Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sama Seperti Orang Mati


__ADS_3

"Bukan sepenuhnya kesalahan mereka," jawab Cakra Buana secara setelah berpikir sesaat.


"Bukan?" Penguasa Kegelapan mengerutkan keningnya.


Dia belum paham betul maksud Pendekar Tanpa Nama. Sudah jelas kematian empat muridnya itu adalah karena kesalahan mereka sendiri, tapi kenapa pemuda itu mengatakan bukan?


"Ya, bukan. Kalau saja kau membantu pertempuran mereka, aku yakin, muridmu tidak bakal tewas. Meskipun memang harus tewas, mereka tentunya tidak akan tewas dengan mudah. Tapi apa yang kau lakukan? Selama jalannya pertempuran, kau hanya melihat dari pinggir. Itupun acuh tak acuh. Terlebih lagi, kau seperti sengaja membiarkan mereka mampus," jelas Pendekar Tanpa Nama.


Penguasa Kegelapan tidak dapat menyangkal hal itu. Dimulai pada saat awal hingga akhir pertarungan, dirinya memang diam saja. Sedikitpun tidak melakukan sebuah gerakan.


Padahal pada umumnya, seorang guru tentunya tidak akan tinggal diam jika menyaksikan muridnya berada dalam posisi genting. Guru yang baik adalah dia yang tidak akan membiarkan muridnya berada dalam kesulitan.


Padahal semua orang persilatan tahu, kalau saja gembong iblis itu melakukan gebrakan pada saat situasi yang pas, niscaya, pihak Pendekar Tanpa Nama pasti akan kewalahan.


Malah bukan tidak mungkin jika pihak lawan akan mengalami kerugian.


Sekarang setelah mendengar penuturan pemuda itu, orang-orang yang ada di sana mulai paham. Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


Sebenarnya, apa yang sudah terjadi dengan Penguasa Kegelapan? Apakah dia sedang berada dalam sebuah masalah? Ataukah orang tua itu sengaja mengorbankan keempat muridnya karena dia sendiri mempunyai rencana lain?


Kalau seperti itu, rasanya sangat mustahil. Situasi sudah terlanjur seperti ini, memangnya rencana apa yang dapat mengubahnya?


Pada saat semua orang terdiam, tiba-tiba penutup tandu tersingkap. Orang dalam tandu keluar.


Waktu seakan berhenti. Semilir angin yang baru saja terasa, sekarang entah pergi kemana. Sang Bayu hilang lenyap begitu saja. Rembulan kembali tertutup awan kelabu.


Alam semesta mengalami sebuah perubahan. Hawa di sana terasa sesak oleh suatu tekanan tenaga dalam seseorang yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan.


Semua orang kesulian bernafas. Terlebih lagi mereka para prajurit.


Semua itu berlangsung beberapa saat. Disusul kemudian dengan nampaknya wajah orang dalam tandu tadi.


Prabu Katapangan Kresna. Ya, memang dialah orangnya.


Sebagai seorang Raja di sebuah negeri yang besar, rasanya bukan hal aneh kalau dia mempunyai kemampuan hebat seperti yang ditunjukkan seperti sekarang ini.


Raja yang agung. Raja yang sangat berwibawa.

__ADS_1


Begitu semua orang tahu siapa yang muncul, serentak mereka segera berlutut. Termasuk pihak Pendekar Tanpa Nama, bahkan empat datuk dunia persilatan juga melakukan hal yang sama.


Prabu Katapangan Kresna berjalan dengan tenang. Langkah kakinya amat ringan. Seolah sepasang kaki itu tidak menapak ke bumi.


"Silahkan semuanya berdiri …"


Suaranya tenang. Setenang langkah kakinya. Sepasang matanya tampak teduh, sekulum senyuman hangat dia lemparkan kepada semua orang yang hadir di sana.


Akan tetapi kalau diperhatikan lebih mendalam lagi, maka bakal terlihat jika dibalik tatapan mata itu terdapat sebuah kemarahan yang sulit dijelaskan. Mereka yang paham bakal tahu kalau Prabu Katapangan sedang memendam sebuah kobaran api dendam.


Setelah terdiam sesaat, dia kembali meneruskan langkahnya hingga pada akhirnya berhenti setelah tepat berdiri berdampingan dengan Pendekar Tanpa Nama.


"Hampir dua tahun tak bertemu. Tak kusangka kau sudah sehebat ini, Cakra Buana …" gumamnya perlahan.


Ucapan itu diutarakan tepat disamping telinga Cakra Buana. Karena itulah, mau tidak mau pemuda tersebut harus mendengarnya.


Cakra Buana hanya tersenyum simpul. Dia tidak melirik kepada pamannya. Entah itu karena malu, atau karena dia tidak ingin konsentrasinya terganggu?


"Setiap orang pasti berubah. Hanya saja apakah perubahan tersebut baik atau buruk, itu semua tergantung dia sendiri," setelah diam cukup lama, pada akhirnya dia memutuskan untuk menjawab.


Raja itu kembali serius. Dia menatap tajam ke arah Penguasa Kegelapan yang masih menyamar menjadi dirinya. Kemudian diapun memandang ke arah Selir Anjani.


"Apakah kau tahu kenapa Penguasa Kegelapan diam saja?"


Suaranya berubah lantang. Dalam suara itu, terkandung sebuah kobaran semangat yang tidak bisa dipadamkan.


Meskipun wajahnya tidak berpaling seperti sebelumnya, namun Cakra Buana tahu kalau pertanyaan tersebut diajukan kepadanya. Oleh sebab itulah, dia langsung menjawabnya tanpa ragu.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Penguasa Kegelapan diam saja karena sekarang dirinya sudah mati,"


"Maksudnya?" tanya pemuda itu.


Cakra Buana tidak mengerti. Dia benar-benar tidak tahu maksud dari perkataan pamannya barusan.


"Orang yang sedang berada dalam sebuah tekanan masalah besar dan penyesalan hebat, dia yang merupakan tokoh teratas di dunia hitam, lalu secara tiba-tiba berubah menjadi orang yang tidak berguna, bukankah hakikatnya mirip seperti orang mati?"

__ADS_1


Tentu saja jawabannya adalah iya. Meskipun Cakra Buana tidak menjawab dengan ucapan, tapi kepalanya segera mengangguk dengan cepat.


Seseorang yang tadinya sangat luar biasa, lalu secara tiba-tiba berubah menjadi tidak bisa apa-apa, bukankah hakikatnya dia sama saja dengan mati?


"Jadi maksudmu, apakah sekarang Penguasa Kegelapan tidak mempunyai kemampuan apa-apa?"


"Kemampuan sih masih punya. Tapi sudah tidak sehebat dulu saat beberapa tahun lalu. Kemampuannya yang sekarang sudah menurun sangat drastis. Kalau dibandingkan, malah mungkin lebih hebat keempat muridnya daripada dia sendiri,"


Apa? Benarkah ucapan Prabu Katapangan Kresna? Apakah dia tidak sedang berbohong? Kalau benar, kenapa dia bisa menjadi seperti itu? Apapun pasti ada penyebabnya. Akan tetapi, apa penyebab dari semua itu?


"Apakah sesuatu telah menimpanya? Kenapa dia bisa menjadi seperti itu?"


"Karena cinta …"


Ratu Ayu tiba-tiba menjawab dengan lantang. Wanita agung itu bicara sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah Pendekar Tanpa Nama dan Prabu Katapangan.


"Cinta?" Cakra Buana melengak ke arahnya.


"Benar, karena cinta. Dia memberikan lebih dari separuh tenaga dalamnya kepada seorang wanita yang sangat dia cintai. Penguasa Kegelapan sangat percaya kalau wanita itu benar-benar mencintainya. Tapi dia lupa akan satu hal," kata Ratu Ayu.


"Hal apa?" tanya Cakra Buana heran.


"Bahwa manusia adalah tempatnya berubah. Satu menit berganti, satu jam berubah. Sekarang mencinta, belum tentu keesokannya,"


Manusia memang seperti itu. Sekarang bilang A, siapa tahu selang sesaat kemudian malah bilang B?


Kenyataan ini bisa terjadi kepada siapa saja. Mungkin kau sendiri pernah seperti itu.


"Jadi karena alasan itulah, sekarang ini dia telah dianggap mati?"


"Tepat sekali,"


Akhirnya Pendekar Tanpa Nama mengerti. Ternyata itulah alasannya kenapa tadi Prabu Katapangan bicara kalau Penguasa Kegelapan sudah mampus.


Dalam dunia persilatan, memang ada beberapa tokoh yang jika dia menyalurkan tenaga dalamnya terlalu banyak kepada seseorang, biasanya tenaga dalam dia sendiri akan berkurang drastis dan tidak bisa dikembalikan secara utuh.


Pata tokoh yang mengalami hal ini biasanya mereka angkatan tua. Dan Penguasa Kegelapan adalah salah satu contohnya.

__ADS_1


__ADS_2