Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Antara Ada dan Tiada


__ADS_3

Trangg!!! Trangg!!!


Benturan pedang lemas dan pedang keras terjadi. Keduanya bertarung semakin serius, Naga Terbang Kelima memakai jurus yang amat keras. Setiap tusukan ataupun tebasannya membawa hawa panas.


Sedangkan Tiang Bengcu memakai jurus yang lemas. Dia lebih memilih untuk menghindar dari pada harus membenturkan jurusnya dengan jurus lawan.


Pedang lemas miliknya tampak berkelebat seperti sebuah sukma gentayangan. Cepatnya bukan main. Dua puluh tiga sabetan pedang yang mengarah ke titik penting di tubuh manusia sudah dia lancarkan.


Di sisinya Cio Hong pun turut mengeluarkan jurus pamungkas miliknya. Dengan jurus Cakar Rajawali Sakti Pelipur Lara, saudara seperguruan Pendekar Tanpa Nama itu langsung melancarkan belasan cakaran beruntun.


Tubuhnya melesat ke depan di antara putaran dan tusukan dua bilah pedang pusaka yang sangat tajam. Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma ikut tergulung dalam pusaran jurus dahsyat tersebut.


Pertarungan berjalan semakin sengit. Naga Terbang Kelima benar-benar mengeluarkan segenap kemampuan miliknya. Gagang pedang berbentuk tengkorak itu mendadak mengeluarkan asap hitam pekat seperti yang terjadi beberapa saat lalu.


"Tahan nafas," teriak Tiang Bengcu memperingatkan Cio Hong.


Orang tua itu langsung menahan nafasnya. Dia tidak bertanya lebih lanjut, selain karena sudah tahu, alasan lainnya adalah karena pada saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.


Brett!!!


Setelah sekian lama berjuang keras, akhirnya usaha Rajawali Petir Pengoyak Sukma tidak sia-sia. Cakarannya berhasil mendarat telak di punggung Naga Terbang Kelima sehingga membuat pakaiannya robek.


Tiga jalur darah langsung terbentuk. Darah merah mengalir layaknya air di sebuah sungai.


Naga Terbang Kelima menjerit kaget tertahan, dia melompat mundur ke belakang. Tapi sebelum itu, orang tersebut pun sempat melancarkan satu kali tebasan sebelum tubuhnya benar-benar mundur.


Srett!!!


"Auhh …"


Cio Hong kaget, paha sebelah kanannya terkena goresan pedang milik Naga Terbang Kelima. Meskipun tidak terlalu dalam, tapi luka itu sudah cukup untuk mendatangkan rasa perih baginya.


"Jangan harap kau bisa lepas dari amukan Naga Kebenaran Dari Nirwana …"


Kata Tiang Bengcu yang entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja dia sudah berada tepat di belakang Naga Terbang Kelima.


Trangg!!!


Tiang Bengcu melancarkan tebasan ke arah tengkuk. Namun dengan sigap musuhnya menangkis tanpa melihat. Begitu tangkisannya tepat, baru dia membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


Pertarungan berlanjut semakin sengit. Dua naga sedang bertempur dengan hebatnya. Jurus demi jurus telah dilancarkan. Empat puluhan jurus telah mereka lalui, sampai detik ini, belum terlihat ada tanda-tanda siapa yang kalah dan siapa yang menang di antara mereka.


Semuanya masih suram. Sesuram harapan manusia.


Wutt!!! Srett!!! Srett!!!


Pada waktu Tiang Bengcu dan Naga Terbang Kelima bertarung sengit, saat itulah Rajawali Petir Pengoyak Sukma melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya yang secepat kilat.


Enam cakaran yang tajam bagaikan burung rajawali itu telah bersarang kembali. Kali ini seluruh punggung yang menjadi sasarannya.


Darah mengucur semakin deras.


Di tengah rasa sakit itu, maut kembali menghampirinya.


Crashh!!!


Kepala Naga Terbang Kelima terlempar ke pinggir hingga masuk ke semak-semak. Darah segar muncrat. Disusul kemudian dengan ambruknya tubuh itu.


Pertarungan langsung berhenti. Tiang Bengcu dan Cio Hong berdiri di tempat mereka masing-masing.


"Hampir saja kita yang menjadi korban," kata Cio Hong sedikit mengeluh.


"Benar, untungnya Thian masih memberikan kesempatan hidup lebih lama lagi kepada kita," jawab Tiang Bengcu sambil tersenyum.


Tapi sampai kapan dia akan selamat? Benarkah kelak dia bakal mengalami kemujuran seperti barusan yang sudah terjadi?


"Mari kubantu," kata Tiang Bengcu sambil memapah guru besar Perguruan Rajawali Sakti tersebut untuk kembali ke dalam barisannya.


Di sebelah kanan dalam jarak sekitar sepuluh tombak, ada si Buta Yang Tahu Segalanya yang sedang berhadapan dengan Naga Terbang Keenam.


Kedua orang tokoh pilih tanding itu sudah melangsungkan pertarungan tangan kosong yang tidak kalah sengit dan mendebarkannya dengan pertarungan lain.


Sekarang setelah beberapa saat lalu mereka beradu tenaga dalam, akhirnya pertarungan tersebut berhenti untuk sejenak.


"Baru sekarang aku menemukan lawan tangguh seperti dirimu. Kau masih muda, tapi harus kuakui bahwa ilmu yang kau miliki telah sempurna. Aii, benar-benar beruntung bisa berduel dengan pendekar hebat sepertimu," kata si Naga Terbang Keenam memuji kehebatan Li Guan.


Selama malang melintang dalam dunia persilatan, dia memang belum pernah menemukan lawan setangguh si Buta Yang Tahu Segalanya. Setiap kali Naga Terbang Keenam melangsungkan sebuah pertarungan, baik kecil maupun besar, maka dirinya pasti bakal keluar sebagai pemenang.


Tak dinyana, hari ini dia malah berjumpa dengan seorang pemuda berilmu tinggi. Seumur hidup, dia tidak akan pernah melupakannya.

__ADS_1


Tapi apakah dia akan terus hidup?


"Terimakasih, kau terlalu memujiku," jawab Li Guan dengan tenang dan santai.


"Apakah pertarungan ini akan menentukan hidup dan mati di antara kita?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Baiklah. Kalau aku mati, aku ingin mati di bawah jurus andalan milikmu,"


"Aku pun demikian," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.


Naga Terbang Keenam tidak menjawab karena begitu kata tersebut dilontarkan, orang itu langsung menyiapkan diri. Seluruh tenaga, pikiran dan rasa yakinnya disatukan dalam serangan terakhir yang sebentar lagi akan berlangsung.


Naga Terbang Keenam tampak sangat serius.


Berbeda dengan si Buta Yang Tahu Segalanya. Pemuda itu masih tampak sama seperti sebelumnya. Tampak tenang, kalem, serta penuh rasa percaya diri.


Wushh!!!


Bayangan hitam berkelebat seperti setan di tengah malam. Si Naga Terbang Keenam sudah bergerak.


Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya telah siap menyambut serangan lawan tangguh tersebut.


Blarr!!!


Ledakan keras terjadi. Suaranya menggelegar. Arena pertarungan mereka diliputi oleh debu yang mengepul tinggi. Suara itu hanya terdengar satu kali, selanjutnya tidak terdengar suara apapun lagi.


Satu sosok tubuh tahu-tahu sudah terkapar di tanah. Tidak ada luka di tubuh itu. Pun, mulutnya masih bersih. Tidak ada noda darah walaupun hanya sedikit. Yang ada hanya sepasang mata terbelalak kaget. Wajah itu semakin pucat pasi.


Yang terkapar adalah si Naga Terbang Keenam.


Sedangkan si Buta Yang Tahu Segalanya, sekarang telah berada tepat di hadapannya.


"Jurus apa itu? Kenapa aku tidak bisa melihat dan merasakan apa-apa kecuali benturan tadi?" tanya si Naga Terbang Keenam dengan susah payah.


Suaranya semakin kecil. Pada saat bicara, terlihat bahwa orang itu telah mengerahkan seluruh sisa tenaganya.


"Jurus Antara Ada dan Tiada …" jawab si Bita Yang Tahu Segalanya dengan tenang.

__ADS_1


"Ju-jurus yang sangat dahsyat. Aku akan membawa kenangan ini ke alam baka,"


Selesai ucapan itu, Naga Terbang Keenam sempat mengejang satu kali sebelum akhirnya tubuh itu lemas. Lemas tanpa tenaga sedikitpun.


__ADS_2