
Tanpa sadar si Gadis Sumber Informasi berubah ekspresinya. Dia terlihat kagum kepada Pendekar Tanpa Nama. Sebelumnya, gadis itu mengira kalau Cakra Buana adalah pemuda yang sedikit bodoh. Tak nyana, sebenarnya justru dia sangat pintar. Jauh lebih pintar daripada dugaannya selama ini.
"Ternyata aku sudah salah menilaimu," katanya setelah menghela nafas berat.
"Oh, benarkah?"
"Sebelumnya aku menyangka bahwa kau adalah pemuda yang sangat bodoh. Tapi siapa yang menyangka? Ternyata kau malah sangat pintar. Selain pintar, kau juga cerdas," pujinya dengan tulus.
Pintar dan cerdas. Dua kata ini sering membuat orang keliru. Menurut sebagian orang, pintar dan cerdas adalah dua kata yang mempunyai makna sama. Padahal sebenarnya malah berbeda.
Pintar dan cerdas adalah dua hal yang berbeda. Orang pintar adalah orang yang pandai. Tetapi, orang yang cerdas adalah cerdik dan cermat dalam melihat sesuatu. Di dalam kecerdasan itu ada kepintaran.
Cakra Buana hanya tersenyum simpul. Dia tidak menjawab apapun lagi.
"Aku masih bingung soal gubuk itu. Dari situ, kau sudah tahu tujuanku. Akan tetapi, apakah kau tahu dengan cara apakah aku menghilangkan gubuk tersebut?" tanyanya serius.
"Awalnya aku mengira bahwa kau menghilangkannya dengan kekuatan ghaib. Tetapi setelah melihat suatu kejadian, aku jadi sadar bahwa kau menghilangkannya masih dengan cara yang masuk akal,"
"Kau melihat kejadian apa?"
"Suatu hari, aku pernah melihat ada warga desa yang memindahkan sebuah rumah sederhana berdinding bilik bambu dengan cara gotong royong,"
"Lalu? Apa hubungannya dengan hilangnya gubuk tersebut?"
"Kalau rumah yang lebih besar saja bisa dipindahkan, mengapa gubuk yang jauh lebih kecil tidak bisa?"
Si Gadis Sumber Informasi membungkam mulutnya. Dia tidak bisa menjawab perkataan itu. Sebab apa yang diucapkan oleh Pendekar Tanpa Nama barusan memang sangat masuk akal. Malah teramat masuk akal sekali.
Orang-orang yang sejak tadi mendengarkan juga akhirnya mengangguk sebagai tanda mengerti. Mereka pun mempunyai penilaian yang sama dengan gadis tersebut.
"Hebat. Benar-benar hebat, aku kagum. Sebenarnya tujuanku yang paling utama bukan untuk menakutimu. Tujuanku saat itu sesungguhnya ingin menahanmu lebih lama. Tak disangka, kau malah cepat berlalu. Tahukah kau mengapa aku ingin menahanmu?"
__ADS_1
Cakra Buana menggelengkan kepala. Dia tidak tahu. Sejatinya memang tidak ingin tahu. Akan tetapi meskipun begitu, Pendekar Tanpa Nama sangat yakin kalau gadis tersebut bakal memberitahu dengan sendirinya.
Dan dugaannya memang benar. Setelah memandang rembulan yang mulai condong ke Barat, terdengar gadis itu melanjutkan, "Alasannya karena aku, aku …"
Gadis Sumber Informasi tidak bisa melanjutkan perkataannya. Baik itu sekarang, maupun di masa depan. Sebab hakikatnya, pada saat itu secara tiba-tiba dia langsung melotot. Dua bola matanya seperti ingin melompat keluar. Tubuhnya mengejang. Sesaat kemudian tubuh gadis maha cantik itu langsung ambruk ke tanah.
Dari seluruh tubuhnya segera mengeluarkan bau busuk. Tubuh yang cantik itu, saat ini sudah mulai mengering. Bahkan sudah berubah warna menjadi kehitaman.
Ternyata dia telah mampus.
Tapi apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa pula si Gadis Sumber Informasi terlihat begitu terkejut pada saat sebelum ajalnya tiba?
Ternyata sebelum dia selesai mengucapkan perkataannya, berbarengan pada saat itu, Dewi Bercadar Merah telah melancarkan sebuah serangan. Tiga jarum hitam yang tidak pernah mengecewakannya telah melesat hingga menembus tiga titik penting di tubuh Gadis Sumber Informasi.
Tiga jarum itu tepat menembus urat nadi di leher, jantung, dan juga ulu hatinya.
Tiada seorangpun yang menduga kalau gadis maha cantik itu bakal melakukan hal tersebut. Seorang wanita maha cantik tewas oleh seorang wanita yang maha cantik pula. Kejadian ini apakah termasuk ke dalam kelucuan, atau kengerian?
Kenapa Dewi Bercadar Merah membunuhnya?
Cinta …
Benarkah cinta bisa membuat seseorang tega melakukan sesuatu yang belum pernah dibayangkan? Benarkah getaran cinta itu sangat kuat, sehingga orang pendiam pun bisa berubah berontak karenanya?
Pendekar Tanpa Nama tidak memberikan komentar. Meskipun dia tidak bertanya, akan tetapi dirinya sudah tahu apa alasan kekasihnya melakukan tindakan itu.
Sedangkan di sisi lain, orang-orang yang ada di sana merasa bergidik. Terutama sekali para prajurit Kerajaan. Gadis yang sebelumnya mereka nilai pendiam itu, ternyata dia merupakan seorang gadis keji.
Gadis itu mirip pembunuh. Pembunuh berdarah dingin tentunya.
Sementara itu, melihat si Gadis Sumber Informasi telah tewas, pihak lawan, terutama sekali Selir Anjani merasa sangat geram. Perubahan itu bisa terlihat dengan jelas pada seraut wajahnya yang mulai penuh keriput. Seluruh otot tangannya mengejang. Otot hijau di sisi kening juga muncul. Sorot matanya berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1
Perubahan seperti ini baru terlihat ketika seseorang sudah merasa sangat-sangat marah. Perduli karena hal apapun. Ketika seseorang sedang marah besar, ciri-cirinya pasti sama.
Nafansya memburu. Seluruh tubuhnya segera mengeluarkan kekuatan yang sangat menakutkan.
"Kau … kau telah membunuhnya," kata Selir Anjani sambil menuding Dewi Bercadar Merah dengan jari telunjuk kanannya.
"Dia memang pantas untuk mati," jawab Ling Ling dengan dingin.
Selir Anjani tidak menjawab lagi. Wanita itu kemudian melirik kepada pengawal pribadi Prabu Katapangan Kresna.
"Kenapa kalian diam saja? Cepat bunuh mereka!!!" teriaknya kalap.
Tiga pengawal pribadi tersebut seperti baru mendusin dari tidurnya. Mereka langsung mengangguk secara bersamaan.
Setelah itu, ketiganya langsung melompat dari tempatnya berdiri. Gerakan mereka amat cepat. Caranya melompat juga memperlihatkan bahwa orang-orang itu merupakan jago persilatan. Setidaknya, mereka termasuk ke dalam jajaran pendekar pilih tanding yang sudah sempurna. Sedikit lagi bakal mencapai tahapan pendekar tanpa tanding.
Ketiganya sudah melayang di tengah udara. Mereka tak ubahnya seperti sehelai daun kering yang tertiup angin.
Begitu jaraknya sudah sedemikian dekat dengan Pendekar Tanpa Nama, ketiganya segera mempercepat gerakannya. Serangan maut langsung dilancarkan saat itu juga.
Dua kilatan pedang segera membelah udara malam. Satu tusukan hebat yang teramat cepat segera mewarnai malam gelap. Bau yang sangat busuk sudah tercium kentara. Bau itu melenyapkan baunya harum bunga yang sedang mekar pada malam ini.
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
Sekarang jarak tiga orang tersebut dengan Pendekar Tanpa Nama hanya terpaut sekitar setengah langkah lagi. Sesungguhnya Cakra Buana sendiri tidak menyangka, oleh sebab itulah pemuda tersebut sedikit terperanjat.
Untunglah pada saat itu dua bayangan lainnya segera ikut melesat ke depan. Tidak lama setelahnya, segera terdengar benturan nyaring yang menggetarkan jagat.
Trangg!!! Trangg!!!
Dua sabetan pedang dan satu tusukan tombak itu beradu sehingga menimbulkan percikan bunga api. Disusul kemudian dengan suara bentursn telapak tangan yang berat.
__ADS_1
Plakk!!!
Dua sosok tubuh tergetar. Keduanya terdorong mundur dua langkah ke belakang.