Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Masuk Dalam Perangkap


__ADS_3

"Maaf, kami datang sedikit terlambat," kata wanita agung itu begitu dirinya tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama.


Wajahnya cerah berseri. Senyumannya sangat indah. Seindah rembulan malam yang kini sudah kembali menampakkan dirinya.


"Tidak masalah. Aku sudah menduga kalau kalian akan datang tepat pada waktunya," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum.


"Syukurlah. Hemm, siapa orang-orang yang sudah menjadi mayat ini?" tanya Dewi Bercadar Merah sambil memandangi sepuluh pasukan elit yang sudah mampus itu.


"Sepuluh manusia iblis yang menyamar menjadi anggota pasukan elit Kerajaan," jawab Cakra Buana dengan tenang dan santai.


"Oh, benarkah? Hemm, tak kusangka ada manusia yang berani berlaku nekad," katanya sambil tersenyum mengejek.


"Bukan saja ada, malah semakin ada dan ada lagi,"


"Apakah akan ada korban selanjutnya?"


"Tentu saja ada," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum penuh arti.


"Siapa saja?"


"Sebentar lagi kau akan segera mengetahuinya,"


Suasana hening kembali. Sekarang semua orang telah bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Selir Anjani dan yang lainnya mengerut kening. Dia tidak habis pikir, kenapa ada banyak sekali kejutan yang datang pada saat-saat genting seperti ini? Apakah semua rencananya sudah diketahui oleh musuh?


Tidak, rasanya sangat mustahil kalau rencananya bocor. Sebab dia sangat yakin dan berani menjamin kalau rencananya itu benar-benar matang dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya.


Rencana yang dia susun kemarin pada saat di ruangan rahasia, sungguh bisa diandalkan. Dia yakin kali ini dirinya tidak akan gagal.


Tapi apa daya, mau tidak mau dia harus mengakui kembali kalau semuanya telah hancur berantakan.


"Hahh …" suara helaan nafasnya terdengar sangat berat. Antara sedang menyesalkan, atau memang sangat menyayangkan.


"Kenapa kalian datang di saat seperti sekarang ini?" tanyanya sambil melirik ke arah Ratu Ayu dan yang lainnya.


"Seharusnya kau sudah tahu bahwa kami tidak akan tinggal diam saja. Perlu kau ketahui, kedatangan Pendekar Tanpa Nama yang seorang diri sesungguhnya hanyalah pancingan belaka. Dan semua yang dilakukan oleh pihakmu, sebenarnya sudah masuk ke dalam hitungan," jelas Dewi Bercadar Merah tersenyum misterius.

__ADS_1


Selir Anjani terkejut. Benarkah yang dikatakan oleh gadis maha cantik itu? Kalau hal itu benar, bukankah itu artinya dia sudah masuk ke dalam perangkap musuh? Jika benar demikian, maka sia-sia saja rencananya selama ini. Percuma saja dirinya memeras otak.


Kalau tahu kejadiannya bakal seperti ini, niscaya wanita berhati kejam itu tidak akan sudi mengerahkan segala macam daya dan kekuatannya.


"Termasuk sampai sepuluh pasukan elit yang terbunuh itu, apakah kalian juga sudah tahu?"


"Tentu saja tahu. Karena pada dasarnya, memang kami yang menyuruh Pendekar Tanpa Nama untuk membunuh mereka,"


"Kenapa demikian?"


"Karena kami sudah tahu pula kalau sepuluh orang itu merupakan orang-orangmu. Mereka bukan lain adalah Sepuluh Setan Pencabut Sukma," jawab Sian-li Bwee Hua dengan senyuman penuh kemenangan.


Dia memang sudah merancang semua hal terkait dalam peristiwa saat ini. Bersama dengan Ratu Ayu dan yang lainnya, mereka rela tidak tidur siang dan malah demi memuluskan rencananya.


Lebih daripada itu, orang-orang yang ahli dalam rencana dan strategi tersebut, membahas persoalan hingga ke detail tanpa memberitahukannya secara rinci kepada Pendekar Tanpa Nama.


Oleh karenanya, sekarang pemuda itu terkejut setengah mati. Pemuda berjubah merah itu memandangi Dewi Bercadar Merah dengan tatapan penuh kebingungan. Sungguh, dia tidak mengerti secara mendalam tentang masalah sekarang ini.


Di sisi lain, bukan saja hanya Selir Anjani yang tersentak. Malah termasuk Prabu Katapangan serta semua pengawal pribadinya juga mengalami kekagetan serupa.


Kening mereka berkerut kencang. Selapis hawa pembunuhan keluar dari tubuh mereka masing-masing.


"Tentu saja. Malah kami juga tahu siapakah junjungannya," kata Dewi Bercadar Biru sambil melangkah ke depan.


"Benarkah?"


"Emm …" kata Dewi Bercadar Biru sambil menganggukkan kepalanya. "Bukankah junjungannya adalah Penguasa Kegelapan?"


Keterkejutan dalam wajah Selir Anjani semakin kentara. Termasuk orang-orang yang berada di pihaknya.


Sementara itu, wajah Pendekar Tanpa Nama berubah total begitu dirinya mendengar nama itu disebut.


Penguasa Kegelapan …


Entah sedalam apa dendam Cakra Buana kepada gembong iblis itu. Entah sebesar dan setinggi apa niat ingin membunuh dirinya. Dari dulu hingga saat ini, membunuh Penguasa Kegelapan termasuk antek-anteknya adalah cita-citanya.


"Apakah sekarang orang tua itu hadir pula di sini?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil melirik tajam kepada Dewi Bercadar Biru.

__ADS_1


Tatapan matanya berkilat. Wajahnya bengis. Selamanya, baru kali ini saja Cakra Buana berlaku demikian kepada kekasihnya itu.


Tanpa terasa Bidadari Tak Bersayap atau Dewi Bercadar Biru dibuat merinding karenanya.


"Seharusnya Pendekar Tanpa Nama sudah tahu sejak awal. Sebagai pribumi asli, apakah kau tidak membedakan mana Prabu Katapangan Kresna yang asli dan yang palsu?" Dewi Bercadar Merah mendahului bicaranya Bidadari Tak Bersayap.


"Jadi maksudmu, apakah Prabu Katapangan yang ada di hadapanku saat ini adalah palsu?" tanyanya kebingungan.


"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Ratu Ayu sambil tersenyum simpul.


Pendekar Tanpa Nama tidak bicara lagi. Dia langsung menatap tajam ke arah Selir Anjani dan yang lainnya.


Selapis hawa pembunuhan yang keluar dari tubuhnya semakin terasa. Semakin tebal dan semakin menakutkan.


"Masalah sudah sejauh ini. Rasanya kita segera selesaikan saja," kata si Pedang Angin Puyuh.


Bicaranya tenang. Namun setiap orang di sana tahu kalau dalam suara itu mengandung semacam perbawa tersendiri.


"Kenapa kalian masih diam saja?" Selir Anjani berkata sambil melirik tajam kepada dua pengawal pribadinya.


Menyadari hal tersebut, kedua orang yang menyebut dirinya sebagai Dua Pendekar Bertopeng itu seperti tersadar dari lamunan. Mereka segera mengangguk secara bersamaan.


Tanpa bicara apapun lagi, dua orang misterius itu langsung melompat dari tempat berdirinya. Keduanya serempak mengeluarkan pedang pusaka yang ada di punggungnya masing-masing.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan manusia melesat bagaikan sebatang anak panah yang dilepaskan dengan tenaga tinggi. Hanya sesaat saja, mereka telah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama.


Cakra Buana langsung berlaku serius. Dia tidak mau main-main lagi. Dalam situasi seperti sekarang, apalagi saat ini amarahnya sudah berkobar hebat, maka seluruh tenaganya langsung dikeluarkan.


Wushh!!!


Debu mengepul tinggi. Tubuh Pendekar Tanpa Nama menyongsong datangnya dua serangan lawan. Pedang Naga dan Harimau menebas dari samping kanan. Dua batang pedang milik Dua Pendekar Bertopeng itu berhasil ditangkis.


Trangg!!!


Ketiga orang itu berhenti di tengah udara. Masing-masing senjata pusakanya menempel satu sama lain. Seolah dari tiga pusaka itu ada sebuah energi yang saling tarik menarik.

__ADS_1


Wutt!!!


Dua Pendekar Bertopeng melayang mundur ke belakang dalam kecepatan cukup tinggi. Begitu tubuhnya menginjak tanah, tubuh keduanya terasa bergetar.


__ADS_2