
'Gila betul. Bagaimana mungkin pemuda ini mempunyai ilmu silat yang demikian hebatnya. Padahal menurutku dia hanya punya bekal sedikit saja. Kalau begini caranya, maka terpaksa aku harus mengeluarkan seluruh kemampuan,' batin Ou Lin di tengah gempuran serangan yang terus dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Nama tiada hentinya itu.
Ou Lin membentak nyaring, jurus andalannya yang berupa pukulan berhawa panas langsung keluar.
"Bara Api Bertaburan di Atas Bukit …"
Kepalan tangannya langsung memerah seperti halnya bara api. Sesuai dengan namanya. Hawa pukulan terasa sangat panas. Bahkan setiap kali tangannya bergerak, selalu menimbulkan perasaan ngeri tersendiri.
Cakra Buana mulai waspada. Dia tahu bahwa sekarang Ou Lin sudah tidak main-main lagi. Segulung angin dahsyat mendampar tubuh Pendekar Tanpa Nama.
Untungnya dia lebih dulu berkelit ke samping kiri. Berbarengan dengan itu, tangan kanannya memberikan hantaman yang mengarah ke pundak kiri lawan.
Namun sebelum serangannya berhasil mencapai sasaran, Ou Lin telah menangkis dan melancarkan serangan selanjutnya. Tangan Cakra Buana terasa panas saat beradu dengan tangan Ou Lin.
Sekarang kepala perampok itu mulai mencecar Pendekar Tanpa Nama. Serangan pukulannya semakin ganas. Lesatan tangannya tampak seperti gugusan meteor yang meluncur dengan deras.
Tiga puluh jurus sudah terlewati. Cakra Buana masih berada dalam posisi yang sama seperti sebelumnya. Dia tidak bisa menyerang dengan telak. Selama itu, Pendekar Tanpa Nama hanya mampu menghindar atau menangkis.
Ou Lin tentu saja merasa girang. Dia telah mengira bahwa si pemuda kehabisan jurus untuk melawannya. Karena alasan tersebut, dia menyerang lebih beringas lagi. Seperti seekor singa yang kelaparan, Ou Lin sama sekali tidak melepaskan Pendekar Tanpa Nama.
Dia membentak nyaring lalu melompat sambil melancarkan dua kali pukulan. Hawa panas dan segulung angin dahsyat seperti ombak menggempur karang, melesat kembali ke arah Pendekar Tanpa Nama.
"Bukk …"
Tubuh pemuda itu terpental. Dadanya terasa bergolak hebat.
Namun detik selanjutnya Cakra Buana telah berdiri kembali. Karena mengetahui kekuatan lawannya cukup lumayan, maka dia tidak bisa untuk terus berada dalam posisi itu.
"Naga Terbang di Angkasa…"
Jurus ketiga dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau sudah keluar.
Gaya serangan Pendekar Tanpa Nama mendadak berubah. Kedua kakinya seperti melayang. Dia mengitari Ou Lin beberapa kali sambil terus menangkis serangan.
__ADS_1
Melihat ada satu kesempatan, Pendekar Tanpa Nama mulai bergerak.
Satu tangannya bengkok membentuk tiga cakar. Yang satunya lagi dalam posisi terbuka. Dua serangan langsung dia lamcarkan sekaligus. Yang satu mengarah ke bagian ulu hati. Satu lagi mengincar bagian alis mata.
Serangan yang dilancarkan oleh pemuda itu sangat cepat sekali sehingga Ou Lin tidak mampu memperhatikan ke mana arah serangan dengan jelas.
Sepuluh jurus kemudian, dadanya merasa dihantam oleh sebuah sesuatu yang sangat berat. Tubuhnya terpental ke belakang hingga menubruk meja sampai hancur.
Pendekar Tanpa Nama tidak mau memberikan kesempatan bagi Ou Lin. Dia melesat lalu melancarkan serangkaian pukulan dan tendangan beruntun. Sekali serang, sepuluh gerakan sudah dia layangkan.
Ou Lin tidak mampu bertahan lagi. Tubuhnya menjadi samsak Cakra Buana. Beberapa saat kemudian, dia berhasil dipukul tepat di bagian dada. Ou Lin terpental kembali. Kali ini organ dalamnya terasa mau pecah.
Darah segar menyembur dari mulutnya. Dia hanya mampu memandangi Cakra Buana dengan berbagai macam perasaan. Tetapi tidak mampu untuk berbuat apapun. Sebab detik berikutnya, Ou Lin langsung sekarat dan kondisinya mengenaskan.
Pendekar Tanpa Nama tidak mau berlama-lama di sana. Apalagi telinganya yang tajam mendengar ada beberapa langkah kaki yang sedang menuju ke tempat tersebut.
Cakra Buana kemudian mengambil kantong emas miliknya. Setelah itu, dia juga mengantongi seluruh kepingan emas yang ada di atas meja memakai sebuah kantong lebih besar lagi.
Kemudian tubuh pemuda itu segera melompat menjebol atap bangunan. Segera dia menggunakan ilmu meringankan tubuh supaya bisa cepat pergi dari sana.
Tepat setelah dirinya menghilang di kegelapan, tampak tiga orang tua berwajah seram memasuki bangunan itu.
"Adik Ou, Adik Ou," seru seorang di antara mereka memanggul Ou Lin.
Namun setelah beberapa kali memanggil, ternyata masih tidak ada jawaban juga.
"Pasti ada yang tidak beres. Kita dobrak saja," kata seorang lainnya.
Tanpa berkata lagi, orang tersebut segera mendobrak pintu masuk.
Ketiganya kaget setengah mati saat mendapati Ou Lin sekarat. Darah membasahi seluruh pakaiannya. Sepuluh anggotanya tewas terkapar dengan kondisi yang sama memprihatinkan.
Seorang di antara ketiganya menghampiri Ou Lin, tubuh orang itu biasa saja. Tapi wajahnya sungguh lebih seram daripada seorang ibu-ibu yang sedang menagih hutang.
__ADS_1
"Adik Ou, siapa yang melakukan semua ini kepadamu?" tanya orang tersebut sambil mengguncangkan tubuh Ou Lin.
Sayangnya Ou Lin sudah tidak bisa bicara lagi. Mulutnya tampak bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Sepertinya dia telah kehabisan tenaga.
Menyadari hal tersebut, orang itu segera menyalurkan tenaga dalam untuk membantu Ou Lin bicara. Dua orang rekannya juga langsung menghampirinya.
"Siapa pelakunya? Biar aku balaskan semua ini," kata orang itu dengan sangat marah.
"O-orang a-asing. Ca-cakra Bu-buana …" suaranya sangat lemah sehingga seorang di antara mereka harus mendekatkan telinganya.
Selesai menyebut nama itu, Ou Lin langsung terkulai. Mati.
"Siapa?"
"Entah. Tapi aku dengar, katanya orang asing. Namanya Cakra Buana," ucapnya merasa sedikit sulit menyebutkan nama itu.
"Orang asing? Cakra Buana? Hemm, aku baru mendengar namanya,"
"Aku juga,"
"Masa bodoh siapapun dia, yang jelas kita harus membawa kematian Kakak Ou," kata seorang yang lebih muda.
"Apa yang dikatakan oleh Adik Jim Si memang benar. Sebagai orang kedua, aku akan mencari di mana orang itu," kata seorang yang lebih tua lainnya.
"Kita kuburkan dulu jasad Kakak Ou bersama anggota lainnya. Setelah itu, kita kembali ke markas utama untuk menyuruh yang lainnya mencari orang ini. Berani berbuat masalah dengan kita, berarti orang itu sudah tidak takut mati. Dia telah menanmkan bibit dendam," kata orang yang bernama Jim Si penuh amarah.
Dua orang lainnya setuju. Mereka bertiga segera menguburkan jasad Ou Lin bersama para anggotanya yang ikut tewas juga.
Di tempat lain, Cakra Buana sudah berhenti berlari. Sekarang dia sedang berdiri sambil bersandar di sebuah pohon Liu. Dia sadar telah mencari masalah. Apalagi Ou Lin adalah salah satu dari anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam.
Namun walaupun begitu, Cakra Buana tidak takut sama sekali. Apalagi setelah dia tahu bahwa jurus silatnya ternyata memiliki kemiripan dalam gerakan bela diri Tiongkok.
Dia sendiri sebenarnya juga belum tahu bahwa Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau, sebenarnya adalah gabungan dari silat Nusantara dan silat Tiongkok.
__ADS_1
Setelah berhenti sesaat, dia segera melanjutkan perjalanannya kembali. Entah ke mana, yang jelas untuk sekarang Cakra Buana harus menghindarkan diri dulu.