
Tanpa berkata lagi, pemuda itu segera melesat dan memutuskan untuk memeriksa tempat lainnya. Namun sayangnya begitu seluruh tempat yang merupakan asal dari delapan pisau tadi telah selesai dia periksa, hasilnya ternyata nihil.
Cakra Buana juga sudah menduga akan hal seperti ini. Hal demikian sudah menjadi kejadian lumrah. Di mana disaat seseorang disuruh untuk membunuh target, lalu dia gagal menjalankannya, maka orang tersebut akan lebih memilih untuk melarikan diri.
Apalagi kalau targetnya bukanlah orang sembarangan. Dari pada mati konyol, tentunya mereka bakal lebih memilih untuk melarikan diri.
Tapi jika nanti kejadian yang sama terulang lagi, apakah mereka masih bisa lari?
Cakra Buana segera kembali ke penginapan begitu dirinya tahu bahwa di hutan itu tidak ada siapa-siapa lagi.
Malam semakin larut. Kentongan kedua baru saja selesai dibunyikan oleh para warga yang meronda. Hawa pun semakin dingin. Bulan ini memasuki musim kemarau, di mana kalau kemarau, malammya pasti sangat dingin.
Cakra Buana baru saja tiba di jendela kamarnya. Begitu pemuda itu masuk, dirinya dikejutkan oleh satu orang sosok yang telah menunggunya.
Sin Jin.
Pemuda itu sedang berada di kamarnya sendiri. Dia sedang duduk menanti di tempat pembaringannya.
"Kenapa kau tidak ada di kamar?" tanya Sin Jin begitu Cakra Buana telah berada di dalam kamarnya.
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kau berada di kamarku? Padahal sudah larut malam begini,"
Pemuda itu bicara sambil tersenyum. Dia kemudian berjalan lalu mengambil arak kembali yang tersimpan di pojok kamarnya.
"Aku tidak bisa tidur, oleh sebab itulah aku kemari. Siapa tahu, ternyata orangnya malah tidak ada," kata Sin Jim acuh tak acuh.
"Aku baru saja pulang. Tadi sempat melakukan penyelidikan, tak tahunya malah mendapatkan masalah yang cukup rumit sehingga membuat kepalaku pusing,"
"Kenapa masalah selalu menghampirimu?"
"Karena aku sendiri adalah orang yang gemar mencari masalah," jawab Cakra Buana dengan tenang.
Dia berjalan ke atas jendela. Kemudian duduk. Lalu membuka guci arak untuk segera diminum olehnya.
Kalau seseorang tidak mencari masalah, benarkah masalah akan datang menghampiri?
Di dunia ini ada banyak sekali kejadian yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Terkadang melakukan hal kecil justru bisa mendatangkan masalah besar.
Seperti yang dilakukan Cakra Buana misalnya.
"Benar. Andai saja kau tidak melakukan penyelidikan, mungkin kau tidak akan mendapat masalah rumit itu,"
"Tapi kalau aku tidak begitu, bagaimana mungkin aku bisa mengetahui seperti apa keadaan negeriku sekarang?"
Sin Jin seketika terbungkam. Dia tidak mampu menjawab karena apa yang dikatakan oleh Cakra Buana adalah hal yang sulit dijawab.
__ADS_1
Kalau dia berada di posisinya, mungkin dirinya pun akan melakukan hal yang sama.
"Memangnya masalah apa yang menghampirimu?" tanya Sin Jin mulai penasaran.
Cakra Buana meneguk guci arak lebih dulu, kemudian dia menghela nafas sebelum memulai ceritanya.
"Belakangan ini, telah muncul satu orang tokoh sakti yang melakukan suatu hal menggemparkan. Dia selalu mencuri benda pusaka persilatan yang menjadi incaran setiap orang. Anehnya, apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, justru malah bisa dilakukan olehnya. Dua bulanan terakhir, dia bahkan berhasil mencuri pedang pusaka yang tertancap di sebuah kuburan keramat," ekspresi wajah Cakra Buana mendadak berubah pada saat bicara demikian.
Wajahnya menjadi angker. Hawa pembunuhan juga sempat keluar beberapa saat dari tubuhnya.
Tanpa sadar Sin Jin bergidik ngeri. Dia sudah tahu orang macam apakah Cakra Buana itu.
"Memangnya di mana dan kuburan siapa yang menjadi korbannya?"
"Di Tanah Jawa, tepatnya di Perguruan Tunggal Sadewo. Dan kuburannya, adalah kuburan sahabatku sendiri. Pendekar Pedang Kesetanan …" geram Pendekar Tanpa Nama.
"Lalu apakah kau akan diam saja seperti ini?"
"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku akan diam jika tempat peristirahatan terakhir sahabatku diganggu oleh orang lain?"
Seorang seperti Cakra Buana, benarkah dia akan duduk berpangku tangan kalau kubura sahabatnya diganggu?
Jangankan begitu, andai kau menjadi sahabatnya, lalu ada orang lain memaki dirimu hingga sedemikian rupa dan dia sampai tahu hal tersebut, niscaya pemuda itu tidak akan diam.
Dia bukan tipe orang yang masa bodoh dalam hal semacam ini.
"Lantas kenapa kau belum juga bergerak?"
"Semua itu ada waktunya. Sekarang bukan waktu untuk itu, saat ini adalah waktu yang lain,"
"Sekarang waktu untuk apa?" tanya Sin Jin lebih lanjut.
"Sekarang adalah waktu untuk membongkar sebuah rahasia," katanya sambil menatap tajam ke arah Sin Jin.
Keduanya diam. Mereka saling tatap untuk beberapa saat lamanya. Hening. Kegelapan mencekam kamar tersebut.
"Aku ingin bertanya kepadamu," kata Cakra Buana memulai kembali pembicaraannya.
"Silahkan," jawab Sin Jin.
"Kalau kau dibohongi oleh orang yang kau cintai, bagaimana rasanya?"
"Rasanya tentu sangat sakit sekali. Setiap orang pasti tidak ingin mengalami hal seperti itu,"
"Kalau kau sudah mengetahui rahasianya, apakah kau akan segera membongkarnya?"
__ADS_1
"Tentu saja,"
"Bagus. Kalau begitu, aku juga akan membongkar sebuah rahasia seseorang,"
"Rahasia siapa?"
"Rahasia dirimu," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil berbisik tepat di pinggir telinga Sin Jin.
Pemuda itu langsung terpaku di tempatnya. Untuk sesaat lamanya dia tidak sanggup bicara. Bahkan berkedip dan bernafas pun rasanya tidak.
"A-apa maksudmu?" tanyanya sedikit gugup.
"Hemm, bukankah sudah aku katakan? Aku ingin membongkar rahasia dirimu,"
"Ta-tapi aku tidak mempunyai rahasia," katanya menyangkal.
"Setiap orang, siapapun dia, pasti mempunyai sebuah rahasia. Hanya saja besar kecilnya rahasia itu tergantung dari masing-masing orang,"
"Lanjutkan …"
"Aku tidak mau melanjutkan. Aku hanya ingin bicara, mau sampai kapan kau memakai penyamaran ini untuk mengelabui diriku?" tanya Cakra Buana menatap tajam kembali.
"Ma-maksudmu … a-aku tidak mengerti,"
"Benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tdak mengerti?"
Sin Jin ingin menjawab, tapi Cakra Buana tidak memberikan waktu untuknya.
"Kau sebenarnya bukan she (marga) Sin, kau she Ling. Kau Ling Ling Sian-li Bwee Hua …"
Hampir saja sepasang bola matanya copot keluar karena kagetnya mendengar ucapan Cakra Buana. Dia tidak sanggup bicara, bahkan untuk berdiri pun rasanya sangat berat. Seluruh tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga.
"Kau sengaja menyamar menjadi seorang pria agar bisa ikut denganku dengan alasan ingin melancong ke Tanah Jawa. Bukankah begitu?"
"Ta-tapi …"
"Aku tanya apakah semua ucapanku benar?"
"Be-benar …" jawab Sin Jin yang ternyata adalah Ling Ling Sian-li Bwee Hua setelah berdiam beberapa saat lamanya.
Cakra Buana tidak bicara lagi. Dia meneguk arak hingga cukup banyak. Meskipun matanya menatap tajam, tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Senyuman hangat. Senyuman yang mengandung arti kebahagiaan.
Benarkah pemuda itu sangat bahagia?
__ADS_1