
Dua orang penjaga itu saling pandang kembali lalu kemudian tersenyum hangat.
"Benar, ini adalah Perguruan Rajawali Sakti. Apakah saudara ada keperluan?" tanya salah seorang di antara mereka dengan sopan.
Cakra Buana tidak langsung menjawab. Untuk kesekian kalinya dia tersentak kaget. Pemuda Tanah Pasundan itu merasa hanya berjalan beberapa saat saja. Tapi kenapa dia sudah sampai di tempat tujuan akhirnya?
Setelah sekian lama mencari, Cakra Buana merasa sangat sulit untuk menemukan Perguruan Rajawali Sakti. Siapa sangka, sekarang secara tidak disengaja, dia justru tiba di tempat tersebut.
Apakah ini sebuah kebetulan? Ataukah memang semuanya sudah rencana Sang Hyang Widhi?
Cakra Buana tidak tahu. Yang jelas, dia merasa bahagia tiada terkira.
Dalam hidup, terkadang memang seperti itu. Seperti juga waktu.
Jika kau menunggu sesuatu, maka kau akan merasa bahwa waktu berjalan sangat-sangat lambat. Tapi jika kau tidak menunggu sesuatu dan membiarkan semua berjalan seperti seharusnya, maka waktu akan berjalan secara cepat.
Hal seperti ini sudah tidak asing lagi. Siapapun orangnya, pasti pernah mengalami hal yang sama.
Cakra Buana masih termenung untuk beberapa saat lamanya. Dua orang murid penjaga yang ada di hadapannya memandang pemuda itu dengan penuh rasa penasaran.
"Saudara? Apakah saudara baik-baik saja?" tegurnya perlahan sambil menepuk pundaknya.
Cakra Buana tersentak sedikit. Dia gelagapan seperti orang yang baru bangun dari tidurnya tidurnya.
"Maaf, maaf, aku sedikit memikirkan sesuatu,"
"Tidak masalah. Apakah saudara mempunyai keperluan dengan Perguruan Rajawali Sakti?" tanya si murid penjaga sekali lagi.
"Benar, aku memang ada sedikit urusan. Aku harap saudara sekalian bisa membantuku," kata Cakra Buana sambil tersenyum hangat.
"Urusan apakah yang dimaksud oleh saudara?"
"Aku ingin memberikan sesuatu,"
__ADS_1
"Kalau begitu, kami berdua bisa mewakilinya,"
"Maaf saudara, bukan aku tidak percaya, tapi sesuatu ini tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Aku harus memberikan langsung kepada orang yang bersangkutan," kata pemuda itu.
"Aii, kalau boleh tahu, siapakah orang yang dimaksud oleh saudara?"
"Aku ingin bertemu langsung dengan maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti ini untuk memberikan sesuatu itu," ujar Cakra Buana tanpa basa-basi lagi.
Kedua murid penjaga saling pandang kembali. Pemuda yang ada di hadapannya adalah orang asing, bagaimana mungkin mereka mau mengizinkannya bertemu langsung dengan sang maha guru?
Bagaimana jika dia merupakan mata-mata musuh yang memang sengaja dikirimkan untuk membuat bencana di Perguruan Rajawali Sakti? Bukan tidak mungkin hal seperti itu bakal terjadi.
Sebagai tokoh besar yang namanya terdaftar dalam jajaran tokoh berpengaruh di Tionggoan, sudah pasti maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti itu mempunyai musuh yang banyak di samping rekan yang tidak terhitung lagi.
"Maaf saudara, kami tidak bisa membantumu dalam hal ini. Tidak setiap orang bisa bertemu dengan maha guru kami. Jangankan orang luar, para murid Perguruan Rajawali Sakti sendiri tidak bisa bertemu setiap saat dengannya," kata si murid penjaga itu.
Suaranya masih terdengar hangat. Senyuman bersahabat juga dia lemparkan seperti sebelumnya. Hanya saja, siapapun akan tahu bahwa di balik perkataan barusan, ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
"Aii, apakah tidak ada cara lain agar aku bisa berjumpa dengan beliau?" tanya Cakra Buana tetap kepada tujuan utamanya.
Cakra Buana terpaku. Sepertinya memang tidak ada cara lain agar bisa bertemu dengannya. Padahal, tujuan utamanya jauh-jauh dari Tanah Pasundan datang ke Tionggoan justru sengaja agar berjumpa langsung dengan maha guru itu.
Hal ini sudah dia duga sebelumnya. Hal seperti ini tidak hanya berlaku di Tionggoan saja. Bahkan di Tanah Pasundan atau di mana pun, pasti berlaku.
"Sayangnya keperluanku datang kemari hanya untuk bertemu dengan beliau. Tidak ada urusan lain lagi kecuali urusan yang aku sebut tadi,"
Dua penjaga gerbang mulai merasa tidak nyaman. Mereka juga manusia. Setiap manusia mempunyai nafsu dalam dirinya masing-masing.
Tidak ada manusia yang tidak mempunyai nafsu. Semuanya pasti punya. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apakah manusia itu mampu mengendalikan nafsu tersebut?
Mereka mulai kesal. Tetapi keduanya masih berusaha untuk tetap berlaku sabar di hadapan tamu asingnya.
"Maaf saudara, kami benar-benar tidak bisa. Kalau tujuan saudara datang kemari hanya untuk itu, lebih baik sekarang juga saudara pergi. Maaf, bukannya aku mengusir saudara. Hanya saja hal ini aku lakukan karena peduli kepada saudara. Jika ada murid lain yang tahu akan hal ini, bisa-bisa mereka akan menyerang saudara. Jadi kami sarankan supaya saudara angkat kaki sekarang juga. Bukankah menjaga jauh lebih baik dari pada mengobati?"
__ADS_1
Cakra Buana tidak menjawab ucapan salah satu murid penjaga tersebut. Bagaimanapun juga, apa yang dia ucapkan memang benar dan sangat-sangat masuk akal.
Hanya saja, dia sendiri tidak mungkin pergi sebelum bertemu dengan maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti.
Prinsip hidup Pendekar Tanpa Nama adalah lebih baik pulang tinggal nama dari pada gagal dalam menjalankan tugasnya. Pantang baginya untuk kembali dengan tangan hampa.
"Aku tahu dan aku sangat mengerti maksud baik saudara. Hanya saja, ini juga demi kepentingan kita semua. Aku datang bermaksud baik, sedikitpun tidak ada maksud membuat masalah di sini,"
Kedua murid penjaga bertambah kesal. Baru sekarang keduanya berhadapan dengan seorang tamu yang demikian keras kepalanya.
"Jadi, apakah saudara benar-benar tidak mau pergi dari sini?"
"Maaf, aku tidak bisa," jawab Cakra Buana sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Angin berhembus lirih menerbangkan debu dan dedaunan. Mentari pagi mulai meninggi memberikan cahaya emasnya ke bumi.
"Aku peringatkan sekali lagi, lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak ingin berbuat kasar kepadamu, apalagi kau merupakan orang asing," katanya dengan amarah yang tertahan.
"Aki tetap tidak akan pergi. Jauh-jauh aku datang kemari hanya demi untuk bertemu dengan beliau. Jika aku kembali sekarang dengan tangan hampa, bukankah itu artinya perjalananku akan sia-sia saja?"
"Itu masalahmu, bukan masalahku,"
"Aku tahu. Tapi aku mohon kepada kalian, berikan aku pengecualian,"
"Tidak bisa. Peraturan ini berlaku untuk siapapun. Bahkan jika Raja datang kemari dan ingin bertemu dengan maha guru kami, jika beliau tidak mengundang secara langsung, maka kami tetap tidak akan mengizinkannya," tegas si murid penjaga.
Cakra Buana tertegun kembali. Dalam hatinya, dia sendiri memuji keteguhan dua murid penjaga tersebut. Mereka benar-benar sangat patuh. Sedikitpun tidak mau membantah peraturan perguruannya.
Jika tempat ini adalah tempat lain, niscaya Pendekar Tanpa Nama akan mengambil 'jalan pintas'. Hanya saja yang sekarang ini beda lagi. Dia tidak boleh menempuh 'jalan pintas' itu. Sebisa mungkin dirinya harus menempuh jalan utama yang aman.
###
Satu lagi nanti yaa kalau keburu, maaf kalau belakangan ini hanya up 1. Next again jika sudah normal, bakal kembali seperti semula. Biasa la, kalau lagi di kampung halangan, ada saja kegiatan hhi
__ADS_1
Jangan lupa kopinya kakang, nyai☕
Sampurasun … jangan lupa dukung terus ya …