
Pendekar Tanpa Nama dan Nenek Tua Bungkuk berjalan bersama. Keduanya selalu tertawa, entah apa yang mereka katakan. Karena para murid Perguruan Rajawali Sakti tidak ada yang mampu mendengar percakapan keduanya.
Mereka hanya berdiri mematung memandangi dua orang yang kini sedang berjalan beriringan tersebut.
Semua orang bertanya-tanya dalam hatinya masing-masing. Mereka sangat penasaran dengan apa yang sekarang mereka lihat.
Bagaimana mungkin dua orang yang sebelumnya bertarung hidup dan mati, sekarang justru malah berjalan berdampingan?
Apakah mereka hanya bertarung pura-pura saja? Apakah keduanya sudah saling mengenal?
Siapapun tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.
"Sebenarnya sedang apa kau di sini?" tanya Cakra Buana kepada Nenek Tua Bungkuk.
"Aku memang sudah biasa ada di sini,"
"Apakah urusan yang kau maksud juga di sini?"
"Benar sekali," jawab Nenek Tua Bungkuk sambil tertawa.
Jalan itu berkelok-kelok cukup panjang. Keduanya berjalan menyusuri lorong-lorong yang cukup panjang. Ternyata kemegahan Perguruan Rajawali Sakti bukan hanya tampak diluar saja.
Di dalamnya juga sama. Bahkan lebih megah dari pada di luarnya. Di sana banyak sekali lukisan dan barang yang sangat antik serta berharga sangat mahal.
Ornamen yang ada di sepanjang jalan benar-benar mampu membuat mata terpukau. Bahkan Cakra Buana sendiri dibuat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia baru melihat bangunan semegah ini. Sebelumnya pemuda itu memang pernah beberapa kali memasuki bangunan yang dalamnya mewah. Tetapi selama ini, dia belum pernah melihat kemegahan seperti Perguruan Rajawali Sakti.
Harum bunga mekar tercium memanjakan indera penciuman. Semerbak harumnya mampu menenangkan jiwa. Rembulan bersinar terang, bintang bertaburan di atas sana.
Suasana seperti ini benar-benar sangat cocok untuk dinikmati dengan tenang dan santai.
Setelah berjalan beberapa saat lamanya, akhirnya Pendekar Tanpa Nama dan Nenek Tua Bungkuk sampai juga di tujuan utama mereka.
Ruangan itu cukup besar. Di atas atap bangunan tersebut ada patung rajawali yang sedang mengepakkan sayapnya. Ukuran patung tersebut cukup besar. Juga indah. Karena patung itu dibuat dari emas murni seberat ratusan kilo.
Sudah jelas patung rajawali itu bernilai tinggi. Biaya untuk membuatnya juga pasti sangat mahal sekali.
__ADS_1
Dua orang murid penjaga sedang berdiri tegak sambil memegangi sebatang tombak di tangan kanannya masing-masing. Mata tombak itu sangat tajam karena kilauannya sangat memukau.
Nenek Tua Bungkuk berjalan paling depan. Kedua murid penjaga tersebut membungkuk hormat tanpa berani memandang wajahnya.
Mereka dapat masuk ke dalam dengan mudah tanpa ada halangan apapun.
Di sebuah ruangan di dalam bangunan tersebut, terdapat seorang pria tua yang sedang duduk dengan santainya. Di hadapannya ada sebuah meja. Dan di atas meja terdapat dua guci arak yang menyebarkan bau harum menusuk hidung.
Nenek Tua Bungkuk langsung duduk tanpa bicara sepatah katapun. Cakra Buana juga menuruti perilaku nenek tua itu. Dia turut duduk tepat di sampingnya. Tiga orang itu duduk saling berhadapan satu sama lain.
"Kau kenal orang ini?" tanya pria tua itu.
"Sangat kenal sekali. Kau pernah mendengar tentang ketenaran pemuda asing bernama Cakra Buana?" tanya Nenek Tua Bungkuk.
"Sudah tentu,"
"Pemuda inilah yang dimaksudkan. Julukannya Pendekar Tanpa Nama,"
Pria tua itu sedikit kaget. Dia memandangi Cakra Buana dengan seksama. Setelah beberapa saat memandanginya, dia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Salam hormat untuk maha guru. Namaku Cakra Buana, mohon maaf jika aku sudah berlaku tidak sopan," ujar Cakra Buana dengan lembut.
Pria tua itu tertawa lantang. "Hahaha, kau jangan terlalu sungkan seperti itu sobat. Aku tidak terlalu suka dengan tatakrama," katanya lalu meneguk arak.
Pria tua itu menuangkan arak ke cawan yang sudah tersedia di sana. Ketiganya langsung bersulang penuh kebahagiaan.
"Perkenalkan, namaku yang tua ini Cio Hong, orang-orang menyebutku si Rajawali Petir Pengoyak Sukma," katanya memperkenalkan diri.
Cakra Buana tersenyum gembira. Akhirnya dia biasa berhadapan dengan maha guru Perguruan Rajawali Sakti. Tujuan utamanya ke Tionggoan ini sudah hampir selesai.
Meskipun masih banyak urusan lain yang harus dia selesaikan, tetapi jika urusan utamanya sudah selesai, maka setidaknya hati Cakra Buana dapat tenang. Beban paling berat di pundaknya sudah terangkat.
"Aii, kebesaran nama Tuan Cio sudah aku dengar sejak lama. Aku benar-benar tidak pernah menyangka bisa bertemu denganmu saat ini," kata Cakra Buana.
Tiga orang itu meneguk arak beberapa kali. Kemudian mereka segera bercerita terkait berbagai macam hal.
Cakra Buana tidak banyak bicara. Selama ini, pemuda Tanah Pasundan itu lebih banyak mendengarkan kedua orang tua tersebut bercerita.
__ADS_1
"Apakah kau sudah tahu kenapa Nenek Tua Bungkuk bisa ada di sini? Dan apakah kau tahu bagaimana hubunganku dengannya?" tanya Cio Hong sambil tersenyum ke arah Cakra Buana.
"Tidak sama sekali," jawab Cakra Buana sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
Bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma? Dia tahu Nenek Tua Bungkuk, tapi dia tidak tahu terkait rahasia yang ada dalam dirinya.
"Kau pasti merasa kebingungan bukan kenapa dia bisa ada di sini? Bahkan mungkin kau juga bingung kenapa murid-murid perguruan sangat menghormatinya kan?"
Cakra Buana hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum malu.
"Dia adalah adik seperguruanku," kata Ciong Hong dengan santai.
Pendekar Tanpa Nama sangat-sangat terkejut. Hampir saja dia melompat saking kagetnya. Nenek Tua Bungkuk merupakan adik seperguruan maha guru Perguruan Rajawali Sakti? Apakah pria tua itu tidak sedang bercanda?
"Kau pasti tidak percaya bukan?"
Pendekar Tanpa Nama hanya mengangguk pelan kembali sambil tersenyum getir. Kenyataan ini benar-benar diluar dugaannya.
Sebelumnya dia hanya menduga bahwa Nenek Tua Bungkuk merupakan pengawal pribadi sang maha guru, siapa sangka, dugaannya justru malah keliru besar.
"Terkait hal ini, memang belum banyak yang tahu. Bahkan sahabat kami berdua juga tidak banyak. Hanya beberapa orang saja yang sudah mengetahuinya,"
"Apakah Huang Pangcu tahu akan hal ini?"
"Dia termasuk salah seorang yang tahu tentang bubungan kami berdua," jawab Ciong Hong sambil tersenyum.
"Aii, aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa kalian ternyata saudara seperguruan. Sebelumnya aku hanya mengira kalian berdua tidak ada hubungan apa-apa kecuali terkait perguruan ini saja. Tak disangkanya justru malah lebih dari pada itu," ucap Cakra Buana.
Dia tidak tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Entah itu senang, sedih, atau apapun itu. Cakra Buana tidak tahu.
Dia hanya merasa bahwa kenyataan ini akan menjadi sebuah kabar baik bagi dunia persilatan.
"Kenapa kau memberitahukan hal ini kepadaku? Padahal aku belum kenal lama dengan kalian berdua,"
"Karena kau istimewa," jawab si Nenek Tua Bungkuk sambil tertawa.
Ketiganya minum arak kembali. Mereka bersulang bersama atas dasar persahabatan.
__ADS_1