
Tidak ada yang dapat membayangkan hal tersebut. Terlebih lagi, tiada seorang manusiapun yang sanggup membayangkannya. Karena pikiran semua orang yang ada di sana saat ini bukan terkait hal tersebut. Mereka sedang memikirkan bagaimana caranya agar selamat dan tidak menjadi korban selanjutnya.
Apakah mereka bisa? Apakah mampu?
Wushh!!! Wutt!!
Dua larik sinar kuning dan putih keperakan secara tiba-tiba membelah udara. Kecepatan sinar yang sekarang hampir sama dengan sinar hitam sebelumnya. Dua sinar misterius itu tampak melesat ke sana kemari tanpa halangan apapun.
Seperti meteor yang sanggup meluncur deras lalu meninggalkan bekas gugusannya.
Para tokoh pilih tanding belum bergerak. Bukan karena mereka takut ataupun tidak peduli, alasan jelasnya adalah karena orang-orang itu sedang memikirkan cara bagaimana untuk menebas hancur dua sinar itu.
Untuk turun langsung ke lapangan bukanlah suatu hal yang tepat. Bahkan bisa dikatakan sebagai suatu hal paling bodoh karena sama saja dengan mengorbankan nyawa sendiri.
Wushh!!!
Crapp!!! Crapp!!!
Pada saat semua orang sedang panik setengah mati, tiba-tiba satu bayangan merah telah meluncur deras ke arena yang menjadi tempat melesarnya dua sinar itu.
Bayangan merah hanya tampak sekali berkelebat lalu segera hilang.
Bayangan tadi ternyata sosok Cakra Buana. Pada saat genting, pemuda itu telah mengambil resiko untuk menangkap dua sinar berbahaya tersebut. Dengan kecepatannya yang sudah diluar nalar manusia, dengan ilmu meringankan tubuh sempurna, dia mencoba mengambil keberuntungan.
Ternyata tindakannya berhasil dan berjalan dengan mulus.
Orang-orang yang sebelumnya sempat dibuat cemas, sekarang mereka dapat bernafas lega kembali.
Saat ini, di tangan pemuda tersebut sudah ada dua batang senjata. Satu pisau perak dan satu lagi bambu runcing berwarna kuning.
"Bendanya biasa saja," ejek Poh Kuan Tao sambil melirik kepada dua benda yang di perlihatkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
"Bendanya memang biasa saja. Tapi yang menggunakannya sangat luar biasa," ucap Cakra Buana.
"Benar, secara tidak langsung mereka sedang mendemonstrasikan tenaga sakti miliknya yang sudah tidak terukur. Mungkin tujuannya agar kita merasa lebih takut," ucap Nenek Tua Bungkuk ikut nimbrung.
__ADS_1
"Aii, seumur hidup aku baru melihat kejadian luar biasa ini," sambung Orang Tua Menyebalkan.
"Tak kusangka, ternyata mereka benar-benar musuh yang sangat tangguh. Tak heran kalau Organisasi Naga Terbang bisa memporak-porandakan dunia persilatan kita meskipun hanya mengandalkan tujuh orang anggotanya saja," timpal Huang Pangcu.
"Kalau aku ada di pihak mereka, akupun pasti akan melakukan hal yang sama," tukas Tiang Bengcu sambil menghela nafas.
Para tokoh pilih tanding itu terus bicara sambil berpura-pura tidak waspada. Sebenarnya ini adalah sebagian dari rencana mereka agar membuat musuh keluar dan menyerang secara langsung.
Siapa sangka, setelah sekian lama melakukan hal demikian, yang ditunggu-tunggu justru tidak muncul juga. Penyerangan sudah lenyap entah sejak kapan.
Suasana kembali normal seperti sedia kala.
Meskipun begitu, tapi setiap orang, saat ini justru sedang meningkatkan kewaspadaannya hingga ke titik paling tinggi. Mereka tahu, di balik semua ketenangan ini, ada sesuatu mengerikan yang tidak bisa dibayangkan.
Kematian sedang mengintai siapa saja. Setiap saat, nyawa mereka bisa melayang dengan mudahnya. Entah siapa yang bakal menjadi korban berikutnya.
Mereka sedang menunggu. Tapi bukan menunggu kematian. Melainkan menunggu waktu yang paling tepat untuk bergerak.
Kalau kau berada di posisi mereka saat ini, selain menunggu waktu terbaik, memangnya apalagi yang dapat dilakukan?
"Mereka datang lagi," kata Tiang Bengcu dengan suara yang agak ditekan.
Sembilan nyawa pendekar kelas atas telah melayang. Sembilan orang itu roboh hampir dalam waktu yang bersamaan. Tidak ada darah di semua korban itu, semuanya nampak normal. Pun tidak ada luka yang terlihat.
Benarkah orang-orang itu tewas begitu saja? Benarkah mereka mampus tanpa alasan?
Tidak. Pasti tidak mungkin.
Pendekar Tanpa Nama memandang lekat-lekat ke arah sembilan tokoh kelas yang menjadi korban itu. Wajahnya amat serius. Matanya memicing, persis seperti seekor harimau buas yang sedang mengincar mangsanya dari balik semak belukar.
Setelah beberapa saat memandang, pemuda Tanah Pasundan itu menghela nafas dalam-dalam.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Cio Hong mendahului para tokoh yang lain.
"Mereka tewas karena sebatang jarum beracun yang menembus batok kepalanya,"
__ADS_1
"Apa?" semua tokoh pilih tanding tersentak kaget. Hampir saja orang-orang itu berteriak karena saking kagetnya.
"Bagaimana bisa seorang pendekar kelas satu mampus hanya karena sebatang jarum? Sekalipun benar jarum beracun, pasti tidak akan dapat membunuhnya secara langsung," kata Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat.
Datuk sesat dari Timur itu belum sepenuhnya percaya. Bagaimanapun juga, dia mengetahui sampai di mana kemampuan orang-orang tersebut.
Rasanya mustahil pata tokoh kelas atas bisa tewas sedemikian mudahnya.
"Bisa, tentu saja bisa. Karena jarum yang dimaksudkan oleh sahabatku adalah jarum yang berbeda dari jarum lainnya," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Memangnya jarum apa?" tanya Huang Pangcu.
"Jarum Malaikat Maut …" jawab pemuda serba putih itu.
Orang-orang yang ada di dekatnya kaget bukan kepalang. Mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan, segala macam hal sudah mereka ketahui. Apalagi kalau bicara masalah racun dan pusaka, setiap orangnya pasti tahu.
"Gila!!!" seru Tian Hoa terperanjat. "Kenapa mereka bisa mendapatkan jarum legenda yang katanya sudah tidak ada di muka bumi itu lagi?" tanyanya melanjutkan.
"Karena mereka anggota Organisasi Naga Terbang …" jawab Li Guan sengan santai.
Tian Hoa merasa geram, hampir saja dia memukul pemuda itu. Namun dia segera sadar, jawaban singkat tersebut setidaknya sudah cukup untuk membuat dirinya mengerti.
Meskipun baru mengetahui tentang Organisasi Naga Terbang, namun sedikit banyak dia sudah bisa membayangkan bagaimana mengerikannya mereka itu.
Mereka langsung membungkam mulutnya masing-masing. Ancaman demi ancaman mulai berdatangan. Empat belas nyawa pendekar kelas satu telah melayang di tangan Organisasi Naga Terbang
Semua kejadian berjalan dengan singkat. Kalau sebentar saja sudah seperti ini, apalagi jika nanti sudah lama?
"Kalau seperti ini terus, situasinya bakal lebih sulit lagi," keluh Tiang Bengcu.
"Benar, aku lebih baik menghadapi mereka secara langsung dari pada dipermainkan seperti sekarang ini," jawab Huang Pangcu membenarkan.
"Mereka benar-benar pengecut. Lihat saja, kalau sampai menampakkan diri, aku tidak segan untuk memenggal kepalanya," kata Tian Hoa sangat geram.
Para tokoh pilih tanding itu wajar jika berkata demikian. Karena hakitnya memang seperti itu. Sekuat apapun musuh, akan jauh lebih mudah menghadapinya secara langsung dari pada dipermainkan dengan berbagai macam serangan gelap seperti sekarang ini.
__ADS_1
Sekuat-kuatnya mereka, mereka tetap merupakan manusia.
"Hahaha … bagaimana? Apakah kalian masih berani menantang kami?" sebuah suara kembali terdengar. Tapi suara yang sekarang terdengar lebih lantang dan tegas. Sedangkan terkait efeknya masih sama dengan suara sebelumnya.