Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pendekar Pisau Terbang


__ADS_3

Malam telah tiba. Pendekar Tanpa Nama sedang duduk di atas loteng. Pemuda itu berdiam seorang diri. Dia sedang menyaksikan malam bulan purnama yang indah.


Bau harum bunga tercium menusuk hidung. Suara jangkrik terdengar di balik semak belukar.


Sahabat-sahabat Pendekar Tanpa Nama sudah pergi. Mereka berpencar menjalankan tugasnya masing-masing. Sekarang dia telah sendiri lagi.


Sendirian. Kesepian.


Keduanya menjadi sahabat paling setia.


Di tangan kanan pemuda itu ada satu guci arak. Arak harum yang sebelumnya dibelikan oleh Tiang Bengcu.


Jubah merahnya tertiup angin. Rambutnya yang panjang tergerai bergerak-gerak karena hembusan angin tersebut. Wajahnya tenang. Dia sudah dalam keadaan setengah mabuk.


Tapi meskipun begitu, pemuda itu tetap berlaku waspada. Meskipun matanya mulai sayu, namun mata itu masih tajam. Mungkin lebih tajam dari pada mata seekor harimau.


Walaupun sudah dalam keadaan setengah sadar, tapi dirinya masih dapat siaga. Kalau ada ancaman mendadak, pemuda itu bakal langsung bergerak.


Wushh!!!


Secara mendadak, Pendekar Tanpa Nama benar-benar bergerak. Dia melompat tinggi lalu melenting kemudian berlari di atas atap.


Bayangan merah berkelebat. Hanya beberapa kali lompatan saja, dia telah berada jauh dari tempat semula.


Siapa yang dia kejar? Gangguan apa yang telah menyerangnya?


Setelah beberapa saat berlari, Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba berhenti. Pemuda itu berdiri di antara sebuah gang kecil di sebuah desa yang entah apa namanya.


Luas gang tersebut paling hanya sekitar satu meter. Ternyata gang itu adalah gang buntu. Dinding gang tersebut mulai dipenuhi oleh lumut hijau. Binatang yang menjijikan seperti kecoa, tampak beberapa ekor berlari karena kaget akan kehadiran manusia.


Di hadapan Pendekar Tanpa Nama ada satu orang asing. Orang itu memakai pakaian biru tua. Usianya masih terbilang muda, mungkin baru sekitar tiga puluh sembilan tahun.


"Kau pikir mudah untuk membunuhku?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil memicingkan mata kepada orang tersebut.


"Aku hanya salah menilaimu," jawab orang itu dengan dingin.


"Karena kesalahan itulah kau harus membayar dengan nyawamu,"


Orang itu terdiam. Dia sangat percaya dan sangat yakin bahwa ucapan Pendekar Tanpa Nama bisa dibuktikan. Apalagi dia menyadari posisinya yang hanya merupakan suruhan seseorang saja.

__ADS_1


"Siapa yang telah menyuruhmu?"


Wutt!!! Brukk!!!


Belum sempat Cakra Buana mendapatkan jawaban, orang yang ada di hadapannya tiba-tiba jatuh tersungkur. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, orang itu telah diam tidak bergerak. Dia telah tewas. Tewas tanpa mengeluarkan suara apapun.


Siapa yang telah membunuhnya? Kenapa orang itu bisa tewas secara tiba-tiba?


Pendekar Tanpa Nama berjalan menghampiri orang tersebut. Begitu tiba di hadapan jasadnya, dia langsung membungkuk untuk memeriksanya.


Pemuda itu bermata tajam. Kalau matanya tajam, hal sekecil apapun biasanya tidak bisa mengelabui dirinya.


Begitu juga saat ini.


Tepat di leher bagian kiri orang tersebut ada dua batang jarum perak yang menembusnya. Jarum itu masuk ke dalam daging, yang terlihat hanya ujungnya saja.


Jarum yang kecil namun berbahaya. Jarum yang tajam, juga mematikan.


Kalau orang lain yang memeriksa jasad tersebut, mungkin dia tidak akan menemukan jarum itu karena saking kecilnya. Untungnya yang memeriksa jasad tersebut adalah pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama.


Sehingga walau bukti yang ada sekecil apapun, dia tetap bisa menemukannya.


Pemuda itu segera memperhatikan jarum tersebut. Dia mencoba untuk melihat lebih jelas lagi milik siapakah senjata rahasia itu. Sayangnya setelah beberapa saat memperhatikan, dia tetap tidak dapat mengetahui siapa pemiliknya.


Pendekar Tanpa Nama segera membuntal kedua batang jarum tersebut. Setelah itu dia segera melirik ke keadaan sekitar. Terutama sekali ke arah datangnya jarum tadi.


Sayangnya dia tidak dapat menemukan apapun. Di sana tiada seorang manusiapun kecuali dirinya sendiri.


Siapakah yang telah melemparkan jarum tersebut? Siapa pula pemiliknya?


Cakra Buana tidak tahu pasti. Pendekar yang menggunakan senjata rahasia berupa jarum sangat banyak. Oleh sebab itulah dirinya tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. Terlebih lagi, dia tidak terlalu tahu tentang para pendekar di Tionggoan.


Pemuda itu segera pergi dari sana. Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya telah meluncur deras lalu menghilang di balik kegelapan malam.


Alasan kenapa tadi Pendekar Tanpa Nama secara tiba-tiba melompat adalah karena dirinya mendengar suara desiran angin tajam. Tubuhnya sudah terlatih dalam keadaan apapun, oleh sebab itu secara refleks Cakra Buana telah mengetahui kalau ada bahaya yang mengincarnya.


Desiran angin tadi diduga dari senjata yang sama. Yaitu jarum perak yang sangat kecil sekali.


Malam semakin kelam. Rembulan mulai tertutup oleh gumpalan awan hitam. Suasana semakin sepi. Kentongan kedua baru saja lewat.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama masih berlari. Dia akan kembali lagi ke tempatnya semula.


Namun di tengah perjalanan, dirinya kembali mendapatkan sebuah sesuatu yang tidak diduga sebelumnya.


Wuttt!!!


Tiga batang pisau terbang melesat sangat cepat ke arahnya. Laju pisau itu sulit unruk diikuti mata telanjang. Untungnya Pendekar Tanpa Nama sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu.


Tubuhnya menjejak ke udara hampa. Dia kemudian berjumpalitan di udara lalu meluncur deras ke arah datangnya tiga pisau terbang tersebut.


Blarr!!!


Segulung tenaga sakti keluar dari telapak tangan Cakra Buana. Pemuda itu tidak mau kejadian seperti sebelumnya terjadi lagi. Oleh sebab itulah Pendekar Tanpa Nama memilih untuk mengeluarkan serangan jarak jauh.


Satu sosok yang beberapa tombak di depannya hampir jatuh tersungkur. Untungnya orang itu dapat segera menguasai diri kembali sehingga dia tidak sampai terjatuh.


"Apa maksudmu melemparkan pisau terbang itu kepadaku?" tanyanya setelah berdiri berhadapan dengan sosok tersebut.


"Kau tidak perlu tahu," jawab orang tersebut sinis.


Orang itu berusia sekitar empat puluh tahun. Pakaiannya berwarna biru muda. Wajahnya angker dengan sorot mata yang sangat tajam. Di sepasang tangannya telah tergenggam dua pisau terbang. Belum lagi di beberapa tempat lain di tubuhnya.


Menurut kabar yang beredar, di seluruh tubuh orang itu terdapat puluhan atau mungkin seratusan pisau yang serupa. Pisaunya tidak terlalu besar, bentuknya juga tidak menakutkan.


Yang menakutkan justru sepasang tangannya. Sepasang tangan itu, selama ini, tidak pernah gagal dalam melemparkan pisaunya.


Di dunia persilatan Tionggoan, selain dia, siapa lagi yang mempunyai kemampuan hebat seperti itu?


Orang yang dimaksud adalah Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang.


Dan memang benar. Orang yang baru saja melemparkan pisau terbang kepada Pendekar Tanpa Nama adalah dirinya.


"Ternyata kau," desis Cakra Buana.


"Kau mengenalku?" tanya balik Sun poan.


"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal nama Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang? Konon katanya lemparanmu selalu tepat sasaran. Sekalipun tidak pernah gagal,"


"Benar. Memang seperti itu kenyataannya. Aku gagal dalam melemparkan pisau baru kali ini saja,"

__ADS_1


__ADS_2