
"Terimakasih, Paman. Aku juga berharap demikian, semoga saja aku bisa menjadi orang yang kalian harapkan," kata Cakra Buana tersenyum dengan ekspresi wajah serius.
Satu persatu persoalan yang membingungkan mulai terungkap. Jawaban sudah dikemukakan. Sekarang tinggal beralih ke persoalan berikutnya lagi.
Suasana di sana kembali diselimuti oleh keheningan. Ekspresi raut wajah para tokoh kembali serius. Meskipun masalah utama sudah berhasil dibereskan, tetapi misteri di belakangnya masih belum terungka secara keseluruhan. Sebab masih terdapat orang-orang yang tidak tahu duduk perkaranya dengan jelas.
"Semula aku mengira bahwa Paman benar-benar telah berubah. Ada informasi yang mengatakan bahwa Paman telah berubah total. Prabu Katapangan yang sekarang, konon katanya sangat berbeda dengan Prabu Katapangan yang dahulu," ucap Cakra Buana serius.
Prabu Katapangan hanya tersenyum simpul. Meskipun keponakannya itu tidak bicara lebih jelas lagi, namun semua orang di sana, —termasuk pula dirinya— sudah mengerti apa maksud Cakra Buana.
Kabar tentang berita ini memang bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang tahu. Seluruh rakyat Tanah Pasundan juga tahu.
Apalagi sosok yang dimaksud adalah Sang Raja sendiri.
"Hahaha … jangankan dirimu, aku yakin semua orang pun mempunyai dugaan yang sama denganmu. Tetapi dalam hal ini, aku tidak akan menyalahkan siapapun. Karena semua yang aku lakukan, semuanya merupakan niat dan rencanaku sendiri,"
"Aku sudah tahu dan mendengar informasi bahwa ada seseorang yang ingin menyaru menjadi diriku. Setelah diselidiki lebih lanjut lagi, ternyata orang itu bukan lain adalah Penguasa Kegelapan sendiri. Pada awalnya aku merasa tidak percaya jika dialah pelakunya. Siapa yang tidak tahu Penguasa Kegelapan? Setiap manusia pasti tahu, dan setiap orang juga paham betul kalau gembong iblis itu tidak mau berurusan dengan pemerintahan,"
"Sekarang secara tiba-tiba, dirinya ingin menyaru menjadi diriku. Menjadi seorang Raja. Dalam hal ini, bukankah ada sesuatu besar di dalamnya? Oleh sebab itulah, aku memutuskan untuk membiarkan rencananya berjalan. Sedangkan di sisi lain, aku terus menyuruh mata-mata terbaik Kerajaan untuk mencari informasi lebih lanjut lagi,"
"Setelah berjuang keras beberapa waktu, akhirnya aku berhasil mendapatkan informasi yang dapat dipercaya. Semua data dan rencana mereka telah aku duga sebelumnya. Yang terjadi diluar dugaanku adalah kemunculan dirimu dan pertempuran maha dahsyat itu,"
__ADS_1
Bicara sampai di situ, Prabu Katapangan Kresna tampak menghela nafas dengan berat. Sepertinya dia merasa lelah karena terlalu bersemangat dalam menceritakan kisahnya tersebut.
Sedangkan di sisi lain, semua orang merasa sangat terpukau. Mereka benar-benar kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh Sang Raja tersebut. Ternyata di baik semua kejadian yang terjadi ini, dia sudah mengetahuinya lebih dulu.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan semua orang saat ini, kenapa Prabu Katapangan diam saja? Mengapa dia membiarkan semua ini terjadi?
"Kalau seperti itu, kenapa Paman malah diam saja?" tanya Cakra Buana tidak sabar.
"Tenang dulu Cakra. Biarkan aku mengambil nafas, semuanya akan aku jelaskan dengan gamblang," kata Prabu sambil memberikan isyarat dengan tangan kanannya. Sekulum senyuman juga turut dia lemparkan begitu dirinya bicara tersebut.
"Baiklah, Paman. Maafkan aku," jawab Cakra Buana langsung menundukkan kepalanya.
"Baik, akan aku lanjutkan sekarang. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sudah menduga akan semua persoalan terkait mereka berdua. Hanya saja kemunculan keponakanku ini jauh diluar dugaan. Jika kalian menyangka aku membiarkan semuanya terjadi, hal itu memang benar,"
"Tetapi siapa sangka? Begitu rencana ini mau dijalankan, sesuatu diluar prasangka semua pihak tiba-tiba terjadi. Pendekar Tanpa Nama muncul dan secara tidak langsung telah mengacaukan semuanya. Sebenarnya gara-gara hal inilah semakin banyaknya kekacauan yang terjadi. Karena hal ini pula kenapa semuanya menjadi begini mengerikan. Kalau saja Pendekar Tanpa Nama tidak muncul, niscaya peristiwa besar ini tidak akan terjadi,"
"Namun terlepas apapun itu, aku sama sekali tidak menyalahkan keponakanku, Cakra Buana. Malah bersamaan dengan hal itu, aku sendiri sangat berterimakasih karena dia sudah berperan penuh dalam hal menegakkan kebenaran. Entah sudah berapa banyak tokoh besar aliran hitam yang tewas di dengannya. Terlebih lagi, aku sangat berterimakasih karena dia telah menyembuhkan istriku yang mengalami penderitaan selama beberapa tahun ini karena kekejaman dua orang itu," kata Prabu Katapangan Kresna sambil melirik kepada Cakra Buana.
Menurut penilaian orang tua itu, jika tidak dibantu oleh Cakra Buana, rasanya Ratu Ayu tidak akan sembuh seperti sedia kala. Kemungkinan besar beliau akan berada di posisi demikian hingga akhir hayatnya.
Kalau tidak ada Pendekar Tanpa Nama, mungkin Sang Ratu akan terus tersiksa selama hidupnya.
__ADS_1
Hidup tetapi hanya bisa berbaring di tempat tidur dan tidak bisa melakukan sesuatu apapun, bukan saja hal itu sangat tersiksa? Hidup seperti demikian ibarat orang yang sudah mati.
Cakra Buana hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya.
Baginya, membantu sesama manusia adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Selama dirinya merasa mampu, kenapa tidak?
Apalagi, dalam hal ini dia telah membantu bibinya sendiri. Bagaimana mungkin pemuda itu akan diam saja melihat salah satu keluarganya tersiksa?
Prabu Katapangan Kresna sudah berhenti bicara. Sang Raja itu tidak mau terus menceritakan kisahnya. Karena sedikit banyaknya, dia yakin semua orang yang hadir itu mengerti tentang maksud dan perkataannya.
Kesimpulan dari permasalahan rumit ini adalah bahwa semuanya sudah diduga oleh Prabu Katapangan Kresna. Semuanya telah diatur olehnya sedimikian rupa. Jadi secara tidak langsung, sejak awal pihak musuh sudah kalah adu strategi dengannya.
Jika semua pergerakanmu sudah dibaca oleh musuh, lalu bagaimana caranya agar kau bisa mencapai strategi tersebut?
Jawabannya tentu saja tidak ada. Sebab semua hal-hal yang terkait sudah dapat dibaca sejak awal, semuanya telah berhasil ditebak sejak semula. Hanya saja, terkadang tidak semua prediksi dan rencana kita akan berjalan mulus seperti apa yang telah dibayangkan sebelumnya.
Seperti sekarang contohnya. Sudah dikatakan oleh Prabu Katapangan bahwa terkait kemunculan Pendekar Tanpa Nama, sebenarnya hal itu tidak sesuai dengan rencana dan kejadian yang dia bayangkan.
"Perduli masalah apapun itu, yang jelas pada saat ini semuanya sudah terbongkar. Semuanya telah berhasil diungkap. Tak kusangka, ternyata dibalik permasalahan yang sangat rumit ini, akar masalahnya justru sangat sederhana," kata Ratu Ayu sambil tersenyum lembut.
Wanita agung tersebut menuangkan arak ke dalam cawan. Setelah hal itu, dia lantas segera memberikannya kepada sang suami.
__ADS_1
Ketegangan mulai mencair. Hawa yang tadinya terasa panas, sekarang telah berubah menjadi dingin dan memberi kenyamanan.