Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Rencana Dewi Bercadar Merah


__ADS_3

Sinar mata Dewi Bercadar Biru mendadak cerah kembali. Bagaikan sekuntum bunga mawar yang sudah layu lalu secara tiba-tiba diguyur air hujan. Dia langsung mekar. Mekar dengan cantik dan anggun.


"Masalah bakal berhasil atau tidak, hal itu urusan belakangan. Yang penting untuk sekarang kita harus mencobanya lebih dulu," jawabnya.


Benar. Segala sesuatu memang sudah seharusnya untuk dicoba. Perduli apa yang kau lakukan atau tidak, namun kau tetap harus mencobanya.


Yang dinilai bukan di akhir. Tapi di awal. Yang dilihat bukan hasilnya, tapi perjuangannya.


Hal itu berlaku dalam hal apapun.


"Benar, memang tidak salah,"


"Jadi apa yang Rai maksudkan?"


"Kita harus mencari seseorang yang mempunyai tenaga dalam tinggi dan yang sudah mencapai tahap sempurna. Setelah itu kita harus meminta orang tersebut untuk menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Ratu Ayu, kalau saja racun ganasnya sudah ditawarkan, maka untuk menyembuhkannya semakin mudah. Jika seluruh jalan darah dan tenaga dalamnya sudah menunjukkan pertanda sedikit lebih baik, maka harapan Ratu Ayu untuk sembuh bakal lebih besar lagi," beber Dewi Bercadar Merah.


Semakin bersinar cerah wajah Dewi Bercadar Biru. Pada akhirnya mereka menemukan sebuah cara untuk menyembuhkan Ratu Ayu. Walaupun hanya cara satu-satunya, tapi tetap bahwa hal ini sangat menggembirakan mereka berdua.


Sinta tampak termenung sesaat. Dia sedang memikirkan siapakah orang yang mau disuruh untuk menyalurkan tenaga dalam kepada Ratu Ayu.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan Ratu Ayu?" tanyanya.


"Kurang lebih tiga hari tiga malam. Selama proses penyembuhan diharuskan untuk terus menyalurkan tenaga dalam tanpa berhenti walaupun hanya sekejap. Karena kalau sampai berhenti, bisa saja kedua belah pihak bakal celaka. Bukan tidak mungkin kalau mereka sampai tewas," jelas Dewi Bercadar Merah.


Dewi Bercadar Biru terkesiap. Tidak disangkanya ternyata proses penyembuhan itu sungguh berat dan tidak sembarangan. Dalam hal pengobatan dirinya memamg kurang. Atau sama sekali bisa dikatakan sangat awak. Oleh sebab itulah sekarang Sinta merasa kaget.


"Kalau begitu sama saja tidak boleh ada gangguan sedikitpun,"


"Memang begitu. Gangguan sekecil apapun kalau sampai mengganggu konsentrasi si penyalur tenaga dalam, maka hal tersebut bakal berujung kematian,"


"Aishh, sungguh rumit,"


"Memang rumit. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, hanya ini saja cara satu-satunya,"


Dewi Bercadar Biru menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Dari tadi dirinya sedang memikirkan siapakah orang yang cocok, sayang sekali dia belum menemukannya.


"Apakah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mampu?" tanyanya kepada Ling Ling.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak akan sanggup. Meskipun pengalamannya banyak, tapi aku berani bertaruh kalau mereka masih berada di bawah Nyimas sedikit,"


"Kalau begitu siapa?"


"Siapa lagi? Tentunya Kakang Cakra Buana kita," jawab Dewi Bercadar Merah sambil tersenyum lembut.


"Ah, iya. Betul sekali. Hanya Kakang satu-satunya harapan kita. Ishh, kenapa aku tidak kepikiran kepadanya …" keluhnya gemas kepada diri sendiri.


Hal-hal seperti itu memang sering kali terjadi kepada siapa saja. Pada saat-saat genting seperti barusan, biasanya kita akan lupa terhadap apa yang ada di sekitar kita.


Seperti Dewi Bercadar Biru misalnya. Padahal Pendekar Tanpa Nama mungkin sanggup melakukannya, tapi kenapa sejak tadi dia tidak berpikiran ke sana?


"Kejadian seperti ini kadang sering aku alami juga. Nyimas jangan terlalu berkecil hati," ucap Dewi Bercadar Merah lembut kepadanya.


"Sekarang orang yang tepat sudah kita temukan, lantas apa yang selanjutnya akan kita lakukan?"


"Masalah lainnya serahkan saja kepadaku,"


Sinta mengangguk. Dia percaya kalau Ling Ling sangat bisa diandalkan jika menghadapi permasalahan seperti ini.


Malam terus beranjak. Kedua gadis itu mulai melakukan persiapan terkait rencana mereka. Dua Dewi itu tentunya tidak mengetahui kalau kekasihnya baru saja selesai melangsungkan sebuah pertarungan dengan satu orang dalam Istana Kerajaan.


"Nyimas, tolong panggilkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti," perintah Dewi Bercadar Merah.


"Baik …"


Dewi Bercadar Biru alias Bidadari Tak Bersayap langsung keluar kamar. Dia kemudian mencari dua orang tua yang merupakan orang kepercayaannya itu.


Selama menunggu kedatangan orang-orang itu, Ling Ling bolak-balik keluar kamar sambil mengawasi keadaan di sekitar. Dia tahu, ini adalah perbuatan nekad yang bisa saja mengundang kecurigaan jika ada orang lain yang mengetahuinya.


Bahkan tidak bisa dipungkiri lagi kalau semua orang Kerajaan bakal membunuh keduanya jika ada yang tahu tentang rencana 'gila' ini. Terutama sekali mereka yang 'bersembunyi di balik selimut'.


Setelah beberapa saat menunggu di dalam kamar Ratu Ayu, akhirnya orang-orang yang ditunggu pun datang.


Dewi Bercadar Biru datang bersama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Kedua orang tua itu merasa bingung karena mereka tidak tahu apa-apa. Saat tadi disuruh ikut pun, Sinta tidak memberitahukan apa maksud sebenarnya.


"Kakek dan Nenek ikut saja. Nanti kalian akan tahu sendiri," kata Sinta pada saat mengajak Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tadi.

__ADS_1


Pada saat ketiganya tiba di kamar, dilihatnya Dewi Bercadar Merah sedang duduk di sisi Ratu Ayu.


"Mereka sudah datang Rai,"


"Terimakasih Nyimas. Sekarang giliranmu yang menjaga Ratu Ayu,"


"Baik …"


Dewi Bercadar Merah berjalan menghampiri Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Dia langsung memasang mimik wajah serius. Sebab pada saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda.


"Kek, Nek, apakah di Tanah Pasundan ada orang yang sangat ahli dalam menata wajah?"


Kedua orang tua itu semakin kebingungan. Tapi sebagai orang yang sudah mempunyai banyak pengalaman, maka dengan keduanya mengerti bahwa di balik ini pasti ada sesuatu yang sedang terjadi.


"Sepertinya ada,"


"Apakah kalian mengenalnya?"


"Tentu, karena kebetulan dia rekan kami waktu muda dulu,"


"Siapa namanya?"


"Sanjaya si Kakek Penyaru …"


"Bagus, apakah kalian bisa mengajaknya kemari tanpa diketahui oleh orang lain?"


"Bisa," jawab Kakek Sakti dengan cepat.


Tentu saja bisa. Karena Sanjaya si Kakek Penyaru bisa menyaru menjadi siapa saja. Cukup hanya melihat orang sekilas, dia lantas bisa menirukannya hingga hampir seratus persen.


Kepandaian semacam ini tentunya bukanlah suatu hal yang mudah. Tidak setiap orang bisa melakukannya dengan sempurna.


Mungkin di Tanah Pasundan hanya ada dua orang saja yang dapat menyaru seperti itu. Mereka adalah si Kakek Penyaru dan Maling Sakti Seribu Wajah.


Tapi kalau ditelisik lebih dalam lagi, rasanya si Maling Sakti Seribu Wajah pun masih berada di bawah si Kakek Penyaru.


"Kalau begitu aku minta tolong agar kalian bawa orangnya kemari," kata Dewi Bercadar Merah dengan ekspresi yang makin serius lagi.

__ADS_1


"Sebentar, memangnya apa yang akan kau rencanakan? Setidaknya kami harus tahu persoalan ini dengan jelas sebelum ikut campur di dalamnya," kata Nenek Sakti.


__ADS_2