Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sosok Asli Selir Anjani dan Dua Pendekar Bertopeng


__ADS_3

Dia sangat terkejut. Seumur hidupnya, baru sekali ini saja dirinya merasa demikian.


Kekuatan warisan dari Penguasa Kegelapan sangatlah dahsyat. Setiap orang mengakui akan hal ini. Semula, dia yakin kalau di Tanah Pasundan tidak ada yang sanggup mengalahkannya. Termasuk Raja dan Ratu sendiri.


Tapi sungguh tak disangka, ternyata seorang pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama, mampu membunuhnya. Bukan cuma itu saja, bahkan dia pun sanggup merampas Pusaka Tri Tunggal Maha Dewa dan Kujang Dewa Batara dari tangannya.


Apa-apaan ini? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Siapa sebenarnya Pendekar Tanpa Nama?


Berbagai macam pertanyaan terus menyelimuti benaknya. Dia tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada manusia seperti Pendekar Tanpa Nama?


Benarkah pemuda itu manusia seperti dirinya?


Cakra Buana berjalan mendekat ke sisi Selir Anjani. Dia tetap berdiri. Berdiri sambil memandangi wajahnya.


"Jurus yang aku gunakan adalah dua jurus yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya. Nama masing-masing jurus itu adalah Jurus Tanpa Nama dan Jurus Tanpa Bentuk. Jangankan dirimu, jika aku sudah mengeluarkannya hingga ke titik tertinggi, rasanya Prabu Katapangan sendiri tidak akan sanggul melihat maupun lawannya. Sebab kedua jurus itu adalah intisari dari ilmu silat," jelas Cakra Buana dengan suara dalam.


Selir Anjani membuka mulutnya. Dia seperti ingin bertanya kembali, namun sayang sekali, pada saat itu dirinya langsung muntah darah cukup banyak. Sesaat kemudian, nyawanya melayang.


Selir Anjani tewas membawa puluhan pertanyaan. Sebenarnya dia ingin mengungkapkan semuanya, naas, waktu tidak mengizinkan.


Luka yang dia derita sangat berat dan serius. Baik itu luka dalam, maupun luka luar.


Duel maha dahsyat telah berakhir. Duel ini tidak bisa digambarkan dengan jelas karena terlalu banyak kejadian diluar nalar manusia yang terjadi di dalamnya.


Duel yang baru saja selesai itu bakal menjadi duel terdahsyat sepanjang sejarah Tanah Pasundan. Mulai dari saat ini hingga seterusnya, duel itu akan terus diceritakan dari generasi hingga ke generasi berikutnya.


Cakra Buana bangkit berdiri. Tubuh yang telanjang dada itu telah dipenuhi oleh luka-luka sayatan senjata tajam. Darah masih membekas di setiap mulut luka.


Namun Pendekar Tanpa Nama seolah tidak merasakan itu semua. Bukan saja terlihat merasa sakit, bahkan mulutnya pun masih tersenyum hangat ke arah semua orang.


Dia berjalan dengan tenang. Langkah kakinya tetap seirama dan beriringan. Tangan kanannya memegang Pedang Naga dan Harimau yang sudah berada dalam posisi dalam sarung dan dibalut oleh kain merah.


Pada awalnya semua orang tidak merasa ada yang berbeda. Namun sedetik kemudian, mereka baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda.


Ke mana perginya harimau tadi? Apakah dia bisa datang dan pergi secara menghilang? Benarkah harimau itu bukan harimau biasa?

__ADS_1


Tiada seorangpun yang mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Semua orang merasakan kebingungan yang sama kembali. Mereka ingin bertanya, namun sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Cakra Buana berhenti begitu jaraknya dengan orang-orang hanya terpaut sekitar lima langkah. Sepasang bola katanya memancarkan cahaya terang.


Prabu Katapangan Kresna tersenyum. Tiba-tiba dia langsung berlari lalu memeluk erat Cakra Buana.


"Ke mana saja kau Cakra? Apakah selama ini kau baik-baik saja? Bertahun-tahun Paman menunggu kedatanganmu, tapi nyatanya kau tidak pernah datang. Paman sudah berusaha keras melacak jejakmu, namun kau sangat sulit dilacak. Mata-mata Kerajaan yang ditugaskan untuk mencarimu, semuanya menyerah. Aii, kau ibarat orang mati yang hidup kembali," kata Prabu Katapangan sambil menangis bahagia.


Cakra Buana memang bangkit dari kematian. Dia sudah mati dua kali. Pertama pada saat dulu di goa ketika dia selesai melangsungkan pertarungan melawan Dewa Tapak Racun dan Dewa Trisula Perak. Kedua ketika dirinya berada di Tionggoan pada saat dia dibokong oleh Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.


Tempat kejadiannya juga sama, yaitu di goa.


Tiada orang tahu akan kematiannya ini, kecuali dirinya dan orang-orang terkait saja.


"Sudah Paman, sudah. Maafkan aku karena selama ini sudah mengkhawatirkan Paman, Bibi dan yang lainnya. Sekarang aku telah kembali, kalau Paman ingin memberikan hukuman, aku siap," ucapnya sambil membalas pelukan erat Prabu Katapangan.


Prabu Katapangan melepaskan pelukannya. Bagaimana mungkin dia akan menghukum keponakannya sendiri? Memangnya dia bakal tega?


Lagi pula, karena alasan apa dia akan menghukum Cakra Buana? Karena alasan tidak memberikan kabar? Bukankah alasan itu sangat konyol?


"Mana mungkin kami tega menghukummu," kata Sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak.


Awan kelabu di Istana Kerajaan Kawasenan telah lenyap terbawa oleh angin. Matahari terang sudah siap memancarkan sinarnya kembali ke seluruh penjuru negeri.


Pada saat demikian, tiba-tiba Ratu Ayu melompat ke depan. Wanita agung itu berhenti tepat di sisi jasad Selir Anjani.


Setelah memandang dengan seksama wajah itu, dia membungkuk. Ratu Ayu mendadak menarik wajah Selir Anjani.


Ternyata wajah cantik yang terpampang selama ini adalah palsu. Wajah asli wanita itu sudah keriput. Umurnya sedikit diatas Ratu Ayu sendiri.


Semua orang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka sungguh terkejut.


Wushh!!! Wushh!!!


Tiba-tiba semuanya melompat ke tempat berdiri Ratu Ayu. Mereka sungguh penasaran. Sebenarnya apa yang telah terjadi?

__ADS_1


"Hahh … sudah kuduga bahwa dialah orangnya," kata Prabu Katapangan sambil menghela nafas berat begitu dirinya menyaksikan sosok asli Selir Anjani.


"Paman, sebenarnya siapakah wanita ini?" tanya Pendekar Tanpa Nama penasaran.


"Apakah kau tidak mengenalnya?"


"Tidak sama sekali,"


"Dia bukan lain adalah istri dari Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma, Ratu Kencana Wulan,"


"Apa?" Cakra Buana terkejut setengah mati.


Bukan hanya dia saja, malah semua orang tokoh, termasuk pula para prajurit Kerajaan juga sama. Apa yang diucapkan oleh Prabu Katapangan Kresna benar-benar diluar dugaan.


Mereka tidak mengira kalau Ratu Diah tidak ikut tewas pada saat perang besar dulu. Lebih terkejut lagi bahwa dia masih hidup hingga detik ini.


Memang, dulu, setelah perang besar antar Kerajaan tersebut, tiada seorangpun yang pernah mendengar lagi kabar tentang Ratu Kencana. Malah tidak ada yang tahu pula kabar tentang dua anaknya. Yaitu, Mandala Jaya Dewata dan Rengganis Ratna Ayu.


Ternyata, oh ternyata.


"Kalau begitu, apakah Dua Pendekar Bertopeng merupakan kedua anaknya?" tanya Kakek Sakti dengan ekspresi serius.


"Tidak salah lagi. Pasti mereka, Mandala Jaya Dewata dan Rengganis Ratna Ayu," jawab Sang Prabu.


"Aii, tak kusangka. Ternyata ibu dan anak itu sanggup menggetarkan Tanah Pasundan dengan mudahnya," keluh Nenek Sakti.


Tanah Pasundan adalah sebuah negeri yang subur dan kaya raya. Luas wilayahnya sangat besar. Berbagai macam sumber daya alam tersedia banyak di sini. Semua orang tahu akan hal tersebut.


Apa yang dilakukan oleh Ratu Kencana Wulan dan dua orang anaknya memang sangat luar biasa. Tidak semua orang sanggup melakukan hal tersebut.


###


Maaf telat up ya, mhehehe. Belakangan ini saya sibuk fokus ke novel baru yang terbit di lapak lain.


Sedikit info, ini judulnya:

__ADS_1


Yang satu Pendekar Pedang Pencabut Nyawa/ di aplikasi ********.


Satu lagi Pendekar Tanpa Perasaan/di aplikasi novellife.


__ADS_2