
Tubuh Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan hawa sakti yang mengerikan. Tenaga dalam tidak terukur yang mengeram dalam tubuhnya seketika langsung membeludak keluar karena amarah yang teramat sangat itu.
Bebatuan berterbangan saling bentur. Angin menggulung-gulung membentuk sebuah pusaran besar. Beberapa batang pohon berukuran cukup besar dibuat roboh menindih pohon-pohon lain yang ada di dekatnya.
Karena dahsyatnya akibat yang dihasilkan dari kobaran amarah itu, akhirnya goa yang demikian kokoh pun mengalami sebuah retakan. Malah sebagian besar sudah ambruk. Batu hitam yang keras berjatuhan menimbulkan suara dentuman menggelegar.
Bumm!!! Bumm!!!
Keadaan langsung porak-poranda karena amukan Cakra Buana. Seumur hidupnya, selain karena kematian Ling Zhi dulu, rasanya Pendekar Tanpa Nama tidak pernah semarah ini.
Dia berada dalam kemarah lumayan lama juga. Sehingga pada akhirnya Cakra Buana berhenti dengan sendirinya.
Tenaga dalamnya jauh berkurang karena amarah tadi. Konsentrasinya buyar karena masalah yang semakin banyak.
Setelah berhasil menguasai diri, akhirnya pemuda itu duduk bersila. Cakra Buana memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya ditaruh di depan dada. Persis seperti seseorang yang sedang menyembah.
Beberapa saat kemudian, Cakra Buana sudah berhasil menyelami alam pikirnya sendiri. Dia sedang mencoba menenangkan diri dan pasrah terhadap apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.
Hidup itu sudah ada yang menentukan. Sekeras dan se-berusaha apapun dirimu, jika Sang Hyang Widhi sudah memberikan takdir mutlak kepadamu, maka selamanya kau tidak bisa melakukan apa-apa. Kecuali pasrah, apalagi yang dapat kau lakukan?
Alam pikir adalah alam ketenangan. Di sana kau akan merasa tenang. Tenang setenang-tenangnya. Jika sudah sampai ke alam "itu", maka kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Di sana tiada siapapun kecuali dirimu sendiri. Di sana hanya ada cahaya putih. Tak ada cahaya lain. Di sana juga kosong.
Karena itu memang alam kekosongan.
Kosong adalah isi. Dan isi adalah kosong.
Kalau kau sudah pernah "mengunjungi" tempat itu, maka kau akan mengerti maksud dari semua ini. Kalau belum, berusaha lah supaya kau bisa menemui apa itu "hakikat hidup".
Sepeminum teh kemudian, Cakra Buana sudah membuka kedua matanya yang sempat terpejam. Sekarang pemuda itu telah merasa lebih segar. Badannya tidak lelah lagi. Dia juga tidak marah lagi.
Cakra Buana sudah tenang. Tenang seperti air jernih di tengah danau sana. Wajahnya kalem. Meskipun dirundung duka karena kematian sahabatnya dan hancurnya tempat bersejarah ini, tapi dia masih tetap tenang.
Seolah tiada apapun lagi yang mampu membuatnya risau.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama melangkah perlahan menuju ke tempat kejadian. Dia ingin memeriksa kembali. Setiap ada kejadian, bukankah selalu ada petunjuk ataupun sebuah bukti?
Tentu saja ada. Dan itulah yang sedang dia cari saat ini.
Bangkai sahabatnya masih berserakan. Cakra Buana sangat yakin bahwa mereka pastinya telah melangsungkan pertarungan sengit dengan manusia berhati iblis itu.
Setelah beberapa waktu mencari petunjuk, akhirnya pemuda itupun berhasil menemukannya. Petunjuk kecil, tapi baginya sangatlah berharga.
Ada empat buah petunjuk yang ditemukan oleh Pendekar Tanpa Nama. Dia menemukan dua ronce pedang berwarna hitam kelam. Satu mata trisula perak yang telah kutung. Kutungan kayu istimewa dari sebuah tombak, dan tanah yang berbau busuk.
Meskipun hanya petunjuk itu yang baru dia temukan, namun Cakra Buana yakin bisa menemukan siapakah pelakunya. Terlebih lagi, dia pun sudah mempunyai dugaan tersangka dalam kejadian ini.
Melangkah ke depan beberapa tombak, pemuda itu dikejutkan kembali dengan sebuah bukti kuat lainnya. Tepatnya di dekat mulut goa, Cakra Buana baru menyadari kalau di sana ada petunjuk yang lebih penting daripada sebelumnya.
Di atas daun lontar yang lebar itu, ternyata ada sebuah lukisan yang dibuat tidak sampai selesai. Lukisannya amburadul, tapi Cakra Buana sudah bisa melihatnya cukup jelas.
Lukisan itu adalah lukisan manusia. Ada lima orang. Masing-masing lukisannya seperti dibuat pada detik-detik terakhir dan dengan tergesa-gesa. Hal ini bisa dilihat dengan jelas.
Semuanya buram. Tapi walaupun demikian, bagi Cakra Buana justu sudah lebih dari cukup.
Pendekar Tanpa Nama menggertak gigi. Saking marahnya, tanah yang dia pijak sampai-sampai amblas cukup dalam. Jejak kakinya akan abadi di tanah ini.
Setelah demikian, dia lantas kembali ke tempat di mana bangkai para sahabatnya berada. Cakra Buana membuat lubang untuk kuburan mereka. Meskipun kenyataannya mereka adalah binatang, tapi binatang itu justru sahabatnya.
Sebagai sahabat yang baik, tentunya Cakra Buana juga bakal memperlakukan mereka sebaik-baiknya.
Setelah selesai menguburkan binatang-binatang istimewa itu, Pendekar Tanpa Nama lantas memutuskan untuk pergi.
Wushh!!!
Tanpa banyak bicara lagi, dia lantas melesat dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tahap sempurna. Cakra Buana mengeluarkannya hingga ke titik tertinggi.
Oleh sebab itulah, hanya sesaat saja dirinya telah berada jauh dari lembah tadi. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu dia sudah berada di atas. Persis di tempat semula sebelum dia turun ke lembah tadi.
Matahari sore sebentar lagi akan tenggelam. Semilir angin sepoi-sepoi berhembus pelan seperti belaian seorang kekasih. Pendekar Tanpa Nama masih terdiam.
__ADS_1
Dia ingin memandangi lembah yang penuh kenangan itu untuk yang terakhir kalinya. Tanpa terasa, dua tetes air matanya menetes membasahi pipi.
Cakra Buana memejamkan mata. Membayangkan kembali kenangan indah bersama mereka. Makan bersama. Berenang bersama. Sampai tidur pun bersama.
Kenangan seindah ini, benarkah harus berakhir menyedihkan?
Binatang-binatang baik itu, benarkah harus mati begitu saja?
Tidak. Tidak mungkin. Sampai kapanpun, Cakra Buana akan membalas kematian mereka. Dia bakal mengusut tuntas kejadian ini. Hutang darah bayar darah. Hutang nyawa balas nyawa.
"Apakah Tuan yang berdiri adalah Pendekar Tanpa Nama?" tiba-tiba sebuah suara berkumandang di belakangnya.
Suara itu cempreng. Persis seperti kaleng rombeng. Malah lebih bagus suara kaleng daripada suaranya.
Pendekar Tanpa Nama membalikkan badannya. Ternyata sekarang, di tempat itu sudah berdiri dua orang.
Dua orang nenek tua yang wajahnya burik. Rambutnya acak-acakan. Dia memandangi Cakra Buana sambil tersenyum-senyum tidak karuan. Tampak olehnya bahwa dua nenek itu mempunyai deretan gigi yang telah menghitam seluruhnya.
Pakaian mereka serba hitam. Keduanya tidak terlihat membawa senjata. Tapi sekilas pandang saja, Pendekar Tanpa Nama sudah tahu kalau mereka sebenarnya bukanlah orang sembarangan.
"Benar. Siapakah kalian ini?"
"Tuan tidak perlu tahu siapa kami. Yang terang, kami kemari karena mendapatkan sebuah tugas,"
"Tugas apa?"
"Tugas untuk membunuh Tuan,"
"Aku tidak pernah berjumpa dengan kalian. Aku juga tidak pernah punya masalah, kenapa ingin membunuhku?"
"Masalah itu tidak penting. Kami hanya menjalankan tugas. Tugas tetaplah tugas. Masalah lainnya, kami tidak tahu,"
"Apakah si Majikan Bertudung Hitam yang sudah menyuruh kalian?"
Tiba-tiba kening dua nenek tua itu berkerut. Mereka saling pandang satu sama lain. Sepertinya kedua wanita itu merasa heran.
__ADS_1
"Siapa itu Majikan Bertudung Hitam?"