Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Arak Racun


__ADS_3

Malam semakin dingin. Rembulan perlahan tertutup gumpalan awan kelabu. Hembusan angin dingin membalai penuh perasaan. Memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam jiwa.


Cakra Buana belum tertidur. Saat ini dia sedang duduk di jendela sambil menikmati keindahan malam. Walaupun sinar rembulan mulai tertutup, tapi toh harumnya bunga mekar dan suara binatang malam membuatnya sangat ingin menikmati suasana malam ini.


Satu guci arak di pinggir sebalah kanan. Di pinggirnya ada juga daging panggang bumbu yang sangat lezat. Cakra Buana melahap keduanya dengan semangat.


Tiga teguk arak, satu potong daging panggang. Begitu terus hingga dia benar-benar menghabiskan keduanya.


Setelah selesai minum arak dan melahap habis daging panggang, pemuda itu mulai merasa mengantuk. Kelopak matanya mendadak sangat sulit untuk dibuka. Terlebih lagi pikirannya mukai kalut.


Pada akhirnya Pendekar Tanpa Nama tidur juga. Sebab semakin di bawah berdiri, semakin dia merasa pusing.


Terbukti, baru sekejap rebah di kasur empuk di bawah selimut tebal, dia sudah terlelap bersama mimpi indahnya.


Di sekitar penginapan sudah sepi. Pintu tertutup sangat rapat. Jelas, hal itu menandakan tidak boleh ada orang lain yang masuk ke sana.


Tetapi, persis di halaman penginapan telah berdiri belasan orang berpakaian hitam. Di pinggangnya masing-masing terdapat sebatang golok dengan sarungnya yang hitam pekat. Mereka berjaga di sekitaran penginapan.


Di dalam penginapan sendiri, tepatnya di ruangan bawah yang biasa menjadi restoran, tak kurang dari sepuluh orang sosok telah berdiri berhadapan.


Dua orang di antaranya seorang wanita. Usia satunya masih terbilang sangat muda sekali. Yang satu baru sekitar dua puluh sembilan tahun. Yang satunya lagi sekitar lima puluhan tahun.


Delapan pria lainnya berbadan tinggi kekar. Ada juga yang ceking seperti bambu dan gendut seperti bola.


Semuanya bertampang seram. Sepertinya mereka memang seorang pembunuh. Atau juga merupakan pendekar kaum sesat yang sudah mempunyai nama.


Tidak berapa lama, muncul seorang wanita yang sangat cantik. Dia memakai pakaian biru muda, memakai cadar pula. Tapi walaupun begitu, masih tetap terlihat betapa cantiknya wajah di balik cadar tersebut.


Saat berjalan, semua mata memperhatikan dirinya. Semua pria membelalakan mata. Begitu juga dengan yang wanita. Kedelapan pria merasa sangat bahagia karena bisa melihat wanita cantik itu. Sedangkan yang wanita merasa sedikit iri.


Seolah mereka bertanya "kenapa aku tidak dilahirkan secantik dirimu?"


Bagi seorang pria, bisa melihat sedemikian cantiknya sudah merupakan anugerah terindah. Apalagi bisa melihat senyumannya.


"Apakah semuanya sudah berjalan sesuai rencana?" tanya si wanita itu dengan sangat lembut. Suaranya bagaikan hembusan angin musim semi.


Membawa ketenangan dan kedamaian.

__ADS_1


"Sudah nona, apakah ada perintah lain lagi?" tanya si pelayan yang tadi memberika arak kepada Cakra Buana.


"Tidak ada. Apakah kau yakin dia sudah terkapar keracunan?" tanya wanita yang dipanggil nona itu.


"Sangat yakin. Aku tahu dia gemar minum arak, sekalipun belum menjadi setan arak, tapi dia tidak mungkin membiarkan seguci arak menganggur begitu saja," jawab si pelayan sambil tersenyum bangga.


"Bagus, kalau begitu segera lah periksa ke dalam kamarnya,"


"Siapa saja yang nona suruh?"


"Kalian semua,"


"Kenapa harus semua?" tanya seorang pria tua ceking seperti tidak terima.


"Sebab aku tahu bahwa dia lain daripada yang lain,"


Dia tidak memberikan orang lain bicara, kembali dia melanjutkan, "Walaupun arak yang kalian berikan adalah arak beracun, tapi aku masih belum percaya sepenuhnya bahwa dia benar-benar tewas keracunan. Hal apapun di dunia ini bisa terjadi,"


"Baiklah. Kami mentaati perintah," kata pria kekar tadi.


Sepuluh orang tersebut segera bergerak. Mereka mulai menaiki tangga. Ada yang naik lewat tangga, ada juga yang melompat langsung ke atas sehingga langsung sampai tepat di pintu kamar pemuda itu.


Semua yang mereka lakukan tidak menimbulkan suara. Rasanya mustahil jika pemuda itu mendengar pergerakan mereka.


Pintu ternyata tidak dikunci.


Setelah semuanya berkumpul, mereka langsung berjaga-jaga. Dua orang pria masuk. Keduanya melihat bahwa pemuda itu sudah tidur di bawah selimut.


Seorang di antara memberi tanda kepada yang lain untuk masuk. Mereka segera mengelilingi kasur itu.


Begitu selimut di buka, semuanya kaget. Sebab yang ada di balik selimut bukanlah manusia. Tetapi tak lebih hanya sebuah bantal dan guling.


Semua orang tercengang. Ke mana pemuda itu perginya?


Mustahil jika dia bisa pergi tanpa meninggalkan jejaknya sama sekali. Apalagi jika benar dia sudah meminum arak beracun.


Jangankan dia, tokoh persilatan kelas satu pun mungkin tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


Tapi bagaimana lagi? Pemuda itu benar-benar tidak ada di kamar. Jendela kamarnya tertutup.


Seseorang mendekati jendela lalu segera memeriksa.


"Jendelanya tidak dikunci, dia pasti kabur lewat sini," katanya menahan emosi.


Belum lagi mereka berbicara lebih lanjut, di bawah terdengar jeritan orang-orang yang menahan sakit. Namun hal itu hanya terdengar sesaat saja, sebab selanjutnya sudah tidak terdengar suara apapun lagi.


Sepuluh orang tersebut saling pandang. Mereka segera berlarian keluar dengan kecepatan tinggi. Hanya sekejap mata, sepuluh orang itu sudah berada di halaman penginapan.


Mereka terkejut saat tiga penjaga di sana tewas dengan leher hampir buntung. Dua belas penjaga lainnya sedang mengurung seorang pemuda berpakaian serba merah.


Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama.


Ternyata jeritan tadi merupakan jeritan kematian dari penjaga itu. Dan pelakunya tentu saja pemuda itu.


Dia berdiri dengan tenang. Walaupun tiga belasan orang mengurungnya dengan golok yang sudah siap ditebaskan, tetapi sama sekali pemuda tersebut tidak merasa takut ataupun jeri.


Sebaliknya, justru sepuluh orang tadi yang terkejut setengah mati. Sudah jelas arak beracun itu di minum habis, bekas minumnya juga masih komplit. Lalu, bagaimana pemuda itu masih bisa brtahan hingga detik ini?


Bahkan masih tampak sehat-sehat saja.


Sama sekali tidak ada tanda bahwa dia telah keracunan meskipun sudah minum arak tadi.


"Terimakasih, arak yang sudah kau berikan tadi benar-benar nikmat. Walaupun araknya keras, tapi sungguh wangi," kata Cakra Buana kepada si pelayan.


Semua orang terkejut lagi. Apakah pemuda itu gila? Sudah jelas arak itu beracun, dan dia meminumnya sampai habis pula. Tapi kenapa harus berterimakasih?


"Kau benar-benar meminumnya?" tanya pelayan itu tidah tahan.


"Apakah jika berbohong mendatangkan keuntungan?"


"Lantas, kenapa kau masih bisa bertahan dan segar bugar jika sudah meminum arak tadi?"


Semua orang menantikan jawaban pemuda tersebut. Mereka tokoh ternama, sudah tentu tahu bagaimana ganasnya racun tanpa warna dan bau yang dimasukkan ke dalam arak tadi.


"Karena … racun yang kau taburkan di dalamnya masih kurang pantas untuk dapat membunuhku. Racun itu mungkin ganas bagi orang, tapi bagiku tak lebih hanya obat penambah pusing saja," kata Cakra Buana sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2