
Matahari pagi sudah bersinar. Burung-burung telah keluar dari sarangnya. Mereka akan pergi mencari nafkah untuk keluarganya. Begitu juga dengan para manusianya.
Pendekar Tanpa Nama sedang berjalan seorang diri. Di belakang punggungnya terdapat sebuah gembolan dari kain berwarna putih.
Cakra Buana akan melaksanakan tugas terakhirnya. Seperti janjinya dulu, ketika dirinya sudah berhasil menemukan pusaka-pusaka yang hilang dicuri si Maling Sakti Seribu Wajah, maka dia akan segera mengembalikan ke pemiliknya masing-masing.
Dan sekarang telah tiba waktunya. Semua pusaka yang dulu menghilang, kini sudah ditemukan kembali. Ternyata semua pusaka tersebut disimpan di sebuah tempat rahasia di dalam Istana Kerajaan.
Semua barang pusaka itu ditemukan oleh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti beberapa hari yang lalu.
Jumlah pusaka yang ditemukan pun lumayan banyak. Mungkin ada sekitar sepuluh barang banyaknya.
Pendekar Tanpa Nama terus menunaikan tugas tersebut. Dia tidak akan kembali pulang sebelum pusaka itu diberikan kepada pemiliknya.
Di sepanjang perjalanan, banyak orang-orang yang langsung memberikan hormat kepadanya. Baik itu orang persilatan, maupun orang-orang awam.
Ternyata nama Cakra Buana telah menyebar luas ke penjuru Tanah Pasundan. Begitu juga dengan julukan Pendekar Tanpa Nama.
Apa yang telah dia lakukan belakangan ini memang sangat luar biasa. Semua yang dilakukan olehnya menggetarkan Tanah Pasundan.
Selama satu minggu lebih dirinya pergi ke berbagai tempat. Malah pemuda itu sempat juga kembali ke Perguruan Tunggal Sadewo. Selain untuk menjelaskan semuanya kepada Tuan Santeno Tanuwijaya, Cakra Buana juga menanamkan kembali Pedang Haus Darah milik sahabatnya, Pendekar Pedang Kesetanan di tempatnya semula. Yaitu tepat di pusaranya.
Ketika dia akan pamit pergi dari sana, Tuan Santeno sempat memberikan wejangan kepadanya.
"Kau memang luar biasa Cakra. Paman benar-benar kagum. Kelak, ketika kau sudah berada di puncak, jangan pernah melupakan segalanya. Tetaplah menjadi Cakra Buana yang selalu rendah hati, serta ramah tamah kepada siapapun. Dan yang terpenting, kau jangan pernah sombong. Karena jika kau sombong, kelak kau akan malu sendiri. Coba kau pikir, memangnya apa yang pantas kau sombongkan? Sesuatu yang kau miliki? Kekuatan dan kekayaan? Ingatlah, semua itu hanya titipan semata. Bukan milikmu sepenuhnya,"
Wejangan yang penuh dengan falsafah kehidupan. Singkat tapi mengandung makna seluas lautan. Sampai kapan pun, Cakra Buana tetap akan selalu mengingat falsafah itu. Selamanya, dia tidak akan pernah melupakannya.
Akhirnya tugas terakhir itu sudah selesai dilaksanakan. Semua barang pusaka telah berhasil dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Saat ini waktunya pulang ke rumahnya. Ke Istana Kerajaan Tanah Pasundan.
__ADS_1
Wushh!!!
Bayangan merah melesat seperti anak panah yang dilepaskan sekuat tenaga. Cuma beberapa kejap saja, bayangan tubuhnya telah menghilang dari pandangan.
###
Sebulan sudah berlalu. Sekarang semuanya telah benar-benar kembali seperti sedia kala. Para rakyat Pasundan telah merasa gembira kembali. Keamanan di negeri ini sudah meningkat seperti sebelumnya.
Apa yang dirasakan oleh seluruh rakyat, sekarang telah dirasakan kembali.
Waktu menunjukkan malam hari. Rembulan bersinar sangat terang sekali. Malam ini malam bulan purnama.
Di Istana Kerajaan terlihat sangat ramai sekali. Keadaan di sana benar-benar berbeda dari biasanya. Bukan cuma orang-orang Istana Kerajaan, malah para rakyat Tanah Pasundan juga terlihat hadir di sana.
Apa yang telah terjadi? Apakah ada keramaian lagi?
Benar, memang ada kejadian. Ada pula sebuah keramaian. Tetapi tidak mengandung kesedihan. Melainkan mengandung kegembiraan.
Dengan catatan telah melewati pemeriksaan demi keamanan bersama.
Selain itu, Prabu Katapangan Kresna juga telah mengumumkan kepada semua rakyat Pasundan bahwa Cakra Buana adalah Putera Raja. Seorang Pangeran. Dia lah penerus takhta Kerajaan besar ini.
Apakah semua rakyat kecewa?
Jawabannya tentu tidak.
Semua rakyat Tanah Pasundan justru merasa sangat gembira dan bahagia. Kegembiraan dan kebahagiaan ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata lagi.
Sekalipun mereka tahu bahwa Cakra Buana belum berpengalaman menjadi seorang Raja, namun setiap insan mengetahui bahwa sifat dasar kepemimpinan semuanya sudah berada dalam diri pemuda itu.
__ADS_1
Siapapun tahu akan hal ini. Setiap orang percaya penuh akan kabar tersebut. Tidak ada yang tidak percaya. Tiada pula yang berani menampiknya.
Seluruh alam semesta menyambut hari baru, kehidupan baru dan pemimpin baru ini.
Kelak, Pendekar Tanpa Nama akan memimpin Tanah Pasundan hingga negeri itu mencapai puncak kejayaannya. Suatu saat nanti, akan lahir para pendekar pembela kebenaran yang lebih tangguh darinya.
Ini bukan merupakan akhir. Tetapi sebuah awal. Awal dari sebuah kisah menarik, kisah penuh misteri dan kejadian menegangkan.
Ketika telah menduduki posisi Raja, Cakra Buana atau yang lebih dikenal sebagai Pendekar Tanpa Nama, mendapat sebuah gelar. Gelar yang begitu agung dan luar biasa.
Gelar Cakra Buana adalah Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa.
###
Terimakasih untuk kalian yang selama ini telah mengikuti perjalanan Cakra Buana. Semoga apa yang telah kalian baca di novel ini, ada sisi manfaat lain selain hanya berimajinasi.
Kalau ada salah kata, baik itu yang tidak sengaja merasa tersinggung atau sebagainya, author meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Jika masih ada yang kurang berkenan dari novel ini, sekali lagi mohon maaf🙏saya hanya menyuguhkan apa yang sekiranya saya sanggupi saja🙏
Salam sejahtera untuk kalian semua …
Sampurasun …
Insun rahayu balarea waluya🙏
###
Kalau ada yang berminat membaca novel saya lagi, silahkan dibaca di aplikasi ******** dengan judul Pendekar Pedang Pencabut Nyawa. Satu lagi, ada juga di aplikasi novel life yang berjudul Pendekar Tanpa Perasaan. Lanjutan dari kisah Chen Li, anak dari Shin Shui, Sang Pendekar Halilintar.
__ADS_1
Note: Mungkin kalian banyak yang bertanya-tanya kenapa saya belum ada minat nulis lagi di sini. Untuk jawabannya, mungkin hampir serupa dengan penulis lain … mhehehe …
Okee … see you😚