
Cio Hong semakin marah kepada Cakra Buana. Kakek tua itu mendengus dingin.
"Marah atau tidak marah bukan urusanmu. Sekarang aku minta kau menjawab dengan jujur. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bertanya tentang Pendekar Tanpa Nama?"
"Aku sudah bilang, aku muridnya. Bukankah wajar jika seorang murid bertanya terkait gurunya?"
"Kau bohong,"
"Aku tkdak pernah berbohong,"
"Apa buktinya jika kau memang murid Pendekar Tanpa Nama? Dan bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Bukankah julukanku juga sama dengan julukannya? Ehmm, masalah bagaimana aku bisa menjadi muridnya, untuk sekarang hal itu tidak bisa diceritakan. Aku harus tahu dulu apa hubunganmu yang sebenarnya dengan beliau,"
Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma terkejut. Dia baru menyadari hal tersebut. Julukan Cakra Buana memang sama dengan orang itu. Yaitu Pendekar Tanpa Nama.
Siapa pemuda itu sebenarnya?
"Semakin lama kau malah makin berani. Kalau memang kau murid Pendekar Tanpa Nama, buktikan sekarang juga," teriak Cio Hong penuh amarah.
Wushh!!!
Begitu dia selesai berkata, satu serangan berupa pukulan dilancarkan dengan gerakan yang sangat cepat sekali. Begitu tangannya hampir tiba di wajah Cakra Buana, Cio Hong mengubah pukulan menjadi tiga cakar. Seperti cakar burung rajawali.
Dia langsung mengeluarkan jurus yang bernama Cengkraman Rajawali Sakti. Sasaran utamanya adalah leher lawan, jika serangan tersebut mengenai sasarannya, bisa dipastikan leher Pendekar Tanpa Nama langsung berlubang.
Cakra Buana tentu tidak diam saja. Dia mundur ke belakang sambil tetap duduk di bangku itu. Entah bagaimana pemuda itu melakukannya, yang jelas gerakan sederhana tersebut membuat Cio Hong sedikit kagum.
Menyadari serangan pertamanya gagal, Rajawali Petir Pengoyak Sukma tidak tinggal diam. Dia kembali melancarkan beberapa serangan beruntun yang sangat ganas.
Gerakannya bertambah cepat. Serangannya bertambah dahsyat. Jika seorang maha guru marah, maka siapapun belum tentu sanggup untuk menahan amarah itu.
Lantas, apakah Pendekar Tanpa Nama sanggup menghadapinya?
__ADS_1
Cakra Buana bangkit berdiri lalu melompat ke depan saat melihat serangan Cio Hong semakin ganas. Tubuhnya melesat kembali setelah kedua kakinya menginjak ke bumi.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama meluncur keluar lebih dulu. Tetapi pada kenyataannya, Cakra Buana masih kalah satu langkah. Cio Hong tiba lebih dulu lalu kembali melayangkan dua macam serangan. Tiga cakaran dan dua tendangan hebat dikeluarkan oleh pria tua itu.
Melihat ini, Cakra Buana tidak bisa hanya bertahan kembali. Pemuda itu menyadari bahwa jika dirinya hanya bertahan, bukan tidak mungkin Cio Hong akan menyerangnya lebih hebat lagi.
Kedua tangannya di angkat untuk menangkis. Benturan tulang terjadi. Suaranya nyaring sehingga membuat ngilu siapapun yang mendengar.
Dua tokoh kelas atas tersebut bertarung di tengah halaman sebelumnya. Para murid yang sempat menghilang tanpa jejak, kini secara tiba-tiba sudah berkerumun kembali. Mereka berdiri di samping arena pertarungan keduanya.
Cio Hong terus mencecar Cakra Buana tanpa ampun. Kedua tangannya seperti sayap burung rajawali yang gagah perkasa. Tangan itu mengibas dengan keras, memukul dengan ganas. Setiap gerakan serangannya dilakukan dengan penuh perhitungan.
Pendekar Tanpa Nama selama ini hanya menghindar tanpa memberikan serangan balasan. Namun ketika dia melihat bahwa serangan Cio Hong semakin bertambah hebat dan hebat lagi, pemuda itu tidak bisa hanya tinggal diam saja.
Cakra Buana membentak keras. Tubuhnya meluncur deras membalas serangan Cio Hong dengan hebat. Segulung tenaga dahsyat keluar dari kedua telapak tangannya.
Cio Hong menjerit. Suara jeritannya seperti burung rajawali yang sedang marah besar. Tubuhnya mengeluarkan hawa pembunuhan yang kental. Maha guru itu langsung menerjang Cakra Buana dengan jurus Rajawali Sakti Menciptakan Pusaran Angin.
Seperti juga namanya. Jurus ini mampu menciptakan sebuah pusaran yang hebat. Dia menyerang dengan sangat cepat. Setiap gerakannya menghasilkan kesiur angin tajam yang dahsyat.
Cakra Buana terkesiap. Terpaksa dia harus mengeluarkan jurus warisan dari gurunya. Pemuda itu mengeluarkan jurus Harimau Menyongsong Rembulan.
Gerakan yang dia lakukan mendadak berubah drastis. Kedua tangan yang tadinya mengepal itu mendadak terbuka seperti cakar harimau yang tajam.
Wushh!!!
Tubuhnya meloncat tinggi ke atas. Dia melenting kembali lalu melancarkan sodokan dua kali yang merupakan serangan hebat. Kedua kakinya tidak tinggal diam, dia melancarkan semua serangan itu dengan waktu yang sangat singkat.
Cio Hong terkejut setengah mati. Dia sangat kenal dengan jurus yang digunakan oleh Cakra buana saat ini. Gerak serangannya mendadak melambat. Dalam sebuah pertarungan hebat seperti sekarang ini, ketenangan hati dan kefokusan pikiran menjadi hal yang paling utama.
Jika hati dan pikiran tidak tenang, maka bisa dipastikan orang tersebut akan mengalami hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Blarr!!!
Ledakan dahsyat terjadi. Kepulan debu menghalangi pemandangan. Tetapi hanya sesaat, karena selanjutnya Cakra Buana sudah melesat kembali ke arah Cio Hong.
"Tahan!!!"
Suara teriakan terdengar. Terlihat Cio Hong mengangkat satu tangannya ke depan. Dari sudut bibirnya ada setetes cairan merah yang meleleh secara perlahan.
Darah.
Semua murid yang menyaksikan hal tersebut membelalakan mata tidak percaya. Bagaimana mungkin Rajawali Petir Pengoyak Sukma yang merupakan maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti, mampu terluka oleh seorang pemuda asing?
Jika tidak melihat kejadiannya secara langsung, niscaya tidak akan ada yang percaya terkait hal ini.
Cakra Buana terpaksa menghentikan serangannya di tengah jalan. Dia berdiri mematung sambil tetap memandangi Cio Hong dengan tatapan mata yang sangat tajam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Dari mana kau mendapatkan jurus itu?" tanya Cio Hong denga tatapan tidak percaya.
"Dari mana aku mendapatkannya, hal itu bukan urusanmu," jawab Cakra Buana dengan tenang.
"Tentu saja urusanku. Aku mohon, katakan dari mana kau mendapatkannya," desak Cio Hong.
Belum sempat Cakra Buana menjawab pertanyaan pria tua itu, seorang murid perguruan secara tiba-tiba menerjang Cakra Buana. Gerak serangan yang dilakukannya sangat tiba-tiba sekali.
Untungnya sebelum murid itu mencapai pemuda Tanah Pasundan tersebut, Cio Hong telah bergerak lebih dulu. Orang tua itu mengibaskan tangan kanannya sehingga menghasilkan segulung angin dahsyat.
Murid tersebut terpental ke belakang. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.
"Aku tidak menyuruhmu untuk ikut campur dalam urusan kali ini. Siapapun yang ikut campur, jangan salahkan jika aku bertindak kejam," bentak Cio Hong.
Si murid yang terkena amukan maha gurunya tidak menjawab. Dia segera kembali ke posisinya sambil menahan sakit dalam dadanya.
"Mari ikut aku. Hal ini perlu dibicarakan lebih jauh lagi," kata Cio Hong mengajak Cakra Buana.
__ADS_1