujuh orang sisanya merasa ngeri.
Mereka sebenarnya ingin kabur, tetapi sayangnya tidak bisa. Karena para pendekar tersebut tahu bahwa pemuda itu tidak akan melepaskannya.
Atas dasar alasan tersebut, tujuh orang membentak nyaring. Tujuh serangan mereka lancarkan secara bersamaan.
Cakra Buana mundur beberapa langkah ke belakang. Pertarungan mereka berlangsung di hadapan si wanita cantik tadi.
Satu persatu orang-orang tersebut mulai terkapar tanpa nyawa. Pedang Naga dan Harimau terus memberikan tebasan yang mematikan. Lima orang pendekar tewas akibat luka yang menganga.
Dua orang sisanya sudah kehilangan semangat bertarung. Melawan tidak melawan toh akan mati juga. Karena alasan tersebut, keduanya memilih untuk bunuh diri.
Senjata yang tergenggam di tangan segera ditusukkan ke jantungnya masing-masing. Tanpa mengucapkan sepatah kata, keduanya roboh bersimbar darah menyusul rekan mereka yang lainnya.
Cakra Buana menghela nafas. Dia berputar lalu pedang sudah kembali ke tempatnya.
"Jangan terlalu seperti itu. Hati-hati ucapanku tadi," bisiknya kepada si wanita yang sedang tertegun menyaksikan sepak terjangnya sambil kembali mencium pipinya.
Dia langsung menghilang dari pandangan. Si wanita masih tertegun dan memegangi pipinya yang dicium lembut.
__ADS_1
"Hemm, awas saja. Akan aku balas perlakuanmu, jangan harap bisa lepas dariku," selesai berkata demikian, dia juga segera pergi dari sana.
Keadaan di hutan menjadi sepi. Yang ada hanyalah sepuluh mayat manusia yang terkapar bersimbah darah.