Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Racun Penghancur Tubuh


__ADS_3

Mendadak debu mengepul tinggi. Kepulan asap putih menghalangi pandangan mata. Untuk beberapa saat, di sana tidak terlihat apa-apa kecuali hanya gumpalan asap itu.


Setelah keadaan normal, di hadapan Huang Pangcu dan Mei Lan telah berdiri Pendekar Tanpa Nama dengan tatapan mata tajam mengawasi keadaan sekitar. Terutama sekali mengawasi semak belukar yang terdapat di sana.


Kakek dan cucu tersebut memperlihatkan ekspresi wajah kebingungan. Mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Mei Lan setengah berteriak.


"Saat aku ingin melakukan sesuatu, siapapun tidak akan ada yang dapat menghalanginya," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan dingin.


Mei Lan tersentak. Tidak biasanya pemuda itu bersikap demikian kepada dirinya. Selama melakukan pengembaraan bersama, rasanya baru beberapa kali saja Cakew Buana berkata dingin seperti itu. Dan sekarang termasuk salah satunya.


Di sisinya, Huang Pangcu masih terdiam. Orang tua itu belum bicara sepatah katapun. Dia tahu kalau sahabat mudanya sedang kesal, siapapun bisa menjadi sasarannya.


"Kau sudah tua, tapi kenapa masih saja dapat dikelabui oleh akal-akalan busuk seperti itu? Kalau kejadian ini sampai kepada dunia luar, bukankah gelarmu sebagai datuk dunia persilatan bisa menurun drastis?" ujar Pendekar Tanpa Nama menatap tajam kepada Huang Pangcu.


Kakek tua itu tidak langsung menjawab. Dia hanya menghela nafas dalam-dalam. Raut wajahnya memperlihatkan suatu penyesalan tertentu.


Dia tahu dan dia baru sadar bahwa dirinya baru saja melakukan suatu kesalahan. Sekalipun kesalahan itu kecil, tapi jika tidak ada Cakra Buana, maka kesalahan itu akan menjadi fatal. Bahkan sangat fatal.


"Maafkan aku, aku sudah melakukan hal bodoh. Aku tidak teliti dan tidak waspada mungkin karena sedang merasa gembira karena bertemu dengan cucu kesayanganku. Aku akui, kali ini aku benar-benar merasa bodoh, kalau kau ingin menghukumku, hukum saja aku," jawab Huang Pangcu dengan nada penyesalan.


Mei Lan yang mendengar dengan jelas ucapan tersebut tentu saja tidak terima. Bagaimana mungkin kakeknya bisa berkata demikian? Bagaimana kalau Pendekar Tanpa Nama benar-benar menghukumnya?


"Yaya, apa yang telah kau katakan? Memangnya dia siapa sehingga Yaya berkata seperti itu?" Mei Lan sangat kesal kepada kakeknya. Namun orang tua itu sedikitpun tidak menggubris.


"Aku tidak akan menghukummu, hanya saja aku minta lain kali kau tetap waspada dalam keadaan apapun. Kau harus selalu ingat siapa dirimu sebenarnya, kau juga harus ingat apa yang telah kita bicarakan bersama Bengcu,"


"Baik, aku mengerti. Sekali lagi, maafkan. Terimakasih,"


Cakra Buana tidak menjawab. Dia langsung memberikan satu guci arak kepada Huang Pangcu, dia pun memberikan satu guci teh hijau kepada Mei Lan.

__ADS_1


"Guci ini masih sama, isinya juga sama. Tapi kenapa kau tidak memperbolehkan kami meminum guci sebelumnya?" tanya Mei Lan semakin merasa penasaran atas kejadian ganjil barusan.


"Karena guci tadi beracun. Coba kau lihat bagian batu yang terkena tumpahan arak dan teh hijau tadi," kata pemuda Tanah Pasundan itu.


Mei Lan langsung menengok ke tempat yang dimaksud. Begitu juga dengan Huang Pangcu.


"Ahh …" Mei Lan berteriak tertahan. Gadis itu terkejut. Dia benar-benar terkejut menyaksikan kenyataan itu. Ternyata batu yang terkena tumpahan tadi telah berlubang cukup besar. Bagian batu berubah total, penampakannya seperti sebuah plastik yang dijatuhi oleh plastik lain. Meleleh.


"Apakah minuman tadi benar-benar beracun?" tanyanya lebih lanjut.


"Sangat beracun. Aii, maafkan Yaya. Kalau tidak ada sahabat muda ini, mungkin sekarang kita telah tewas mengenaskan. Sebab selama ini, belum pernah ada manusia yang selamat dari racun tersebut," ujar Huang Pangcu menjawab pertanyaan cucunya.


Dewi Pedang Kembar semakin terperanjat kaget. Dia ingin tidak percaya, tapi dia harus percaya. Sebab yang bicara adalah kakeknya sendiri. Selama hidup bersama, rasanya belum pernah satu kalipun orang tua itu berbohong kepadanya.


"Lalu, racun apa yang ada di dalam guci arak dan teh hijau tadi? Kenapa aku sendiri tidak dapat mencium baunya?"


"Racun itu bernama Penghancur Tubuh. Racun Penghancur Tubuh pada dasarnya memang tidak mempunyai bau dan warna. Oleh sebab itu, jumlah korban yang diakibatkan oleh racun tersebut sudah banyak sekali," ujar Kakek Tua Tongkat Hijau.


Mei Lan menghela nafas perlahan. Dal hatinya, dia amat bersyukur karena dirinya bisa selamat dari maut. Untung Cakra Buana datang tepat pada waktunya. Coba kalau tidak? Mungkin sekarang dia sudah berubah menjadi seonggok daging.


Ketiganya duduk kembali. Tapi kali ini tempatnya berbeda. Mereka memilih duduk di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran.


Belum lama mereka duduk, wajah Mei Lan tiba-tiba beruba menjadi bengis. Gadis itu baru ingat siapa yang telah memberinya arak dan teh hijau tadi.


"Di mana manusia kerdil itu? Biar aku potong-potong tubuhnya," katanya dengan geram.


"Dia sudah pergi sejak tadi," jawab Pendekar Tanpa Nama.


"Aku akan mencarinya," tegas Mei Lan sambil bangkit berdiri.


"Duduk. Kau tidak akan bisa mengalahkannya,"

__ADS_1


"Cih, kau masih meragukan kemampuanku?" tanya Mei Lan menatap tajam kepada Cakra Buana.


"Aku tidak meragukanmu, sedikitpun tidak. Kau mungkin bisa mengalahkan si kerdil itu, tapi kau tidak akan sanggup mengalahkan orang yang ada di belakangnya,"


Mei Lan terkejut mendengar ucapan tersebut. "Apakah dia merupakan orang suruhan?"


"Benar, dan orang yang menyuruhnya bukan orang sembarangan,"


Gadis itu terperanjat kembali. Si kerdil yang mempunyai ilmu cukup tinggi tadi ternyata hanya merupakan suruhan? Benarkah demikian? Kalau benar, lantas siapa yang telah menyuruhnya?


Mei Lan tidak tahu sama sekali. Dia ingin mengajukan tanya, tapi sebelum itu, Huang Pangcu telah berkata lebih dulu.


"Lebih baik kau jangan bertanya lagi Mei Lan. Sekarang belum saatnya," ucap kakek tua itu.


Dewi Pedang Kembar langsung terdiam. Kalau kakeknya sudah bicara, selamanya dia tidak berani membantah. Sekalipun berani, mungkin itu hanya terpaksa.


Suasana di sana semakin ramai. Para pendekar dan tokoh dunia persilatan yang datang ke Gunung Hua Sun semakin banyak lagi.


Huang Pangcu hanya duduk acuh tak acuh. Tapi meskipun begitu, para tokoh rimba hijau banyak yang menyapa dirinya.


"Di mana Si Buta Yang Tahu Segalanya?" tanya Cakra Buana kepadanya.


"Entahlah. Aku terakhir bertemu dengannya saat kita bicara di Gedung Bulim Bengcu, setelah itu tidak bertemu lagi," jawab Huang Pangcu.


Pendekar Tanpa Nama langsung terdiam. Yang lainnya juga diam.


Mentari telah naik semakin tinggi. Panasnya sangat menyengat kulit, untungnya panas itu bisa diredakan oleh semilir angin yang berhembus.


"Sejak kapan kau duduk di atas dahan pohon? Kenapa kau tidak mau turun lalu bergabung bersama?" tiba-tiba Huang Pangcu bicara.


Mei Lan dibuat kebingungan untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak tahu dengan siapa kakeknya bicara.

__ADS_1


"Kalau kau tidak turun sekarang, jangan salahkan aku jika kepalamu jatuh ke tanah," ucap Pendekar Tanpa Nama.


Gadis di sisinya itu semakin bingung. Sebenarnya, dengan siapa kedua pria itu bicara?


__ADS_2