
Saat ini waktu audah tengah malam. Kapal yang akan di naiki oleh Cakra Buana sebentar lagi akan segera tiba di Pelabuhan Lemah Jawi. Puluhan atau mungkin ratusan orang sudah menunggu kedatangan kapal tersebut.
Mereka rela berbondong-bondong di pelabuhan karena tidak ingin ketinggalan kapal. Alasannya selain karena sudah mahal pesan tiket, kapal ini juga berlabuh di Pelabuhan Lemah Jawi hanya selama dua bulan sekali.
Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya menunggu kedatangan kapal itu lagi kalau mereka sampai terlambat.
Yang ingin menaiki kapan ini bukan hanya orang-orang kaya saja. Banyak juga pedagang lintas negara atau bahkan para pendekar. Termasuk Cakra Buana sendiri.
Sekarang pendekar muda itu sedang duduk menanti di bawah pohon kelapa yang doyong. Dia menopang dagunya di lutut kanan sambil menggoyang-goyangkan satu kakinya.
Menunggu lama adalah sesuatu yang membosankan. Karena itulah sebisa mungkin dia tidak ingin membuat orang lain menunggu terlalu lama.
Setelah sekian lama menunggu, pada akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga.
Terlihat dari kejauhan sebuah benda yang sangat besar sekali, meluncur menuju pelabuhan. Itulah kapal yang dimaksud.
Suara nyaring terdengar melengking. Uap hitam membumbung tinggi ke udara. Begitu kapal hampir mendekat ke pelabuhan, orang-orang tang sudah lama menunggu segera masuk setelah para penumpang lainnya turun.
Mereka berdesak-desakan. Orang-orang yang menjadi jasa pengangkut barang, langsung turun untuk menjemput rezeki mereka.
Kapal yang akan di naiki oleh Pendekar Tanpa Nama adalah sebuah kapal yang sudah terkenal. Kapal itu berukuran sangat besar.
Layarnya berwarna merah terang. Tingginya lebih dari atap rumah biasa. Di Pelabuhan Lemah Jawi, hanya ada tiga buah kapal yang suka berlabuh di sana. Dan kapal yang akan didampingi oleh Cakra Buana, adalah termasuk kapal termurah.
Pendekar Tanpa Nama itu tetap duduk dengan santai di pohon kelapa tadi. Dia malas untuk berdesak-desakan, sehingga dia menunggu cukup sepi.
Saat suasana mulai sepi dan kapal akan berangkat lagi, tiba-tiba dia melenting tinggi lalu menjejak di udara dan meluncur tepat ke tengah-tengah kapal.
Untungnya tidak ada yang sempat melihat dirinya melakukan hal tersebut. Selain itu, suasana juga memang sudah hari. Sehingga banyak orang yang tidak memperhatikannya.
__ADS_1
Kapal mulai berlayar kembali. Cakra Buana duduk di pojokan kapal. Dia berdiam sendirian. Walaupun banyak orang yang bisa di ajak berkenalan, tetapi dia lebih memilih untuk sendiri.
Menikmati suasana malam di tengah laut. Mendengarkan riak ombak atau menyaksikan sinar rembulan yang menyinari samudera biru. Baginya ini adalah sesuatu yang baru dan sangat menyenangkan.
Menurut orang-orang, perjalanan dia untuk menuju ke Tiongkok ini, setidaknya paling tidak membutuhkan waktu sekitar tiga bulan lamanya. Maklum, pada saat itu, kapal belum secanggih sekarang.
Matanya mulai menyapu ke setiap sudut. Dia mengawasi di sekelilingnya barangkali ada orang yang membuatnya curiga.
Perjalanan awal memang tampak menyenangkan. Tetapi setelah tiga hari kemudian, Pendekar Tanpa Nama merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.
Kepalanya terasa pusing tujuh keliling. Seolah bintang berputar di kepalanya. Tubuhnya panas dingin. Sesekali bahkan suka menggigil. Perutnya terasa mual sekali.
Ternyata Cakra Buana mabuk laut.
Beberapa kali dia muntah-muntah di kamar mandi yang sudah di sediakan di sana.
"Gila, rasanya mual sekali perutku," gumamnya nampak mulai kesal karena terus merasa mual.
Pikirannya berkata demikian karena dia tidak tahu apa-apa. Padahal, semua orang yang baru saja melakukan perjalanan di atas kapal, rata-rata sudah pasti akan mabuk laut.
Lucu memang, seorang pendekar kelas pilih tanding seperti Pendekar Tanpa Nama, tapi masih bisa mabuk laut. Namun jangan salah, ada ilmu untuk tahan senjata tajam, tetapi tidak ada ilmu yang tahan akan mabuk laut.
Lewat seminggu, mulailah dia terbiasa dengan suasana yang ada. Cakra Buana tidak mengalami lagi mabuk laut. Dia sudah jauh lebih menikmati perjalanannya di atas kapal.
Tidak terasa, tiga bulan sudah lewat kembali. Kapal besar yang ditumpangi oleh Cakra Buana sebentar lagi akan tiba di pelabuhan. Namanya Pelabuhan Li Guang, pelabuhan itu adalah salah satu pelabuhan terbesar yang ada di Kota Shiamai, Tiongkok.
Kapal telah berlabuh. Ratusan orang mulai menuruni kapal besar itu. Termasuk Cakra Buana, tetapi sama seperti saat berangkat. Dia lebih memilih untuk turun setelah keadaan sudah mulai sepi.
Namun dia tidak berniat untuk melompat lagi seperti sebelumnya. Sebab ini negeri orang, bukan negerinya. Saat ini dia berada di Tiongkok, bukan di Tanah Jawa ataupun Tanah Pasundan.
__ADS_1
Cakra Buana menuruni kapal dengan santai. Jalannya ringan seperti tanpa beban. Dan memang dia tidak membawa apa-apa lagi kecuali beberapa stel pakaian dan pedang pusaka yang terbungkus kain putih.
Dia tiba di sana saat siang hari. Ternyata keadaan di Pelabuhan Li Guang tidak ada bedanya dengan Pelabuhan Lemah Jawi. Sama ramai dan sama berbondong-bondong.
Orang-orang yang sudah menunggu di bawah langsung segera naik ke kapal setelah semua penumpang telah turun semuanya.
Cakra Buana kebingungan. Arah mana yang harus dia tuju? Dan apa yang harus pertama kali dia lakukan?
Namun setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia sudah menemukan hal apa yang harus dilakukan pertama olehnya.
Makan.
Perutnya sudah lapar. Sebab belum makan siang. Dia mencari restoran yang ada di sekitar pelabuhan. Selain itu, Cakra Buana juga ingin mencari-cari informasi lainnya.
Untuk mencari informasi, restoran adalah tempat yang paling cocok.
Cakra Buana segera mencari restoran. Setelah menemukannya, dia langsung memasuki restoran tersebut. Suasana di sana sangat ramai sekali.
Orang-orang yang berbicara terdengar sangat berisik sehingga malah membuat bising telinga. Namun karena tidak ada lagi restoran di sekitar tempat tersebut, pada akhirnya mau tidak mau dia harus makan di sana.
Cakra Buana segera mengambil tempat duduk di kursi paling pojok. Untung dia sebelumnya telah belajar terkait bahasa bangsa Han (suku China asli), sehingga sedikit banyaknya dia mengerti apa yang mereka katakan.
Seorang pelayan wanita datang menghampiri dirinya. Wajahnya cantik dengan mata agak sipit. Cakra Buana bisa dibilang baru kali ini melihat wanita sepertinya. Sehingga rasanya wajar kalau dia malah terbengong akan kecantikan pelayan tersebut.
"Tuan Muda mau pesan apa?" tanya si pelayan dalam bahaya Tiongkok.
"Makanan yang enak dan seguci arak," jawabnya sambil tersenyum.
"Apakah ada tambahan lagi Tuan Muda?"
__ADS_1
"Tidak ada. Untuk sekarang, aku hanya pesan yang sudah disebutkan sebelumnya," jawab Cakra Buana sambil melemparkan senyum manisnya kepada pelayan itu.