Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kakek Tua Aneh


__ADS_3

Pada saat sepasang mata itu bisa dibuka kembali, hal yang pertama disadari oleh Cakra Buana adalah bahwa dirinya sudah tidak barada di dapur tua tadi.


Sekarang pemuda Tanah Pasundan itu telah berada di ruangan lain. Ruangan yang lebih sempit. Lebih kotor dan lebih menjijikan.


Ruangan tersebut sangat mirip dengan sebuah penjara bawah tanah.


Penjara bawah tanah? Bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba ada di sana? Benarkah saat ini dia berada di sebuah penjara bawah tanah?


Ternyata memang benar. Setelah di lihat lebih teliti lagi, dirinya memang berada di sana. Terlepas bagaimana dia bisa tiba-tiba pindah, Cakra Buana tidak terlalu memikirkannya.


Pikirannya tidak berfokus kepada kejadian aneh tersebut, sekarang, pikiran pemuda itu telah berfokus kepada satu sosok tua renta yang sudah duduk bersila di hadapannya.


Tubuh orang tua itu sudah sangat kurus kering. Sosok tua tersebut tidak memakai baju. Dia hanya memakai sebuah celana hitam dengan panjang sedengkul.


Siapakah dia sebenarnya? Bagaimana dia ada di sini?


"Kau sudah bangun anak muda?" tanya kakek tua tersebut. Suaranya serak parau.


Mulutnya mengulum senyum, tapi senyumannya justru terlihat menyeramkan. Kalau di lihat sekilas, sosok tua itu malah terlihat seperti mayat hidup. Atau bahkan tengkorak hidup.


"Kakek siapa?" tanya Cakra Buana sambil menyelidiki tubuh renta itu.


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah seorang Kakek tua yang tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi lebih baik jangan mengetahui siapa aku sebenarnya," katanya lirih.


Pendekar Tanpa Nama tidak bicara lebih lanjut lagi. Kalau seseorang tidak mau memberitahukan sesuatu yang bersangkutan dengan pribadinya, lebih baik kau jangan pernah memaksanya.


"Bagaimana aku bisa tiba-tiba ada di sini?"


"Kau tidak perlu tahu, yang jelas ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu," ujar si kakek tua.


"Baik, aku siap mendengarkan," kata Pendekar Tanpa Nama dengan ekspresi wajah serius.


"Kau sudah mendapatkan Ginseng Seribu Tahun, bahkan kau sudah meminum pula air rebusannya. Siapapun di dunia ini, jika dia sudah meminum air rebusan tersebut, maka dipastikan tenaga dalamnya akan mencapai puncak kesempurnaan, begitu juga dengan dirimu. Aku hanya ingin kau menyampaikan pesanku kepada Ling Ling Sian-li Bwee Huaa," sampai di sini si kakek tua tersebut menghentikan ucapannya.


Cakra Buana sendiri terkejut, bagaimana mungkin kakek tua itu bisa mengetahui nama wanita yang sangat cantik itu?


Rasa penasaran Cakra Buana semakin besar, dia benar-benar ingin mengetahui siapa dan bagaimana asal usulnya si kakek tersebut. Hanya saja, pemuda itu tidak berani untuk bertanya lebih lanjut.


"Bilang kepadanya, Kakek Tua Aneh sudah menjalankan semua tugas. Aku sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Sekarang giliran dia yang harus menjalankan tugasnya sampai selesai," kata si kakek tua melanjutkan ucapannya yang sempat berhenti.


"Apakah hanya itu saja Kek?"

__ADS_1


"Benar, hanya itu saja,"


"Baik, aku berjanji akan memberitahukan pesanmu jika bertemu dengannya," ujar Cakra Buana sungguh-sungguh.


"Bagus. Aku percaya kepadamu. Sekarang, pergilah, dunia persilatan membutuhkan bantuanmu," katanya sambil mengulaplan tangannya.


Cakra Buana menganggukkan kepalanya. Dia tidak memberikan jawaban apapun.


"Kau pukul dinding penjara ini, setelah itu teruslah berjalan ke depan. Jangan pernah menengok ke belakang walau sedikit," kata si kakek tua menunjukkan jalan keluar.


"Baiklah Kek. Aku mengerti, sekarang juga aku akan pamit,"


"Silahkan, semoga Thian selalu melindungi dirimu,"


Pendekar Tanpa Nama lantas segera pergi. Dia melangkahkan kakinya ke arah yang sudah ditunjukkan oleh si kakek tua misterius tersebut.


Brugg!!!


Satu pukulan dilancarkan oleh Cakra Buana. Hanya sekali pukul, dinding penjara bawah tanah tersebut langsung jebol. Dia segera melangkahkan kakinya ke sana lalu berjalan semakin menjauh tanpa menengok ke belakang lagi.


Meskipun hatinya masih banyak diselimuti oleh rasa penasaran terhadap si kakek tua itu, tapi Cakra Buana tetap tidak mau bertanya. Dia tidak berani. Bahkan pemuda itu benar-benar tidak menengok ke belakang.


Srett!!!


Darah muncrat ke segala arah. Mulut si kakek itu mendadak dipenuhi oleh cairan merah kental tersebut. Detik selanjutnya, dia langsung ambruk. Nyawaya telah melayang.


Kenapa dia membunuh dirinya sendiri? Sebenarnya, apa alasan di balik semuanya?


Tidak ada yang mengetahui secara pasti tentang persoalan tersebut kecuali dirinya sendiri.


###


Hari telah senja saat Pendekar Tanpa Nama kembali menatap dunia. Sinar Sang Surya yang memerah menaburkan suatu keindahan yang sulit untuk dilukiskan. Alam mayapada seakan dibuat merah semua oleh sinarnya.


Cakra Buana memandang ke sekeliling. Ternyata dia masih berada di lingkungan pemakaman kuno. Lebih tepatnya sekarang dia berada diluar di bagian paling belakang dari area pemakaman tersebut.


Sebuah dinding cukup tinggi terbentang di depannya. Tanpa berpikir panjang, Pendekar Tanpa Nama langsung melompati dinding tersebut.


Wushh!!!


Tubuhnya langsung meluncur deras ketika dia berhasil menjejakkan kakinya tepat di atas dinding itu. Bayangan merah melesat secepat burung elang memakan mangsa.

__ADS_1


Pemuda itu beberapa kali menjejakkan kakinya di tengah udara. Kemudian meluncur kembali, Cakra Buana terus mengulangi gerakan tersebut hingga akhirnya dia berhenti saat melihat sebuah bangunan kuno berdiri kokoh beberapa tombak di depan matanya.


Pendekar Tanpa Nama telah kembali ke tempat di mana dia bertarung melawan si Tongkat Tua dan Sembilan Harimau Pengepung.


Pemuda itu kembali memasuki bangunan tersebut. Langkahnya yang sekarang jauh lebih tenang, lebih mantap dan lebih yakin.


Tenaga dalamnya saat ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, lantas hal apa lagi yang harus dia takutkan?


Pendekar Tanpa Nama berdiri tepat di tengah-tengah ruangan bangunan kuno tersebut. Sepasang matanya memandang ke sekeliling, tapi dia tidak menemukan apa-apa.


Tempat itu kosong. Tiada seorangpun kecuali dirinya sendiri.


Di mana Sembilan Harimau Pengepung? Kenapa mereka tidak terlihat? Bukankah bangunan ini adalah tempat di mana saat mereka menampakkan dirinya?


Cakra Buana masih berdiri tegap. Dia tidak mau langsung pergi sebelum bertemu dengan sembilan tokoh itu. Pendekar Tanpa Nama akan menunggu.


Tapi harus sampai kapan dia menunggu?


Baru saja kakinya melangkah keluar, tiba-tiba desingan angin tajam mendadak terdengar merobek udara.


Werr!!! Werr!!!


Trangg!!!


Dua senjata rahasia terpental hingga menancap di dinding bangunan tua itu. Ternyata senjata rahasia itu berupa dua batang pisau. Pisau yang hitam legam, pisau yang sangat tajam.


Siapa pelemparnya? Kenapa tidak tampak seorang manusia pun?


"Kalau sudah datang, kenapa masih harus bersembunyi seperti itu?" suara Pendekar Tanpa Nama memecahkan keheningan yang ada di sana.


Suara itu sangat tenang. Sangat yakin dan sangat penuh rasa percaya diri.


Wushh!!!


Puluhan titik hitam mendadak melesat cepat ke arahnya. Puluhan jarum beracun siap untuk menembus tubuhnya.


Trangg!!!


Benturan dan suara yang sama seperti sebelumnya terdengar lagi.


Pedang Naga dan Harimau sudah digenggam di tangan kanannya. Pendekar Tanpa Nama langsung mengambil sikap waspada.

__ADS_1


__ADS_2