
"Ternyata kau pria yang pengertian terhadap wanita," jawab wanita tersebut.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja wanita itu sudah masuk. Bahkan saat ini sedang berbaring tepat di samping Pendekar Tanpa Nama.
Bau harum semerbak memenuhi kamar tersebut. Rambutnya menebarkan harum, pakaiannya, mulutnya, seolah semua tubuh wanita itu benar-benar harum. Jika bunga-bunga dikumpulkan, rasanya belum bisa disamakan dengan keharuman yang keluar dari tubuh wanita tersebut.
Awan mendadak mendung. Rembulan hilang ditelan awan yang gelap. Angin musim gugur berhembus. Memberikan rasa dingin yang menyusup ke tulang belulang.
"Kau tidak kedinginan?" tanya Cakra Buana.
"Dingin," jawabnya sedikit mengigil.
Tanpa banyak berkata lagi, pemuda Tanah Pasundan itu langsung memeluk pinggang si gadis.
Jantungnya berdebar kencang. Sebuah perasaan yang menggelora mulai membara dalam tubuhnya. Darahnya terasa panas. Dadanya juga panas.
Si gadis membalikan wajahnya.
Kini mereka saling berhadapan. Wajahnya sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari pada saat keduanya tidak sengaja bertemu di pinggir hutan beberapa waktu lalu.
Bibirnya memakai gincu merah muda. Sehingga menambah daya tarik dan kecantikan di wajahnya. Bibir itu seolah sekuntum bunga mawar yang siap dihisap oleh kumbang di taman.
"Sekarang kau percaya perkataanku?" tanya Cakra Buana.
"Yang mana?"
"Yang dulu. Bahwa aku pernah berkata, suatu saat kau akan menghampiri kucing dan memberikan lauk tanpa harus diminta,"
Wanita itu tersipu malu. Pipinya memerah. Merah seperti tomat. Dalam keadaan seperti ini, dalam suasana kamar yang remang-remang, dia sungguh jauh terlihat lebih cantik.
"Kau memang pria yang pandai membuat wanita bertekuk lutut. Coba kalau kau tidak mencium pipiku, mungkin aku tidak akan berani berbuat seperti ini,"
"Kau sendiri yang mau,"
"Ehh …" jawabnya tertahan sambil tersenyum sehingga kedua lesung pipinya terlihat.
"Apa tujuanmu yang sebenarnya?" tanya Cakra Buana lembut.
"Aku hanya ingin kehangatan darimu,"
"Sungguh?"
"Emmm …"
"Apakah semua kejadian ini kau yang melakukannya?"
"Benar,"
Tidak salah dugaan Cakra Buana. Memang wanita itulah yang melakukan semua kejadian yang belakangan membuat hidupnya tidak tenang. Bahkan beberapa kali nyawanya hampir melayang.
__ADS_1
"Kau tega?"
"Aku, aku sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi ini sudah tugasku," jawabnya sambil mengigit bibir.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Sang ketua…" jawabnya lirih.
Cakra Buana termenung sesaat. Dia tahu wanita yang ada di pelukannya ini mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi. Bahkan dia sendiri tidak yakin bisa mengalahkannya untuk saat ini jika tidak mengeluarkan jurus pamungkasnya. Alasannya karena pemuda itu belum menyempurnakan tenaga dalam.
Siapa yang menjadi ketua wanita sakti ini? Kalau anggotanya saja setara dengan tokoh kelas atas, sudah pasti ketuanya jika bukan datuk dunia persilatan, maka mungkin seorang 'dewa'.
"Apakah kau anggota perkumpulan?"
"Benar. Tapi juga berperan sebagai pemimpin cabang,"
"Dan tujuanmu sekarang karena ingin merebut kitab pusaka itu bukan?"
Si wanita terdiam. Dia tidak menjawabnya. Wanita itu justru semakin memeluk Cakra Buana lebih erat daripada sebelumnya.
"Tadinya iya, tapi sekarang tidak. Aku takut melukai hatimu. Aku, aku …" wanita itu tidak dapat melanjutkan perkataannya.
Sebab bibir pemuda itu sudah menempel di bibirnya.
Tanpa banyak berkata lagi, mereka langsung berpelukan semakin erat. Dengan sekali kibasan tangan, Pendekar Tanpa Nama sudah memadamkan lentera di kamarnya.
Suara baju dibuka terdengar. Tidak berapa lama, terdengar erangan kenikmatan.
Menghadapi wanita cantik sepertinya hanya bisa dengan kelembutan dan kenikmatan. Jika dilawan dengan kekerasan, maka wanita itu bisa lebih nekad daripada dirimu.
###
Saat matahari sudah mulai meninggi, Cakra Buana baru terbangun. Wanita berpakaian biru muda sudah tidak ada lagi di sisinya.
Dia tidak panik sama sekali. Dia tahu bahwa wanita tentu sudah pergi sebelum hari terang tanah.
Cakra Buana bangkit dari posisinya. Dia melihat seisi ruangan, ternyata tidak ada yang hilang. Kitab dan pedangnya masih ada. Kepingan emasnya juga masih utuh. Malah bertambah lagi.
Di bawah kantong kepingan emas yang baru, ada secarik surat berwarna putih.
Tulisannya sangat rapih. Sangat cantik. Secantik orang yang menulisnya.
"Untuk ke depan, kau harus lebih berhati-hati. Karena ketua pasti akan menyuruhku menjalankan tugas yang lebih daripada sebelumnya. Nyawamu sudah terancam, jadi kau jangan gegabah. Harus teliti, harus selalu waspada. Karena setiap saat kematian akan menjemputmu. Sebenarnya aku tidak mau melakukan tugas ini, terlebih lagi karena calon korbannya dirimu. Tapi aku percaya kau bisa melewati semuanya. Karena itu, kau jangan mati. Aku selalu mengkhawatirkanmu. Terimakasih juga karena sudah memberikan kepuasan kepadaku,"
"Sian-Li Bwee Hua (Dewi Bunga Bwee) Ling Ling …"
Pendekar Tanpa Nama hanya tersenyum simpul setelah membaca isi surat tersebut. Dia tidak menyangka bahwa wanita hang ternyata bernama Ling Ling itu berani membocorkan rencana ketuanya.
Padahal siapapun tahu, hal tersebut merupakan dosa besar. Kalau ketuanya tahu, sudah pasti dia akan celaka. Bukan tidak mungkin jika jiwanya akan melayang.
__ADS_1
Cakra Buana lantas memasukan surat tersebut ke balik bajunya.
Dia membersihkan diri lebih dulu. Setelah itu, pemuda tersebut segera turun ke bawah untuk melakukan sarapan.
###
Kota Han Ciu, adalah sebuah yang besar. Kehidupan di sini sangat makmur. Warga masyarakat di sini menggantungkan hidup menjadi seorang pedagang ataupun petani.
Pemandangan di kota Han Ciu juga terkenal indah. Bila musim gugur seperti sekarang tiba, maka bisa dipastikan akan banyak pelancong dari berbagai daerah yang sengaja datang ke kota ini.
Cakra Buana melangkah perlahan di sela-sela ramainya orang berlalu-lalang. Para pedagang berteriak menjajakan barang dagangan. Pengemis terlihat di sana sini.
Setiap kali mereka melihat Cakra Buana, maka pengemis tersebut pasti akan memberikan hormat kepadanya.
Tentu saja, sebab dia adalah tamu istimewa Pangcu mereka.
Cakra Buana memutuskan untuk mencari taman dan menikmati keindahannya untuk beberapa saat. Sangat jarang sekali dia merasa tenang seperti ini.
Apakah ketenangan ini akan berlangsung lama?
Pemuda itu sudah duduk di bangku taman kota. Arak sudah digenggam, kebetulan seorang pengemis anggota Kay Pang Pek memberinya arak.
Dia meneguk arak dengan nikmatnya.
Baru saja beberapa tegukan, seorang gadis muda berjalan ke arahnya. Usianya sekitar dua puluhan tahun.
Dia memakai pakaian berwarna hijau. Rambutnya dikuncir. Matanya bening dan tajam. Alis matanya seperti golok.
Di lihat dari penampilan, siapapun sudah dapat menduga bahwa gadis itu tentunya orang-orang dunia persilatan.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanyanya sambil tersenyum.
"Silahkan," jawab Cakra Buana dengan senyuman hangat pula.
Dia menggeser tempat duduknya. Gadis itu langsung duduk.
"Tuan sedang menunggu siapa?" tanyanya mengakrabkan diri.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin menikmati keindahan taman kota ini saja,"
"Siapakah nama nona?"
"Namaku Liu Bing,"
"Apakah nona sedang menghadapi sebuah masalah?"
"Bagaimana Tuan bisa tahu?" tanyanya kaget.
"Karena orang yang mengejar nona sudah menuju kemari,"
__ADS_1