Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Coa In si Pelempar Pisau Terbang


__ADS_3

Baru saja dirinya ingin pergi menyusul Dewi Bunga Bwee, mendadak puluhan anak panah telah melesat sangat cepat dari arah luar ke dalam kedai arak tersebut.


Puluhan anak panah itu bergerak sembarangan ke segala arah. Suasana di dalam kedai makan mulai kacau. Para pekerja di kedai tersebut berteriak ketakutan. Apalagi mereka yang merupakan seorang wanita.


Sebisa mungkin Pendekar Tanpa Nama berusaha untuk melindungi keselamatan mereka. Tubuhnya melompat dengan cepat ke arah seluruh pelayan kedai tersebut.


Beberapa buah meja langsung dia tarik sati persatu lalu segera ditumpuk untuk melindungi mereka. Cakra Buana dengan cepat dan cekatan.


Hanya sesaat saja, 'tameng' dari meja makan telah jadi. Puluhan anak panah segera menancap di seluruh bagian 'tameng' tersebut.


Wushh!!!


Cahaya merah berkelebat. Hanya sekali lompatan ke depan, sepasang tangannya telah berhasil menangkap sekitar dua puluhan anak panah.


Wushh!!!


Pemuda itu melemparkan kembali anak panah yang berhasil ditangkap oleh sepasang tangannya tersebut. Suara teriakan di luar mulai terdengar silih berganti.


Bukan teriakan gembira, melainkan teriakan menahan rasa sakit.


Ternyata seluruh anak panah yang dilemparkan oleh Pendekar Tanpa Nama tepat mengenai para pelemparnya.


Beberapa kali pemuda Tanah Pasundan itu melakukan hal serupa, hasilnya juga sama. Teriakan itu terus terdengar sama. Sama-sama menyeramkan, sama-sama membuat bulu kuduk berdiri.


Setelah sekitar sepuluh menit kemudian, semuanya kembali sunyi sepi. Suasana di sekitar kedai arak tersebut mendadak dicekam oleh keheningan.


Cakra Buana melemparkan kepingan perak sebagai biaya minum dirinya dan Dewi Bunga Bwee. Setelah itu, dia langsung melangkahkan kakinya ke luar dengan segera.


Yang pertama kali dia lihat saat diluar adalah puluhan mayat manusia yang sudah bertumpuk-tumpuk. Mereka semua tewas tertusuk oleh anak panah.


Darah merah masing mengalir dari luka-luka tersebut. Suara erangan menjelang kematian terdengar juga dari beberapa orang itu.


Cakra Buana tidak memperdulikan mereka. Pemuda itu tampak acuh tak acuh, sepasang matanya memandang ke tempat gelap.


Semua tempat yang menurutnya mencurigai dia tatap dengan tajam, setelah yaki, Pendekar Tanpa Nama lantas bergerak ke tempat tersebut.


Wushh!!!


Hanya sesaat tubuhnya sudah tiba di tempat yang dimaksud. Tempat itu bukan lain adalah semak belukar yang dipenuhi oleh rumput ilalang setinggi orang dewasa.


Beberapa saat lalu dia melihat ada gerakan mencurigakan dari tempat tersebut, tapi sekarang setelah dirinya tiba di sana, pergerakan itu justru lenyap begitu saja.


Bagaimana hal itu dapat terjadi?


Cakra Buana memejamkan matanya. Dia mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran. Telinganya dia pasang dengan tajam.

__ADS_1


Wuttt!!!


Crapp!!!


Sebatang pisau hitam telah tertangkap di antara jari tengan dan jari telunjuk. Pisau hitam yang tajam, pisau hitam yang mengandung racun.


Dari ujung pisau masih terlihat ada asap putih tipis mengepul.


Tanpa sadar Pendekar Tanpa Nama bergidik ngeri. Kalau sampai pisau itu berhasil menusuk dirinya, bukan mustahil jika dia bakal mampus saat itu juga.


Siapa pelempar pisau itu?


Tanpa berpikir panjang lagi, Cakra Buana segera melesat ke tempat datangnya pisau hitam tadi.


Wutt!!!


Pendekar Tanpa Nama melemparkan kembali pisia beracun tadi pada saat dirinya melihat bayangan seseorang yang sedang mencoba untuk melarikan diri.


Trapp!!!


Lemparannya meleset. Meleset hanya setengah buku jari dari targetnya.


Di dunia persilatan dewasa ini, orang-orang yang dapat selamat dari sasarannya hanyalah mereka yang sudah berilmu tinggi. Selain dari mereka, jangan harap bisa lolos dari setiap aksinya.


Kalau orang tersebut dapat selamat dari lemparan pisaunya meksipun itu hanya sedikit saja, sudah dapat dipastikan bahwa orang itu merupakan tokoh kelas atas.


Pada saat orang tadi berhenti, Cakra Buana ikut berhenti.


Sekarang keduanya sudah berhadapan satu sama lain.


Di hadapan Pendekar Tanpa Nama, sekarang telah berdiri satu tokoh kelas atas yang memakai pakaian hijau. Pakaiannya cukup mewah, wajahnya angker dan tubuhnya tinggi tegap. Meskipun sudah cukup tua, tapi kegagahan masih dapat disaksikan dengan jelas dari diri orang tersebut.


"Siapa kau?" tanya Cakra Buana dengan tatapan penuh selidik.


"Coa In si Pelempar Pisau Terbang," jawabnya bengis.


Cakra Buana termenung sesaat, nama orang tua itu hampir mirip dengan Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang, siapakah dia sebenarnya? Apakah mereka masih ada hubungan darah?


"Kau siapanya Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang?"


"Aku musuh bebuyutannya," jawab Coa In tidak kalah bengisnya.


"Kenapa kau menyerangku?"


"Karena aku ingin membunuhmu,"

__ADS_1


"Apa alasanmu?"


"Karena kau sudah membunuh Sun Poan. Perlu kau ketahui, kami sudah berjanji untuk mengadakan duel agar dapat mengetahui pisau siapa yang lebih cepat, waktunya padahal tinggal beberapa minggu lagi. Tak disangka kau justru malah membunuhnya," tegas Coa In.


Saat dia bicara demikian, otot di tangannya terlihat menghijau. Wajahnya bertambah angker.


Bagi sebagian pendekar, sebuah duel memang merupakan suatu hal yang sangat penting. Hampir semua orang-orang sungai telaga mempunyai gengsi yang sangat tinggi.


Tidak sedikit dari mereka yang tewas hanya karena masalah sepele seperti apa yang dialami oleh Pendekar Tanpa Nama sekarang.


"Jadi karena aku membunuh Sun Poan lebih dulu, lalu kemudian kau ingin membunuhku?"


"Benar," jawabnya sambil menganggukkan kepala.


"Sekalipun dia masih ada, kau masih bukan tandingannya," kata Cakra Buana dengan dingin.


"Kenapa?" tanyanya dengan mata penuh rasa penasaran.


"Kau dan dia memang memiliki hal yang sama, yaitu sama-sama pelempar pisau terbang. Tapi di antara kalian tetap ada perbedaan. Meskipun perbedaan ini sedikit, tapi bagiku sangat banyak. Dan hal tersebut menurutku sudah bisa menentukan siapa yang bakal menang kalau sampai duel kalian terjadi,"


"Perbedaan apa?"


"Sun Poan merupakan orang yang tenang dan penuh keyakinan, dia percaya kepada dirinya sendiri. Sedangkan kau justru malah sebaliknya,"


Jawaban Cakra Buana terbilang biasa saja. Tapi bagi Coa In, jawaban itu justru menusuk relung hatinya. Pendekar mana yang rela direndahkan oleh musuhnya?


"Bualanmu untuk menjatuhkan mental lawan sungguh hebat. Sayang, aku bukan orang yang bermental tempe," ejeknya sambil memainkan dua batang pisua terbang yang sudah digenggam sejak tadi.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya kepadaku,"


"Bagus. Karena aku tidak percaya, maka sekarang juga aku akan mencobanya,"


Wushh!!!


Dua batang pisau terbang melesat sangat cepat ke arah Pendekar Tanpa Nama. Jarak mereka cukup dekat, jadi bisa dibayangkan bagaimana cepatnya lemparan pisau tersebut.


Slebb!!!


Dua batang pisau menembus dua batang pohon besar. Berbarengan dengan itu, sebatang pedang sudah menembus pula.


Tapi bukan menembus batang pohon. Melainkan menembus tenggorokan Coa In.


Darah mulai memenuhi mulutnya. Darah itupun kemudian membasahi pedang milik Pendekar Tanpa Nama.


"Sudah aku katakan sebelumnya, tapi kau tidak percaya. Kau mesti tahu, untuk membunuh Sun Poan, aku harus menjalankan pertarungan beberapa saat lamanya. Sedangkan untuk membunuhmu, aku hanya membutuhkan waktu singkat. Dari hal ini saja seharusnya kau sudah dapat memahami maksudku," kata Cakra Buana dengan suara dalam.

__ADS_1


Begitu selesai dia berucap, pedang yang menusuk tenggorokan itu langsung dicabut dengan segera.


__ADS_2