
Ling Ling tidak bisa menjawab. Dia langsung terdiam saat itu juga.
Apa yang dikatakan oleh Cakra Buana memang tidak salah. Sebenarnya Dewi Bercadar Merah tahu langkah apa yang bakal diambil setelah ini, hanya saja dalam hatinya, Ling Ling tidak mau mengambil tindakan tanpa persetujuan kekasihnya.
"Tapi bagaimanapun juga, aku harus berunding dulu denganmu," jawabnya setelah diam beberapa kejap.
"Kenapa mesti berunding?"
"Karena calon istri yang baik selalu merundingkan sesuatu dengan calon suaminya," jawabnya lirih sambil tertawa cekikikan.
"Kau selalu saja bisa menjawab ucapanku," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil mencubit pelan hidungnya yang bangir itu.
Wanita memang selalu seperti itu. Dia selalu punya jawaban di atas sebuah jawaban. Oleh sebah itulah sebagian orang berkata, lebih baik berdebat dengan seekor harimau daripada berdebat dengan seorang wanita.
Malah menurut pepatah kuno mengatakan kalau wanita itu selalu menang. Apapun yang terjadi, dia tidak akan kalah dan tidak pernah salah.
Benarkah demikian?
###
Menjelang siang hari, Ratu Ayu sudah membuka matanya kembali. Malah sekarang beliau sedang duduk bersama Pendekar Tanpa Nama dan Dewi Bercadar Merah sambil makan siang.
Walaupun hanya dengan menu ala kadarnya dan makan di tempat kotor serta sedikit bau apek, tapi Ratu Ayu terlihat begitu menikmatinya.
Sedikitpun tidak terlihat kalau dia merasa jijik ataupun sejenisnya. Ratu Ayu memang patut dijadikan panutan, sebab sekalipun dirinya seorang Ratu, tapi sama sekali dia tidak merasa gengsi.
Padahal biasanya, seorang yang berkedudukan tinggi bakal merasa jijik kalau makan di tempat seperti kuil kuno ini. Tapi lain lagi dengan Ratu Ayu.
Setelah selesai makan, tiga orang itu mulai bicara dengan serius.
"Ratu, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Cakra Buana memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Rasanya seperti mimpi. Aku benar-benar tidak menyangka bisa sembuh seperti sedia kala. Sungguh, hal ini adalah suatu hal paling menggembirakan dalam hidupku yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi," katanya sambil menahan air mata bahagia di matanya.
Siapapun yang berada di posisi Ratu Ayu, pasti dia bakal merasakan hal yang sama. Seorang yang tadinya terbaring lemah di pembaringan seperti hidup tidak matipun tidak, secara tiba-tiba bisa menjadi sembuh kembali, bukankah hal ini sangat membahagiakan?
Bagi mereka yang mengalaminya, mungkin tiada sesuatu apapun yang lebih bahagia kecuali kesembuhan itu sendiri.
"Di dunia ini memang banyak sesuatu yang terjadi diluar sangkaan kita," ucap Dewi Bercadar Merah ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Ratu Ayu mengangguk. Dia pun paham betul akan hal ini. Entah sudah berapa banyak orang yang berkata demikian, kadang terdengar membosankan, tapi sebenarnya hal itu bisa dijadikan sebagai pengingat.
"Memang benar demikian, ternyata kau gadis yang pintar," katanya memuji Ling Ling.
Ratu Ayu melanjutkan kembali bicaranya, "Sebelumnya aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian berdua, juga kepada semua orang yang telah bersusah payah demi membantu kesembuhanku. Aku berjanji akan memberikan sesuatu yang pantas atas apa yang sudah kalian lakukan untukku. Meskipun mungkin tidak sebanding dengan budi baik kalian, tapi selamanya aku rela melakukan apapun demi membalas jasa ini," ucapnya dengan mimik wajah serius.
Pada saat bicara demikian, dua tetes air matanya jatuh membasahi pipi yang lembut. Seraut wajah Ratu Ayu terlihat lebih cantik pada saat seperti itu.
Pendekar Tanpa Nama dan Dewi Bercadar Merah mendengarkan ucapannya dengan seksama. Di hadapan wanita agung sepertinya, mereka tentu tidak mau berlaku sembarangan. Bagaimanapun juga, dua orang muda-mudi itu masih tahu dan mengenal sopan santun.
"Perlu Ratu ketahui, kami melakukan semua ini dengan suka rela. Kami juga tidak mengharapkan balasan apapun. Semua yang kami lakukan berasal dari hati kecil. Namun Ratu juga harus tahu, di lain sisi ingin menyembunyikan Ratu, kami juga ingin membongkar sesuatu," kata Cakra Buana.
"Kau, bagaimana kau bisa tahu kalau di balik ini ada sesuatu rahasia?" tanyanya sedikit terkejut.
"Siapapun bakal tahu akan hal ini. Banyak sesuatu yang sebenarnya sudah Ratu ketahui, hanya saja Ratu pura-pura tidak tahu. Oleh sebab itulah, rasanya kami pun tidak perlu menjelaskannya lagi," jawab Cakra Buana.
"Ternyata kalian sepasang kekasih yang sama pintar dan cerdas. Sungguh senang hatiku karena bisa bertemu dengan kalian,"
Ratu Ayu langsung diam. Sepasang mata yang jernih dan cemerlang itu kemudian memandang Pendekar Tanpa Nama dengan lekat. Hatinya berkata kembali kalau pemuda di hadapannya saat ini merupakan orang yang dekat dengannya.
Tapi siapa dia?
Hingga saat ini, pertanyaan itu belum juga bisa terjawab olehnya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh bertanya?" tanya Ratu Ayu lebih lanjut.
"Apapun yang ingin Ratu tanyakan, silahkan ajukan," jawab pemuda itu.
"Sebenarnya kau siapa?"
"Orang-orang biasa menyebutku Pendekar Tanpa Nama,"
"Aku tidak bertanya julukanmu. Yang aku tanyakan adalah siapa nama aslimu," ucapnya dengan ekspresi lebih serius lagi.
Pendekar Tanpa Nama diam beberapa saat. Pemuda itu sedang bimbang, apakah dirinya harus membongkar siapakah dia sebenarnya sekarang atau bagaimana?
"Masalah ini … hapunten anu kasuhun (maaf yang sebesar-besarnya) Ratu, hamba tidak bisa memberitahukan nama untuk sekarang. Tapi hamba berjanji, suatu saat nanti Ratu bakal mengetahuinya sendiri," jawab Cakra Buana sedikit merasa bersalah karena dia harus merahasiakan nama kepada bibinya sendiri.
'Maaf Bibi, aku melakukan ini demi kebaikan kita semua,' batinnya.
Mendengar jawaban tersebut, Ratu Ayu tidak marah. Dia malah mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Selain dikenal karena kebaikannya, beliau juga dikenal dengan pengertian dan rasa saling menghargai terhadap sesama.
Perduli siapapun dia, selama orang itu pantas untuk disebut manusia, maka selamanya Ratu Ayu akan menghargai.
Di sisi lain, pada zaman ini merahasiakan sebuah nama memang sudah jamak. Siapapun boleh melakukan hal tersebut, apalagi bagi mereka yang hidup di dalam dunia persilatan. Malah di dunia yang penuh pertarungan ini, nama bukanlah hal penting. Yang terpenting justru sebuah julukan.
Biasanya, semakin terdengar seram julukannya, maka semakin mengerikan juga pemiliknya.
"Baiklah kalau begitu, jangan terlalu diambil hati. Tapi aku tunggu waktu itu, aku benar-benar ingin mengetahui siapakah namamu yang sebenarnya," ujarnya sambil tersenyum.
"Sudah pasti Ratu, suatu saat nanti hamba pasti akan memberitahukannya,"
Suasana diluar sana masih ramai. Angin musim kemarau berhembus menghilangkan sedikit rasa panas yang dirasakan oleh para warga sekitar. Daun-daun kering berterbangan tertiup angin.
Dari kejauhan sana, lambat laun terdengar alunan suara seruling. Suara yang merdu. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu seseorang yang merindukan keluarganya.
__ADS_1
Hati Ratu Ayu tergetar. Tak dapat dipungkiri lagi kalau pada saat ini dia sedang merindukan salah satu keluarganya.
Tapi siapakah yang dia rindukan itu?