Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Golok Biru


__ADS_3

Namun sepertinya kelima belas orang tadi juga sudah menduga bahwa lawan mereka bukanlah seseorang yang bisa dianggap enteng. Walaupun usianya masih dua puluh lima tahunan, tetapi kekuatannya telah mumpuni. Bahkan wajahnya terlihat lebih muda lima tahun.


Sehingga wajar jika orang-orang menyebutnya pemuda.


Lima belas orang tersebut segera bergerak kembali. Kilatan cahaya pedang kembali bersinar di tengah kegelapan malam. Desingan angin tajam menembus kehampaan terdengar.


Cakra Buana tidak mau terus menghindar. Walaupun dia tahu lima belas lawannya lain daripada yang lain, tetapi pemuda itu akan tetap melibasnya.


Kedua tangannya bergerak. Segulung angin yang dingin menerjang lima lawan. Mereka terjengkang ke belakang. Dua orang di antaranya langsung terluka. Pinggang mereka patah sehingga terdengar suara tulang yang nyaring.


Tiga orang bangkit berdiri. Mereka menerjang kembali.


Segulung angin dahsyat keluar lagi. Tetapi hawanya panas, berlawanan dengan hawa sebelumnya.


Pendekar Tanpa Nama memutarkan tubuhnya. Kemudian dia menghentakkan kedua tangannya ke depan sehingga segulung hawa panas tersebut menerjang lima lawan lainnya.


Mereka terjengkang, sama seperti rekan-rekan sebelumnya. Namun kali ini, lima orang tersebut mengalami luka yang sama.


Pakaian mereka koyak. Sebagian tubuhnya terbakar hingga melepuh dan menebarkan bau gosong.


Lima orang tersebut menceburkan diri ke danau untuk mengurangi rasa panas yang semakin menjalar ke seluruh tubuh.


Tinggal delapan orang lagi.


Mereka menjadi jeri saat melihat rekan-rekannya terluka hanya dalam satu kali serangan. Namun setelah dipikir, meraka lebih jeri lagi jika tidak menuruti perintah tuannya.


Sebab itu artinya, nyawa mereka akan melayang sia-sia.


Delapan orang merangsek maju ke depan. Mereka mulai menebaskan pedang dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Sambaran angin menggulung tajam. Namun pemuda serba putih itu tampak sangat tenang.


Setenang air di tengah danau.


Dia memutarkan dua tangannya, pemuda itu bernekad memegang delapan batang pedang lawan. Dia menarik semua musuh lalu memukulan secara serentak setelah menjatuhkan pedang tadi.


Delapan orang terpental lima langkah. Dada meraka terasa sangat sakit sekali. Tetapi orang-orang itu memang keras kepala. Serentak meraka bangun kembali. Bahkan orang-orang yang sebelumnya terluka juga turut menyerang lagi.


Pendekar Tanpa Nama mulai merasa kesal.


Terkadang manusia memang begitu. Tidak sedikit manusia di dunia ini yang dikasih hati tetapi mereka malah meminta jantung.


Cakra Buana menghimpun tenaga lebih besar lagi. Hawa panas dan dingin dia keluarkan secara bersamaan dari masing-masing telapak tangannya.


"Blarr …"


Ledakan yang cukup keras terdengar. Jeritan kesakitan juga terdengar menyayat udara yang dingin.


Lima belas orang terpental jauh ke belakang. Mereka seperti daun kering yang layu lalu jatuh ke tanah. Semuanya terluka parah. Bahkan ada beberapa orang yang mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


Ada juga yang muntah darah. Bahkan lima orang seketika terkapar tanpa nyawa.


Lima belas orang tersebut kini sadar. Mereka telah keliru akan anggapan sebelumnya. Ternyata pemuda ini lebih mengerikan daripada majikan mereka.


Cakra Buana membersihkan debu di tangannya. Dia berjalan kembali ke depan orang tua berbaju biru.


"Bagaimana? Kau sudah puas melihat pertunjukkan barusan?"


"Puas, sangat puas sekali. Julukan Pendekar Tanpa Nama memang bukan omong kosong. Aku senang bisa bertemu dengan pendekar muda sepertimu,"


"Hemm, bisa aku tahu dengan siapa bicara?"


"Aku biasa dijuluki si Golok Biru,"


"Julukan yang menarik. Aku jadi penasaran bagaimana permainan golokmu,"


"Kau boleh mencobanya,"


"Baik. Silahkan perlihatkan keampuhan jurus golokmu," ujar Cakra Buana kembali melakukan kuda-kuda.


"Aku tidak biasa membunuh orang yang tanpa bersenjata,"


"Kalau aku mengeluarkan senjata, mungkin nyawamu akan menjadi jaminan,"


"Mati di tangan seorang pendekar hebat adalah keinginan setiap pendekar,"


"Kalau kau mampu, berarti aku memang pantas mati di tanganmu,"


"Baik,"


Pendekar Tanpa Nama segera mengambil pedang yang selalu terbungkus kain putih. Dia membuka lilitan kain.


Tampak pedang pusaka yang menyilaukan. Mengeluarkan pamor yang membuat bulu kuduk berdiri. Seluruh batang pedang berhiaskan gambar naga dan harimau. Belum lagi gagang pedangnya.


Siapapun yang melihat senjata pusaka ini, sudah pasti mereka akan berminat untuk memilikinya.


"Pedang yang bagus," puji si Golok Biru.


"Terimakasih. Kau boleh mengambilnya,"


"Oh?"


"Tentu saja. Selama memang kau mampu mengambilnya,"


Kedua pendekar itu langsung terdiam. Si Golok Biru telah terbawa emosi ingin memiliki pedang pusaka yang digenggam Cakra Buana. Hal ini membuatnya kehilangan sedikit kefokusan.


Tapi dia bukan pendekar kemarin sore. Sebisa mungkin si Golok Biru mengembalikan lagi konsentrasinya.

__ADS_1


"Sringg …"


Golok telah dicabut. Gagang goloknya hitam legam. Batangnya sangat putih menyilaukan. Pertanda bahwa golok itu termasuk sejenis pusaka juga.


Malam semakin kelam. Udara semakin dingin. Dua orang masih berdiri dengan senjata pusaka di tangan mereka. Keduanya tampak sedang mengukur sampai di mana kekuatan lawan.


Si Golok Biru pertama kali bergerak. Goloknya membabat ke arah leher Pendekar Tanpa Nama.


Gerakannya cepat. Bahkan terlampau cepat sehingga tahu-tahu golok itu sudah ada di pinggir leher Cakra Buana.


Tetapi gerakan si pemuda putih itu lebih cepat lagi.


"Trangg …"


Benturan pertama terjadi. Dia langsung mementalkan senjata lawan sehingga si Golok Biru terdorong dua langkah ke belakang.


Cakra Buana mulai menyerang dengan sangat ganas. Dia seperti seekor harimau kelaparan. Jika harimau merasa lapar, apapun akan dia terjang.


Cakra Buana juga menerjang.


Pedang Naga dan Harimau mengeluarkan cahaya marah membentuk bianglala. Dia langsung memburu lawannya dengan serangan mengerikan.


Cahaya memancar ke seluruh penjuru. Dentingan dua pusaka bertemu terdengar sangat nyaring.


Si Golok Biru tidak kaget. Sebab dia sudah tahu bahwa pemuda itu bukanlah pemuda sembarangan. Namun dia tidak menyangka bahwa serangannya ternyata sebegini hebatnya.


Golok yang dia genggam bergetar keras. Bacokan segera dia layangkan jika mendapat kesempatan. Dua orang itu menari di bawah sinar yang bergulung-gulung yang mereka ciptakan.


"Kilat Mengejar Mangsa …"


Pendekar Tanpa Nama ternyata tidak main-main lagi. Jurus pedangnya yang dahsyat telah dikeluarkan pada saat yang tepat.


Si Golok Biru tentu tidak kau tinggal diam. Goloknya langsung menebarkan hawa pembunuhan. Ditambah pula hawa pembunuhan yang keluar dari tubuhnya.


Orang dan goloknya serasa menjadi satu.


Inilah jurus "Golok Penarik Arwah …"


Jurus kebangaan si Golok Biru.


Dua pendekar mulai bertarung secara mengerikan. Tubuh mereka tergulung ke dalam pusaran hebat. Sepuluh anak buahnya melihat pertarungan ini dengan jantung berdebar keras. Mereka baru tahu bahwa kekuatan pemuda itu ternyata sungguh hebat.


"Trangg …"


Benturan untuk yang kesekian kalinya terdengar memecah kegelapan. Bunga api membumbung tinggi. Kedua pendekar itu berhenti untuk beberapa saat. Terlihat dahi si Golok Biru berkeringat dingin. Baju dibagian lengan kirinya telah robek terkena sabetan pedang.


Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih berdiri dengan tenang. Tak ada luka sama sekali. Nafasnya juga masih teratur. Tidak ada perubahan darinya kecuali sorot mata.

__ADS_1


Sorot mata itu bagaikan harimau yang bersiap untuk membunuh mangsa.


__ADS_2