Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Orang Suruhan Tuan Gandrung Kalapati


__ADS_3

Wajah kedua pemuda tersebut langsung merah padam saat itu juga. Amarahnya naik seketika. Semua orang yang ada di dalam restoran itu menaruh rasa takut kepadanya, sekarang ada tiga orang pendekar muda berani membentaknya, kalau kau ada di posisi dia, benarkah kau akan terima begitu saja?


"Mulutmu sepertinya harus diberi pelajaran," bentaknya sambil mengangkat tangan kanan dan siap untuk menampar Bidadari Tak Bersayap.


Tapi pada saat itu, Pendekar Tanpa Nama tiba memberikan isyarat dengan tangan kanannya.


"Tahan sebentar. Ini, jatah untuk kalian," katanya tersenyum. Berbarengan dengan itu, Cakra Buana kemudian mengambil sekantung uang perak lalu diberikan kepada pemuda tersebut.


Tapi pemuda itu tidak menerimanya langsung. "Sekarang aku tidak ingin uangmu. Aku hanya ingin gadis ini saja," kata Whira sambil mencibir kepada Bidadari Tak Bersayap.


Gadis itu melotot. Dia benar-benar tidak menduga bahwa pemuda di hadapannya berani berkata demikian.


"Lancang …"


Plakk!!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Saking kencangnya tamparan Bidadari Tak Bersayap, sampai-sampai ada bekas lima telapak tangan di pipi pemuda tersebut.


Seumur hidupnya, baru sekali ini saja dia mengalami kejadian yang amat memalukan. Pemuda bernama Whira itu sangat geram. Dia ingin menampar balik Bidadari Tak Bersayap, namun sebelum tangannya melayang, tamparan susulan kembali mendarat di pipi sebelah kanannya.


Tamparan yang sekarang terasa jauh lebih sakit lagi. Sebab yang menamparnya beda orang.


Sian-li Bwee Hua sudah turun tangan. Sebagai seorang wanita, dia tentunya tidak terima melihat sesamanya diperlakukan tidak sopan seperti barusan.


"Dikasih hati malah minta jantung. Kalau kau sudah bosan hidup, bilang saja. Biar aku sendiri yang akan mencabut nyawamu," ucap gadis itu dengan kejam.


"Setan alas …"


Sringg!!!


Dia mencabut sebatang golok di pinggangnya lalu segera diayunkan ke arah Sian-li Bwee Hua.


Crapp!!!


Batang golok belum mengenai sasaran, tapi dua jari yang lentik dan mulus sudah menahan gerakan golok tersebut.


Sian-li Bwee Hua menjepit golok itu menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Pergi dari sini sebelum aku marah besar," katanya bengis.


Wushh!!!

__ADS_1


Bukan ucapan kata yang dia berikan, melainkan sebuah pukulan keras yang dilancarkan menggunakan tangan kiri.


Plakk!!!


Sian-li Bwee Hua kembali menangkap pukulan itu. Kemudian segera mendorong tubuh pemuda itu hingga terjengkang menimpa meja makan di belakangnya.


Suasana riuh seketika. Orang-orang yang sedang makan langsung menghentikan makannya, yang sedang bercerita segera menghentikan ceritanya. Semua pengunjung memandang ke arah tempat kejadian.


Entah apa yang sedang ada dalam pikiran mereka. Yang jelas, semuanya merasa kaget karena ternyata gadis cantik itu berani berbuat kurang ajar kepada orang-orang suruhan Tuan Gandrung Kalapati.


Padahal hampir semua orang di Kotaraja tahu dan kenal siapa itu Tuan Gandrung Kalapati.


Kekuasaannya meliputi segalanya. Orang-orangnya banyak. Para tokoh dunia persilatan banyak yang tunduk di bawah kakinya. Meskipun kemunculan orang itu baru beberapa bulan belakangan ini, tapi karena kekuatannya yang sulit dibayangkan, maka dengan cepat namanya dikenal luas.


Bukan tidak mungkin pula jika pihak Kerajaan sendiri pernah mendengar nama orang itu.


Jadi siapa sebenarnya Tuan Gandrung Kalapati itu?


"Monyet buduk, rupanya kau ingin mampus," kata pemuda tersebut.


Selesai dia berkata, goloknya kembali dilayangkan. Bacokan cepat mengincar kepala Sian-li Bwee Hua.


Begitu golok itu hampir tiba di depan muka Sian-li Bwee Hua, mendadak cahaya putih keperakan bertaburan di udara. Golok tersebut bergerak jauh lebih cepat sambil melancarkan belasan tusukan yang mengarah ke berbagai macam titik di tubuh sekaligus.


Untungnya mangsa yang dia incar bukanlah orang sembarangan. Sian-li Bwee Hua hanya menggerakan sedikit kepalanya sehingga semua serangan golok itu tidak mengenai tubuhnya.


Clangg!!! Clapp!!!


Benda hitam kecil meluruk cepat menyambar batang golok. Sesaat berikutnya gerakan tersebut langsung berhenti saat itu juga.


Aswanta dibuat terbengong beberapa saat lamanya. Antara percaya atau tidak. Sekarang goloknya telah kutung menjadi dua bagian. Kutungan golok itu menancap di dinding restoran.


Keadaan langsung sunyi saat itu juga. Semua pengunjung menatap penuh rasa kagum.


Tak nyana, jurus serangan golok pemuda suruhan Tuan Gandrung Kalapati sanggup dihentikan dengan mudah. Bahkan sampai-sampai senjata tajam itu dibuat patah olehnya.


Wutt!!! Bukk!!!


Angun menyambar dengan deras. Satu hantaman telapak tangan dilayangkan oleh Sian-li Bwee Hua. Tubuhnya langsung melayang ke belakang hingga menubruk dinding restoran di belakang sana.


Sejalur cairan merah keluar dari sudut bibir sebelah kirinya. Aswanta mengusap darah itu menggunakan jempol tangannya.

__ADS_1


"Bagus, kau benar-benar bosan hidup …"


Wushh!!!


Tiga kursi dan dua meja pengunjung tiba-tiba melayang dengan cepat ke arah Sian-li Bwee Hua. Kecepatan empat benda itu sulit dibayangkan. Hanya sesaat, keempatnya sudah menerjang.


Brakk!!! Brakk!!!


Benda-benda keras yang dilemparkan oleh Whira menggunakan bantuan tenaga dalam ternyata kembali mampu ditangkis oleh Sian-li Bwee Hua.


Meja dan kursi itu hancur. Serpihannya dikembalikan oleh gadis itu.


Prakk!!!


Hawa panas keluar dari tubuh Awsanta. Cahaya hijau muda melesat keluar dari pukulan tangan kanannya. Akibatnya seluruh serpihan itu hancur bagaikan debu.


Orang yang paling tua di antara mereka sejak tadi hanya berdiam tanpa bergeming. Dia sudah terbiasa menghadapi persoalan seperti ini.


Tapi terkait apa yang baru saja terjadi, dia benar-benar kaget. Orang tua itu tidak pernah menduga kalau serangan rekannya mampu dihalau dengan mudah. Lebih tak menyangka lagi kalau serangan tenaga dalamnya dapat ditangkis pula.


Padahal dirinya yakin kalau tenaga dalam Whira sudah terbilang tinggi. Dia pun merupakan tokoh kelas atas dunia persilatan.


Kalau orang sepertinya sanggup dipermalukan seperti itu, lantas orang seperti apakah sebenarnya gadis cantik tersebut?


Aswanta pun terkejut. Untuk sesaat dia kebingungan harus bersikap bagaimana. Apakah harus mundur, atau terus maju?


"Kenapa kau malah diam saja? Aswanta, lekas bunuh gadis jalang itu!!!" bentak si orang tua memberi perintah.


"Baik ki Suryo …" katanya ketakutan sambil menganggukkan kepala.


Sringg!!!


Keris dengan panjang dua jengkal sudah dia cabut. Keris tersebut mengeluarkan sinar biru terang.


Wutt!!! Wutt!!!


Cahaya biru berkilat beberapa kali. Setiap benda yang terkena sinar itu langsung hancur berkeping-keping. Hawa panas menyeruak. Ternyata Aswanta sudah benar-benar marah.


Suasana di dalam restroan seketika berubah lebih ramai. Orang-orang yang berasal dari kalangan biasa langsung lari kalang kabut. Hanya dalam sekejap saja, di dalam restoran itu sudah lenggang.


Yang tersisa hanyalah mereka orang-orang dunia persilatan saja. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia penuh pertarungan, tentunya mereka tidak mau menyia-nyiakan kejadian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2