
Tiga hari telah berlalu.
Malam ini terang bulan. Malah sedang purnama pula. Di tengah rembulan ada sesuatu seperti pelangi yang mengelilingi Sang Dewi Malam tersebut.
Udara sejuk. Hawa dingin menusuk tulang. Angin lirih berhembus membawa keharuman bunga-bunga yang sedang mekar dengan harum.
Keadaan sudah sepi sunyi. Para warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Malah mereka sudah tidur terlelap bersama mimpi indahnya.
Di jalanan Kotaraja, biasanya orang-orang selalu ramai. Baik pagi, siang, sore, atau bahkan tengah malam sekalipun, Kotaraja pasti selalu ramai. Akan ada orang-orang yang selalu berlalu lalang.
Selain ramai pengunjung, di Kotaraja juga pastinya ramai para pedagang. Mulai pedang kaki lima yang berjualan kembang gula, hingga pedagang tetap yang sudah sanggup membuka lapak usahanya sendiri.
Tapi entah kenapa, malam ini terasa sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam ini adalah waktu paling cocok untuk menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Sang Hyang Widhi.
Tetapi kenapa tiada satu orangpun yang menikmati keindahan tersebut? Malam ini juga bulan purnama, lalu kenapa pula tiada sesosok manusia pun yang berusaha menikmatinya?
Ke mana orang-orang itu? Apa yang sedang atau bakal terjadi?
Kotaraja seakan menjadi kota mati. Kecuali hanya beberapa pedagang arak dan kedai makan yang berusaha tetap buka meskipun suasana sepi. Rasanya tiada pedagang lainnya yang ikut membuka usaha mereka pula.
Malam yang indah. Tetapi tidak bisa dinikmati, bukankah hal ini sangat disayangkan? Bukankah cukup pantas jika disebut menyedihkan?
Pendekar Tanpa Nama sedang berdiri kokoh di sebuah jalan Kotaraja yang sangat sepi itu. Rambutnya yang memiliki panjang sebahu dibiarkan terurai. Rambut tersebut beriak pada saat angin malam berhembus.
Jubahnya masih sama. Jubah berlambang naga dan harimau. Jubah berwarna merah darah.
Sepasang matanya berkilat tajam. Di tangan kananya sudah tergenggam sebatang pedang pusaka yang sangat tersohor. Pedang yang tajam. Pedang yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya.
Pedang Naga dan Harimau.
"Hahh …" Cakra Buana tiba-tiba menghela nafas.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian mendongakkan kepalanya ke atas. Dia memandangi rembulan yang amat indah tersebut.
Setelah menghela nafas beberapa kali kembali, Cakra Buana langsung memantapkan tekadnya.
Malam ini, dia akan menunaikan tugasnya. Pendekar Tanpa Nama akan menggemparkan seluruh Istana Kerajaan. Malam ini, banjir darah mungkin bakal terjadi jauh lebih hebat lagi daripada saat di hutan Kerajaan.
Kalau begitu, apakah korban yang ditimbulkan juga makin banyak lagi? Apakah orang-orang tak bersalah akan turut menjadi salah sasaran?
Wushh!!!
Bayangan merah meluncur sangat deras. Pendekar Tanpa Nama langsung mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya hingga ke titik tertinggi. Kalau dia sudah seperti ini, jangan harap ada orang yang sanggup menghentikannya. Jangankan manusia, Dewa pun mungkin tidak bisa mencegahnya.
Blarr!!!
Serangan tapak jarak jauh dilayangkan. Pintu gerbang Istana Kerajaan jebol karena terkena jurus maha dahsyat itu. Enam orang penjaga gerbang yang merupakan pendekar kelas menengah langsung mampus tanpa sempat melakukan sesuatu apapun.
Pendekar Tanpa Nama sudah berada di dalam istana. Dia ingin bergerak kembali, dirinya ingin memburu ke dalam lalu menghancurkan segala yang ada di sana.
Tapi sayang sekali, tepat pada saat itu, sepuluh orang berpakaian serba hitam sudah menyerangnya dari seluruh penjuru.
Sepuluh serangan jarak jauh dan jarak dekat sudah tiba di depan mata Pendekar Tanpa Nama. Kesempatan untuk menghindarkan diri sudah tidak ada.
Apakah malam ini adalah malam terakhir bagi Cakra Buana? Benarkah saat ini dirinya bakal mampus?
Wushh!!!
Tiba-tiba angin bergulung-gulung keluar menjadi satu sehingga menciptakan sebuah pusaran besar dan membawa kekuatan hebat. Sepuluh orang itu berusaha mempertahankan dirinya agar tidak terseret.
Pendekar Tanpa Nama ternyata berputar sangat cepat sekali. Dia seperti gasing. Bentuk tubuhnya tidak nampak. Yang terlihat hanyalah bayangan merah dan sinar putih kemilau yang terus berkelebat ke sana kemari tanpa berhenti.
Crashh!!! Brett!!! Brett!!!
__ADS_1
Darah merah muncrat. Sepuluh orang berpakaian serba hitam sudah terkapar di tanah. Semuanya tewas hanya dalam sekejap mata. Tiada yang dapat menyaksikan kejadian ini.
Pusaran angin sudah sirna. Pendekar Tanpa Nama kembali berdiri di tempatnya semula.
Darah yang berasal dari sepuluh orang berpakaian hitam masih menetes di ujung Pedang Naga dan Harimau.
Wajah pemuda itu semakin dingin. Hawa kematian yang keluar dari tubuhnya semakin kentara. Pedang Naga dan Harimau diselimuti oleh hawa pembunuhan. Seluruh batang pedang seperti dilindungi oleh cahaya berwarna merah darah.
Pada saat itulah muncul ratusan orang prajurit Istana Kerajaan. Semuanya memakai pakaian seragam. Di tangan kanan terdapat sebatang tombak. Di tangan kiri ada satu buah tameng. Selain daripada itu, ada juga para prajurit yang bersenjatakan pedang, golok, bahkan gendewa (busur panah).
Semua prajurit muncul dalam waktu yang bersamaan. Masing-masing dari mereka sudah siap menjalankan tugas dari junjungannya. Orang-orang itu rela mempertaruhkan nyawa demi menunaikan tugasnya.
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
Dua puluhan bayangan manusia muncul dari berbagai macam sudut Istana Kerajaan. Mereka semua bukan lain adalah para pasukan elit Istana. Mereka adalah tokoh-tokoh kosen dunia persilatan yang sudah lama tidak muncul.
Itu artinya, semua orang tersebut merupakan pendekar kelas satu.
Cakra Buana tidak terlalu kaget dengan kehadiran mereka. Sedikit banyaknya diapun sudah tahu akan orang-orang tersebut. Sebab pada saat dirinya masih di Kerajaan dulu, dia pernah berjumpa pula dengannya.
Yang membuatnya kaget justru karena kehadiran empat orang tua yang sudah tidak asing di dunia persilatan. Kekagetan itu terjadi karena Pendekar Tanpa Nama tidak pernah mengira kalau mereka pun bakal hadir pula di Istana Kerajaan.
Keempat orang tua itu di antaranya adalah Si Pedang Angin Puyuh, Pendekar Mata Satu, Kakek Bintang dan si Kerdil Dewa Kipas.
Mereka bukan lain adalah para datuk dunia persilatan Tanah Pasundan. Meskipun keempatnya sudah jarang menampakkan diri, namun setiap insan sungai telaga tahu kepada masing-masing orang tua itu.
Tidak ada yang tidak tahu tentangnya. Kalau benar ada, mungkin orang itu hanyalah orang mati saja.
Sebagai datuk persilatan, sepak terjang keempatnya sudah pasti sangat luar biasa sekali. Mereka bisa membuat bumi bergetar dan langit berguncang. Pada saat masih muda, keempatnya tidak berbeda jauh seperti Pendekar Tanpa Nama.
Mereka ditakuti lawan dan disegani kawan.
__ADS_1
Di sisi lain, empat orang tua itu merupakan orang yang termasuk di dalam jajaran golongan merdeka. Keempatnya berdiri di tengah-tengah dua aliran, yaitu hitam dan putih.
Saat ini, mereka sudah berada dalam jarak dua atau tiga tombak di hadapan Pendekar Tanpa Nama. Dua belah pihak saling pandang satu sama lainnya. Belum ada yang bicara di antara mereka itu.