
Belum sempat mendapatkan posisi, Jaya Taruma sudah menyerang kembali. Kali ini, semua kemampuannya langsung dikerahkan.
Alhasil serangan yang dihasilkan juga jauh berbeda daripada sebelumnya. Lebih dahsyat. Lebih hebat. Dan tentunya lebih menakutkan.
Pendekar Tanpa Nama berada di tengah hujan serangan lawan. Seluruh jalan keluar telah ditutup oleh Jaya Taruma. Belasan pukulan berantai dan puluhan tendangan beruntun dilancarkan tanpa berhenti.
Kedua pemuda yang gagah perkasa itu bergulung-gulung menjadi satu sehingga menciptakan sebuah pusaran angin yang dahsyat. Debu dan kerikil berterbangan berputar-putar di sekitar mereka berdua.
Plakk!!! Plakk!!!
Benturan antar tangan dan kaki terdengar. Tulang mereka selalu beradu satu sama lain.
Di tengah pertempuran sengit itu, mendadak satu bayangan terlempar mundur ke belakang.
Jaya Taruma.
Pemuda itu terdorong mundur sejauh lima tombak. Hampir saja dirinya jatuh tersungkur. Tapi meskipun demikian, tubuhnya masih tetap terlihat baik-baik saja. Sedikitpun tidak ada tanda luka-luka.
Pendekar Tanpa Nama kembali berdiri di tempatnya semula. Dia tidak bergerak. Juga tidak bicara.
Sebaliknya, Jaya Taruma terlihat lelah. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya sedikit pucat. Wajah tampan itupun menggambarkan kagum dan penasaran.
"Kenapa kau tidak melawan?" tanya Jaya Taruma yang merasa heran.
"Aku tidak tahu apa yang harus dipertarungkan, jadi untuk apa aku membalas semua seranganmu?" tanya balik Pendekar Tanpa Nama.
Memang, selama jalannya pertempuran tadi, sekalipun Cakra Buana belum pernah menyerang Jaya Taruma. Apa yang dia lakukan tidak lebih hanyalah menghindar dan menangkis. Dia tidak pernah memberikan serangan balasan kepada Jaya Taruma.
Bukan karena tidak sanggup. Bukan pula karena tidak bisa. Pendekar Tanpa Nama melakukan itu semua tak lain karena dirinya enggan melakukan pertarungan yang tidak jelas permasalahannya.
Memangnya apa yang membuat mereka bertarung? Bukankah hanya karena salah paham?
Lantas, apakah cara untuk menyelesaikan salah paham itu, benarkah hanya bisa diselesaikan lewat pertempuran saja?
Mendengar jawaban lawan, Jaya Taruma merasa malu sendiri. Dia bukan seorang pemuda yang baru terjun dalam dunia persilatan. Bisa dibilang, dirinya sudah mempunyai pengalaman dan bekal yang lebih dari cukup.
Melihat respon pemuda di hadapannya, tentunya Jaya Taruma lantas mengerti kalau Pendekar Tanpa Nama tidak berbohong. Apa yang dia ucapkan, mungkin memang sesuai dengan kenyataan.
"Hahh …" Jaya Taruma menghela nafas berat. "Ini semua salahku. Aku yang keburu terbawa emosi, maafkan aku," katanya sambil menjura.
Pemuda itu sedikit menyesali apa yang baru saja dia lakukan.
__ADS_1
"Sekarang apakah kau sudah percaya dengan semua yang aku katakan?"
"Aku percaya,"
"Terimakasih,"
"Hanya saja, ada satu hal yang belum aku mengerti,"
"Apa itu?"
"Kenapa dara bernama Gadis Sumber Informasi itu menyuruhmu menyerahkan barang tadi kepadaku? Sungguh, aku rasa, aku tidak punya kenalan maupun sahabat bernama Gadis Sumber Informasi," kata Jaya Taruma.
Nadanya serius. Ekspresi wajahnya juga tidak terlihat sedang bercanda ataupun berbohong.
Cakra Buana terdiam. Otaknya kembali berputar, sepertinya masalah ini tidak segampang yang terlihat. Pasti ada sesuatu di balik semua ini.
"Hemm, sepertinya ada maksud lain dari balik semua ini,"
"Mungkin saja. Bisa jadi dia menyuruhmu kemari dengan alasan memberikan barang itu. Padahal sejatinya gadis tersebut ingin mengadu domba kita,"
"Jadi maksudmu, dia sudah tahu kalau kau tidak akan mati begitu saja hanya karena ledakan dari barang itu?"
"Tentu saja,"
"Tepat sekali, memang itulah tujuan yang sebenarnya," kata Jaya Taruma lantang.
"Keparat. Ternyata itu maksud tujuannya. Kalau begini caranya, berarti dia adalah orang yang menginginkan kematianku," kata Pendekar Tanpa Nama dengan geram.
Dia menggertak gigi. Kedua lengannya terkepal kencang. Amarahnya berkobar. Tanpa sadar, tanah yang dia pijak amblas karena menahan ***** yang tidak terlampiaskan tersebut.
Melihat itu, Jaya Taruma kembali menghela nafas. Dalam hatinya, dia sangat bersyukur bahwa dirinya tidak jadi melanjutkan pertarungan ini. Selain itu, Jaya Taruma juga bersyukur karena Pendekar Tanpa Nama tidak membalas semua serangannya. Coba kalau kejadiannya malah yang sebaliknya, mungkin saat ini dia sudah mampus.
"Sebenarnya kau siapa?" tanya Jaya Taruma sambil memandangi wajah Cakra Buana.
"Kuharap kau tahu siapa pemilik Pedang Naga dan Harimau,"
"Apa? Jadi, kau ini Pendekar Tanpa Nama?" tanya Jaya Taruma sangat terkejut.
Cakra Buana tidak menjawab. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Jaya Taruma merasa dirinya tersambar petir. Tubuhnya bergetar hebat. Hampir saja dia tidak kuasa menopang tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Aii, maafkan aku, maafkan aku. Sungguh, mataku telah rabun sehingga tidak bisa melihat keagungan Gunung Tilu Dewa," katanya kembali memberikan hormat.
"Tuan jangan terlalu seperti itu kepadaku. Aku dan dirimu sama saja,"
"Tapi aku telah lancang karena berani menyerangmu. Terimakasih atas kemurahan hati Pendekar Tanpa Nama,"
Cakra Buana kikuk sendiri. Dia paling bingung menghadapi orang yang seperti ini kepadanya.
"Tidak masalah. Tidak ada yang perlu disesalkan,"
"Terimakasih, terimakasih. Kebaikan ini tidak akan pernah aku lupakan,"
Cakra Buana mengangguk. Kemudian katanya, "Sepertinya aku harus pergi sekarang juga. Aku ingin menemui kembali Gadis Sumber Informasi itu," ujarnya menahan geram.
"Baiklah, sekali lagi tolong maafkan aku," ujar Jaya Taruma.
"Sudahlah, lupakan saja. Sampai berjumpa lagi,"
Ucapannya baru selesai, tapi orangnya sudah tidak ada di sana. Cakra Buana telah pergi. Pergi ke tempat jauh sehingga Jaya Taruma tidak bisa melihat bayangan tubuhnya lagi.
Jaya Taruma masih berdiri sambil memandang ke arah kepergian Pendekar Tanpa Nama. Beberapa kali hatinya mengucap syukur karena pertarungannya tidak dilanjut.
"Sang Hyang Widhi ternyata masih memberikan kepercayaan hidup kepadaku," gumamnya seorang diri.
Setelah itu, pemuda tersebut langsung kembali melakukan latihannya yang sempat tertunda.
Ternyata kesohoran Pendekar Tanpa Nama sudah sampai ke seantero jagat raya. Bahkan orang yang diam di pedalaman hutan pun mengenalnya.
###
Malam hari.
Kentongan pertama baru saja lewat. Malam ini tiada rembulan. Tiada pula bintang yang biasanya bertaburan. Angin pun lenyap entah ke mana.
Kehidupan seperti sirna. Alam mayapada sepi. Seolah tiada kehidupan apapun di muka bumi ini.
Cakra Buana sedang berdiri di tempat pada saat dia bertemu dengan Gadis Sumber Informasi siang hari tadi. Letak berdirinya persis di posisi sebelumnya.
Tapi apa yang dia saksikan sungguh diluar dugaannya. Pemuda itu kaget setengah mati. Jangankan dirinya, andai kata orang lain pun, mungkin bakal merasakan hal yang sama.
Tempat pertemuannya dengan Gadis Sumber Informasi ternyata sudah berubah. Ruangan sederhana itu tidak ada. Yang ada hanyalah halaman luas di tengah hutan belantara.
__ADS_1
Ke mana perginya bangunan kecil tadi? Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Apakah Cakra Buana salah tempat?