
Hati orang tua yang ada di hadapan Dewi Bercadar Biru langsung tergetar. Sebagai tokoh tua, tentunya dia tahu kalau pedang yang ada di tangan gadis tersebut pastinya bukanlah pusaka sembarangan.
Hal ini bisa dia rasakan sendiri. Ada pancaran hawa dingin yang keluar dari seluruh batang pedang tersebut. Pusaka yang istimewa, pamornya juga pasti lebih istimewa lagi.
Kalau lawan merasa gugup, sedangkan Dewi Bercadar Biru malah merasa sebaliknya. Dia merasa senang. Kalau dirinya sudah memegang pusaka pemberian gurunya ini, kepercayaan dalam dirinya bakal lebih tebal lagi.
Jangankan disuruh membunuh, kalau Pedang Cantik dari Khayangan sudah dia genggam, disuruh untuk membelah gunung pun, gadis itu sangat percaya mampu melakukannya.
Wushh!!!
Bidadari Tak Bersayap menyerang terlebih dahulu. Pedang biru muda itu memberikan tusukan mau ke arah dada lawan. Samabarannya sangat cepat. Arahnya juga tepat.
Di dunia ini, tidak banyak manusia yang sanggup menghindarkan diri dari tusukan tersebut.
Trangg!!!
Orang tua bersenjata golok kembar itu ternyata bergerak tepat pada waktunya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia nekad untuk menahan serangan gadis maha cantik itu.
Tak disangka, ternyata keputusannya berhasil. Serangan Dewi Bercadar Biru dapat digagalkan. Dadanya selamat dari tusukan lawan.
Tapi sedetik kemudian rona wajahnya berubah. Serangan lawan memang berhasil dipatahkan. Tapi ujung dua batang goloknya harus menjadi korban. Golok pusaka miliknya gompal.
Kalau titik yang diandalkan gompal, lalu apa jadinya?
Seekor singa memang sangat menakutkan. Tapi bagaimana jadinya kalau taring di paling depan sudah patah? Meskipun masih menakutkan, bukankah kekuatannya akan berkurang sangat jauh?
Begitu juga dengan dua golok di tangan orang tua itu. Walaupun masih tajam, akan tetapi pamornya sudah menghilang lebih dari setengahnya.
Dewi Bercadar Biru tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia langsung mengeluarkan jurus puncak hasil latihannya di Gunung Tilu Dewa.
"Menari di Atas Awan …"
Jurus puncak pertama miliknya langsung dikeluarkan. Tubuhnya segera diselimuti oleh hawa yang mampu membuat lawan bergidik ngeri. Gadis itu seperti penari handal di sebuah pagelaran.
Gerakannya sangat lincah. Cekatan. Juga sangat cepat.
Lawannya berusaha menangkis serangan sebisa mungkin. Tapi begitu pertempuran lewat dari lima belas jurus, dia langsung merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Darah dalam dadanya seperti ingin muncrat keluar.
Serangan Dewi Bercadar Biru semakin dahsyat. Tepat pada jurus kedelapan, akhirnya dia melancarkan serangan pamungkas.
__ADS_1
Pedang Cantik dari Khayangan bergerak dari sisi kanan ke sisi kiri. Sebuah tebasan maut dilayangkan dengan segenap kemampuan.
Brett!!!
Daun kering berterbangan. Darah lawan pun muncrat lalu ikut terbawa angin.
Tokoh tua itu seketika langsung ambruk ke tanah. Dadanya koyak. Dari sisi kanan hingga sisi kiri terdapat sebuah luka sabetan pedang yang cukup dalam. Tanah di bawahnya segera dibasahi oleh darah dia sendiri.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, ternyata dia telah mampus di tangan Bidadari Tak Bersayap atau si Dewi Bercadar Biru.
Pertempuran di hutan Kerajaan ini masih berlanjut. Puluhan anggota yang dibawa oleh kedua belah pihak sudah berjatuhan. Nyawa mereka melayang hanya demi menjalankan perintah dari junjungannya masing-masing.
Tempat yang tadinya bersih dan terawat itu, sekarang telah berubah menjadi kotor. Tempat yang berhawa kematian. Tempat yang menjadi saksi akan keganasan makhluk bernama manusia.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia bertarung di udara untuk beberapa saat lamanya. Suara benturan tangan dan kaki terdengar menggema ke seluruh area hutan.
Bayangan merah berkelebat. Pukulan dahsyat telah dilayangkan tepat ke arah dada. Orang tua yang menjadi lawannya meluruk ke bawah dengan kecepatan lumayan tinggi.
Pertarungan keduanya berlangsung sangat seru. Selain itu, pertarungan tersebut juga mencekam. Jurus-jurus kelas atas yang jarang terlihat dikeluarkan oleh keduanya.
Yang bertarung salah satunya memang orang yang berasal dari sana.
Kalau bukan Sian-li Bwee Hua, siapa lagi?
Gadis maha cantik tersebut melancarkan jurus-jurus dahsyat dari Kitab Tapak Sejagad. Kedua telapak tangannya berubah menjadi merah membara. Kedua matanya juga memerah.
Kemarahan dalam tubuhnya sudah tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata lagi.
"Hiatt!!!"
Gadis yang merupakan mantan pemimpin dari Organisasi Naga Terbang itu membentak sangat nyaring. Kedua kakinya menjejak tanah lalu tubuhnya langsung melayang di udara tepat berbarengan dengan bentakan tadi.
Orang yang menjadi lawannya adalah si Tangan Halilintar.
Kedua belah pihak merupakan pendekar yang ahli dalam pertempuran tangan kosong. Karena itulah, pertarungan mereka berdua jauh lebih menegangkan daripada pertarungan lain.
Si Tangan Halilintar tidak mau berlama-lama lagi. Pukulan dan hentakan telapak tangannya yang sudah terkenal ke seluruh penjuru mata angin sudah dikeluarkan.
__ADS_1
Suara menggelegar bagaikan guntur di tengah hujan badai segera terdengar.
Blarr!!! Blarr!!!
Suara dentuman terus terdengar. Berbarengan dengan suara tersebut, cahaya biru tampak berkelebat menyambar-nyambar ke arah Dewi Bercadar Merah.
Tanah di sekitar pertarungan mereka sudah hancur. Dahan pohon sebesar betis orang dewasa entah sudah berapa banyak yang dibuat patah karenanya.
Pertarungan itu sudah berjalan selama sepuluh jurus. Dan selama belakangan ini, Ling Ling belum melancarkan serangannya yang dahsyat. Dia hanya memberikan serangan sederhana yang pastinya bisa ditangkis atau dihindari oleh lawan.
Hal tersebut dilakukannya karena gadis itu ingin melihat sampai di mana kemampuan lawan. Kebiasan Dewi Bercadar Merah sejak dulu adalah bahwa dia selalu mengalah lebih dulu. Dia sangat senang dengan ilmu silat.
Karena itulah, sebisa mungkin Ling Ling selalu berusaha agar lawan mengeluarkan jurus dahsyat simpanannya.
Kalau dirinya sudah mengetahui jurus-jurus dan sampai di mana batas kemampuan lawan, maka pada saat itulah waktu yang paling tepat untuk dirinya bergerak.
Dan saat ini waktu itu telah tiba.
Wutt!!!
Tubuhnya kembali meluncur ke depan. Dua buah serangan tapak sudah siap dilayangkan. Si Tangan Halilintar tahu akan kemampuan lawan. Karena itulah dirinya tidak mau memandang rendah.
Kedua lengannya berubah kebiruan. Hawa kematian menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia pun menyalurkan hawa murni untuk melindungi badannya.
Sementara itu, Sian-li Bwee Hua sudah hampir tiba di hadapannya.
"Tapak Pembelah Matahari …"
Wushh!!! Gelegarr!!!
Dua tapak tangan bertemu. Debu menutupi pandangan mata semua orang. Tanah di sekitar pertarungan keduanya bergetar. Si Tangan Halilintar terlempar lima tombak ke belakang.
Seluruh pakaiannya hangus terbakar. Begitu pula dengan seluruh tubuhnya. Tokoh yang terkenal akan jurus tangan kosongnya itu telah gosong. Dia tewas. Tidak ada darah yang keluar. Sebab seluruh darahnya sudah membeku terlebih dahulu.
Hanya sepasang matanya melotot dan lidahnya terjulur saja yang menjadi tanda bahwa dia tewas mengenaskan.
Jurus dari Kitab Tapak Sejagad memang dapat diandalkan.
Dewi Bercadar Merah tersenyum hangat. Dia sangat bahagia karena pada akhirnya, secara perlahan dia mulai bisa menguasai jurus tingkat tinggi itu dengan sempurna.
__ADS_1