Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Buta Yang Tahu Segalanya


__ADS_3

Cakra Buana terkejut. Dia mencoba untuk mencari dari mana asal sumber suara tersebut. Biasanya kalau orang bicara, pasti suaranya hanya ada di satu tempat. Tapi suara kali ini berbeda.


Suara ini berasal seperti dari setiap sisi. Setiap penjuru mata angin. Sehingga walaupun bersuara pelan, seolah suaranya sangat menggema.


Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh seorang tokoh kelas atas yang sudah mencapai tahap tinggi. Biasanya para pendekar kelas satu, atau juga para pendekar yang setingkat dengan dia sendiri.


"Maaf, siapakah Tuan? Apakah kita bisa bertatap muka?" tanya Cakra Buana sambil tetap mencari-cari di mana si pemilik suara.


Dia bicara dengan sopan. Selain karena suara itu terdengar ramah, alasan lainnya karena sesungguhnya dia juga pemuda yang sopan.


"Tentu saja boleh," kata suara tersebut lalu kemudian diikuti suara tawa.


"Kalau begitu, mohon tunjukkan di manakah Tuan,"


"Aku di sini,"


Cakra Buana membalikkan badan. Tapi tidak ada siapa-siapa. Ucapan yang sama di lontarkan beberapa kali. Namun setiap dia membalikkan badan ke asal suara, tetap tidak ada siapapun.


"Apakah kau tidak bisa melihat aku yang sedang duduk ini?" suara tersebut terdengar lagi.


Cakra Buana hampir saja kehilangan kesabaran. Untungnya dia bisa menahan perasaannya, dia kembali membalikkan badan.


Sekarang ternyata benar-benar ada orang. Di bawah pohon maple, tepat di arah Selatan dari dia berdiri, seseorang berpakaian putih sedang duduk dengan santai. Tangan kirinya di taruh di atas lutut. Kaki kanannya selonjor. Di tangan kiri itu terdapat daun maple yang sedang dia mainkan.


Cakra Buana masih tertegun. Tadi di sana masih tidak ada siapa-siapa, tapi kenapa sekarang sudah ada orang? Kapan dia datang?


Suaranya tidak terdengar sama sekali. Padahal telinganya sendiri sangat tajam melebihi telinga serigala.


"Tenang saja, aku bukan hantu yang biasa memakan orang. Aku manusia normal, sama sepertimu," kata orang tersebut sambil tertawa setelah menyaksikan keheranan Cakra Buana.


Pemuda itu tersenyum. Dengan langkah yang tenang, dia menghampiri orang asing tersebut.


Namun walaupun tenang, tak urung jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Hal tersebut sangat wajar, sebab Cakra Buana belum tahu siapa orang itu.


Apakah dia musuhnya? Ataukah dia orang di pihaknya?


Dia tidak tahu. Jawabannya tidak bisa seenak sendiri.

__ADS_1


Cakra Buana sudah duduk di samping orang tersebut.


"Tidak enak kalau bicara di tengah hutan. Bagaimana kalau kita mencari arak untuk teman bicara?" usul orang tersebut.


"Usul yang bagus. Mari," jawab Cakra Buana.


Orang asing itu tertawa lagi. Kemudian dia segera bangkit berdiri lalu beranjak dari sana untuk mencari warung arak.


Saat ini keduanya sudah menemukan warung yang menjual arak. Bahkan keduanya telah duduk di warung tersebut.


Warung itu sederhana, ruang makannya saja hanya tersedia beberapa kursi. Tapi arak yang di sana memang terkenal enak dan harum.


Sekarang setelah di tempat terang, Cakra Buana bisa melihat dengan jelas orang itu.


Dia memiliki postur tubuh hampir setinggi dirinya. Namun badannya tidak terlihat jelas otot-otot yang menonjol. Badan itu meskipun tidak bisa di bilang kekar, tapi setidaknya serasi dengan tinggi badannya.


Rambutnya panjang. Sebagian digelung ke atas, sebagian lagi dibiarkan merumbai ke punggung.


Wajahnya tampan. Usianya paling banter sekitar dua puluh lima tahun. Entah tebakannya benar atau salah. Orang itu periang, ramah, bahkan setiap bicara pasti bibirnya melemparkan senyuman.


Dandanannya sekilas sangat mewah. Persis seperti Pangeran atau seorang tuan muda. Lebih tepatnya lagi, dia seperti seorang terpelajar.


Arak sudah dituangkan ke dalam cawan. Daging rusa yang dibakar telah tersedia di depan mereka. Sebelum keduanya bicara lebih jauh, mereka terlebih dahulu meneguk araknya masing-masing.


"Arak yang bagus, pasti ini adalah arak tua," kata orang asing tersebut sambil berdecak kagum beberapa kali.


"Benar, arak ini sangat lembut. Tapi juga terasa hangat saat tiba di perut," jawab Cakra Buana menyetujui pendapatnya.


"Kau ternyata setan arak juga,"


"Aku bukan setan arak,"


"Lalu?"


"Aku hanya orang yang gemar minum arak. Dulu saat di negeriku, aku selalu minum tuak atau arak yang keras. Bagiku itu sudah sangat nikmat, sekarang setelah tinggal beberapa waktu di Tionggoan, aku baru menyadari ternyata ada arak yang jauh lebih nikmat dan bagus sekali. Bahkan sekarang juga aku mengerti bahwa arak di negeriku adalah arak murahan,"


"Kau mengaku bukan setan arak, tetapi sangat memahami arak,"

__ADS_1


"Sedikit banyak aku sudah belajar secara diam-diam dari para setan arak," jawab Cakra Buana sambil tertawa terbahak-bahak.


Suasana di warung arak tersebut semakin sepi. Para pengunjung mulai pergi satu persatu. Tetapi si pemilik warung tidak menyuruh mereka untuk segera menghabiskan arak ataupun pergi dari sana. Hal ini mungkin karena warung tersebut buka selama dua puluh empat jam.


"Apakah aku boleh bertanya padamu?" tanya Cakra Buana mulai ke niat awal.


"Silahkan,"


"Sebenarnya siapa namamu dan dari mana asalmu?" tanyanya penuh selidik.


"Namaku Li Guan. Aku berasal dari daerah dekat Sungai Kuning. Tapi orang-orang di daerahku, selalu menyebutku sebagai si Buta Yang Tahu Segalanya," jawabnya sambil tersenyum.


"Jadi, apakah kau buta?"


"Aku buta sejak lahir. Tapi semua keluargaku lahir normal. Hanya aku saja yang cacat,"


Seseorang jika mengatakan kekurangan dirinya, sedikit banyak dia pasti akan bersedih. Tapi orang di hadapan Cakra Buana ini, bukan hanya tidak sedih, dia justru tampak bangga dengan keadaannya.


"Oh? Tapi, bagaimana kau bisa berjalan di hutan. Bahkan semua tingkah lakumu tidak seperti orang buta pada umumnya,"


Cakra Buana masih keheranan. Ya, tentu saja dia heran.


Sebab baru kali ini dia menyaksikan ada orang buta, tapi tidak seperti buta. Justru dia terlihat seperti orang normal. Sangat normal malah. Dia bisa berjalan tanpa menabrak, bisa berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tanpa terjatuh.


Bukankah jika ada seorang yang buta bisa melakukan hal tersebut, adalah sesuatu yang aneh?


"Karena aku sudah terbiasa sejak kecil. Walaupun keluargaku normal, tapi aku tidak pernah meminta bantuan mereka untuk melakukan sesuatu. Aku belajar semuanya secara alami. Sehingga sedikit banyak, aku telah mengetahuinya,"


"Kenapa kau tidak meminta bantuan mereka?"


"Kenapa tidak? Aku ingin hidup mandiri. Kedua kakiku masih berfungsi, tangaku juga. Lalu kalau anggota tubuh lain normal, kenapa harus merepotkan orang lain?"


"Tapi kan setidaknya mata adalah indera yang utama. Aku rasa hal ini benar-benar sulit,"


"Awalnya memang sulit. Tapi setelah terbiasa tentu saja tidak. Apakah kau langsung bisa bersilat?"


"Tidak," Cakra Buana menggeleng.

__ADS_1


"Nah, kau pun juga sama kan? Siapapun orangnya, pasti sama. Mereka bisa karena biasa. Bisa karena mau. Dan bisa karena berusaha. Walaupun mataku buta, tapi hatiku tidak buta,"


__ADS_2