
Empat orang rekannya terbengong. Mereka tidak dapat melihat kejadian barusan dengan jelas. Kejadiannya amat cepat. Kasarnya, mungkin lebih cepat dari kedipan mata seseorang.
Satu orang lawannya telah bersimbah darah dengan luka mengerikan. Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih duduk bersila dengan tenang di tempat duduknya semula.
Wajahnya tidak terlihat marah. Tidak pula terlihat tegang. Cakra Buana masih tenang. Sepasang matanya masih menatap hangat. Sehangat senyuman yang dia berikan sejak tadi. Pemuda itu seolah tidak merasa telah membunuh nyawa manusia.
Empat rekan si ikat merah sangat geram. otot-otot di tangannya merongkol keluar. Mereka menggertak gigi, masing-masing tangannya sudah memegang senjatanya.
Malam semakin kelam. Suasana bertambah seram. Keadaan dalam kamar itu remang-remang sehingga membuat hawa bertambah mencekam. Tidak ada seorangpun yang berani buka suara. Semuanya sedang mengumpulkan kekuatannya masing-masing.
Selain Pendekar Tanpa Nama, rasanya tiada satupun orang yang terlihat tenang.
Waktu terasa berjalan amat lambat. Semuanya seolah berhenti.
Empat orang itu adalah pembunuh bayaran. Mereka menamakan kelompoknya Lima Iblis Sesat. Sesuai dengan namanya, mereka adalah orang-orang sesat dunia persilatan.
Sepak terjangnya selama ini sangat kejam. Belum pernah satu kalipun mereka gagal dalam menjalankan tugasnya. Setiap korbannya pasti mampus. Kalau bukan kepalanya yang dibuat terpisah, pasti tubuhnya yang dibuat menjadi dua atau bahkan tiga bagian.
Tapi meskipun benar mereka itu pembunuh bayaran, namun kalau untuk Tuan Gandrung Kalapati, ceritanya lain lagi. Jangankan untuk membunuh seseorang, bahkan untuk bunuh diri pun, kalau orang tua itu yang menyuruhnya, maka tanpa ragu mereka pasti akan segera melakukannya.
Kekuasaan Tuan Gandrunt Kalapati memang sulit dibayangkan. Apalagi dia banyak mengenal tokoh persilatan angkatan tua. Kalau saja pihak Kerajaan senang ikut campur masalah dunia penuh darah itu, niscaya mereka pun harus berpikir dua kali kalau untuk berurusan dengannya.
Sayang, pihak pemerintah Tanah Jawa jarang berurusan. Selama tidak ada yang mengancam pemerintahannya, biasanya pihak Kerajaan tidak akan ikut campur.
Wushh!!! Wushh!!!
Empat bayangan manusia tiba-tiba menerjang secepat kilat. Empat macam senjata tajam membawa hawa kematian tersendiri. Mereka menyerang secara serentak dari empat penjuru.
Seluruh tubuh Pendekar Tanpa Nama menjadi sasaran telak. Bukan saja jurus silat tingkat tinggi, bahkan jurus kanuragan kelas atas juga turut dikeluarkan.
Angun menderu-deru dalam ruangan yang sempit itu. Berbagai macam sinar sudah mendekat ke tubuh Cakra Buana.
Wutt!!!
Bayangan merah melayang ke belakang tepat pada waktunya. Kaki kanan Pendekar Tanpa Nama menotol dinding di belakangnya. Setelah itu dia segera meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.
Pedang Merah Darah sudah dilolos. Dalam ruangan yang sempit itu, dia memanfaatkan segala kemungkinan yang bakal terjadi.
__ADS_1
Cahaya pedang berwarna merah menyeruak memenuhi seluruh ruangan kamar. Lentera di ruangan tersebut langsung padam sehingga membuat suasana gelap gulita.
Bagi orang awam, berada dalam kegelapan sudah tentu merupakan siksaan berat. Tapi bagi lima orang itu beda lagi. Terang dan gelap sama saja. Di tempat sempit atau tempat luas tiada perbedaan.
Mereka tokoh sakti. Pendekar yang sudah berada di tingkat atas. Sudah tentu di segala macam tempat, mereka siap bertarung melawan setiap musuh-musuhnya.
Crashh!!! Crashh!!!
Darah merah menyembur. Suara tertahan terdengar memenuhi ruangan kamar yang gelap. Hanya dalam beberapa jurus, semuanya sudah berhenti kembali. Pendekar Tanpa Nama berdiri membelakangi empat orang lawannya.
Tadi mereka sangat sombong dan angkuh. Sebelumnya mereka bisa membunuh kapanpun itu.
Sayang sekali, sekarang mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Jangankan untuk membunuh, untuk bergerak satu jengkal pun tidak akan bisa.
Sebab saat ini, empat orang suruhan Tuan Gandrung Kalapati tersebut sudah berubah menjadi mayat. Sudah tentu mayat tidak dapat melakukan sesuatu apapun lagi.
Darah masih keluar dari masing-masing luka di tubuh mereka. Tempat pembaringan telah basah oleh darah panas. Darah yang merah. Darah yang segar.
Mata mereka melotot. Seolah orang-orang itu merasa penasaran sekali. Bagaimana mereka bisa terbunuh? Dengan cara apakah Pendekar Tanpa Nama membunuhnya?
Memangnya siapa pula yang dapat melihat bagaimana menakutkannya Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk?
Pemuda itu melangkah ke depan menghampiri guci araknya. Bukan untuk minum, melainkan untuk melihat bagaimana caranya sehingga arak itu beracun.
Telapak tantan kanannya meraba bagian bawah guci arak. Ternyata berlubang. Lubang yang kecil. Sekecil jarum. Setetes demi setetes arak keluar lewat lubang tersebut.
Meskipun lubangnya kecil, tapi sebenarnya lubang itu sangat berbahaya sebab bisa membunuh siapapun dan kapanpun.
Sungguh cara membunuh yang sangat kejam. Sangat keji.
Pendekar Tanpa Nama tidak bersuara. Dia hanya menghela nafas lalu membuka pintu kemudian keluar. Sekarang dia sedang melangkah menuju ke kamar dua orang kekasihnya.
Bagaimana dengan mayat-mayat itu?
Cakra Buana tidak memperdulikannya. Sebab dia tahu bakal ada orang yang akan membawanya. dan dugaannya memang tidak salah. Setelah dirinya keluar kamar, tiga orang serba hitam mendadak masuk dari jendela. Mereka langsung mengambil mayat Lima Iblis Sesat.
Gerak-gerik ketiga orang itu amat lincah dan cekatan. Siapapun dapat menduga kalau mereka bukan orang-orang sembarangan.
__ADS_1
Setelah tugasnya selesai, orang-orang itu segera pergi dari kamar itu. Tiada seorangpun yang dapat melihat pergerakan mereka.
Sementara itu, Pendekar Tanpa Nama sudah berada di hadapan pintu lamar kekasihnya. Dia mengetuk pintu perlahan.
"Siapa di sana?" bentak Sian-li Bwee Hua. Nada suaranya galak. Jelas kalau gadis itu sedang marah.
"Aku …" jawab Cakra Buana kalem.
"Ah, ternyata kau. Aku kira siapa,"
Pintu sudah terbuka. Cakra Buana segera masuk ke dalam.
Kamar kekasihnya juga gelap. Lentera di kamar telah padam. Sepasang kakinya seperti menginjak cairan yang kental.
"Berapa orang yang kalian bunuh?" tanyanya dengan tenang.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Sian-li Bwee Hua.
"Sudah tentu aku tahu. Kalau aku saja hampir dibunuh orang, bagaimana mungkin kalian tidak?"
Bau amis darah masih tercium dengan jelas. Hawa pembunuhan terasa amat kentara.
"Hanya tiga orang, Kakang," jawab Bidadari Tak Bersayap.
"Siapa yang membunuh mereka?"
"Kami berdua. Rai Ling Ling dua, aku satu,"
"Bagus. Jurus kalian terlampau cepat sehingga mereka tidak menyangka dan tidak mampu memberikan satu balasan sekalipun," puji Cakra Buana kepada dua orang kekasihnya.
"Bagaimana Kakang bisa tahu juga?"
"Aku dapat melihatnya sendiri. Pakaian kalian masih bersih. Nafas kalian juga tenang. Dari sini saja aku bisa menyimpulkan kalau kalian langsung bergerak sebelum mereka bergerak," ujarnya menjelaskan.
"Sepertinya sekarang kau lebih pintar dariku," ucap Ling Ling sambil tersenyum bangga.
Mereka bertiga tertawa. Tawa bahagia karena selalu bersama.
__ADS_1