Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dua Ajian Pamungkas


__ADS_3

Selir Anjani tersentak. Dia sedikit kaget dengan perubahan yang amat mendadak ini. Akan tetapi, secara tiba-tiba tubuhnya langsung bergerak aneh.


Gerakannya lebih cepat dari apa yang dibayangkan oleh semua orang. Begitu selendang milik Ratu Ayu sudah tiba di depan mata, tahu-tahu Selir Anjani sudah mundur ke belakang. Sekarang jarak mereka terpaut satu sampai dua tombak.


Serangan Ratu Ayu gagal mengenai sasaran. Begitu juga dengan Prabu Katapangan Kresna.


Pertarungan dahsyat itu terhenti untuk sesaat. Dua belah pihak saling menyelidik satu sama lain. Tidak ada yang bicara di antara mereka. Tiga tokoh tanpa tanding itu hanya diam seribu bahasa.


Suasana teramat tegang. Semua tubuh prajurit Istana Kerajaan sudah dibasahi oleh keringat dingin. Meskipun bukan mereka yang bertarung langsung, namun secara tidak sengaja, para prajurit itu juga mengerti bahwa saat ini adalah penentuan.


Penentuan apakah kedua junjungannya akan menang, ataukah akan mati? Raja dan Ratunya akan terus hidup, atau bahkan malah tewas?


Sekarang juga merupakan penentuan. Penentuan apakah Kerajaan Kawasenan bakal terus ada dan berlanjut hingga ke titik puncak kejayaan, ataukah akan terkubur oleh sejarah peradaban?


Sementara itu, Pendekar Tanpa Nama masih memperhatikan pertempuran paman dan bibinya dari pinggir arena. Dia sengaja belum bergerak karena merasa yakin kalau keduanya bisa menghadapi wanita kejam tersebut.


Di Tanah Pasundan, memangnya siapa yang sanggup mengalahkan kemampuan Raja dan Ratu?


Para datuk dunia persilatan dan tokoh-tokoh angkatan tua lainnya masih berdiri di pinggir. Mereka ingin membantu, namun karena tidak ada perintah, maka pada akhirnya orang tersebut memutuskan untuk tetap berdiam sambil terus berjaga-jaga.


Di hadapan seorang Raja dan Ratu, rasanya tiada yang berani bertindak gegabah. Kalau pun ada, mungkin orang itu sudah bosan hidup.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan melesat kembali. Prabu Katapangan Kresna dan Ratu Ayu sudah memulai kembali serangannya. Dua manusia agung itu melancarkan kembali jurus-jurus dahsyatnya.


Kedua telapak tangan Prabu Katapangan dihentakkan ke depan. Dua sinar seperti api membara keluar dari sana lalu segera berkobar hebat.


Ajian Seneu Panglipur Lara dikeluarkan.


Ajian itu adalah ilmu kanuragan yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Menurut cerita yang beredar, hanya para penguasa saja yang mampu menguasai ilmu tersebut.

__ADS_1


Ajian Seneu Panglipur Lara mempunyai sembilan tahap. Semakin tinggi tahapannya, semakin sulit juga untuk mencapainya. Tidak setiap orang sanggup mencapai hingga tahapan tertinggi. Malah Prabu Katapangan sendiri hanya bisa menguasainya hingga ke tahap ketujuh.


Namun meskipun benar demikian, hal itu saja sudah jauh lebih daripada cukup. Ajian Seneu Panglipur Lara tahap ketujuh saja dikabarkan sudah sanggup untuk membakar habis satu hutan pada sebuah bukit.


Kalau tahap ketujuh saja sudah berakibat hebat seperti demikian, lalu bagaimana hebatnya Ajian Seneu Panglipur Lara yang sudah mencapai tahap kesembilan?


Tiada seorangpun yang tahu akan hal tersebut. Karena yang sanggup menguasi ilmu kanuragan itu hingga ke tahap tertinggi hanyalah dua orang saja. Yang satu si penciptanya sendiri, sedangkan satu lagi adalah murid tunggalnya.


Bersamaan dengan Ajian Seneu Panglipur Lara yang dilancarkan oleh Prabu Katapangan, Ratu Ayu juga tidak mau kalah. Wanita agung itu turut mengeluarkan ajian pamungkasnya.


Ajian Selendang Penarik Sukma sudah digelar.


Ajian ini juga termasuk ke dalam jajaran ilmu kanuragan kelas atas. Di Tanah Pasundan, hingga saat ini rasanya belum ada yang bisa menyelamatkan diri dari ganasnya ajian tersebut.


Kalaupun ada, mungkin jumlahnya tidak lebih dari lima belas orang saja. Lalu apakah Selir Anjani juga termasuk di dalamnya?


Ajian Selendang Penarik Sukma … seperti juga namanya, ajian itu akan membelit mangsa majikannya lalu secara perlahan akan menyedot sukmanya. Bukan cuma itu saja, ajian itu pun malah dapat menyedot seluruh tenaga dalam dan darah korbannya.


Dua ajian pamungkas yang kedahsyatannya tidak diragukan lagi sudah berad di hadapan Selir Anjani.


Setiap orang yang hadir percaya kalau wanita itu pasti bakal segera mampus. Siapapun yakin kalau dia tidak bisa selamat dari amukan dua ajian maha dahsyat tersebut.


Namun benarkah demikian?


Wushh!!!


Tiba-tiba langit mendadak mendung. Petir menggelegar sehingga terasa menggetarkan bumi. Angin berhembus sangat kencang. Atap bangunan berterbangan. Beberapa pohon besar tumbang karenanya. Malah ada juga yang sampai terbang lalu menggulung dalam pusaran angin tersebut.


Apa yang sudah terjadi? Apakah ini sebagai pertanda bahwa kehidupan di dunia ini akan segera berakhir?


Blarr!!! Blarr!!!

__ADS_1


Cahaya hitam melesat menyongsong datangnya dua ajian milik Prabu Katapangan dan Ratu Ayu. Benturan hebat langsung terjadi. Kedua orang itu terdorong mundur dua langkah ke belakang.


Debu mengepul tinggi. Pandangan mata semua orang dibuat kabur. Tidak ada yang dapat menyaksikan pertempuran dengan jelas.


Dalam pada itu, ternyata Selir Anjani sudah berhasil mendapatkan posisi kembali. Dia tidak mampus. Terlebih lagi, wanita itu malah tidak terdorong mundur seperti halnya Sang Raja dan Sang Ratu.


Sekarang di tangan kanannya sudah terdapat sebatang senjata pusaka. Pusaka itu mirip pedang, tapi juga menyerupai tombak. Di sisi lain, ujung pusaka tersebut juga mempunyai mata yang sangat tajam sekali. Mirip seperti anak panah.


Hawa kematian terpancar sangat jelaa dari pusaka yang mempunyai bentuk aneh sekaligus unik tersebut. Sinar hitam menyelimuti keseluruhan batangnya.


Selir Anjani mengacungkan pusaka tersebut ke atas. Seketika langit kembali menggelegar. Petir menyambar-nyambar. Alam semesta seakan dibuat terguncang olehnya.


Apakah para Dewa mengamuk? Ataukah semua ini diakibatkan karena raja iblis yang sedang disiksa di neraka sedang marah besar?


Ketika debu itu mulai menghilang, semua orang kembali dibuat kaget. Ternyata tangan kiri Selir Anjani juga sedang memegangi sebuah senjata.


Senjata yang pendek. Mempunyai gagang berupa kepala harimau.


Kujang Dewa Batara!!!


Semua orang tersentak. Tanpa sadar, mereka menyurut mundur satu hingga dua langkah ke belakang.


"Hahaha … kenapa kalian? Apakah sekarang kalian merasa takut?" Selir Anjani bicara lantang.


Suaranya seperti Ratu Iblis. Teramat nyaring dan menusuk telinga. Wajahnya berubah menyeramkan. Siapapun tidak ada yang menyangka bahwa selir yang cantik itu mempunyai kekuatan iblis sedemikian dahsyatnya.


Kedua pusaka masih mengeluarkan pamornya. Semua orang masih memandangi masing-masing pusaka itu dengan seksama.


Saat ini, Pendekar Tanpa Nama sudah bergabung dengan Prabu Katapangan Kresna dan Ratu Ayu. Mereka berdiri sejajar. Masing-masing matanya menatap tajam ke arah arah wanita bengis itu.


"Jadi kau yang menyuruh Maling Sakti Seribu Wajah untuk mencuri Kujang Dewa Batara?" tanya Pendekar Tanpa Nama dengan dingin.

__ADS_1


__ADS_2